Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 16


__ADS_3

Mobil Adriel sampai di panti asuhan. Adriel sengaja datang untuk memberitahu Bu Kania tentang rencana lamaran yang akan dilakukannya nanti. Dia merasa hanya sang Bu Kanialah yang pantas menemaninya untuk melamar Arriel.


Adriel disambut baik oleh Bu Kania. Dia senang ketika Adriel datang ke panti. Anak-anak sudah besar dan tinggal terpisah. Sehingga mereka punya kesibukan masing-masing. Terkadang mereka datang ke panti hanya di waktu senggang saja.


“Bagaimana kabar kamu?” Bu Kania tersenyum ketika duduk bersama dengan Adriel.


“Baik, Bu.” Adriel tersenyum.


“Syukurlah, ibu senang karena kamu baik-baik saja.” Bu Kania tersenyum.


Adriel adalah anak pertama yang diangkatnya sebagai anak. Dulu, ibu Adriel adalah temannya. Saat ibunya meninggal Bu Kania memutuskan untuk merawat Adriel. Karena melihat Adriel yang sudah tidak punya siapa-siapa. Namun, sejak mengurus Adriel, dia tergerak mengasuh anak-anak terlantar lainnya. Hingga akhirnya dia mengasuh banyak anak di panti asuhan miliknya itu.


Mereka berdua mengobrol sambil menikmati secangkir teh. Obrolan mereka seputar pekerjaan yang sedang Adriel lakukan. Kegiatan apa saja yang belakangan ini dikerjakan. Bu Kania selalu suka mendengar cerita anak-anaknya.

__ADS_1


“Bu, Adriel ke sini untuk meminta Ibu menemani Adriel untuk melamar seseorang.” Di tengah-tengah Adriel menyampaikan niatnya pada Bu Kania. Bagi Adriel Bu Kania adalah ibunya. Jadi tentu saja itu membuatnya memintanya untuk melamarkan wanita untuknya.


“Kamu sudah menemukan gadis yang tepat untukmu?” tanya Ibu Kania.


“Sudah, Bu.” Adriel tersenyum.


“Siapa dia?” tanya Bu Kania.


“Dia … dia mantan istri Dathan.” Awalnya Adriel ragu memberitahu, tetapi dia memberanikan diri untuk mengatakannya.


“Jadi kamu akan menikah dengan mantan istri Dathan?” Bu Kania memastikan kembali.


“Iya, Bu.” Adriel mengangguk. “Apa Ibu keberatan?” Adriel melihat wajah Bu Kania yang berubah. Raut wajah yang tadinya bahagia, tiba-tiba terlihat sedih.

__ADS_1


“Ibu tidak keberatan. Hanya sedikit terkejut saja karena kalian hanya berputar pada satu lingkaran.” Bu Kania tersenyum.


Adriel membenarkan. Jika memang mereka berada dalam lingkup yang sama. Dia akan bertemu Neta lagi dengan status ibu dan ayah sambung Loveta.


“Lalu kapan rencana kamu melamar?” Bu Kania menjadi tidak sabar. Kebahagiaan anaknya adalah kebahagiaannya juga.


“Hari minggu, Bu.” Adriel sudah membuat janji dengan Arriel. Mereka memilih hari minggu agar di hari sabtu bisa menyiapkan semuanya.


“Baiklah, kalau begitu. Ibu akan siapkan semuanya.” Bu Kania tersenyum. Dia akan membantu Adriel untuk menyiapkan hantaran yang akan dibawa.


“Terima kasih, Bu.” Adriel merasa beruntung sekali. Bu Kania selalu ada untuknya. Selalu membantunya dalam banyak hal.


“Apa, besok hanya Ibu?” Bu Kania menatap Adriel lekat.

__ADS_1


Adriel tahu maksud dari pertanyaan Bu Kania. “Iya, hanya dengan Ibu saja.” Dengan penuh keyakinan dia menjawab. Dia merasa hanya Bu Kania saja sudah cukup.


Bu Kania menganggukkan kepalanya. Mengerti yang menjadi keputusan dari Adriel. Adriel selalu memikirkan langkahnya dengan sangat baik. Jadi dia tahu jika ini pun keputusan yang sudah dipikirkan dengan matang.


__ADS_2