
Akhirnya pesta pernikahan selesai juga. Acara berlanjut sampai malam. Arriel dan Adriel memilih kembali ke kamar. Namun, sebelum kembali, dia memilih untuk bertemu lebih dulu dengan Neta dan Dathan karena ingin bertemu dengan Loveta.
“Sayang, tiga hari ke depan, Mama tidak bisa jemput. Jadi nanti Lolo dijemput papi saja ya.” Arriel memberitahu anaknya. Dia berjongkok untuk mensejajarkan anaknya.
“Iya, Mama. Nanti Lolo akan pulang dengan papi.” Loveta mengangguk.
Arriel berdiri. Adriel segera membantu istrinya itu untuk berdiri. Arriel segera mengalihkan pandangannya pada Neta dan Dathan.
“Tenanglah, Cinta akan baik-baik saja. Kalian bulan madu saja yang tenang.” Neta tersenyum. Dia tahu Arriel khawatir pada anaknya.
“Sebenarnya tidak perlu ada yang aku khawatirkan. Karena aku yakin kalian akan menjaga Loveta dengan baik.” Arriel sadar. Anaknya lebih banyak dengan Neta dan Dathan. Jadi wajar saja jika anaknya akan aman dengan mereka.
“Kalian akan berangkat besok pagi?” Dathan menatap Adriel. Dia sudah dengar jika besok Adriel dan Dathan akan ke pulau dewata.
“Iya, kami akan pergi besok pagi.” Adriel memang memilih pulau dewata, mengingat dia tidak bisa mengambil banyak cuti. Jadi di saat waktunya tidak banyak, tentu saja dia memilih yang dekat saja.
__ADS_1
“Selamat bersenang-senang.” Neta tersenyum. Senyumnya itu penuh arti.
Arriel merona. Dia malu ketika Neta senyum-senyum padanya.
“Ta, titip anak-anak.” Adriel menitipkan anak-anak panti pada Neta.
“Tenanglah, aku akan urus.” Neta tersenyum. Padahal suaminya yang mengurus semuanya. Dia hanya memberikan perintah apa yang harus dilakukan. Maklum, ibu hamil selalu bisa memanfaatkan keadaan.
“Baiklah.” Adriel merasa tenang. Jika anak-anak panti sudah aman. Jadi tentu saja semua akan aman.
Arriel dan Adriel segera ke kamar. Mereka memilih penerbangan pagi, karena ingin memanfaatkan waktu dengan baik.
“Kita akan berangkat besok jam berapa?” Sambil berjalan ke kamar dia bertanya.
“Karena penerbangan jam tujuh, kita berangkat jam lima saja. Kita bisa sarapan di
__ADS_1
bandara lebih dulu.” Adriel tersenyum.
“Baiklah.” Arriel mengangguk. Jadi paling tidak dia akan bisa istirahat lebih dulu. Sebelum besok pergi ke Bali.
Langkah mereka terus diayunkan ke kamar yang sudah disiapkan di sana. Barang-barang mereka pun sudah dipindahkan oleh pihak WO ke kamar tersebut. Tepat di depan kamar, Adriel menempelkan access card untuk membuka pintu.
Saat Adriel membuka pintu, jantung Arriel begitu berdebar-debar. Kini mereka sudah resmi suami-istri. Jadi mereka jelas bisa melakukan apa-apa.
Saat pintu dibuka, aroma bunga mawar tercium. Arriel sudah paham jika pasti itu karena dekorasi bunga yang berada di kamar.
“Ayo masuk.” Adriel melebarkan pintunya. Mempersilakan Arriel masuk.
Arriel yang tersadar dari pikirannya itu segera mengayunkan langkahnya. Masuk ke kamar. Adriel yang berada di belakang Arriel segera menempelkan access card untuk menyalakan lampu. Benar saja, saat lampu dinyalakan, benar saja, bunga disusun rapi di atas tempat tidur berbentuk ‘love’, seolah sudah menyambut mereka pengantin baru yang malam ini menginap.
Adriel segera menutup pintu dan menyusul Arriel. Saat melihat tempat tidur dihiasi dengan bunga, senyumnya merekah. “Sepertinya, kamar ini sudah menyambut kita.” Adriel berbisik tepat di telinga Arriel.
__ADS_1