
Tak ada yang tahu tentang ajal kapan kita mengalami nya, tak ada pula yang tahu apa yang akan terjadi esok hari dan seterusnya. Rezeki, kebaikan, musibah ataupun kematian, semua ada yang atur.
Kematian tidak bisa ditunda, tak bisa pula kita lari dari kematian, jika itu sudah takdir makan kita hanya bisa menjalani itu saja dengan lapan dada.
Sakit!
Hancur!
Kehilangan!
Itulah yang dia rasakan dan di alami sekarang oleh gadis remaja itu, kini dia meratapi nasibnya yang kini berstatus yatim piatu.
Kehilangan orang tua secara bersamaan itu sangat menyakitkan, apa lagi jika terjadi secara mendadak.
Dulu bibir dan wajah itu selalu menampakkan senyuman dan tawa, wajahnya selalu berseri-seri kebahagian. Kini telah tergantikan dengan suara isak tangis, air mata yang selalu luruh membasahi pipinya.
Kini Risma memeluk kedua lututnya sambil terus terisak menatap orang tuanya secara bergantian yang terbaring kaku dan pucat. Ya, kini Risma sedang duduk di antara kedua orang tuanya, di mana mereka di tutupi kain panjang sampai leher dan wajah mereka ditutupi kain putih yang tipis.
'Kenapa? Kenapa kalian begitu cepat meninggalkan aku? Apa kalian sudah tak sayang lagi sama aku?' batinnya. Dia benar-benar belum merelakan orang tuanya pergi.
Risma kembali terisak jika mengingat semua kenangan saat bersama kedua orang tuanya, kebahagian, kecerian. Kini telah terenggut paksa oleh kematian orang tuanya secara mendadak.
Dipeluk nya kedua lutu itu erat-erat dan menenggelamkan wajahnya di antara lututnya sambil terisak, tanpa sadar bahwa di ambang pintu utama menampakkan seseorang yang baru saja datang dengan rambut yang acak-acakan, serta bajunya pun sama. Air matanya sudah dari tadi membasahi pipinya.
Dia menghentikan larinya saat melihat orang tuanya yang sedang terbaring kaku di depan sana, sementara seorang gadis sedang terduduk di antara kedua jenazah orang tuanya.
Dia tahu gadis itu sangat terpukul atas kehilangan orang tuanya, sama sepertinya saat ini. Dia berjalan dengan bahu yang bergetar hebat, dada yang turun naik, Air mata semakin deras keluar.
Dia ikut terduduk di belakang gadis itu, lalu memeluknya dari belakang dan menangis tersedu-sedu. Risma yang merasakan pelukan dari belakang, mendongak, lalu melepaskan pelukan itu dan berbalik menatap pria itu dengan tatapan senduh.
"Ka Baim."
Baim kembali memeluk adiknya dengan erat, tangis mereka pecah kembali memenuhi ruangan tersebut.
"Ka, mama dan papa sudah pergi, me-mereka meninggalkan kita, Ka."
Baim tidak mampu membalas perkataan adiknya. Sungguh, saat ini dia juga lemah dengan keadaan ini.
"Ka, tidak ada lagi yang memasakkan kita makanan enak. Tidak ada lagi yang akan memisahkan perdebatan kecil kita. Ti-tidak ada lagi yang akan memberi kita nasehat, Ka." Risma berucap dengan air mata yang terus tumpah dalam dekapan kakaknya.
"Kenapa, Ka? Kenapa mereka pergi begitu cepat? Apa mereka tak sayang lagi dengan kita? Apa mereka sudah lelah mengurus kita? Sehingga mereka pergi?" tanyanya beruntun. Suara isak tangisnya semakin deras.
"Hiks, hiks, A-apa mereka membenci kita?" sambungnya.
Baim menggeleng, dia melepas pelukannya lalu menangkup kedua pipi adiknya dan mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.
"Jangan bicara seperti itu, De. Mereka sangat sayang sama kita," ucap Baim.
"Jika memang begitu. Kenapa malah pergi, Ka? Kenapa meninggalkan kita di sini? Aku mau mereka kembali, Ka. Aku belum siap, sungguh." Tangis Risma kembali pecah. Baim kembali memeluk adiknya dengan erat.
Sakit!
Rapuh!
Hancur!
Itu yang Baim rasakan saat ini, dia juga belum sanggup kehilangan orang tuanya, tapi itu adalah takdir. Dia tak bisa berbuat apa-apa lagi selain ikhlas atas kepergian orang tuanya, walau sebenarnya berat hati untuk merelakan itu semua.
"De, kita tidak boleh egois. Mereka sudah tenang di sana." Baim berbisik dengan isak di telinga adiknya.
"Tidak! Tidak, Ka!" tolak Risma.
"Aku mau mereka kembali." Sambungnya dengan suara pelan bahkan tidak terdengar jelas.
Orang-orang yang melihat kakak beradik itu, juga ikut meneteskan air mata karena tidak sanggup melihat mereka berpelukan sambil menangis di antara jenazah kedua orang tuanya yang terbaring kaku dengan kulit pucat.
Setelah cukup lama mereka pelukan dan menangis atas kepergian orang tuanya, Baim melerai pelukannya dan menatap adiknya yang tak sadarkan diri lagi di pelukannya.
Baim mengangkat tubuh adiknya, menggendongnya menuju ruang tengah, lalu membaringkannya di sofa panjang.
"Adikmu kenapa, Nak?" Bunda Riki juga ternyata sudah ada di situ, duduk di sofa depan Baim.
"Dia pingsan, Bunda."
__ADS_1
"Astagfirullah, dia sangat syok sampai pingsan lagi. Ya Allah, anakku." Bunda Riki kembali menangis melihat keponakannya yang pingsan lagi, sementara sang kakak juga ikut menangisi sambil mengusap tangan sang adik yang berada di gengamannya.
"Sayang?"
Baim mendongak menatap sang istri yang sudah berdiri di sampingnya dan mengusap punggungnya dengan lembut. "Sabar, ya. Kamu harus kuat, ini semua sudah takdir." Eka berusaha menguatkan suaminya.
"Aku benar-benar, rapuh. Sama sepertinya." Baim menundukkan kepalanya menatap lantai dengan tatapan kosong, sementara air mata menetes membasahi pipinya.
Eka maraih kepala suaminya, menyandarkan di perutnya, Baim mengangkat tangannya sebelah, melingkarkannya di pinggang sang istri. Sementara sebelah tangannya tetap menggengam tangan adiknya yang belum sadar juga.
Eka tahu saat ini suaminya benar-benar rapuh atas situasi ini karena dia juga pernah berada di posisi ini. Bedanya, dia hanya kehilangan ayahnya karena sakit yang dia derita. Tapi suaminya lebih sakit karena kehilangan kedua orang tua secara bersamaan dan secara mendadak, bukankah itu terlalu sakit.
Kejam!
Dunia memang begitu kejam, tapi kita boleh apa?
Mau melawan?
Kita harus melawan siapa, ini semua adalah takdir yang sudah tertentu untuk kita jalani dan kita rasakan. Kita tak bisa lari dari takdir ataupun bersembunyi, hidup adalah skenario yang sudah dibuat Allah.
"Sudah, sayang. Kita hanya perlu berdoa agar mereka tenang di alam sana, kuatkan dirimu, walaupun sebenernya kamu lemah dan rapuh, tapi kita bisa apa?" Eka mengelus kepala suaminya dengan pelan dan menepuk punggung yang bergetar menahan tangisnya.
Cukup lama berada di posisi itu, Baim mulai meredah. Dia mulai tenang dan melepaskan pelukannya lalu kembali menatap adiknya yang belum sadar juga. "Semoga dia juga kuat," ucapnya Lirih.
Baim menatap sekeliling dan akhirnya di kejauhan, dia menemukan seseorang yang sedari tadi dia cari. "Leon!" panggilnya.
Leon yang merasa di panggil, menghampiri kakak iparnya di ruang tengah. "Ada apa, Ka?" tanyanya saat sudah dekat.
"Istrimu pingsan, kamu jaga dia, ya? Yang lain biar kakak saja yang urus." Baim berdiri dari sofa setelah mengusap pipi adiknya dan mengecup tangan sang adik.
Baim memang sangat sayang sama adiknya, bahkan mereka dulu sangat dekat walau umur mereka jauh berbeda tapi tetap saja mereka sering bercanda, jalan-jalan bersama. Tapi sejak Risma menikah dengan Leon, mereka hadi jarang bertemu, apa lagi Baim terlalu sibuk mengurus perusahaan papanya yang di luar kota.
Baim juga baru sampai dari luar kota. Saat menerima telpon bahwa orang tuanya mengalami kecelakaan, detik itu juga Baim kembali bersama istrinya. Tapi sayang, yang dia dapati sekarang adalah orang tuanya yang sudah terbujur kaku dan kain menutupi mereka.
Baim sangat menyesal karena tidak bisa melihat orang tuanya menghembuskan nafas terakhir mereka di muka bumi ini, tapi setidaknya Baim madi bisa melihat kedua wajah itu sebelum pergi beristirahat di tempat terakhir mereka. Kubur.
.
"Sayang, bangun. Jangan seperti ini terus," ucap Leon. Bahkan saat ini dia menatap wajah istrinya dengan mata yang berkaca-kaca, air bening itu mulai mengenang di matanya.
"Le, istrimu pingsan lagi?" Maminya sudah berdiri di samping Leon sambil mengusap punggung anaknya. Leon hanya mengangguk pelan, menatap wajah istrinya yang matanya mulai bengkak karena dari tadi menangis terus.
"Jangan tinggalkan istrimu, Le. Saat ini dia sangat terpukul karena kepergian orang tuanya."
Leon mengusap wajahnya dengan pelan lalu mendongak menatap maminya. "Deren mana, Mi?" tanyanya.
"Dia sedang tidur di kamar atas, dia juga sepertinya syok melihat ini semua. Bahkan dia tadi mengisi terus mencari kamu dan Risma, tapi untungnya babysitternya masih bisa membujuknya," jelas maminya.
Leon takut jika Deren mencari mereka, jadi dia menyuruh maminya menjemput Deren saat pulang dari rumah sakit karena biasanya Deren menunggu kedatangan mereka saat pulang sekolah, jika dia tak pergi jalan-jalan.
"Dia pasti masih trauma, Mi. Belum ada setahun mamanya meninggal di hadapannya, tapi kini dia melihat lagi jenazah kakek-nenek yang dia sayangi," ucap Leon.
Maminya hanya diam mendengar ucapan anaknya. "Le, mami pergi dulu mengurus yang lain. Kamu jangan meninggalkan istrimu, Nak. Nanti dia semakin sedih saat sadar jika kamu tidak ada di sampingnya." Leon hanya mengangguk mendengar permintaan maminya.
•••
Sementara di tempat lain ada yang tertawa terbahak-bahak setelah menerima informasi dari anak buahnya.
Senang!
Sungguh dia sangat senang mendengar kabar gembira itu, mengapa tidak? Ternyata rencananya tak sia-sia.
"Ternyata tua bangka itu sudah tiada. Haha... Aku sangat senang hari ini. Ternyata membuatnya hancur perlahan-lahan, ternyata tidak sulit juga, pasti dia sangat sedih saat ini. Haha...." Tawanya begitu pecah sampai-sampai memenuhi ruangan itu.
"Benar, aku juga tak sabar ingin melihat wajah sedihnya." Temannya yang satu juga ikut berbicara lalu tertawa.
"Itu akibatnya jika mau bermain-main denganku, maka kehancuranmu akan dimulai dari orang-orang yang kamu sayang!" geramnya, bahkan saat ini dia menyeringai dengan mengerikan.
"Aku mendukung mu, Elsa. Ternyata otakmu begitu jenius mencari akal untuk menghancurkan gadis tengik dan penggoda itu." Dira ikut menyeringai menatap keluar jendela kamarnya Elsa.
"Ternyata tidak sia-sia aku kelingan uang banyak untuk menyuruh orang mencelakai orang tuanya."
"Tapi, bagaimana bisa kamu mengetahui orang tuanya, kamu 'kan tidak pernah melihat wajah mereka." Dira bertanya dan kini dia menatap Elsa.
__ADS_1
"Tentu saja aku sudah mencari tahu terlebih dulu sebelum merencanakan ini semua," jawab Elsa.
Ternyata Elsa lah yang dalang dari kejadian ini sehingga Risma harus kehilangan orang tuanya untuk selama-lamanya dengan cara tragis.
Elsa sangat membenci Risma karena dia dekat dengan Leon, sementara Elsa jatuh cinta pada Leon tapi tidak pernah di lirik oleh Leon.
Elsa sangat cemburu dengan Risma, jadi dia merencanakan semua ini karena dendam pada Risma. Dia tidak terima jika Leon selalu bersama Risma. Bahkan dia pernah sakit hati saat melihat Leon memeluk Risma dengan mesra di taman.
Elsa memang belum tahu hubungan mereka, makanya dia merencanakan untuk memisahkan pasangan itu dan membuat Risma kehilangan orang-orang yang dia sayang.
Tapi Elsa tak tahu jika ada seseorang yang mulai mencurigai kematian pak Rusdi, dia bahkan mencari tahu semua itu dan menyuruh beberapa anak buahnya menyelidiki kasus ini secara diam-diam.
Entah apa yang dia lakukan jika dia mengetahui bahwa Elsa lah yang membuat Gadisnya menjadi yatim piatu dan hancur dalam kesedihannya.
•••
Setelah cukup lama Risma mulai tersadarkan dari pingsannya, dia mulai membuka matanya dan yang pertama dia lihatnya adalah Leon yang masih setia duduk di sampingnya sambil menggengam tangan mungilnya dan sesekali mengecupnya.
"Ka."
Leon menatap istrinya, senyuman mulai terlihat di bibirnya. "Alhamdulillah, sayang. Kamu sudah sadar." Leon membantu Risma untuk duduk.
"Mau minum?" Risma hanya mengangguk pelan lalu menerima gelas berisi air dan meminumnya sampai tersisa setengah.
"Ka Baim mana?" Risma bertanya saat selesai minum.
"Dia sedang mengurus yang lainnya. Tadi aku juga lihat sepertinya dia ikut memandikan jenazah papa," jelas baim.
Risma kebali tertunduk, Leon yang melihat itu dengan cepat menarik istrinya kedalam pelukannya, mengusap punggung itu dengan lembut dan mengecup pelis istrinya berkali-kali.
"Sayang, sudah. Kamu harus kuat, kita doakan saja, semoga mereka di Terima di sisiNya dan tenang di alam sana." Leon berbisik dan Risma hanya mengangguk dalam pelukan suaminya.
"Terimakasi, Ka."
"Untuk?"
"Semuanya. Kakak selalu ada untukku disaat senang maupun susah."
"Sudah sepantasnya aku selalu ada untukmu, sayang. Aku ini suamimu, jadi apapun yang terjadi kita harus hadapi bersama-sama. Dan satu lagi berhentilah berterimakasih pada suamimu." Leon melerai pelukannya lalu menangkup kedua pipi istrinya dan mengecup kening itu dengan begitu lama.
Risma hanya diam saat Leon memperlakukannya seperti itu, dia merasa bersyukur ternyata dia memiliki suami yang begitu baik.
Risma kembali memeluk suaminya saat ciuman itu terlepas dari keningnya. "Aku mencintaimu, Ka," bisiknya.
Leon tersenyum mendengar ucapan istrinya, ini bukan yang pertama kalinya dia mendengar kata-kata itu, tapi setiap mendengarnya dari mulut istrinya, Leon begitu senang. "Aku lebih mencintaimu, sayang." Leon juga berbisik di telinga sang istri.
"Kamu harus kuat ya? Ada aku, Ka Baim, teman-teman, Dion dan juga si Curut itu yang selalu setia bersamamu. Jangan pernah merasa sendiri dan bersedih lagi," ucap Leon.
Risma mengerutkan keningnya dalam pelukan Leon saat mendengar kata curut. "Siapa yang kamu panggil 'curut', Ka?" Risma bertanya tanpa melepaskan pelukannya dan tangannya semakin erat melingkar dipinggang suaminya, sengaja kepalanya dia sandarkan di dada bidang suaminya.
"Siapa lagi kalau bukan anak manja itu?" jawab Leon
"Akww... Ishh, sayang jangan gigit disitu lagi." Leon berbisik dan meringis saat merasakan dadanya digigit istrinya.
Risma melepaskan gigitannya, bukan karena apa dia menggigit suaminya, tapi dia merasa gemas saat mendegar Leon mengatakan Deren itu anak curut yang manja, tidakkah dia sadar dia lebih manja dari anak kecil itu.
"Berhentilah memanggilnya curut, Ka. Dia pasti akan mengamuk jika mendengarkan panggilan itu lagi. Masalah manja, bukankah Ka Leon lebih manja darinya? Bahkan Ka Leon tak mau mengalah darinya jika sedang berdebat. Masa tidak mau mengalah dari anak kecil, ternyata Deren tidak salah memberimu nama panggilan 'bayi besar' karena itu mamang pantas untukmu." Risma berbicara panjang lebar.
Sementara Leon hanya cengegesan sambil semakin memperat pelukannya, ada rasa senang dalam hati saat mendengar ocehan istrinya, setidaknya saat ini istrinya sudah berbicara panjang lebar. Tidak seperti tadi, hanya menangis dan menangis bahkan sampai pingsan.
"Iya-iya, aku tidak panggil curut lagi."
"Tapi, Deren di mana, Ka?" tanya Risma.
"Tadi mami menjemputnya sebelum kemari dan sekarang dia sedang tidur di lantai atas," Jawab Leon. Risma hanya diam dalam pelukan suaminya, dia merasa tenang berada di dekapan hangat itu.
Risma benar-benar terpuruk atas semua ini dan untungnya ada Leon yang selalu di samping istrinya, memberikannya kekuatan, pelukan dan penyemangat.
.
.
.
__ADS_1
.