
Semenjak kepulangan dari dermaga itu Risma selalu diam, dia kurang bicara bahkan selalu menghindar pada Leon. Sebenarnya ada rasa malu jika bertemu muka pada Leon apa lagi jika mengingat tentang ciuman pertamanya dan malam ini Risma memberanikan diri untuk bertanya pada Leon, tentang prasaan Leon pada dirinya.
Risma terdiam di atas ranjang sambil memandang jari-jarinya dan menunggu Leon masuk, setelah beberapa menit pintu kamar terbuka dan ternyata itu adalah Leon.
"Belum tidur?" tanya Leon sambil duduk di sisi ranjang.
Risma mendongak, "belum ngantuk," ujarnya.
"Tidurlah ini sudah malam," suruhnya dengan lembut pada istrinya.
"Emm... Leon, ada yang ingin aku tanyakan pada mu," ucapnya dengan pelan sambil menghadap ke Leon.
"Apa?" Leon mulai ikut serius dengan ucapan istrinya.
"Em, kenapa kamu mau me-menikahiku padahal kita masih sekolah," tanyanya sambil menunduk dan tangannya meremas selimut dengan pelan.
"Kamu mau tau jawabannya?" ucapnya sambil memegang tangan dingin milik Risma dan mulai berkeringat.
Risma mendongak sambil mengangguk membuktikan dia meminta penjelasan dari Leon.
Leon menghembuskan nafas pelan sebelum memulai berbicara, "huuff.. Bukankah sudah ku katakan waktu itu, aku menikahi kamu karna tidak bisa menolak permintaan papi sama mami. Dan semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, mereka juga akan memilih yang terbaik, jadi aku menerimanya," jelas Leon dengan menatap wajah yang sedari tadi juga menatapnya.
"Terus kenapa tadi di dermaga kau.. Kau menciumku?" tanyanya dengan wajah yang mulai memerah karna malu.
"Apa salah, jika aku mencium istriku?" Leon menaikkan satu alis mulai mengodanya lagi.
"Bu-bukan begitu tapi..." ucapnya dengan gugup.
Leon menangkup kedua pipi Risma agar bisa menatapnya, "karna aku mencintaimu."
Degg
Risma tersendak bagaimana bisa Leon mencintainya padahal pernikahan mereka baru berjalan satu minggu. Tidak mungkin secepat itu, dia saja belum bisa mencintai Leon.
"Tapi.." ucapannya terpotong karna Leon langsung melanjuti ucapannya.
"Tidak apa-apa jika kamu belum mencintaiku , aku bisa paham dengan situasi ini yang membuatmu terjebak dalam pernikahan tampah cinta ini."
"Tapi bisakah kau juga mencoba mencintaiku, aku tahu ini berat bagimu tapi tidak ada salahnya untuk mencoba," sambungnya lalu membawah tubuh mungil itu dalam dekapannya.
"Maaf, karna belum bisa mencintaimu," jawabnya pelan.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" bisik Leon dengan pelan.
"Apa? Tanyakan saja," sahutnya lalu melepaskan pelukan itu.
"Apa kau belum ada rasa padaku?"
Risma menelan silivanya denga susah payah bagaimana bisa Leon bertanya itu padanya.
"Jujur aku mulai suka sama perlakuan kamu tapi aku belum mencintaimu jadi maaf," ungkapnya dengan jujur.
"Tidak apa, yang penting sekarang kau tidak membenciku lagi," Leon tersenyum manis dengan ungkapan Risma, walaupun istri mungilnya belum mencintainya tapi setidaknya sudah bisah menerima Leon sebagai suaminya.
"Jadi kau suka dengan perlakuannku selama ini?" tanyanya lagi.
Risma kembali menatap Leon, "hem," jawabnya dengan deheman.
"Jadi kamu suka kalau aku cium?" Leon menaik turungkan alisnya dengan tersenyum menggoda.
Wajah Risma kembali merona seperti kepiting rebus, dan melototkan mata karna perkataan Leon.
"Tentu saja tidak," gumamnya pelan lalu menunduk.
"Bukanya tadi kamu bilang suka dengan perlakuanku?" ucap Leon penuh tanya.
"Ck," berdecak, "tentang itu, kenapa kau mengambil ciuman pertamaku tampa memintanya," Risma memutar bola matanya dengan malas.
"Bukan ciuman pertama juga," jawab Leon dengan pelan tapi dalam hatinya merasa gembira.
"Hei, tentu saja itu ciuman pertamaku," desisnya lalu memukulan lengan Leon dengan pelan.
Leon terkekeh melihat tingakah istrinya yang marah dengan wajah memerah bercampur malu.
"Bukan," jawab Leon lalu menangkap tangan mungil itu yang sedari tadi memukul lengannya.
"Iya," tekannya.
__ADS_1
"Bukan," jawab Leon.
"Iya," -Risma
"Iya." -Leon.
"Bukan," Risma tersadar dengan ucapannya lalu dengan cepan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Leon tertawa, "tuh'kan ngaku juga."
"Pokoknya aku tidak mau tahu itu ciuman pertamaku dan kamu.. Kamu harus mengembalikannya," pintanya dengan sedikit suara meninggi.
"Benarkah aku harus mengembalikannya?" tanya dengan senyum menggoda.
Tampa sadar Risma mengangguk dengan cepat, "tentu, dan kamu haru..." belum sempat dia melanjuti bicaranya tapi Leon sudah menghentikannya.
Cup...
Satu kecupan dia berikan pada bibir ranum berwarna merah jambu itu. Risma kembali melototkan maranya lalu mendorong dada bidang Leon dengan kuat.
"Kenapa kau malah menciumku lagi?" tanyanya dengan tangan mengelap bibir bekas Leon.
"Bukannya kamu minta ku mengembalikan, itu sudah ku kembalikan," jawabnya sambil tertawa pecah melihat wajah istrinya bersemu merah.
"Tapi tidak dengan ciuman," geramnya lalu melayangkan bantal tepat pada muka Leon.
Dengan sigap menangkap bantal itu, "terus, mau yang lebih? Sini," Leon mulai menarik kembali tangan Risma dan mendekatkan wajahnya tapi dengan sigap Risma mendorongnya dengan kuat.
"Hiks.. Hiks.. Itu ciuman pertamaku," ucapnya dengan mulai menagis.
Leon yang melihat air mata istrinya dengan cepat ia menghapus air mata itu yang mulai membasahi pipi mungil istrinya lalu tersenyum.
"Aku percaya, kalau aku yang pertama menciummu, tapi..." Leon menggantung ucapannya.
Risma mendongak, "tapi apa?" tanyanya dengan air mata.
"Emm.. Itu bukan yang pertama kali tapi yang ke tiga kalinya," jawabnya.
"Maksudnya, kamu pernah menciumku sebelumnya?" Risma ikut menghapus air matanya.
Leon mengangguk pelan dan menatap Risma, "waktu kamu tidur."
"Kamu jahat Leon, kamu mengambilnya tampa seizinku, hiks.." Risma memukul dada Leon dan kembali lagi menangis.
"Maaf, tapi salahkah aku kalau mencium bibir istriku sendiri," ucapnya lalu membawah Risma ke dalam dekapannya dan mengusap punggung itu agar Risma menjadi tenang.
"Tentu saja kamu salah, karna kamu mengambilnya tampah seizinku, sama saja kalau kamu mencurinya," ucap Risma dengan tangisan.
"Baiklah aku minta maaf dan tidak akan mengulanginya, aku akan mengambilnya jika kamu izinkan."
Risma terdiam dan memikirkan sesuatu untuk membalas perlakuan Leon padanya dan setelah berpikir panjang akhirnya dia mendapat ide untuk membalasnya. Risma menengelamkan wajahnya ke dada sang suaminya lalu mengangkat tangannya dan memeluk Leon dengan erat sedangkan Leon yang mengirah Risma memaafkannya makin mengeratkan pelukannya juga.
"Aaaa.." teriak Leon karna merasakan sesuatu di dadanya dan terasa sakit.
Leon mencoba melepaskan pelukan Risma tapi nihil, Risma makin mengeratkan pelukannya dan makin menggigit dada Leon. Ternyata Risma memeluk Leon dari tadi itu karna ingin membalas kejahilan Leon karna sudah menciumnya sewaktu tidur.
"Hei.. Sshhh, hentikan itu sakit," Leon meringis menahan sakit karna gigi Risma yang masih menacap disana.
Setelah merasa puas, Risma melepaskan gigitannya dan melihat wajah Leon yang sudah memerah menahan sakit tapi dia malah tersenyum kemenangan.
"Kenapa kamu mengigitku lagi yang dulu saja masih ada bekasnya," Ringisnya menahan sakit dan membuka bajunya.
"Itu balasannya, sekarang kita impas," jawabnya penuh kemenagan.
Leon menunduk melihat dadanya di bagian kiri dan mengusapnya pelan terlihat jelas disana terdapat bekas Risma yang mulai memerah.
"Kamu manusia atau vampir?" sindirnya, "kenapa suka sekali menggigitku?" sambungnya lagi.
Risma ikut melihat dada Leon dan ternyata memeng betul dada Leon sudah memerah dan mulai membengkak karna gigitannya, dia menjadi merasa bersalah karna menggigitnya terlalu kuat.
"Sakit?" tanyanya dan mulai menyentuh bekas gigitannya sendiri.
"Aah, tentu saja sakit, ini bukan bantal tapi daging," sindirnya tampa melihat Risma dan menepis tangan Risma dari dadanya.
Risma menunduk penuh penyesalan karna membuat Leon kesakitan, "itu-itu karna kamu menciumku," jawabnya dengan suara pelan dan mulai bergetar.
"Tapi seharusnya kau tidak menggigitku begini," Leon melihat bahu Risma mulai bergetar.
__ADS_1
'Apa dia menagis lagi?' batin Leon.
"Maaf," lirihnya dengan tetap menunduk.
Leon mengankat dagu Risma agar menatapnya, "Apa kamu mau aku maafkan?" sungguh Leon tak mampu jika melihat istrinya menangis.
Risma mengangguk kecil, dengan sigap Leon memeluk tubuh mungil itu dan membaringkannya lalu mendekatkan wajahnya pada cekuk leher Risma.
"Eungh," Risma meremas kuat lengan Leon karna merasakan sesuatu disana.
'Kita impas' gumam Leon dalam hati.
Setelah beberapa menit Leon melepaskan wajahnya dari sana dan ternyata dia membuat 'kiss mark' di pangkal leher Risma, Leon terseyum karna bisa membalas perbuatan kelakuan istri mungilnya. Risma tak bisa berkata-kata lagi dia hanya memegang batang lehernya bekas Leon membuat 'kiss mark'.
'Apa yang barusan Leon lakukan, kenapa dia menyedot leherku dengan kuat?' batin Risma.
Leon tersenyum melihat wajah tegang itu lalu merebahkan tubunya disamping kanan Risma dan menariknya ke dalam dekapanya.
"Kenapa diam?" Leon menatap wajah Risma yang masih menegang.
"Sakit," tampa sadar dia menjawab pertanyaan Leon.
"Tidurlah besok sekolah, jangan sampai terlambat bangun," pintanya lalu merai selimut dan menutup tubuh keduanya.
Setelah beberapa menit mereka tertidur dan mulai masuk ke alam mimpi masing-masing.
____________________________
Seorang gadis berdiri di depan cermin sedari tadi dan melihat tubuhnya melalui pantulan cermin tampa dia sadari ada sepasang mata yang memperhatikannya di depan pintu kamar.
"Haa, bekasnya terlalu merah," desahnya.
"Kenapa?" Leon mulai mendekat pada Risma dan melihat yang di maksudnya.
Leon sedikit membuka kerah baju Risma, "makanya lain kali jangan menggigitku lagi," ucapnya pelan lalu melepaskan kerah baju itu.
"Itu karna kamu yang diluan buat masalah," gumamnya dan kembali menatap lehernya di cermin dan mengolesinya dengan bedak krim agar tidak terlihat jelas.
"Sudah, ayo berangkat ke sekolah," ajaknya lalu ke luar dan meninggalkan Risma yang masih berdiri di depan cermin.
Setelah beberapa menit mereka pun berangkat dan tak butuh lama mereka sudah sampai di sekolah.
"Haii Ris," sapa Ayu yang juga baru datang.
"Hai juga, Cerry belum datang?" tanyanya dan mencari keberadaan temannya yang satu itu.
"Nah itu dia," tunjuk ayu yang melihat kedatang Cerry yang melangkah mendekatinya.
"Haii semua," teriak Cerry pada teman-temannya.
"Hai juga," sapa Risma dan Ayu bersamaan.
Setelah beberapa menit seseorang datang dan langsung duduk dekat Risma, siapa lagi kalau bukan Dion.
"Nih," Dion menyondorkan sesuatu pada Risma.
"Ini apa?" tanyanya dan mengambil sesuatu di tangan Dionn.
"Itu salep pesanan Leon, kata dia kamu membutuhkannya," jawab Dion dengan sedikit berbisik agat Cerry dan Ayu tak mendengarnya.
"Salep apa?" tanyanya karna dia benar-benar tidak tahu maksud Dion.
"Itu salep agar bekas yang dibuat Leon bisa cepat hilang," bisiknya lagi dengan senyuman malu-malu karna mengingat permintaan Leon tadi pagi untuk membelikannya salep itu sebelum ke sekolah.
Wajah Risma merona, bagaimana tidak karna Dion yang memberikan salep itu, dan otomatis Dion mengetahui masalah semalam dan kejadian konyol itu, kenapa bukan Leon saja yang membeli dan memberikannya.
Dion yang menyadari tingkah iparnya yang terdiam dan wajahnya memerah karna menahan malu.
"Tenang saja, aman kok kalau sama aku," ucapnya lalu tersenyum.
Risma tersenyum kikuk dan menunduk, "terimah kasih," lalu memasukkan salep itu kedalam tasnya.
Setelah beberapa menit, guru mata pelajaran telah masuk dan memulai proses belajar mengajar seperti biasanya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ......