Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 62


__ADS_3

“Tepat saat aku mulai sekolah menengah atas, David sering mendatangi aku. Dia kakak yang baik, meski bukan pria baik di mata para wanita. Aku punya kakak dan tentu saja aku merasa senang. Dia membuat hidupku berwarna. David tidak pernah meminta aku menerima Pak Dewa. Namun, dia mengajarkan aku untuk berdamai dengan masa lalu. Hingga akhirnya aku menerima Pak Dewa sebagai papaku.” Adriel melanjutkan kembali ceritanya.


“Lalu kenapa kamu tidak tinggal dengannya? Memakai fasilitas darinya?” Arriel penasaran sekali dengan apa yang dilakukan sang suami. Padagal dia punya segalanya.


“Aku belajar satu hal yang terjadi pada papaku. Saat kamu tidak memiliki sesuatu itu sendiri, dan apa yang kamu punya adalah pemberian orang lain, maka kamu akan terus terikat dengannya. Kamu tidak akan bisa menentukan apa yang ingin kamu lakukan.” Adriel mengambil hikmah yang terjadi pada ibu dan papanya itu. “Aku ingin berdiri di kakiku sendiri. Hingga aku tidak perlu merasa takut melangkah. Tak perlu ada yang menghalangi apa pun keputusanku.” Adriel menambahkan ucapannya.


Akhirnya Arriel tahu alasan sang suami tidak sama sekali memakai nama besar, fasilitas, dan segala yang berkaitan dengan sang papa. Suaminya mau mandiri


“Maaf aku tidak ceritakan padamu. Lagi pula aku tidak akan memakai semua yang diberikan padaku, jadi tidak ada gunanya diceritakan.” Adriel merasa memang tidak ada untungnya jika mengatakan jika dia sendiri tidak menikmati. Yang ada hanya memberikan harapan palsu.


“Tapi, tetap saja. Kamu harus mengatakan padaku.” Arriel memukul sang suami.

__ADS_1


“Maaf.” Adriel membawa sang istri ke dalam pelukannya. Dia mengakui salah atas semua yang terjadi. Memang harus dijelaskan pada sang istri.


Arriel yang berada di dalam pelukan sang suami pun mengangguk. Menerima permintaan maaf sang suami. Namun, dia teringat jika bukan hanya sang suami yang meminta maaf. Dia pun segera melepaskan pelukan dari sang suami. Menatap sang suami lekat.


“Maaf atas apa yang dilakukan oleh mama.” Arriel merasa malu dengan aksi sang mama tadi. Dia merasa jika sang mama. Sebagai anaknya, dia harus meminta maaf.


“Tenanglah, aku sudah tidak memikirkan itu. Lagi pula sepertinya mama yang dibuat malu tadi. Semoga itu menjadi efek jera untuk mama.” Adriel merasa jika segala hal itu terjadi, tidak melulu buruk.


“Dari kecil aku terbiasa formal dengan pap. Karena yang aku tahu dia adalah donatur di panti asuhan. Jadi aku merasa sulit untuk berubah. Lagi pula, aku tidak sedekat itu sampai bisa bicara santai.” Adriel tersenyum tipis.


Akhirnya semua pertanyaan Arriel sudah terjawab sudah. Dia mulai mengerti dengan apa yang terjadi pada suaminya. Walaupun sempat kecewa, tetapi dia merasa lega karena suaminya punya alasan khusus untuk melakukannya.

__ADS_1


“Apa semua penjelasanku sudah membuatmu lega?” tanya Adriel memastikan.


Arriel mengangguk. Tak ada lagi pertanyaan darinya. Menurutnya semua sudah terjaga.


“Kalau sudah terjawab. Sekarang gantian aku yang bertanya.”


“Tanya apa?” Arriel menatap penasaran pada suaminya.


“Sebenarnya untuk apa kamu mengambil uang?” Adriel sudah begitu penasaran. Jadi dia memilih bertanya langsung.


Akhirnya pertanyaan itu diberikan suaminya juga. Tentu saja kali ini dia tidak bisa mengelak lagi.

__ADS_1


“Uang itu ....”


__ADS_2