
“Pa, saya ke sini ingin meminta maaf atas mama. Karena waktu itu sudah membuat pesta berantakan.” Akhirnya Arriel menjelaskan kedatangannya.
“Aku sudah tidak mempermasalahkan itu. Jadi tidak perlu meminta maaf. Waktu itu aku juga sedikit emosi. Jadi aku pun meminta maaf juga.” Pak Dewa tersenyum pada menantunya. “Apa kamu baik-baik saja setelah kejadian itu?” Dia justru khawatir dengan yang dilakukan Mama Anggun pada anaknya.
Arriel tidak menyangka papa mertuanya justru khawatir dengannya. “Saya baik-baik saja. Mama memang seperti itu, tapi saya tidak menyangka jika Beliau akan melakukan di tempat umum.” Itulah kekecewaan yang dirasakannya.
Pak Dewa tersenyum. Merasa senang menantunya baik-baik saja.
“Ada yang ingin saya tanyakan, Pak.” Adriel yang dari tadi mendengar obrolan papa dan istrinya akhirnya membuka suara juga.
Pak Dewa yang mendengar segera mengalihkan pandangan pada anaknya.
“Tanya apa?”
“Beberapa orang tentu tahu karena Pak Dewa memberitahu jika saya anak Pak Dewa. Apa itu tidak akan merusak reputasi Pak Dewa? Bagaimana dengan saham perusahaan jika ada orang menjadikan semuanya ini senjata menjatuhkan perusahaan?” Dari kemarin inilah yang dipikirkan oleh Adriel. Dia merasa jika papanya mengungkap anak hasil hubungan pernikahan siri, tentu saja akan membuat dampak buruk pada perusahaan.
__ADS_1
“Aku tidak peduli apa pun yang akan terjadi. Ini memang harusnya aku ungkap sejak dulu. Dulu aku terlalu takut dengan orang tuaku karena takut perusahaan akan berdampak dengan skandal yang aku buat, tapi kini sudah tidak ada yang aku takutkan lagi.”
Sekarang orang tua Pak Dewa sudah tiada. Jadi Pak Dewa berhak untuk mengungkapkan semua. Apa pun risiko yang akan didapat, tetap akan diterimanya dengan lapang.
Adriel merasa tenang karena dia tidak mau sampai keberadaannya akan membuat orang lain kesulitan.
“Karena orang-orang sudah tahu jika kamu adalah anakku. Sebaiknya kamu segera menerima apa yang aku berikan.” Pak Dewa menatap Adriel. Dia merasa sudah saatnya anaknya menerima saham, properti, dan fasilitas darinya. Sejak dulu anaknya tidak pernah menerima akan hal itu. Tentu saja itu membuatnya merasa sedih.
“Terima kasih, tapi saya belum bisa menerima itu semua. Saya masih nyaman dengan hasil yang saya miliki.” Adriel tersenyum tipis.
Arriel bingung menjawab apa. Dia tentu saja tidak akan bisa membujuk sang suami. Apalagi prinsip sang suami ingin berdiri di kaki sendiri.
“Iya, Pa.” Arriel mengangguk.
Adriel tersenyum. Ternyata papanya menggunakan dirinya untuk menerima semua yang diberikan papanya.
__ADS_1
Karena urusan sudah selesai, akhirnya Adriel dan Arriel memutuskan untuk pulang. Pak Dewa meminta Arriel sering datang ke rumah. Mengunjunginya. Arriel mengiyakan. Dia akan datang untuk bertemu dengan Pak Dewa nanti jika punya waktu luang.
“Apa kamu tidak mau ke rumah mama?” Di dalam perjalanan, Adriel mengisi keheningan di dalam mobil.
Arriel langsung mengalihkan pandangan pada sang suami. Melihat sang suami yang sedang fokus memandang ke jalanan.
“Tidak.” Dengan tegas Arriel menolak.
Adriel menoleh pada ke arah istrinya. Membagi konsentrasinya dengan jalanan.
“Kamu masih marah dengan mama?” tanyanya.
“Tentu saja. Aku masih marah karena mama merendahkan suami. Istri mana yang rela suaminya direndahkan seperti itu.” Kali ini kemarahan Arriel tidak main-main. Jika kemarin-kemarin dia masih memaafkan mamanya, tidak untuk kali ini.
Adriel melihat kemarahan sang istri dengan jelas. Jadi tentu saja dia memilih untuk membiarkan lebih dulu. Nanti dia akan bicara jika sang istri jauh lebih tenang.
__ADS_1