Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 32


__ADS_3

Suara ponsel berdering. Arriel yang sedang tertidur pulas harus bangun karena suara tersebut. Dengan segera dia meraih ponselnya. Melihat siapa gerangan yang menghubunginya. Saat melihat Adriel yang menghubungi, dia segera mengangkat sambungan telepon.


“Kamu baru bangun.” Suara Adriel di seberang sana terdengar.


“Kamu tahu jawabannya.” Arriel tersipu malu. Ketahuan juga dia baru bangun.


“Apa semalam tidurmu nyenyak?”


“Tidurku nyenyak. Apalagi setelah kamu menghubungi aku.” Semalam Arriel memang tidak bisa tidur karena besok adalah hari pernikahannya. Sampai akhirnya, dia mengirim pesan pada Adriel. Calon suaminya itu pun langsung menghubungi dan mengajak mengobrol. Padahal mereka hanya berada di kamar yang bersebelahan. Namun, karena mereka belum menikah, jadinya tentu saja mereka tidak bisa mengobrol berdekatan malam-malam. Sampai akhirnya Arriel tertidur di tengah-tengah obrolan.


“Baguslah.” Adriel senang mendengar calo istrinya bisa tertidur dengan pulas.


“Kamu sendiri, apa semalam tidur pulas?” Arriel begitu penasaran sekali apakah calon suaminya itu tidur semalam. Karena semalam, dia meninggalkan tidur lebih dulu.

__ADS_1


“Jelas aku tidak akan bisa tidur. Apalagi mendengar suara dengkuran halus darimu membuat aku ingin memberikan pelukan hangat padamu.” Adriel di seberang sana menggoda calon istrinya.


Arriel tersipu malu. Siapa yang tidak mau dipeluk Adriel, tentu saja dia sangat mau. Namun, mereka masih tidur terpisah. Jelas mereka tidak bisa berpelukan.


“Tunggulah setelah hari ini. Setelah hari ini, kamu akan bisa memelukku.” Arriel tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Jatuh cinta memang begitu indah. Hingga membuat Arriel berbunga-bunga.


“Aku pasti menunggumu, dan tidak akan melepaskanmu.”


...****************...


Arriel memandangi langit dari balik jendela. Matahari tampak bersinar dengan terangnya. Arriel berharap tidak akan turun hujan. Mengingat acaranya akan dilaksanakan di luar ruangan. Jadi cuaca adalah musuh terbesar dalam acara ini. Namun, saat melihat matahari yang tampak bersinar, dia yakin acara hari ini akan berjalan dengan lancar.


Suara ketukan pintu terdengar. Arriel segera membuka pintu kamarnya. Mengecek siapa yang datang. Saat pintu dibuka, ternyata Mauren dan sang mama yang berada di balik pintu. Sang mama memang tidak ikut menginap di hotel, alhasil Arriel meminta Mauren untuk menjemput mamanya itu.

__ADS_1


“Penata rias belum datang?” tanya sang mama.


“Belum.” Arriel melebarkan pintu agar sang mama masuk.


Mama Anggun masuk ke kamar, diikuti dengan Mauren di belakangnya. Arriel segera menutup pintu. Bersama Mauren, dia berjalan masuk.


“Mamamu sepertinya masih belum setuju sepenuhnya.” Mauren mengomentari Arriel. Dia bisa berkata seperti itu karena Mama Anggun terus mengomentari pernikahan Arriel. Padahal jelas jika pernikahan tidak ada masalah, tetapi di mata Mama Anggun selalu saja salah.


“Biarkan saja.” Arriel tidak mau ambil pusing. Lagi pula pernikahan di depan mata. Apa yang bisa dilakukan sang mama.


Mereka bertiga menunggu penata rias datang. Saat penata rias datang, Arriel mulai dirias. Perasaan Arriel begitu berdebar-debar. Ini memang bukan pernikahan pertamanya, tetapi tetap saja membuatnya begitu takut. Berharap semau akan berjalan sesuai dengan rencana.


Penata rias mulai memoles wajah Arriel. Karena tema outdoor. Kali ini Arriel meminta tampilan minimalis. Karena memang tidak terlalu heboh. Apalagi acara diadakan sore hari dan langit masih terang. Jelas riasan tersebut akan terlihat walaupun minimalis.

__ADS_1


__ADS_2