Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
63


__ADS_3

Leon berpikir keras dengan apa yang dimaksud papinya, sudah berapa kali perkataan itu keluar dari mulut papinya, tapi dia masih belum paham dengan perkatan itu semua.


Ingin bertanya pada maminya tapi sama saja dengan papinya, malahan maminya kebanyakan diam semenjak terjadi peristiwa itu.


Bertanya pada istrinya sendiri, sepertinya itu tidak mungkin. Risma hanya selalu menjawab kalau Giovanni itu adalah sepupunya Riki.


"Apa aku harus bertanya pada Bunda?"


Setelah terdiam cukup lama, akhir Leon pun mendapatkan ide, mungkin dengan cara ini dia bisa mendapatkan jawaban yang tepat.


Tidak ingin menundanya lagi, Leon langsung menuju ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil. Leon ingin masalah ini cepat terselesaikan, Dia hanya ingin tahu siapa sebenarnya Giovanni.


"Kak Leon mau kemana?" Risma yang melihat suaminya mengambil kunci mobil di laci meja belajarnya langsung bertanya.


Leon kembali berbalik melihat istrinya yang duduk di tepi ranjang sambil memegang segelas susu.


"Aku mau keluar sebentar, Sayang." Leon menghampiri istrinya, mengecup kening dan pipinya.


Leon menatap segelas susu yang berada di gengaman istrinya. "Ini susu apa?" tanyanya.


"Ya--yah susu biasa, memangnya kenapa Kak?" Risma sedikit gugup menjawabnya karena melihat tatapan suaminya yang sedikit berbeda.


Leon langsung merai gelas itu dan meminumnya sampai habis, tanpa bersalah sama sekali kepada istrinya, Leon meletakkan gelas itu ke meja samping ranjangnya.


Chup!


Mencium kembali pipi istrinya setelah susu itu habis di telannya.

__ADS_1


"Kenapa susunya terasa beda?"


"Beda kenapa Kak?"


"Yah beda, tidak seperti biasanya. Rasanya tidak manis juga."


"Mungkin perasaan Kak Leon saja," ucap Risma.


Karena teringat sesuatu, Leon pun langsung tidak menghiraukan rasa susu itu lagi, walaupun ada sedikit rasa curiga terhadap susu itu.


"Yah sudah, aku pergi dulu Sayang."


"Apa lama?"


"Tidak, kuusahakan pulang cepat sebelum malam."



"Semoga saja Bunda ada di rumahnya."


Setelah keluar dari mobilnya, Leon dibuat heran dengan sebuah mobil mewah di depan rumahnya Riki, pasalnya itu bukan mobilnya Riki atau mobilnya Bunda yang biasanya dia pakai.


"Apa Ayahnya Riki sudah beli mobil baru lagi?"


Setelah terdiam sebentar di samping mobil mewah itu, Leon langsung saja pergi ke arah pintu.


Ingin mengucapkan salam tapi terhenti saat melihat pintu rumahnya Riki sedikit terbuka, Leon juga bisa melihat kalau ada orang di dalam sana sedang bercerita pada Bunda, bahka dia bisa mendengar samar-samar apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


"Apa kalian bertemu kemarin?" Itu suara Bunda yang bertanya kepada orang yang sedang duduk di hadapannya.


"Kami tidak sengaja bertemu, Bun. Tapi suaminya malah marah dan salah paham lagi," jawab orang itu.


Leon tidak bisa melihat wajah orang itu karena sedang membelakangi pintu. Walaupun begitu, tapi Leon bisa mengenal suara itu dengan jelas, dia tau siapa pemilik suara itu.


"Lalu kamu menghajarnya," tanya Bunda kembali.


"Aku tidak menghajarnya untuk kesalahan kemarin, Bun. Tapi itu untuk kesalahnnya karena membuat Risma celaka sampai masuk rumah sakit, bahkan dia membuat istrinya pendarahan. Dia laki-laki egois, Bunda. Dia bahkan tidak bisa menjaga istrinya dengan baik."


"Lalu bagaimana denganmu, Nak?"


Giovanni tidak bisa menjawab pertanyaan Bunda kali ini, yang Bundannya ucapkan semua benar dia tidak bisa menjawap apa.


"Assalamu Alaikum, Bunda."


Bunda dan Giovanni langsung menatap pintu yang sudah terbuka lebar, di sana sudah ada Leon yang berdiri, menatap Giovanni.


"Wa'alaikumsalam, Nak. Sini masuk, apa kamu hanya datang sendiri?"


Bunda langsung saja berdiri menghampiri Leon dan mempersilahkannya masuk, tapi sebelum pergi, Bunda terlebih dahulu menepuk bahu Giovanni, seakan memberi kode agar Giovanni tidak marah dan menghajar Leon lagi.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2