
Usia kandungan Arriel sudah masuk sembilan bulan. Rencananya Arriel akan melaksanakan operasi caesar. Tanggal sudah ditentukan tiga hari lagi. Arriel dan Adriel pun sudah mempersiapkan semuanya. Termasuk baju bayi yang akan dibawa.
“Biar aku yang masukkan barang-barang tersebut.” Adriel langsung mengambil alih. Dia langsung berjongkok di lantai berlapis karpet.
Arriel memilih duduk di tempat tidur ketika sang suami mau berjongkok. Dia memberikan baju yang sudah disiapkan di atas tempat tidur. Menyerahkan baju-baju itu pada suaminya.
“Menurutmu anak kita perempuan apa laki-laki?” tanya Adriel menatap istrinya.
“Entah, aku tidak berani menebak.” Arriel tersenyum.
“Iya, aku juga merasa tidak masalah mau laki-laki atau perempuan. Yang aku harap anak kita lahir dengan sehat.” Adriel sendiri tidak masalah jenis kelamin. Yang terpenting anaknya lahir dengan selamat.
“Semoga saja.” Arriel tersenyum sambil memberikan baju pada suaminya.
“Seperti apa ruang operasi? Aku takut karena belum pernah.” Adriel merasa takut sekali.
“Tidak mengerikan. Karena mungkin aku tidak melihat perutku dirobek.” Arriel tertawa. Saat melahirkan memang bagian dada ke bawah ditutup dengan pembatas. Jadi dia tidak tahu apa yang terjadi.
“Aku takut membayangkan perutmu harus disayat.” Adriel belum bisa membayangkan semua itu.
“Semua akan baik-baik saja. Tenang saja.” Arriel menenangkan suaminya yang tampak ketakutan.
Adriel mengangguk. Dia berharap semua berjalan dengan baik. Istrinya selamat dan anaknya lahir dengan sehat.
__ADS_1
Mereka berdua sibuk memasukkan baju ke tas. Tak lupa juga barang-barang yang akan diperlukan untuk bayi mereka nanti.
Setelah selesai Adriel dan Arriel merapikan baju, mereka begitu sangat bersemangat sekali.
“Aku lapar.” Arriel menatap sang suami yang baru saja selesai memasukkan barang-barang.
“Kamu mau makan apa?” Adriel tidak tega jika istrinya lapar. Jadi tentu saja dia harus segera mencarikan makanan untuk istrinya.
“Aku mau makan sop daging. Sepertinya hujan-hujan enak.” Baru membayangkan saja dia sudah lapar.
“Sepertinya di mal ada.” Adriel merasa pernah melihat menu itu di salah satu restoran.
“Tapi, aku tidak mau di mal. Aku pernah makan yang berada di pinggir jalan dekat lampu merah di daerah selatan.” Arriel pernah makan itu dulu sewaktu masih pacaran dengan Dathan. “Tapi, aku sudah lama sekali tidak ke sana. Jadi aku tidak yakin masih ada.” Arriel ragu mengingat itu sudah lama sekali.
“Baiklah, kita coba dulu.” Arriel setuju.
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk ke penjual sop daging yang pernah Arriel datangi. Mereka berharap penjualnya masih ada.
Mobil melaju ke daerah selatan. Arriel mengarahkan ke mana suaminya itu harus pergi. Saat sampai ternyata penjual sudah tidak ada. Arriel yang melihat itu merasa begitu kecewa sekali.
Adriel tidak tega melihat istrinya yang begitu ingin makan sop daging. Dengan perut besar, dia keluar dari rumah untuk makan makanan yang diinginkanya itu. Karena tidak tega, dia memilih turun dari mobil. Bertanya pada orang sekitar ke mana gerangan penjual sop daging itu sekarang.
Adriel masuk ke mobil dengan wajah yang begitu semringah. Dia sudah mendapatkan informasi di mana sop daging itu berada.
__ADS_1
“Warungnya sop dagingnya pindah lima ratus meter dari sini.” Adriel memberitahu istrinya.
“Benarkah?” Arriel berbinar. Dia benar-benar senang karena ternyata restoran hanya pindah tak jauh.
“Kita lihat saja.” Adriel melajukan mobilnya.
Benar saja. Dalam jarak lima ratus meter dari tempat awal, mereka berhenti tadi.
“Wah ... ternyata sudah jadi restoran besar.” Arriel melihat warung kecil yang dulu pernah didatangi sudah berubah.
“Semoga rasanya masih sama.” Adriel tersenyum.
Mereka berdua keluar dari mobil. Segera masuk untuk memesan sop daging yang diinginkan Arriel.
Arriel langsung mencoba makanan yang dipesannya. Semangkuk sop daging tersaji di atas meja. Tampak begitu menggiurkan sekali. Aroma kuah yang gurih tercium membuat Arriel tak sabar memakannya.
Arriel segera menyesap kuah dengan sendoknya. Rasa yang disajikan tak berubah sejak bertahun-tahun lalu. Masih tetap sama. Arriel pun menikmati setiap sendok, makanan yang masuk ke mulutnya.
“Ini benar-benar enak dan sama persis dengan yang dulu.” Arriel berbinar.
“Makanlah dan nikmati.” Adriel senang ketika istrinya begitu senang bisa makan sop daging seperti yang diinginkan. Sebagai seorang suami, tentu saja dia berharap bisa menuruti apa yang diinginkan sang istri.
Arriel mengangguk dan menikmati makanannya. Adriel hanya bisa tersenyum melihat sang istri yang begitu lahap. Menjelang melahirkan, dia berharap bisa menuruti apa yang diinginkan sang istri. Menurutnya kesempatan menuruti ibu hamil tak datang dua kali. Jadi harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
__ADS_1