
Arriel tertawa. Apa yang dilakukannya jelas seperti anak-anak. Hal itu tentu membuatnya merasa jika menikah dengan Adriel membuatnya seperti anak-anak. Namun, dia tahu jika sang suami tahu di mana menempatkan diri di mana. Di mana harus bersenang-senang layaknya anak-anak, di mana harus serius layaknya orang dewasa.
Mereka berdua menyembul ke atas air. Senyum mereka mengembang di wajah. Menandakan seberapa bahagia mereka berdua.
Adriel menyingkirkan rambut sang istri dari wajahnya. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Adriel.
“Tentu saja aku tidak apa-apa. Sekali pun aku tenggelam. Aku yakin kamu tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Apalagi kamu memegangi aku dengan erat.” Arriel merasakan jelas sejak awal menjatuhkan tubuh ke dalam air. Adriel terus memeganginya.
“Aku tidak akan biarkan tenggelam.” Adriel tersenyum. “Kecuali ....” Adriel mendekatkan tubuhnya. Kepalanya berangsur mendekat ke arah telinga sang istri. “Kecuali ke tenggelam dalam kenikmatan.” Adriel berbisik tepat di telinga sang istri. Ditambah perlahan dia menyusuri leher sang istri. Mendaratkan kecupan di sana.
Arriel yang merasakan gerakan bibir sang suami hanya bisa menggeliat.
__ADS_1
“Kita mau berenang.” Arriel meminta sang suami untuk berhenti.
Arriel mengabaikan sang istri. Dia terus menyusuri leher sang istri. Hingga perlahan sampai ke bibir sang istri. Membungkam bibir sang istri yang terus memberikan protes.
Arriel seolah tak mampu menolak apa yang dilakukan oleh sang suami. Dia justru menikmati setiap apa yang dilakukan sang suami. Membalas setiap gerakan bibir sang suami. Mereka seolah lupa niat utama mereka. Yang mereka ingin lakukan hanya menikmati setiap sentuhan.
...****************...
Adriel dan Arriel berjalan-jalan di pinggir pantai. Menikmati semilir angin pantai. Angin yang bertiup, sesekali membuat rambut Arriel beterbangan. Hal itu membuat Arriel sesekali menyingkirkan rambutnya agar tidak menutupi wajahnya.
Adriel terus menggenggam tangan sang istri. Berjalan bersama menyusuri pinggir pantai. Mencari tempat pas untuk menunggu matahari yang terbenam.
__ADS_1
“Kamu bilang dulu Bu Kania adalah teman ibumu. Artinya kamu bukan anak yatim piatu saat pertama kali bertemu dengan Bu Kania?” Sambil berjalan Arriel melemparkan pertanyaan itu pada Adriel.
“Iya, pertama kali aku tinggal dengan Bu Kania, aku bersama ibuku. Kami menumpang di rumah Bu Kania.” Adriel menjelaskan pada sang istri. “Kami tinggal bersama sampai ibu sakit dan akhirnya meninggal. Jadi aku belum menjadi anak piatu ketika tinggal pertama bersama dengan Bu Kania.” Dia melanjutkan cerita tentang keluarganya.
Arriel mulai paham apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia memahami bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang tua. Pastinya sangat sedih sekali. Sama seperti dirinya yang ditinggal oleh papanya.
“Apa berat tinggal di panti asuhan?” Arriel terkadang penasaran dengan perasaan-perasaan mereka yang tinggal di panti asuhan.
“Tidak. Bu Kania menyayangi kami. Kami selalu berbagi apa pun yang kami miliki. Walaupun aku tidak punya adik kandung, tetapi aku punya banyak adik angkat. Jadi aku tidak pernah merasa kesepian.” Adriel memang dididik dengan baik. Tumbuh dengan baik. Jadi wajar jika dia merasa nyaman saja berada di panti asuhan.
Arriel tersenyum. Walaupun suaminya berada di panti asuhan, dia merasa begitu nyaman sekali. Sama sekali tidak kekurangan kasih sayang. Dia lebih banyak bersyukur atas apa yang didapatkannya.
__ADS_1