Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 52


__ADS_3

Di mobil Arriel memilih diam. Adriel pun membiarkan sang istri diam saja. Lagi pula ada anaknya. Tidak baik jika anaknya mendengar mereka membahas hal itu.


“Tadi Mama kenapa?” Loveta tadi tidak tahu kenapa mamanya tampak marah dan meninggikan suara. “Mama marah dengan nenek?” Dia memastikan kembali pada sang mama.


Arriel menyesali ketika anaknya mendengar pertengkaran itu. Jelas sekali jika itu tidak baik untuk anaknya.


“Mama tadi hanya terkejut, jadi meninggikan suara. Mama tadi melihat brosur mobil dan harganya mahal. Mama sedikit kesal karena harga mobil begitu mahal.” Arriel memilih berbohong. Karena tidak mau sampai sang anak mengetahui alasan kemarahannya.


“Oh ....” Loveta yang polos pun mengangguk mengerti. Tadi dia sibuk menggambar. Jadi dia tidak tahu apa yang dibicarakan orang tuanya.


Arriel sedikit menyesal karena anaknya sempat mendengar dirinya bertengkar. Ini jelas tidak baik sama sekali untuk anaknya. Arriel berjanji tidak akan mengulang kembali. Tidak akan ada pertengkaran lagi di depan anaknya.


Mobil akhirnya sampai di apartemen. Adriel mengendong Loveta yang sudah mengantuk. Sampai di apartemen dia mengantarkan anaknya ke kamar. Sang istri yang selanjutnya mengurus. Mengganti baju dan mengantarkannya tidur.

__ADS_1


Di saat menunggu sang istri, Adriel kembali membaca program kehamilan itu. Maxton Hospital memang rumah sakit cukup terkenal. Dia tahu ada dokter kandungan yang sudah terkenal sekali. Jadi wajar jika harga yang ditawarkan untuk program kehamilan cukup mahal.


Arriel keluar dari kamar anaknya setelah anaknya tidur. Dia menyusul sang suami yang sedang duduk manis di ruang tamu. Dari kejauhan, dia melihat sang suami yang memegang brosur dari mamanya. Tidak menyangka sang suami membawanya.


“Kenapa membawanya?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut Arriel. Dia masih kesal dengan program kehamilan yang ditawarkan oleh sang mama.


“Aku hanya mau melihat. Siapa tahu kita mampu.” Adriel tersenyum.


Adriel tersenyum. Kemudian meletakan brosur itu di atas meja. Dia membenarkan ucapan sang istri. Jika mereka pas-pasan. Mungkin bisa saja dia menggunakan uang sang istri. Namun, dia tidak akan melakukannya. Mengingat semua adalah tanggung jawabnya. Seberapa beratnya, Adriel akan berusaha memenuhinya. Tanpa menggunakan uang sang istri. Karena dia adalah kepala rumah tangga.


Arriel duduk di samping sang suami. Masuk ke dalam pelukannya untuk sekadar menenangkan hatinya yang kesal.


“Aku akan berusaha mendapatkan uang jika kamu ingin melakukan program itu.” Adriel membelai lembut rambut sang istri.

__ADS_1


“Tidak perlu, kita coba saja secara alami.” Arriel menolak. Dia tak mau sang suami sampai kesusahan untuk mendapatkan uang.


“Baiklah, jika kamu berpikir seperti itu. Kita coba dulu.” Adriel mendaratkan kecupan di puncak rambut sang istri.


“Maaf.” Satu kata terucap dari mulut Arriel sambil mengeratkan pelukannya.


“Kenapa minta maaf?” Adriel tidak mengerti kenapa istrinya itu meminta maaf seperti itu.


“Mama selalu saja merendahkanmu.” Arriel merasa tidak enak dengan sikap sang mama.


Adriel tersenyum. “Jangan pikirkan itu. Aku tidak masalah.”


Arriel mengeratkan pelukannya. Itulah alasannya tidak menawarkan uangnya untuk program kehamilan. Dia tidak mau merendahkan sang suami yang mungkin kemampuan finansialnya di bawahnya. Andai, sang suami sendiri yang mengatakan ‘pakai uangmu saja’ mungkin Arriel tidak akan pernah keberatan. Namun, Arriel merasa suaminya tidak akan mengatakan hal itu sama sekali. Jadi, dia pun akan menghargainya.

__ADS_1


__ADS_2