Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 9


__ADS_3

“Kita mulai wawancaranya.” Adriel tak mau terus membuat Arriel salah tingkah. Lebih cepat dirinya wawancara bukankah akan lebih cepat selesai.


“Baiklah.” Arriel mengangguk setuju.


Adriel segera mengambil daftar pertanyaan yang sudah dibuatnya sejak kemarin. Tak lupa dia menyalakan alat perekam suara.


“Kamu adalah pemilik Malya Jewelry. Boleh ceritakan sedikit tentang toko perhiasan kamu itu.” Adriel memulai wawancaranya.


Adriel selalu suka jika ditanya tentang berdirinya toko perhiasan miliknya. Karena ada perjuangan yang bisa dibagikan.


“Aku memulai usaha ini dari nol. Bermodalkan uang dari papaku. Papaku adalah seorang pengusaha, tetapi kala itu usahanya bangkrut, dan mulai sakit-sakit. Setelah papaku meninggal, aku fokus membangun bisnis ini untuk menunjang ekonomi keluarga.”


Sejak awal memutuskan untuk membangun bisnis, memang Arriel begitu gigih. Itulah yang membuatnya untuk menunda punya anak ketika menikah. Namun, ternyata Tuhan berkata lain. Arriel hamil ketika dia harus berjuang untuk usahanya itu. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk memilih. Dan pilihannya jatuh pada pekerjaan.


“Aku mendesain perhiasan. Menawarkan dari satu orang ke orang lain. Hingga akhirnya mereka mengenal aku. Perlahan akhirnya aku bisa membuat toko sendiri. Berbekal tekad yang aku miliki. Aku juga pergi ke pameran. Menyisihkan sebagian keuntunganku untuk mendaftarkan diri ke pameran. Hingga akhirnya mulai di kenal di kalangan internasional.” Arriel menceritakan bagaimana perjalanan bisnisnya.


“Kamu sudah sampai kancah internasional. Kenapa tidak ada yang memberitakanmu.” Adriel begitu penasaran sekali. Tidak menyangka ternyata Arriel sudah sampai ke luar negeri.

__ADS_1


“Aku memang jarang mau diwawancara. Lagi pula hal-hal seperti ini hanya akam jadi angin lalu. Orang-orang kita hanya butuh sesuatu yang sebatas hiburan. Karena itu gosip lebih laris dibanding prestasi.”


Adriel sendiri membenarkan jika memang hal itulah yang terjadi. Itulah yang menjadi motivasi majalahnya. Mengangkat orang-orang hebat ke publik agar mereka bisa mengambil hal-hal baik dari para pebisnis dan cendekiawan.


“Lalu bagaimana cara kamu membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan?” Adriel kembali bertanya.


Jika ditanya tentang keluarga, ada penyesalan yang dirasakannya. Dia merasa gagal dalam keluarga, dan itu membuatnya akhirnya bercerai.


“Aku gagal. Ketika aku memilih satu hal dan fokus pada hal itu, aku harus merelakan yang berada di belakang aku. Pernikahanku gagal karena ambisiku untuk sukses. Ambisiku agar mamaku di masa tua ada yang menjamin. Ketika aku memilih menjadi anak yang baik, aku lupa jika aku harus menjadi ibu yang baik juga.” Arriel berusaha menahan sesaknya.


Akhirnya Adriel tahu apa yang menyebabkan pernikahan Adriel gagal. Terkadang memang berada dalam dilema. Ketika orang tua membutuhkan anak, anak-anak harus senantiasa ada. Sebagai bakti mereka. Namun, status anak yang sudah menjadi ibu adalah tanggung jawab yang harus dipikul juga. Adriel tidak bisa memukul rata orang harusnya memilih apa. Karena setiap pilihan pasti ada konsekuensi yang didapatkan.


“Jika waktu diputar. Aku ingin memperbaiki semua. Bukan hanya karier yang dikejar, tetapi keluarga yang dijaga.” Dalam isak tangisnya, tersimpan penyesalan yang luar biasa.


Adriel mengambil tisu yang berada di meja. Kemudian memberikan pada Arriel. “Tak perlu meminta waktu diputar. Tetaplah lihat ke depan, dan buatlah waktu yang akan datang tidak akan ada kejadian hal yang sama. Jadikan yang sudah lalu, menjadi pelajaran agar kelak kamu bisa menentukan pilihan yang tepat.” Adriel mencoba menenangkan Arriel.


Arriel tidak menyangka. Dari segi usia, Adriel lebih mudah dibanding dengannya. Namun, pemikirannya begitu dewasa sekali.

__ADS_1


“Apa bisa kita lanjutkan kembali wawancaranya?” Adriel memilih meminta izin terlebih dahulu. Mengingat Arriel tampak sedih.


“Tentu saja bisa.” Arriel mengangguk. Dia segera menghapus air matanya.


Adriel segera menanyakan kembali beberapa pertanyaan. Arriel yang sudah jauh lebih tenang pun dapat menjawab. Cukup lama wawancara yang dilakukan Adriel pada Arriel. Sekitar dua puluh pertanyaan dilayangkan pada Arriel, dan dapat dijawab dengan baik.


Wawancara kali ini berjalan dengan cepat. Tidak ada kendala mengingat Arriel dapat menjawab dengan baik.


“Terima kasih atas wawancaranya. Semua pertanyaan akan aku muat di majalah nanti. Untuk selanjutnya. Aku meminta kamu untuk besok kamu datang ke kantor kami. Akan ada pemotretan bersama dua wanita lainnya yang menjadi narasumber. Ada Alicia Ghea dan Shera Alexander.” Adriel menjelaskan apa yang akan harus dilakukan oleh nanti setelah wawancara.


“Baiklah, tentu saja aku akan datang.” Arriel mengangguk.


Adriel melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan jam dua siang. Wawancara berlangsung tanpa jeda sama sekali. Hingga tak sadar jika sudah begitu siang.


“Sepertinya kita melewatkan makan siang.” Adriel tersenyum.


Arriel melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Waktu menujukan jam dua, artinya dia sudah melewatkan makan siang, seperti yang dikatakan Adriel.

__ADS_1


“Bagaimana jika kita makan siang? Karena wawancara sudah selesai. Tidak ada salahnya kita merayakannya.” Adriel tersenyum memberikan ide.


“Baiklah.” Arriel mengangguk setuju.


__ADS_2