Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 69


__ADS_3

“Sayang, bangun.” Adriel membangunkan sang istri. Hari ini, dia dan sang istri ingin menjajal alat tes kehamilan. Jadi Adriel membangunkan sang istri yang masih tertidur.


“Aku masih mengantuk.” Arriel menarik selimutnya. Merasa masih mengantuk sekali.


“Sayang, kita mau cek alat kehamilan ‘kan?” Adriel berbisik tepat di telinga sang istri.


Mendengar suara berbisik dari suaminya,


Arriel segera langsung membuka matanya. Dia baru teringat jika ternyata dia harus mengecek alat tes kehamilan yang dibelinya kemarin. Arriel sudah terlambat datang bulan selama seminggu. Jadi sebelum ke dokter dia akan mengeceknya dulu.


Saat membuka matanya, dia disambut senyuman oleh sang suami. Senyuman yang selalu menenangkan hati.


“Ayo kita coba.” Adriel mendaratkan kecupan di dahi sang istri.


Arriel mengangguk. Dia sudah berdebar-debar sebelum menjajal alat tes kehamilan. Namun, dia harus bisa mengontrolnya.


Arriel perlahan bangun. Bersandar pada headboard tempat tidur. Mengumpulkan keberaniannya terlebih dahulu.


Adriel ikut duduk bersama sang istri. Tangannya menggenggam erat tangan sang istri. Menguatkan sang istri yang sedang berusaha memberanikan diri untuk mengecek kehamilan dengan alat tes kehamilan.

__ADS_1


“Dengar, apa pun hasilnya. Kita masih bisa berusaha. Jadi jangan takut.” Adriel memberikan semangat pada sang istri.


Arriel mengembuskan napasnya. Berpikir apa pun hasilnya, tidak boleh berkecil hati. Ada suaminya yang sudah mendukungnya. Jadi dia harus kuat.


“Ayo.” Arriel dengan percaya diri bersiap untuk mengecek kehamilan dengan alat tes kehamilan.


Dia segera menyingkap selimut dan menurunkan kakinya ke lantai kamarnya. Adriel yang juga ikut bangun segera mengambil alat tes kehamilan. Dia berdiri bersamaan dengan sang istri dari sisi yang berlawanan dari sang istri.


Tepat di depan kamar mandi, Adriel memberikan alat tes kehamilan pada sang istri. Arriel segera mengambil alat tes kehamilan itu. Dia melihat alat tes kehamilan itu untuk sejenak.


“Kamu pasti kuat.” Adriel kembali memberikan semangat.


Sesaat kemudian Arriel keluar dari kamar mandi. Adriel yang melihat sang istri keluar menatap sang istri. Memerhatikan wajah sang istri. Tampak jelas wajah sang istri yang sedih. Hal itu membuat Adriel membawa sang istri langsung ke dalam pelukannya.


Di dalam pelukan sang suami Arriel terisak. Dia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan sang suami.


Adriel benar-benar tidak tega mendengar isak tangis sang istri. Hasil yang tidak sesuai dengan keinginan itu tentu pasti membuat Arriel kecewa.


“Kita akan coba lagi.” Adriel menguatkan sang istri.

__ADS_1


Arriel masih terisak. Hingga akhirnya dia


sedikit bisa mengatur suara isak tangisnya. Dia pun melepaskan pelukan sang suami untuk melihat sang suami. Adriel yang dapat melihat wajah sang istri segera menghapus air mata yang mengalir di wajah sang istri.


“Hasilnya positif.” Di tengah isak tangis yang masih tersisa, Arriel memberitahu sang suami.


Adriel yang sedang menghapus air mata sang istri langsung menghentikan gerakannya. Dia menatap sang istri dengan lekat.


“Apa yang kamu bilang?” tanya Adriel memastikan.


“Hasilnya positif.” Arriel menunjukkan alat tes kehamilan pada suaminya. Sebenarnya Arriel menangis karena hasilnya adalah hasil yang ditunggunya selama ini. Dia tidak menyangka akhirnya dia hamil juga.


Adriel segera meraih alat tes kehamilan yang diberikan oleh sang istri. Dia melihat segera hasilnya. Alangkah terkejut melihat dua garis yang tertera di alat tes kehamilan.


“Kamu hamil?” tanya Adriel memastikan.


“Iya.” Arriel mengangguk.


Adriel langsung memeluk sang istri. Dia begitu bahagia sekali karena akhirnya istrinya hamil juga. Tentu saja ini adalah hal yang membahagiakan bagi mereka berdua. Usahanya tidak sia-sia. Buah dari kesabaran akhirnya berbuah manis juga.

__ADS_1


__ADS_2