
Pagi ini anak Arriel sudah dibawa. Semalam anak mereka berada di ruang perawatan anak untuk menjalani tes. Saat mendapati anak Arriel dan Adriel baik-baik saja, mereka membawa ke ruang perawatan.
Arriel menggendong anaknya. Merasa begitu bahagia melihat putranya itu. Kini anaknya sudah sepasang. Ada Loveta-perempuan dan anaknya yang baru lahir laki-laki.
“Dathan akan ke sini pagi ini.” Adriel memberitahu rencana Dathan.
“Pasti Lolo akan senang melihat adiknya.” Arriel tak sabar melihat putrinya yang akan bertemu dengan adiknya.
“Tentu saja dia akan senang.” Mama Anggun juga tak sabar melihat Loveta yang akan antusias seperti dirinya kemarin. Mama Anggun begitu bahagia ketika cucunya lahir. Bersama dengan Pak Dewa, David, dan Mauren mereka kemarin menunggu anak Arriel. Mulai dipindahkan dari ruang operasi sampai ke ruang bayi.
Pagi ini semua juga hadir kembali. Apalagi mereka semua mendapatkan kabar jika anak Arriel akan dipindahkan ke ruang perawatan.
Selang beberapa saat Loveta datang. Dia langsung berlari menghampiri mamanya.
“Adik.” Loveta begitu semangat sekali melihat adiknya.
“Kakak.” Arriel memanggil Loveta sebagai perwakilan anaknya.
“Anak Lolo laki-laki dua.” Loveta menunjukkan jarinya.
“Iya.” Arriel membenarkan. Dia tahu dua adik maksud yang dimaksud adalah anaknya dan anak Neta.
__ADS_1
“Selamat, Riel.” Dathan memberikan ucapan selamat
“Terima kasih.” Arriel tersenyum.
“Nanti Lolo akan ajak main bersama Danish.” Loveta tak sabar membawa adiknya itu untuk pulang.
“Dari kemarin kita belum tahu namanya?”
Saat mendengar nama anak Neta, Mauren teringat jika belum tahu nama anak Arriel. Sejak kemarin memang belum ada yang memberitahu nama anak mereka.
Adriel dan Arriel tersenyum.
“Alcander Janitra.” Adriel memberi tahu nama anaknya.
“Apa Papa keberatan?” Adriel menatap sang papa. Dia sudah berdamai. Walaupun belum bekerja di perusahaan papanya. Dia ingin kelak anaknya saja yang bekerja di perusahaan kakeknya itu.
“Tentu saja tidak. Aku justru senang.” Pak Dewa begitu terharu.
David ikut senang saat adik tirinya itu berdamai dengan kenyataan. Anaknya tetaplah darah daging papanya. Garis keturunan keluarga Janitra.
“Siapa panggilannya?” tanya David.
__ADS_1
“Alca.” Adriel menyebut nama panggilan anaknya.
“Adik Alca.” Loveta memanggil Adiknya.
Suasana bahagia begitu terasa. Semua merasakan bahagia yang dirasakan oleh Adriel dan Arriel.
...****************...
Arriel dan bayinya sudah pulang ke apartemen. Arriel sudah menikmati indahnya menjadi ibu. Hal yang tak pernah dirasakan sewaktu Loveta lahir.
Hari ini Neta, Dathan, Loveta, dan Bu Kania datang ke apartemen. Walaupun Bu Kania sudah datang sewaktu di rumah sakit, tapi dia datang lagi karena ingin melihat cucunya.
Neta tak datang sendiri. Dia datang dengan dua anaknya yang berusia dua bulan.
“Halo Adik Alca.” Neta menyapa Anak Adriel dan Adriel. Dia langsung menggendong anak Arriel tersebut. Jarak usia dengan anaknya Cuma dua bulan. Jadi nanti jika besar usia mereka akan sama.
Baru saja Neta menggendong, Nessia sudah menangis. Seolah tak rela jika maminya menggendong bayi lain.
“Astaga, lihatlah. Baru saja menggendong Alca, sudah ada yang menangis.” Neta merasa lucu.
“Nessia, Mami gendong Alca sebentar.” Loveta menasihati adiknya.
__ADS_1
Semua tersenyum merasa lucu dengan aksi Loveta. Mereka berharap kelak Loveta akan jadi kakak yang baik untuk adik-adiknga kelak.