Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 14


__ADS_3

Hari ini majalah rilis. Wajah Arriel, Ghea, dan Shera terpajang di sampul majalah. Wajah wanita cantik itu menghiasi majalah dari Syailen Bisnis edisi hari wanita. Beberapa sudah didistribusikan langsung ke toko buku. Banyak yang membeli, apalagi melihat tiga wanita tersebut cukup mumpuni dalam bisnis.


Adriel sengaja pagi ini datang ke apartemen Arriel. Kemarin, dia lembur hingga malam dan belum sempat mengantarkan majalah. Untuk Ghea dan Shera, majalah sudah dikirimkan ke rumah mereka masing-masing. Sengaja untuk Arriel, Adriel mengantarkannya sendiri.


Adriel menunggu setelah menekan bel. Namun, tidak seperti biasanya kali ini Arriel membuka pintu dengan cepat.


“Sepertinya aku tidak akan jadi patung di sini.” Adriel menggoda Arriel. Kebiasaan Arriel membuka pintu begitu lama, membuatnya harus menunggu lama.


“Kamu sudah mengabari aku kemarin. Jadi tentu saja aku membukanya lebih cepat.” Arriel tersenyum. Tampaknya Adriel sudah mulai paham kebiasaannya.


“Ayo masuk.” Arriel melebarkan pintu dan mempersilakan Adriel untuk duduk.


Adriel masuk ke apartemen Arriel. Langkahnya diayunkan menuju ke sofa di ruang tamu. Sudah sebulan Adriel mengenal Arriel. Walaupun tidak intens bertemu, dia mulai terbiasa di apartemen Arriel.


“Mau minum apa?” tanya Arriel.


“Apa saja.” Adriel tersenyum sambil mendudukkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


Arriel segera ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Adriel. Secangkir kopi dengan kemanisan pas kesukaan Adriel. Tak lupa, dia juga membawa secangkir teh untuknya.


Dua cangkir the yang berada di atas nampan dibawa Arriel ke ruang tamu. Kemudian meletakkannya di atas meja. Mempersilakan Adriel untuk meminumnya.


“Seperti apa majalahnya?” Arriel begitu penasaran sekali dengan majalah yang memasang foto dirinya.


“Apa kamu tidak membiarkan aku untuk menikmati secangkir kopi terlebih dahulu?” Adriel tersenyum. Tangannya meraih cangkir dan mengangkatnya. Menempelkannya di bibir dan menyesapnya perlahan.


Arriel hanya tersenyum saja ketika Adriel melemparkan protes. Bukan masalah besar protes yang diberikan Adriel.


Adriel segera membuka tasnya. Mengeluarkan majalah yang dibawanya. Kemudian memberikan pada Arriel. Namun, saat memberikannya, dia justru menggoda Arriel, menarik kembali majalah dan membuat Arriel mencebikkan bibirnya kesal. Senyum Adriel pun menghiasi wajahnya ketika melihat Arriel yang kesal. Dia pun segera memberikan majalah itu pada Arriel.


“Terima kasih.” Satu kata terucap dari Arriel.


Adriel yang sedang menikmati kopinya, mengalihkan pandangannya pada Arriel. Sambil meletakkan cangkir di atas meja.


“Terima kasih untuk apa?” tanya Adriel.

__ADS_1


“Kamu tidak menceritakan sama sekali tentang kehidupanku.” Arriel menjelaskan apa yang membuatnya berterima kasih.


“Cerita itu hanya untukku, tidak akan aku bagi dengan yang lain.” Adriel tersenyum menatap wanita yang kini menempati hatinya itu.


Arriel tersipu malu. Adriel selalu saja bisa membuatnya berbunga-bunga. Sejak bertemu dengan Adriel, dia memang sudah yakin jika Adriel adalah orang pas untuk dipilih menjadi suami.


“Wawancara selesai, lalu kapan kamu akan datang menemui mamaku?” Arriel dengan berani bertanya pada Adriel. Dia tak mau menunggu terlalu lama. Jika terlalu lama, yang ada nanti justru sang mama menyodorkan pria-pria untuk dinikahkan dengannya.


“Kapan kamu mau, aku akan datang.” Adriel dengan senang hati datang melamar Arriel. Lagi pula, untuk apa menunggu lama.


Arriel tersenyum. “Bagaimana jika akhir pekan ini?” Arriel merasa akhir pekan waktu yang pas. Dia bisa mengajak anaknya juga. Agar anaknya bisa melihat siapa calon papanya.


“Baiklah, aku akan datang akhir pekan ini ke rumahmu.” Adriel dengan penuh keyakinan menjawab.


Arriel tersenyum. Dia tak sabar Adriel akan datang ke rumahnya. Tak sabar juga untuk segera melepas status janda yang melekat padanya.


...****************...

__ADS_1


...****************...



__ADS_2