
Adriel keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Saat keluar sang istri sudah menyiapkan kemejanya untuk bekerja hari ini. Dengan segera Adriel memakai pakaiannya.
Saat tinggal dasinya saja, dia memilih menghampiri sang istri yang sedang merias wajahnya di depan cermin. Memintanya untuk memasangkan dasi.
Arriel yang melihat sang suami dari pantulan cermin pun langsung bergegas untuk berdiri. Meraih dasi yang diberikan oleh sang suami. Ini adalah pengalaman pertama memasangkan dasi pada sang suami. Dulu Arriel pernah melakukannya ketika menikah dengan Dathan, dan itu sudah lama sekali.
“Memandangmu seperti ini membuat aku gemas.” Adriel yang sedari tadi melihat Arriel segera mendaratkan kecupan di pipi sang istri. Mereka memang sedang menjalani indahnya pernikahan. Jadi wajar jika Adriel begitu senang sekali dengan hal itu.
“Bukankah sejak semalam kamu memandangi aku.” Arriel menggoda sang suami.
“Tapi, tetap saja kurang.” Adriel kembali mendaratkan kecupan di pipi sang istri.
“Diamlah dulu. Aku harus pasang dasimu.” Arriel merasa jika sang suami tidak bisa diam sama sekali.
Adriel mengabaikan sang istri. Dia terus mendaratkan kecupan di pipi sang istri.
Seusai bersiap, Adriel dan Arriel berangkat bekerja. Mereka mengendarai mobil masing-masing. Mobilitas mereka yang padat membuat mereka memilih jalan masing-masing. Agar tidak tergantung dengan satu dengan yang lain.
__ADS_1
...****************...
Arriel yang sampai di kantor langsung masuk ke ruangannya. Mengecek pesanan yang masuk beberapa hari ini.
Suara ketukan pintu terdengar. Arriel mengalihkan pandangannya ketika matanya masih fokus pada layar laptopnya. Tampak Mauren berada di balik pintu.
“Hai, pengantin baru.” Mauren menggoda Arriel.
Arriel memutar bola matanya. Malas sekali ketika temannya itu menggoda.
Mauren segera duduk di kursi yang berada di depan meja Arriel.
“ Yang halal pasti nikmat.” Arriel menyeringai.
Mauren memutar bola matanya malas. Dia merasa jika temannya itu pasti menyindirnya.
Arriel seketika tertawa. Dia tahu temannya kesal karena dirinya yang menyindir.
__ADS_1
“Sudah lupakan. Katakan padaku. Apa banyak pesanan?” Arriel menatap temannya itu.
“Tidak, hanya pesanan biasa saja.” Mauren menjelaskan. “Hanya saja mamamu ke sini.” Ragu-ragu dia menceritakan pada Arriel.
Arriel tampak terkejut ketika sang mama datang ke tokonya di saat dirinya bulan madu. “Mau apa mama ke sini?” Arriel begitu penasaran sekali.
Mauren ragu untuk mengatakannya. Namun, temannya harus tahu. “ Pengecek keuangan toko.” Akhirnya dia menjelaskan kedatangan dari Mama Anggun.
Arriel yakin sekali, mamanya sengaja melakukan semua itu untuk memastikan jika keuangan toko tidak akan digunakan oleh Adriel. Arriel benar-benar tidak menyangka jika mamanya bisa seperti itu.
“Mamamu meminta aku untuk mengatur gajimu. Selama menikah, keuntungan toko yang menjadi hakmu akan masuk ke dalam tabungan.” Mauren menjelaskan kembali permintaan mama Arriel.
Arriel mengembuskan napasnya kasar. Mamanya benar-benar keterlaluan. Entah apa yang dipikir sang mama. Sampai sejauh itu berpikir. Padahal Arriel yakin, Adriel tak punya pikiran memakai uangnya.
“Lakukan saja yang diminta mama.” Arriel memilih jalan itu. Dari pada bertengkar dengan sang mama, lebih baik mengikuti. Lagi pula dia malas jika harus bertengkar.
“Baiklah.” Mauren mengangguk. Dia masih menatap temannya itu. “Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Mauren memastikan.
__ADS_1
Arriel tersenyum. “Aku tidak apa-apa. Ini justru bagus. Jadi aku bisa menunjukkan jika hidup dengan Adriel semua akan baik-baik saja. Aku dan Adriel akan bertahan.” Arriel merasa memang inilah saatnya membuktikan pada mamanya jika Adriel adalah pria baik yang bertanggung jawab.
Mauren bangga pada temannya itu. Memang temannya itu orang yang begitu gigih sekali. Jadi wajar saja jika apa yang dilakukan sang mama tidak menjadi hambatan. Sebagai teman, tentu saja, dia akan mendukungnya.