
Mama Anggun datang ke apartemen. Niatnya ingin bertemu dengan Arriel. Saat pintu dibuka, ternyata Adriel yang membuka pintu.
“Ma.” Adriel menyapa mama mertuanya.
“Iya.” Mama Anggun menjawab singkat.
“Silakan masuk, Ma.” Adriel mempersilakan mertuanya masuk.
Mama Anggun segera masuk. Duduk di ruang tamu. Adriel segera mengambilkan minum untuk mertuanya. Segelas jus jeruk dibuatnya untuk sang mama.
“Arriel sedang mandi, Ma, tunggu sebentar.” Adriel meletakkan jus jeruk di atas meja sambil memberitahu keberadaan sang istri. Kemudian mendudukkan tubuhnya. Tepat berada di depan mama mertuanya.
“Bagus kalau dia sedang mandi. Jadi aku bisa bicara denganmu.” Mama Anggun menatap Adriel.
Adriel menatap sang mertua. Ada gerangan apa sampai mamanya harus bicara tanpa sang istri. “Tentang apa, Ma?”
__ADS_1
“Apa kamu meminta uang Arriel?”
Pertanyaan yang keluar dari mulut Mama Anggun jelas membuat Adriel terkejut. Dia tidak tahu sama sekali perihal itu.
“Aku tidak meminta uang padanya.” Adriel menggeleng. Dia memang tidak merasa sama sekali meminta uang pada sang istri.
“Aku peringatan untukmu jangan memeras Arriel. Berusahalah sendiri. Kamu ini kepala rumah tangga. Harusnya sadar diri untuk memenuhi kebutuhan. Jangan sampai kamu memanfaatkan istrimu.” Mama Anggun benar-benar tidak terima jika anaknya dimanfaatkan pria muda seperti Adriel.
Adriel sadar dirinya jauh di bawah Adriel dari segi materi. Apalagi usianya lebih muda. Tentu saja orang akan berpikir jika dirinya hanya memanfaatkan. Terlepas dirinya bekerja, tetap saja pandangan orang tidak akan bisa diubah. Termasuk mama mertuanya sendiri.
Berada dalam pernikahan yang berjarak cukup jauh, tentu saja adalah hal berat untuk Adriel. Jika pernikahan berbeda umur itu dilaksanakan oleh pria lebih tua pada wanita muda, orang masih berpikir itu adalah keberuntungan, tetapi jika pria muda dan wanita yang lebih tua, jelas menimbulkan stigma jika mereka hanya menikahi demi harta.
“Mama tenang saja. Aku tahu tanggung jawabku. Akan aku pastikan jika Arriel tidak akan menggunakan uangnya sepeser pun selama menikah denganku.” Dengan tenangnya Adriel menjawab.
“Bagus kalau begitu.” Mama Anggun merasa tetap masih harus berhati-hati. Dia akan memantau terus menantunya itu.
__ADS_1
Teman-temannya banyak bercerita kalau anak-anak muda jaman sekarang sengaja mengincar wanita-wanita kaya untuk mendapatkan hidup mewah. Menumpang hidup pada wanita.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Arriel keluar dari kamar. Dia sedikit terkejut ketika melihat sang mama. Mamanya tidak mengatakan apa pun jika mau ke apartemen.
“Mama sudah lama?” tanya Arriel.
“Belum.” Mama Anggun menggeleng.
Arriel menghampiri sang suami. Dia duduk di samping sang suami. Senyum sang suami yang menyambutnya membuat Arriel senang. Jika sang suami tersenyum, berarti tidak ada obrolan yang menyakitkan yang dilakukan sang mama.
“Mama ada keperluan apa ke sini?” tanya Arriel menatap sang mama.
“Mama hanya ingin memastikan. Apa wanita yang berada di undangan dari Pak Dewa adalah Mauren?” Mama Anggun mengeluarkan undangan di dalam tasnya.
Arriel melihat undangan yang diberikan mamanya. Ternyata sang mama dapat undangan lebih dulu. Padahal dirinya saja belum dapat.
__ADS_1
“Iya. Itu Mauren.” Arriel membenarkan ucapan sang mama.
Mama Anggun sedikit terkejut. Tidak menyangka jika teman anaknya justru dapat orang kaya. Tentu saja itu membuatnya iri. Anaknya justru mendapatkan pria biasa.