
Arriel ke rumah sang mama selepas bekerja. Dia sudah mengabari Adriel jika hari ini dia akan ke rumah mamanya. Awalnya Adriel ingin mengantarkan. Namun, Arriel menolaknya. Mengingat terkadang sang mama begitu ketus. Arriel takut, Adriel akan terluka mendengar ucapan sang mama.
Arriel sampai di rumah sang mama. Saat memarkirkan mobil, dia melihat ada sebuah mobil mewah terparkir. Arriel belum pernah melibat mobil tersebut. Jadi tentu saja, dia bertanya-tanya siapa pemilik mobil itu.
Arriel segera turun dari mobil. Segera masuk ke rumah. Pintu yang sudah terbuka membuat Arriel masuk dengan mudah. Saat masuk dia melihat pria paruh baya di sana. Tentu saja itu membuat Arriel memikirkan siapa gerangan pria itu.
Apa mama punya pacar?
Pikiran Arriel melayang memikirkan akan hal itu. Tentu saja dia penasaran. Karena mamanya jarang membawa pria ke rumah.
Pria itu tersenyum pada Arriel. Tentu saja itu membuat Arriel heran. Dia pun langsung menghampiri. Menyapa tamu mamanya.
“Pasti anak Bu Anggun.” Pria itu menebak.
“Iya, saya Arriel. Anak Bu Anggun.” Arriel membenarkan ucapan pria tersebut.
“Saya Dewa. Teman mama kamu.” Pria itu memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
Arriel mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tidak yakin jika pria itu adalah teman sang mama.
“Saya masuk dulu.” Arriel tersenyum.
Arriel segera masuk untuk mencari sang mama. Ternyata sang mama ada di dapur. Sedang membuatkan minum tamunya.
“Kamu ke sini?” Mama Anggun yang melihat Arriel mengalikan pandangan pada putrinya. Tangannya terus mengaduk minuman.
“Iya, aku ke sini untuk mengantarkan undangan. Siapa tahu Mama mau mengundang teman dekat. Tapi, ingat jangan banyak-banyak.” Arriel meletakkan undangan di meja makan. Kemudian menghampiri sang mama di dapur.
Mama Anggun hanya menatap malas. Dia merasa jika sang anak benar-benar sudah mantap untuk menikah dengan Adriel.
“Sembarangan.” Mama Anggun menepuk Arriel.
“Lalu siapa?” tanya Arriel ingin tahu.
“Dia teman Mama. Anaknya tadinya mau Mama jodohkan denganmu. Umurnya seusia kamu, jadi pas. Bukan berondong.” Mama Anggun menjelaskan siapa pria itu sambil melemparkan sedikit sindiran.
__ADS_1
Arriel menatap malas pada sang mama. Ternyata sang mama mau menjodohkannya.
“Ingat, Ma. Aku akan menikah. Jadi jangan coba-coba menjodohkan aku.” Arriel tak mau sampai sang mama menjodohkan dirinya. Itu jelas akan merusak rencana pernikahannya.
“Bukankah kalimat Mama jelas. “tadinya” artinya baru niat. Jika kamu sudah mantap dengan pria itu silakan saja.” Mama Anggun memang sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Anaknya sudah seratus persen akan menikah dengan Adriel. Tak bisa diganggu gugat.
Arriel merasa lega. Paling tidak, mamanya tidak akan melakukan perjodohan konyol di saat pernikahannya di depan mata.
“Aku pulang dulu.” Arriel yang merasa urusannya sudah selesai, langsung bergegas untuk pergi. Lagi pula berlama-lama dengan sang mama akan membuatnya pusing.
“Iya.” Mama Anggun mengabaikan sang anak. Dia tahu anaknya datang dengan tujuan tertentu. Jadi dia membiarkan anaknya pulang.
Mama Anggun berjalan bersama Arriel yang juga berjalan keluar. Dia ingin menemui tamunya, sedangkan Arriel ingin keluar dari rumah.
Di ruang tamu Arriel berpamitan dengan tamu sang mama. Kemudian pergi meninggalkan rumah sang mama.
“Anak-anak sekarang semakin besar bukan semakin menurut. Makin membangkang.” Mama Anggun mengeluhkan Arriel pada temannya.
__ADS_1
“Anak-anak sudah bisa menentukan pilihannya. Dipaksa pun mereka tidak akan mau.” Pak Dewa menyesap teh yang dibuat oleh Mama Anggun.
Pak Dewa datang untuk memberitahu Mama Anggun jika anaknya menolak untuk menikah dengan cara dijodohkan. Dia mau menikah karena cinta. Padahal umur anaknya sudah tiga puluh lima tahun. Belum juga menemukan wanita yang pas. Bak gayung bersambut, Mama Anggun menjelaskan jika anaknya juga sudah memiliki tambatan hati. Jadi tidak bisa menikah dengan anak temannya itu. Mereka pun harus merelakan niat mereka untuk berbesanan. Karena anak-anak sudah punya pilihan masing-masing.