
“Setiap orang tua wajar ingin anaknya hidup bahagia dan terjamin. Jadi wajar jika kesal ketika tidak sesuai keinginannya. Walaupun yang dilakukan mama salah, aku paham ketika orang terbawa emosi. Itulah gunanya mengontrol emosi kita. Agar kita tidak seperti mama.” Adriel menatap sang istri dengan senyuman.
Entah bagaimana bisa suaminya itu punya hati yang begitu besar. Padahal jelas dibuat terluka oleh mamanya.
Adriel menangkup pipi sang istri. “Aku marah, kecewa, dan terluka. Tapi, aku tidak suka hidup dengan luka. Jadi aku lebih suka menyembuhkannya dengan membesarkan hatiku. Yang dikatakan tidak benar. Jadi aku tidak perlu marah. Jika pun yang dikatakan benar. Aku anggap itu adalah caraku memperbaiki diri.” Dia kembali menjelaskan pada sang istri.
Arriel pikir suaminya tidak akan terluka, tapi ternyata dia merasa terluka juga.
“Sudah seminggu kejadian itu. Mungkin mama sudah menyadari kesalahannya. Jika dia meminta maaf, kita seharusnya memberikan maaf. Jangan hidup dengan dendam dan rasa kesal, karena itu tidak baik. Aku ingat Bu Kania selalu mengajarkan kami untuk meminta maaf dan memaafkan, jadi jika kamu tanya kenapa semudah itu. Karena kita terbiasa. Selama kesalahan itu bisa diperbaiki dan tidak ada yang merasa dirugikan atau yang dirugikan bisa menerima. Sebaiknya selesaikan kemarahan itu.” Adriel tersenyum. Tatapannya begitu teduh sekali pada istrinya.
__ADS_1
Arriel mengembuskan napasnya. Merasa jika tidak ada salahnya memaafkan mamanya. Lagi pula Mama Anggun adalah mamanya. Jelas mereka akan terus berhubungan.
“Baiklah, ayo.” Akhirnya Arriel luluh juga.
Adriel tersenyum. Kemudian segera bergegas mengulurkan tangan pada sang istri. Mengajaknya segera keluar dari kamar. Menemui mamanya yang sudah menunggu di luar.
Mama Anggun begitu berbinar melihat anaknya keluar. Dia yakin menantunyalah yang membuat anaknya luluh.
“Mau apa Mama ke sini?” Arriel bertanya dengan ketus.
__ADS_1
Adriel hanya bisa menggeleng mendengar ucapan sang istri. Terdengar kasar pada orang tua. Namun, Adriel memilih membiarkan. Dia yakin sang istri tahu yang terbaik untuknya.
“Mama ke sini ingin meminta maaf dengan apa yang sudah Mama lakukan waktu itu. Seminggu ini Mama menyadari jika sudah keterlaluan pada Adriel. Padahal Adriel sudah sangat baik. Dia tidak pernah berlaku kasar meskipun Mama jahat.” Mama Anggun menangis. Dia benar-benar menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya.
“Apa karena sudah tahu Adriel anak orang kaya, jadi Mama meminta maaf?” Arriel menatap Mamanya kesal.
“Tentu saja bukan karena itu.” Mama Anggun mengelak.
“Ma, apa yang Mama lakukan itu sudah melampaui batas. Merendahkan orang seenaknya. Apa Mama tidak pernah berpikir bagaimana perasaan orang itu atau keluarganya. Andai aku yang diperlakukan seperti itu, apa Mama tidak merasa sakit hati?” Arriel meluapkan kekesalannya itu. Dia merasa mamanya harus diberikan pelajaran.
__ADS_1
“Mama tahu, Riel, yang Mama lakukan salah. Karena itu Mama ke sini untuk meminta maaf. Mama hanya melakukan semua ini karena terbawa amarah.” Mama Anggun menangis. Dia beralih pada Adriel. “Driel, Mama tahu yang Mama lakukan sudah menyakitimu. Mungkin Mama tidak pantas untuk dimaafkan, tapi berikan satu kesempatan Mama untuk memperbaiki diri. Mama akan memperbaiki kesalahan Mama.” Dia menatap penuh harap pada menantunya.