Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 22


__ADS_3

Mendapati pertanyaan itu, Arriel menoleh pada sang mama. “Iya,” jawabnya dengan tenang. Arriel beralih pada anaknya. “Sayang, kamu rapikan dulu tas kamu. Setelah ini kita pulang.” Arriel membelai lembut rambut Loveta.


“Baik, Ma.” Loveta mengangguk. Segera pergi untuk merapikan barang-barang miliknya.


“Jadi pria seperti itu yang ingin kamu jadikan suami? Pria yang tidak jelas asal usulnya?” Mama Anggun memperjelas ucapannya.


“Memang kenapa? Dia juga manusia yang berhak untuk menikah dengan siapa pun. Lalu masalahnya di mana?” Arriel masih tidak pikir, kenapa mamanya berpikir serendah itu. Padahal jelas-jelas baginya bukan masalah jika Arriel seorang anak yatim.


“Riel, garis keturunan itu menentukan bagaimana nanti anakmu. Siapa tahu jika orang tua Adriel adalah penjahat. Bisa-bisa anakmu akan memiliki sifat yang sama nanti.” Mama Arriel memberikan alasannya.


Arriel benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana sang mama bisa berpikir seperti itu. Benar-benar aneh.


“Mama benar, memang harus tahu bagaimana orang tuanya. Jadi kita tahu ke depan anak kita akan mewarisi sifatnya atau tidak.” Arriel membenarkan ucapan sang mama.


Akhirnya Arriel mengerti. Hal itu tentu saja membuat Mama Anggun tenang.


“Jadi mulai sekarang aku akan berhati-hati. Takut jika sifat Mama yang egois itu menurun pada anak-anakku.” Arriel melanjutkan ucapannya.


Mama Anggun membulatkan matanya. Dia benar-benar tidak percaya dengan yang dikatakan sang anak. “Kenapa kamu berkata seperti itu pada Mama.”

__ADS_1


“Jika boleh aku minta, lebih baik aku tidak tahu orang tua Adriel. Jadi aku benar-benar akan murni mendidik anakku. Suatu saat jika aku salah mendidik. Akulah orang yang patut disalahkan. Bukan orang tuanya. Sayangnya, Mama berpikir lain. Jadi kelak jika anakku salah, aku akan menyalahkan Mama yang sudah menurunkan sifat buruk padanya.” Arriel menatap kesal pada sang mama. Karena itu dia mengungkapkan kekesalannya sekaligus.


Mama Anggun hanya bisa terperangah. Ucapannya dibalikkan oleh Arriel. Jelas ini membuatnya tidak bisa berkata-kata.


“Sebaiknya aku segera pulang. Ada banyak hal yang harus aku lakukan.” Arriel yang sudah selesai berbicara segera berlalu pergi. Tak mau berdebat lagi dengan sang mama.


Mama Anggun langsung bungkam. Dia tidak bisa menjawab ucapan sang anak. Dia melihat jelas jika anaknya sudah begitu yakin dengan hubungannya dengan Adriel.


Arriel yang masuk segera menghampiri sang anak. Mengajaknya untuk segera pulang. Tepat di depan kamar, dia berpapasan dengan sang mama. Arriel sudah tampak tenang. Dia bersikap biasa saja dengan


“Barang-barang dari Adriel aku bawa pulang. Nanti kalau aku tinggal, pasti Mama buang.” Arriel tersenyum pada sang mama, walaupun kalimat yang keluar dari mulut Arriel begitu tajam. “Ayo, Sayang, pamit dulu dengan nenek.” Arriel mendorong anaknya perlahan.


“Nenek, Lolo pulang dulu.” Loveta dengan ramahnya berpamitan.


Arriel dan Loveta segera pulang. Dengan membawa barang-barang serta makanan yang dibawa oleh Adriel. Sebelum ke apartemen, Arriel mengantarkan Loveta pulang terlebih dahulu.


...****************...


“Terima kasih sudah mengantarkan Cinta.” Neta yang menyambut Loveta, menyapa Arriel.

__ADS_1


“Sama-sama.” Arriel tersenyum.


“Mami-Mami. Nanti Lolo mau punya papa baru. Papanya Papa Adriel.” Loveta begitu bersemangat sekali ketika menjelaskan pada Neta.


Neta tersenyum. Membelai lembut rambut Loveta. Kemudian beralih pada Arriel.


“Selamat.” Dia mengulurkan tangan pada Arriel.


“Terima kasih, Ta.” Arriel menerima uluran tangan Neta.


“Selamat.” Dathan yang berada di samping Neta juga ikut memberikan selamat.


“Terima kasih, Than.” Arriel menerima uluran tangan Dathan.


“Kapan rencana pernikahannya?” Neta begitu penasaran dengan acara pernikahan Arriel.


“Dua minggu lagi, Ta, doakan lancar.”


“Tentu saja aku akan mendoakan.” Neta tersenyum. “Jika butuh bantuan bilang saja. Siapa tahu kami bisa membantu.”

__ADS_1


“Tentu saja.” Arriel tersenyum. Walaupun dirinya dan Dathan sudah berpisah, berkat Neta justru hubungan kekeluargaan terjalin baik. Kehadiran Neta memang berdampak baik. Dia berharap kehadiran Adriel kelak juga berdampak baik juga untuk hubungan mereka. Terutama untuk Loveta.


Arriel segera berpamitan ketika selesai mengantarkan Loveta. Di perjalanan, Arriel mengirim pesan pada Mauren. Meminta temannya itu untuk membantunya membawa barang-barang bawaan Adriel ke apartemennya. Jelas dia akan kerepotan jika membawanya sendiri.


__ADS_2