Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 55


__ADS_3

Arriel sudah menimbang-nimbang rencana bayi tabung yang ingin dilakukannya. Dia akan melakukannya Namun, dia masih menunggu hasil dari konsultasi dengan dokter kandungan kemarin. Setiap hari Adriel dan Arriel masih meminum vitamin yang diberikan oleh dokter.


Jika hasilnya nihil, dia akan mengatakan pada Adriel untuk melakukan bayi tabung dengan uangnya. Namun, jika hasilnya berhasil, tentu saja tidak perlu dilakukan semua itu.


Arriel tidak akan mengatakan ke Adriel sebelum ada hasil. Lagi pula sang suami akan mengatakan jika mereka harus menunggu hasil dulu. Jadi akan percuma mengatakannya sekarang.


Uangnya pun sengaja Arriel sudah siapkan. Jadi saat hasilnya ada, dia bisa segera melakukan bayi tabung.


“Seminggu lagi tanggal datang bulan aku.” Arriel menatap Adriel yang sedang memakai bajunya dari pantulan cermin. Dia yang berada di depan cermin, sedang merias wajahnya.


“Jangan terlalu dipikirkan. Pikirkan saja yang bahagia.” Adriel memberikan saran pada istrinya. Stres akan membuat Arriel justru kesulitan memiliki anak.


“Iya, aku tahu.” Arriel sudah berusaha tidak memikirkannya, tetapi tetap saja.” Arriel mengembuskan napasnya. Dia merasa jika berat sekali ketika harus tidak memikirkan itu semua.


Adriel paham dengan sang istri. Dia begitu mendambakan anak. Ditambah usia semakin bertambah. Faktor itu tentu saja mempengaruhi semuanya.


Adriel mengayunkan langkahnya menghampiri sang istri. Dia berdiri tepat di samping sang istri. Sebuah pelukan dan kecupan di pipi diberikan.

__ADS_1


“Pikirkan hal bahagia. Jangan pikirkan itu. Jangan jadikan beban.” Adriel mencoba memberikan saran pada sang istri.


“Iya.” Arriel mengangguk. Dia akan berusaha untuk melakukannya. Ini juga demi kebaikannya.


“Ayo, pakaikan dasi, agar kita bisa segera sarapan.” Adriel kembali mendaratkan kecupan di puncak kepala Arriel. Senyumnya menghiasi wajah Adriel.


Arriel tersenyum. Dia segera berangsur bangun dan segera berbalik. Menghadap sang suami untuk memasangkan dasi pada sang suami.


Mereka yang sudah rapi segera keluar dari kamar. Mereka sarapan dengan makanan yang sudah disiapkan oleh Arriel. Kali ini mereka hanya sarapan roti panggang. Jadi jelas, Arriel bisa melakukannya.


Seusai sarapan mereka segera berangkat. Hari ini Arriel hanya stay di kantor. Karena Loveta akan dijemput Dathan, jadinya dia tidak menjemput anaknya. Arriel memilih untuk diantar saja.


Saat baru masuk ke toko mereka dikejutkan dengan kehadiran David di sana Merasa aneh dengan kedatangan pria itu pagi-pagi. Tampak Mauren sedang menunjukkan katalog ke David.


“Pagi.” Arriel menyapa.


“Pagi.” David menjawab dengan senyum lebar di wajahnya.

__ADS_1


“Pagi.” Mauren menjawab dengan malas.


“Kenapa kamu di sini pagi?” Adriel melempar pertanyaan pada David ketika melihat pris itu. Dia merasa aneh pagi-pagi pria itu ada di toko sang istri.


“Ke toko perhiasan jelas cari perhiasan. Ke toko perhiasan tidak mungkin cari kue kan?” David menyeringai. Menggoda Adriel yang merupakan tipe tenang dan jarang bicara.


“Pak David mau pesan perhiasan?” Arriel dengan sopan bertanya. David datang sebagai pembeli. Jadi dia harus bersikap baik.


“Iya, aku mau pesan cincin pernikahan.” David menjawab sambil melebarkan senyumnya.


“Kamu mau menikah?” Adriel tampak terkejut. Tidak menduga ternyata akan menikah. Dia pikir perjalanan cinta David tidak akan bermuara pada pernikahan.


“Iya, aku akan menikah seminggu lagi.” Dengan bangganya David menjawab.


“Lalu mana calon pengantin wanitanya. Memesan cincin pernikahan harus dengan calon pengantin wanita. Karena takut ukurannya nanti tidak pas.” Arriel mengedarkan pandangannya. Melihat di mana gerangan calon pengantin wanita.


“Ini.” David menunjuk ke arah Mauren.

__ADS_1


Arriel dan Adriel membulatkan matanya ketika melihat David akan menikah dengan Mauren. Arriel jauh lebih terkejut, karena temannya itu tidak pernah menceritakan apa-apa padanya perihal David.


“Itu benar, Ren?” Arriel memastikan pada temannya itu.


__ADS_2