Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 66


__ADS_3

Adriel mengejar sang istri yang masuk ke kamar. Langkah sang istri yang begitu cepat, membuatnya kesulitan mengejar.


“Sayang, kenapa kamu masuk?” tanya Adriel saat masuk ke kamar.


Arriel yang berada dalam posisi membelakangi sang suami, langsung berbalik ketika mendapati pertanyaan. “Kenapa tidak memberitahu jika mama yang datang?” Arriel melemparkan protesnya. Dia kesal karena sang suami tidak memberitahu dan main mengajaknya keluar.


“Jika aku memberitahu, jelas kamu pasti tidak akan menemuinya.” Adriel sudah tahu bagaimana sikap sang istri.


“Sudah tahu aku tidak akan menemuinya. Kenapa kamu mempersilakan dia masuk.” Arriel semakin kesal dengan sang suami.


“Sayang.” Adriel mencoba memanggil.


“Apa kamu tidak ingat jika mama sudah merendahkan kamu waktu di pesta Mauren dan David. Apa tidak ada rasa kesal di hatimu sampai bisa mempersilakan mama masuk?” Arriel benar-benar heran dengan suaminya itu. Padahal harusnya, dia yang lebih benci dibanding dirinya. Namun ternyata justru sang suami tampak biasa saja.

__ADS_1


“Sayang.” Adriel memanggil sambil menyunkan langkah menghampiri sang istri.


“Dengar aku juga kesal, tapi bukan berarti aku harus membalas dengan tidak menerima kedatangan mama. Siapa tahu kedatangan mama—“


“Kedatangan mama ingin meminta maaf karena sudah menghina menantunya. Dengan niat karena sudah tahu jika menantunya anak orang kaya. Andai tidak ada kenyataan kamu anak Pak Dewa, belum tentu dia akan ke sini untuk meminta maaf.” Arriel memotong ucapan Adriel. Emosinya meledak-ledak ketika mengingat semua yang sudah dilakukan mamanya.


Adriel hanya bisa mengembuskan napas. Istrinya benar-benar sulit untuk diajak bicara. “Sekarang aku tahu sifatmu yang mudah curiga pada orang itu adalah sifat keturunan mama.” Alih-alih membujuk dia justru mengomentari sifat istrinya.


Arriel membulatkan matanya ketika sang suami justru menuduhnya seperti itu. Tentu saja dia merasa kesal. “Kenapa kamu menyamakan dengan mama?” tanyanya.


Mata Arriel yang tadi menatap sang suami dengan membulatkan matanya seketika langsung menyipitkan matanya. Dia memikirkan apa yang diucapkan sang mama. Arriel merasa yang dikatakan suaminya ada benarnya. Dia memang sering mudah curiga. Apalagi jika terkait mamanya. Dan itu juga terjadi dengan mamanya. Jika dibilang sifat itu keturunan tentu saja bisa jadi.


“Aku rasa kamu akan semenyebalkan itu pada anak kita. Sama persis dengan mama.” Adriel bergidik ngeri membayangkan hal itu.

__ADS_1


“Enak saja. Aku tidak akan seperti itu.” Arriel merasa jika memang tidak mau sama sekali menjadi seperti mamanya.


“Jika kamu tidak mau seperti itu buang pikiran burukmu itu. Temui mama dan tanya apa yang menjadi tujuan mama datang.” Adriel ingin sang istri mengubah sedikit sifat penuh curiga istrinya itu.


Arriel masih berat jika harus menemui sang mama. Rasanya, bayang-bayang kala itu masih melintas di kepalanya.


“Jika dia meminta maaf bagaimana?” tanya Arriel menatap sang suami.


“Tinggal maafkan.” Adriel dengan entengnya menjawab.


“Semudah itu?” Arriel membulatkan matanya ketika mendengar jawaban sang suami.


“Iya. Memang harus bagaimana lagi?”

__ADS_1


“Apa kamu tidak merasa sakit hati dengan apa yang dilakukan mama?” Arriel benar-benar heran sekali dengan suaminya itu.


__ADS_2