
Arriel ke toko dengan membawa majalah di tangannya. Saat berpapasan dengan Mauren, senyumnya begitu merekah sekali. Hingga membuat Mauren begitu bingung kenapa temannya itu.
“Kamu kerasukan hantu?” Mauren dengan polosnya mengomentari temannya itu.
“Iya, hantu cinta.” Arriel menjawab sambil masuk ke ruangannya.
Mauren begitu penasaran sekali. Ada cerita apa lagi hari ini. Arriel selalu menceritakan padanya tentang banyak hal. Jadi tentu saja dia merasa begitu penasaran sekali. Di ruangan Arriel, Mauren segera duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Arriel.
“Ada apa?” tanya Mauren penasaran.
“Majalah sudah rilis.” Arriel mengeluarkan majalah dari dalam tasnya. Kemudian memberikan pada Mauren.
Mauren menerima majalah yang diberikan oleh Arriel. Melihat wajah temannya itu di sampul depan. “Kamu cantik sekali, pantas Adriel tergila-gila padamu.” Mauren yang melihat sampul depan mengomentarinya.
Mengingat Adriel membuat Arriel begitu berbinar. Dia benar-benar senang ketika membayangkan pria satu itu.
“Dia akan datang melamarku.” Arriel menceritakan rencananya bersama Arriel.
“Secepat itu?” Mauren memastikan.
“Iya, dia akan datang akhir pekan nanti. Aku tak sabar menikah dengannya.” Arriel begitu semringah sekali. Dia membayangkan masa-masa indah pernikahan.
__ADS_1
“Apa Mama Anggun akan mengizinkan kamu menikah dengan Adriel?” Sejenak Mauren teringat mama Arriel ketika temannya itu menceritakan jika Adriel akan datang.
Senyum Arriel perlahan surut. Dia tahu jelas jika sang mama pasti sulit menerima Adriel, mengingat yang ditawarkan dari kemarin adalah pria-pria kaya, jadi tentu saja itu membuatnya berat sekali.
“Ini pilihanku. Jadi mama harus terima.” Arriel tidak mau lagi dikendalikan oleh sang mama. Sudah cukup dirinya terus menerus menuruti sang mama. Kini dia berhak atas hidupnya itu.
“Aku berharap semua berjalan dengan lancar.” Mauren berharap temannya itu bisa mewujudkan keinginannya. Sebagai teman, dia hanya bisa mendukung.
“Aku berharap seperti itu.”
Arriel ingin menemukan kebahagiaannya tanpa memikirkan orang lain terus menerus. Uang yang Arriel kumpulkan sudah cukup menunjang kehidupan sang mama. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Kini, dia ingin memikirkan dirinya. Membangun keluarga baru, dan hidup bahagia dengan anak dan suaminya. Arriel juga ingin hidup seperti orang-orang. Punya keluarga yang baik dan sempurna.
...****************...
“Maaf, Mama terlambat.” Mama Anggun yang baru datang langsung menghampiri anaknya.
“Tidak apa-apa.” Arriel menautkan pipi pada sang mama.
Mauren yang ada di samping Arriel pun juga ikut menautkan pipi.
Mama Anggun duduk di kursi yang berada di depan Arriel. Makanan sudah dipesan Arriel, jadi tinggal menikmati saja.
__ADS_1
“Kamu mendadak sekali memberitahu ingin makan siang.” Mama Anggun melemparkan protes pada anaknya itu.
“Aku sedang ingin makan dengan Mauren, jadi aku pikir mengajak Mama.” Arriel tersenyum. Dia menyenggol Mauren agar ikut menimpali ucapanannya.
“Iya, Ma. Kita sudah lama tidak makan bersama.” Mauren ikut menimpali.
“Bagus kalian ingat Mama.” Mama Anggun tersenyum sambil menyindir. Dua anak perempuan di depannya itu sangat sibuk sekali. Hingga membuat mereka jarang bertemu.
Mereka bertiga menikmati makan bersama. Arriel menceritakan Loveta yang kini dijemputnya saat pulang sekolah. Hal itu membuatnya selalu makan siang bersama Loveta. Namun, karena Loveta izin tidak masuk sekolah karena ikut Neta ke rumah sakit, jadi dia bisa makan bersama sang mama.
“Lihatlah, Dathan sudah akan punya anak. Lalu kamu kapan?” Mama Anggun yang mendengar cerita dari Arriel tentang Loveta yang mengantarkan Neta ke rumah sakit justru membuat Mama Anggun sedikit kesal.
Arriel sadar, mamanya akan menjadikan Dathan acuan. Selalu Dathan yang akan jadi bahan perbandingan dengannya.
“Akhir pekan ini akan ada pria yang melamarku.” Arriel langsung mengatakan pada mamanya. Tak mau sang mama berkomentar lebih jauh.
Mata Mama Anggun yang sudah dikelilingi dengan keriput itu berbinar. Tak menyangka ternyata diam-diam anaknya menjalin hubungan dengan seorang pria.
“Siapa pria itu? Apa salah satu pria yang fotonya mama berikan. Sejak kapan kalian berhubungan?” Mama Anggun begitu antusias sekali. Dia melemparkan pertanyaan bertubi-tubi.
“Bukan pria yang fotonya Mama berikan. Nanti aku akan kenalkan. Mama akan tahu nanti.” Arriel sengaja tidak memberitahu mamanya sekarang tentang Adriel, tak mau sampai ada penolakan sebelum Adriel datang.
__ADS_1
Mama Anggun menatap anaknya curiga. Pria seperti apa yang anaknya akan bawa nanti, itulah yang dipikirkannya saat ini. Namun, yang paling utama adalah anaknya akan membawa pria ke rumah. Jadi tentu saja itu adalah hal yang membahagiakannya. Dia pun tak sabar melihat sehebat apa pria yang akan menjadi calon menantunya.