Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 61


__ADS_3

Adriel melajukan mobilnya. Meninggalkan pesta. Sepanjang jalan Arriel memilih diam. Dia tidak mau membicarakan ini semua di mobil, mengingat itu akan membuat konsentrasi Adriel berkurang. Yang ada itu akan membahayakan mereka.


Adriel tahu jika sang istri sedang berusaha menahan diri. Tidak mau mengajaknya bicara di mobil. Karena itu, dia pun memilih untuk tidak membuka obrolan. Menunggu hingga mereka sampai di rumah.


Saat mobil sampai di tempat parkir pun, Adriel dan Arriel belum ada yang bicara. Saat mereka berjalan ke unit apartemen pun mereka masih diam. Adriel adalah orang yang tenang, sedangkan Arriel merasa berdebat di tempat umum tidak akan pernah dilakukannya. Tak mau sampai ada yang melihat dirinya berdebat dengan suaminya di tempat umum.


Arriel membuka pintu apartemen dan segera masuk. Langkahnya diayunkan ke ruang tamu dan segera mendudukkan tubuhnya di sofa empuk miliknya.

__ADS_1


Adriel masih berjalan di belakang Arriel. Menutup pintu sebelum akhirnya memutuskan untuk menghampiri sang istri.


Adriel duduk tepat berada di samping sang istri. Dia memilih menunggu sang istri yang bertanya. Karena sejujurnya, dia bingung harus menjelaskan dari mana.


“Apa kamu tidak berniat menjelaskan?” tanya Arriel menatap kesal pada sang suami. Banyak yang tidak diketahuinya. Seolah dia menikah dengan orang jahat karena begitu banyak rahasia.


“Aku mau dijelaskan semuanya dulu. Mulai dari, bagaimana bisa kamu anak Pak Dewa? Lalu kamu seolah terlihat tidak dekat? Lalu bagaimana bisa kamu punya papa? Kenapa kamu tinggal di panti asuhan?” Arriel memberondong pertanyaan itu pada Adriel. Pertanyaan itu menghiasi kepalanya.

__ADS_1


Adriel memutar tubuhnya menghadap sang istri. Senyumnya tertarik di sudut bibirnya. Merasa lucu dengan pertanyaan yang bertubi-tubi padanya. Dia justru bingung harus menjawab yang mana dulu.


“Aku akan mulai dari membenarkan ucapan Pak Dewa.” Akhirnya Adriel memilih jalan tengah. Karena merasa jika lebih mudah membahasa dari sana. “Yang dikatakan Pak Dewa adalah benar. Aku adalah anaknya. Aku anak dari istri sirinya.” Adriel menjelaskan pada sang istri.


Arriel terkejut mendengar jika sang suami adalah anak dari pernikahan siri. Rasa penasarannya pun begitu menghantuinya. Hingga membuatnya menunggu sang suami menjelaskan.


“Jadi ibuku adalah sekretaris Pak Dewa kala itu. Mereka menjalin hubungan terlarang di belakang istri sah Pak Dewa yaitu ibu David. Pak Dewa dan ibuku menikah secara siri hingga lahirlah aku. Saat keluarga besar Pak Dewa tahu, mereka semua murka. Meminta Pak Dewa mengakhiri pernikahannya dengan ibuku, atau semua aset ditarik. Pak Dewa awalnya tidak mau. Dia tetap ingin mempertahankan ibuku, tetapi keluarga tetap menentang. Ibuku yang melihat suaminya sudah berjuang keras, akhirnya memutuskan untuk mengalah. Meninggalkan Pak Dewa. Dia tinggal bersama Bu Kania. Rasa cinta yang terpendam, membuat ibuku begitu tersiksa. Hingga dia jatuh sakit dan meninggal. Awal ibuku meninggal, Pak Dewa ingin membawaku. Mengadopsi aku. Namun, aku tidak mau saat kecil. Akhirnya Bu Kania tidak mengizinkan. Aku tidak pernah tahu jika dia adalah papaku sampai aku duduk di bangku sekolah pertama. Akhirnya Bu Kania menceritakan semua. Aku berusaha berdamai dengan semuanya, tetapi tidak semudah itu.” Adriel menceritakan kisah kelamnya. Air matanya menetes ketika menceritakan perjalanan hidupnya yang begitu sulit. Anak dua tahun harus kehilangan sang ibu dan tentu saja dia pasti kehilangan sosok itu.

__ADS_1


Arriel yang mendengar cerita itu merasa tidak tega dengan apa yang menimpa sang suami. Ternyata sesulit itu suaminya selama ini.


__ADS_2