Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 46


__ADS_3

Siang ini Arriel dan Adriel mengajak Loveta untuk makan siang bersama. Mereka memilih restoran di dekat kantor Adriel agar lebih mudah Adriel datang.


“Lolo.” Adriel yang melihat Loveta langsung merentangkan tangannya.


Loveta sendiri langsung berlari pada Adriel. Masuk ke pelukan papa barunya itu.


“Anak Papa apa kabar?” Adriel tersenyum melihat sang papa.


“Baik.” Senyum gadis kecil itu pun menghiasi wajahnya.


“Papa punya hadiah buat Lolo.” Adriel segera menurunkan Loveta. Mengajak gadis kecil itu untuk duduk.


Adriel memberikan hadiah pada Loveta mainan pada anak sambungnya itu. Loveta begitu senang sekali. Apalagi yang diberikan Adriel adalah boneka.


Arriel tersenyum melihat interaksi anak dan suaminya. Sejak awal mereka memang sudah akrab. Jadi tidak sulit untuk dekat. Tak perlu ada yang dikhawatirkan.


“Ayo makan dulu.” Arriel menghentikan kegiatan ayah dan anak itu.

__ADS_1


Mereka bertiga makan bersama. Loveta bercerita banyak hal tentang sekolah. Hal itu membuat Arriel dan Adriel begitu antusias sekali. Saat Loveta bercerita, memang membuat suasana begitu ramai sekali. Jadi membuat semua bahagia.


“Adik Lolo di perut Mama belum ada?” Loveta dengan polosnya bertanya pada Arriel.


Arriel hanya bisa tersenyum. “Belum, nanti kalau sudah ada Mama beritahu.”


“Iya, Lolo tunggu.” Loveta mengangguk.


Arriel juga berharap, jika dia akan segera memiliki anak. Namun, pernikahannya saja baru saja terjadi. Jadi tentu saja belum pasti langsung memiliki anak.


“Kalau punya adik, Lolo mau adik apa? Perempuan apa laki-laki?” Adriel mengajak Loveta untuk berdiskusi.


Adriel membelai lembut rambut Lolo. Berharap yang diinginkan Loveta terkabul.


Mereka bertiga melanjutkan menikmati makan. Sayangnya, mereka tidak bisa berlama-lama mengobrol sambil makan, mengingat Adriel harus kembali bekerja. Seusai makan pun mereka memutuskan untuk segera kembali. Adriel ke kantornya, sedangkan Arriel mengantarkan anaknya pulang lebih dulu.


Arriel mengantarkan Loveta ke rumah Dathan. Dia sempat bertemu dengan Neta di sana. Neta mengatakan jika minggu besok Loveta akan pergi dengannya ke panti asuhan. Jadi minggu besok anaknya tidak bisa ke rumahnya. Arriel sendiri tidak masalah. Mereka masih bisa bersama minggu depannya.

__ADS_1


...****************...


Arriel duduk bersandar pada headboard tempat tidur. Dia terus menggambar detail kalung yang akan menjadi koleksinya berikutnya. Arriel selalu menggunakan waktunya untuk sekedar menggambar. Dari pada menunggu dengan bosan. Paling tidak, ada yang dilakukannya.


Suaminya yang keluar dari kamar mandi membuat Adriel mengalihkan pandangan. Dilihatnya sang suami dengan handuk melilit di pinggangnya. Ditambah tetesan air tampak begitu menggoda sekali. Namun, Arriel menyingkirkan pikirannya itu.


“Minggu ini Lolo tidak bisa ke sini. Kata Neta, mereka akan ke panti asuhan.” Arriel pun memilih membahas apa yang dikatakan Neta tadi siang. Dari pada pikirannya melayang memikirkan tubuh sang suami.


“Kalau begitu, besok kita bisa ke makam.” Adriel merasa liburannya bisa dipakai untuk bertemu dengan mamanya.


“Bisa.” Arriel sudah pernah diajak ke makam oleh Adriel. Jadi kali ini dia tidak keberatan jika liburan dipakai untuk berkunjung ke


makam.


Adriel berjalan sambil memakai kaosnya. Menghampiri sang istri yang sedang duduk menikmati waktu menggambar.


“Sekalian, kita belajar memasak.” Adriel memberikan ide.

__ADS_1


“Boleh juga.” Arriel semangat sekali. Dia ingin bisa memasak agar bisa membuatkan masakan untuk sang suami nanti. Jadi dia akan mendapatkan pujian dari suaminya nanti.


__ADS_2