
"Hai," sapa seseorang yang baru datang.
Orang yang disapa itu mendongak melihat siapa yang sedang menyapanya, orang yang baru datang itu tetap berdiri di depannya sambil tersenyum manis padanya.
"Boleh aku duduk?" pintah orang itu.
"Hem." Leon hanya berdehem, dia kembali lagi menatap buku pelajarannya kembali.
"Leon, kamu kok, diam terus sih!" cetus orang itu yang tak lain adalah Elsa. Elsa langsung duduk di kursi samping Leon.
"Aku lagi belajar." Leon sebenarnya tidak suka pada Elsa yang selalu mendekatinya.
Elsa yang dapat jawaban dingin dan cuek dari Leon merasa geram, bagaimana tidak dia selalu saja dicuekin sama Lelaki yang selama ini yang dia dekatin, dan baru pertama kalinya ada seorang pria yang tidak memperdulikannya. Biasanya jika iya mendekati seoran pria yang dia sukai, pasti dia dapatkan dengan mudah menggunakan rayuan gombal dengan super ampuh apalagi dengan kecantikannya. Tapi bedah dengan Leon, semenjak hari pertama kedatannya menjadi siswa baru di sekolah itu, semenjak hari itu pula untuk mencari-cari kesempatan untuk mendekat pada Leon, tapi bukannya dapat hasil baik malah dia masih tetap juga dicuekin.
"Sebenarnya, ada yang ingin aku tanya'in sama kamu," ujar Elsa dengan suara pelan.
"Apa?" sahut Leon tampah memalingkan pandangannya.
"Benar, kamu sepupuan dengan, Risma?" tanya Elsa, dia merasa curiga pada Leon karna semenjak kedatangannya dia selalu saja dekat pada Risma.
Leon menatap Elsa ang berada di sampingnya. "Hem. Kamu tidak percaya kalau kami sepupuan," jawab Leon.
"Bukan begitu, tapi kalian seperti tidak sepupuan." Elsa melontarkan kecurigaannya selama ini.
"Maksudnya?"
"Aku lihat, kalian seperti orang pacaran saja. Dimana Risma berada pasti kamu ada di dekatnya juga, pulang bersama, berangkat bersama pula," cerocosnya tampa henti.
"Itu sudah jelas karna kami sepupuan," sahut Leon lalu melanjuti membaca bukunya.
"Tapi, tetap saja aku merasa aneh."
'Tentu saja bedah, dia itu istriku," batin Leon.
Leon hanya diam tak menaggapi perkataan Elsa yang menyimpan rasa curiga terhadap dirinya, tidak mungkin juga Leon memberitahu kalau Risma itu bukan sepupunya melainkan wanita halalnya atau istri sahnya. Jika sampai Elsa tahu, mungkin saja dia bocorkan kesemua orang dan pasti mereka dapat masah besar.
Leon memilih meninggalkan Elsa yang masih merasa heran dengan pikirannya sendiri. Leon keluar dari kelasnya dan menujuh ke kelas sebelahnya, dia melihat seorang gadis sedang terduduk manis di dalam sana sambil membaca buku. Leon memilih masuk dan menghampiri wanitanya, apalagi memeng kelasnya lagi sedang sunyi karna ini jam istrahat.
"Hai," sapanya saat sedang berdiri di depan orang itu.
Risma mengetahui siapa pemilik suara itu, dia mendongak melihat orang yang yang berdiri di depannya.
"Leon, kamu ngapain masuk ke sini?" tanyanya dengan mata membulat.
"Emengnya kenap, Tidak ada yang larang juga," jawab Leon lalu duduk di bangku dekat Risma.
"Terserah!" cetusnya.
"Teman-teman kamu kemana?"
"Mereka ke kantin."
"Sudah makan?" tanya Leon.
"Belum," sahutnya dengan tetap menatap ke bukunya.
"Seharusnya kamu itu jaga pola makan kamu, jangan sampai nanti kamu sakit, 'kan aku juga yang khawatir." Leon merebut buku yang berada di tangan Risma.
"Aku lagi malas ke kantin, jadi aku nitip aja sama Dion," ucap Risma.
__ADS_1
Setelah beberapa menit seseorang datang dan membawah kantong yang berada di tangannya dan menyerahkan kanton itu pada Risma.
"Nih pesananmu," ucap orang itu yang tak lain adalah Dion.
Dengan wajah ceria Risma mengambilnya. "Terimah kasih," ucapnya.
Risma membuka kantong itu dan ternyata isinya begitu banyak cemilan kesukaannya.
"Mau?" Risma menawarkan pada Leon, sedangkan Dion memilih duduk di kursi depan Leon.
"Suap," jawab Leon dengan manja.
"Manja banget sih, Ka," ujar Dion yang melihat tingkah Leon pada Risma.
"Sirik, makanya cepat gede lalu nikah," kata Leon.
"Eh! Aku sudah gede yah!" sahut Dion lalu mengambil cemilan yang dia bawah tadi dan memakannya.
"Sudah-sudah, nih kamu makan sendiri saja." Risma memberi sebungkus roti pada Leon.
"Kok gitu, bukannya disuap," ucap Leon dengan cemberut.
Risma yang melihat wajah cemburut suaminya, dia tersenyum karna merasa lucu melihat wajah tampan itu yang lagi cemberut mirip anak kecil yang sedang merajuk tidak dikasih mainan pada ibunya.
Risma pun memgambil kembali roti yang berada di tangan kekar itu lalu membukanya dan menyuapi Leon, Leon tidak menerimah suapan itu tapi malah membuang mukanya ke arah lain.
"Kenapa? Nggak mau makan?" ucap Risma yang melihat Leon memalingkan wajahnya.
"Nggak!"
"Pakai merajut lagi," sahut Dion melirik Kakaknya.
"Aku bukan bayimu, tapi Papa bayimu nanti," jawab Leon dan menatap Risma.
Degg
Dengan seketika Risma berhenti mengelus kepala Leon dan kembali membenarkan duduknya, dia menunduk malu karna perkataan Leon tadi. Wajah Risma bersemu merah bagaikan kepiting rebus menahan malu dan jantungnya berdetak kencang seperti habis lari maraton.
"Cie cie ... main bayi-bayi sekarang, emeng sudah isi yah?" goda Dion pada Risma.
Risma yang mendengar ucapan Dion dengan segera menatap Dion dengan tajam, tapi yang ditatap malah cengengesan tampah dosa. Risma menatap Leon di sampingnya yang juga menatap Dion, Risma mencubit pinggan Leon karna merasa dipermalukan, untung cuman Dion disana, bagaimana kalau ada Ayu dan Cerry disana pasti dia akan malu besar.
"Auwh ... sakit, kenapa dicubit sih!" ujar Leon dan mengusap pinggangnya.
"Rasain, makanya jangan buat malu." Risma memakan roti yang dia buka tadi, sedangkan Dion tertawa dan menggelengkan kepalanya melihat tinggka pasangan suami-istri di depannya.
"Makanya, suapin." Leon menarik tangan Risma dan memakan roti tersebut.
Risma pun terpaksa menyuapi Leon, dari pada makin ribet lebih baik menyuapi Leon, 'kan dia juga tidak ada salahnya menyuapi Leon karna pria itu juga sudah sah baginya.
"Cie cie ... main suap-suapan sekarang nih yee, aku juga mau dong," goda Dion lagi.
"Apaan sih!" ucap Risma.
"Haa ... derita jomblo." Dion kembali makan cemilannya.
"Emeng kamu nggak punya pacar?" tanya Risma pada Dion.
"Enggak, dia itu jomblo akut," sahut Leon yang setia menerimah suapan Risma dan sesekali dia juga menyuapi Risma.
__ADS_1
"Beneran itu, Di?" Risma kembali menatap Dion.
Dion mengangguk pelan lalu menatap Leon. "Sama seperti dia," tunjuknya pada Leon.
"Enak saja, sekarang aku tidak jomblo," sahutnya.
"Tapi sebelum nikah, kamu juga jomblo seperti aku," sindir Dion.
Risma menatap Leon dengan lekat penuh tanda tanya dengan perkataan Dion, bagaimana bisa cowok setampan Leon tak punya kekasih apa lagi dia pernah tinggal di luar Negeri.
"Kenapa natapnya seperti itu, minta dicium?" ucap Leon.
"Eh! Nggak." Risma kembali menyuapi Leon.
"Bilang saja kalau mau," goda Leon dan mulai mendekat pada Risma.
Risma yang menyadari tingkah Leon yang semakin dekat padanya dengan cepat dia mendorong dada bidang itu dengan pelan.
"Ka, ini di sekolah. Bagaimana kalau ada yang lihat," ucapnya lalu menunduk.
"Jadi, kalau di rumah mau? Yah sudah, kita lakukan saja nanti." Leon makin menggoda Risma, entah kenapa dia sangat suka melihat wajah itu merah merona.
"Sekaligus buat kaponakan buat aku yah," sambung Dion menaik turunkan alisnya dan tersenyum.
Risma menatap Dion dan tajam dan melayangkan jitakan pada jidat adik iparnya itu.
"Auwh, sakit!" ringis Dion memengang jidatnya.
"Makanya, mulut itu dijaga. Mana mungkin kita bikin itu disaat masih sekolah," ucapnya lalu meraih botol air dan meminumnya.
"Jadi, kalau sudah lulus. Boleh?" tanya Leon dengan godaannya.
Degg
Lagi-lagi Risma salah bicara, bagaimana bisa dia bicara seperti itu dan membuat dirinya semakin malu karna digoda habis-habisan Kakak-beradik di dekatnya saat ini. Sungguh dia merasa malu karna ulahnya sendiri, wajahnya makin merona merah malu bercampur geram pada Leon, apalagi kini jantungnya makin berdetak kencang dari sebelumnya.
"Enggak!" tegasnya. "Mau aku gigit seperti malam itu?" tanya Risma dengan geram.
"Boleh, tapi disini," tunjuk Leon pada bibirnya.
"Ck! Tunggu saja nanti malam, aku akan menggigitmu dengan keras," gumamnya.
"Ok, siapa takut," ucap Leon dengan tenang lalu merai botol yang berada di tangan Risma dan meminumnya.
Leon berdiri dan melangkah ke arah pintu, tapi baru juga beberapa langkah dia kembali lagi menghampiri Risma yang menatapnya.
Leon mendekat lalu berbisik pada telinga istrinya. "Siap-siap lehermu itu aku terkam nanti malam, sayang." Lalu mencium pipi Risma lembut dengan sekilas lalu keluar. Untung saja disana hanya mereka bertiga, bagaimana kalau ada siswa-siswi yang lihat pasti akan gempar itu sekolah dengan gosipan.
"Wah wah wah, mataku tidak suci lagi," ucap Dion, sambil menutup mata dengan jari-jarinya dan tertawa.
"Apaan sih!" geram Risma pada Dion.
Dion membuka matanya dan pinda ketempat duduknya di samping Risma karna lonceng tanda istrahat sudah habis dan menandakan pelajaran selanjutnya akan dimulai. Sedangkan Risma menetralkan emosinya yang memuncak karna tingkah Leon.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung......