
Seorang gadis sedang duduk manis dengan rambut di biarkan terurai dan hanya bagian atas sampai telinga saja dia ikat kebelakang, semakin menambah kecantikannya saja. Dia sedang membaca buku sekaligus belajar di ruang perpustakaan. Saat jam istrahat dia memilih ke tempat itu dari pada ketempat lainnya hari ini.
Saat sedang asik membaca, seseorang datang menghampirinya dan tampa dipersilahkan dia langsung duduk di depan gadis itu.
"Hai, yang lain kemana?" tanya orang itu yang tak lain adalah Riki.
"Mereka sedang ke kantin dulu," jawabnya.
"Oh, eh! Aku liat kamu semakin akrab dengan anak baru itu," ucap Riki.
Sebenarnya gadis yang sedang baca buku itu adalah Risma. Risma menatap Riki lalu berucap, "tentu saja, dia 'kan sepupu aku." Risma kembali membaca bukunya.
"Tapi sepertinya, ada yang aneh, deh." Riki mengatakan kalau dia merasa aneh akhir-akhir ini dengan kedekatan Risma dan Leon.
"Maksudnya?" tanya Risma demgan kening berkerut.
"Yah, seperti orang pacaran," ucap Riki.
Pukk...
Risma memukul kepala Riki dengan buku yang dia baca tadi karna perkataannya barusan yang ia lontarkan.
"Auwhh ... sakit," rintihnya sambil memengan kepalanya.
"Emeng bener, kalian pacaran?" sambungnya lagi.
"Nggak! Mana mungkin kita pa-pacaran," ucap Risma lalu membuka bukunya.
"Sepertinya, memeng iya," ucap Riki lalu tertawa melihat tingkah Risma.
"Diamlah! Jika lo nggak mau dapat pukulan lagi," ujar Risma dengan tetap pokus dengan bukunya.
"Baiklah, tapi lebih baik lo jujur, dari pada diambil orang."
"Siapa juga yang mau sama dia?" tanya Risma.
"Lo nggak tau? Kalau dia lagi jadi incaran anak gadis kelaparan di sekolah ini," jelas Riki.
Risma menatap Riki dengan tajam lalu kembali menatap bukunya, tapi dia malah kepikiran dengan perkataan Riki tadi. Bagaimana jika memeng bener, kalau Leon sekarang menjadi incaran para gadis kelaparan cogan di luar sana.
"Apa yang lo pikirkan?" tanya Riki yang melihat Temannya itu seperti memikirkan sesuatu.
"Tidak ada," jawab Risma dengan singkat.
"Pokuslah, Risma." Riki menunjuk buku yang berada di tangan Risma.
Risma menatap buku yang di tunjuk Riki. "Ekhm." Risma berdehem menyembunyikan kesalahannya lalu menatap kesamping agar Riki tidak menyadari wajahnya yang sudah merah.
"Ini model baru," ucapnya pelan.
Sedangkan Riki sudah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol dan wajah Risma seperti tomat matang. Sebenarnya sejak tadi Risma menatap buku yang berada di tangannya itu dengan cara terbalik, tapi sebenarnya dia dama sekali tidak menyadarinya karna yang ada dalam pikirannya itu adalah perkataan Riki tadi. Tapi dia merasa malu mengakui kesalahan yang dia lakukan, makanya dia mengatakan kalau itu model baru cara membaca.
"Sepertinya, bagus juga model baru ini. Haha...." Riki tertawa karna mempraktikan yang dilakukan Risma tadi.
"Riki!" geramnya.
Tapi Riki tetap tertawa, sehingga Risma juga ikut tertawa melihat Riki yang mambaca buku dengan cara terbalik. Sedangkan di balik rak buku sepasang mata memperhatikannya dengan wajah memerah dan tangan mengepal kuat.
"Kenapa kamu malah tertawa lepas dengan orang lain, sedangkan denganku...," lirihnya.
_____________________________
Risma sudah kembali ke kelasnya karna jam pelajaran selanjutnya akan dimulai lagi.
"Kamu tadi dari mana?" tanya Dion.
__ADS_1
"Dari perpus, emengnya kenapa?"
"Tidak, soalnya tadi Leon mencarimu," ucap Dion lalu mengeluarkan buku pelajarannya dari dalam tas.
"Oh."
____________________________
Leon sedari tadi hanya diam saja tidak seperti biasanya, Risma pun hanya diam memandang keluar jendela. Hanya ada keheningan di antara mereka dan tak ada yang mau mulai berbicara.
Selang beberapa menit mereka telah sampai di apartemennya, Leon membuka pintu lalu masuk dan disusul Risma di belakannya.
Risma mendaratkan bokongnya di sofa empuk ruang tengah, sedangkan Leon langsung masuk menuju dapur mengabil segela air putih lalu meneguknya sampai tandas. Setelah minum, Leon berjalan menuju ke sofa dengan segelas air di tangannya.
"Minumlah," ucap Leon, lalu menyondorkan gelas berisi air itu pada Risma.
Risma menerimanya dengan senyuman. "Terimah kasih." Risma meneguk air itu sampai tandas.
"Pergilah ganti baju dulu," ucap Leon. Dia mengambil gelas yang berada di tangan Risma lalu kembali lagi ke dapur untuk memasak.
"Dia kenapa?" Risma mengerutkan keningnya dengan tingkah Leon, tidak seperti biasanya dia akan selalu memanjakan Risma dengan caranya sendiri.
Risma berdiri menuju ke kamar untuk membersihkan dirinya yang sudah mulai terasa lengket karna keringat.
Leon memasak beberapa makanan tapi pikirannya tetap tertuju pada yang dia lihat tadi di perpustakaan di mana istrinya tertawa lepas dengan pria lain dan sepertinya hubungan mereka sangat dekat.
Setelah beberapa menit Risma sudah keluar dengan pakaian sudah dia ganti, dia berjalan menuju ke dapur melihat Leon yang sudah selesai memasak.
"Pergilah mandi, biar aku yang menatanya di atas meja," ucapnya. Dia mengambil sebuah mangkok berisih sup yang di buat Leon tadi dan membawanya ke atas meja makan.
Tampa menjawab perkataan Risma, Leon pergi dari sana dan menuju ke kamar untuk membersikan dirinya terlebih dahulu.
.
.
"Kenapa belum makan," ucapnya dengan dingin.
"Tunggu kamu, biasanya juga seperti itu," jawab Risma.
Mereka kembali diam, tak ada yang bersuara lagi hanya ada suara denting sendok dalam keheningan selama ritual makan berlangsung.
Leon sudah selesai dengan makannya, dia berdiri membawa piring kotornya ke wastafel, Risma? Dia juga baru saja selesai dan menyusul Leon membawa piring kotornya.
"Biar aku saja yang cuci piring," ujar Risma.
Leon menatap Risma lalu mengangguk pelan, Leon pergi ke ruang tengah untuk menonton tv seperti biasanya. Tapi tetap saja lain yang ada dipikirannya saat ini.
Selang beberapa menit Risma sudah muncul dari dapur dan berjalan menuju ke arah Leon yang sedang terdiam menonton tv.
"Kamu sakit?" ucap Risma. Dia mendaratkan bokongnya di dekat Leon.
Leon tidak menjawab pertanyaan Risma. Risma kembali mengerutkan keningnya dengan perubahan Leon kali ini, tapi dia juga cemas dalam hatinya. 'Apa Leon sakit?' Dia selalu bertanya-tanya dalam hati.
Tampa berpikir panjang dia menyentuh jidad Leon dengan telapak tangannya untuk mengecek kadar suhu Leon.
"Tidak panas," gumamnya.
Leon menatap Risma dengan mata tajamnya dengan wajah datar.
"Tadi, waktu istrahat ke mana?" tanya Leon dengan suara dingin.
"Dari perpus," jawab Risma.
"Dengan siapa?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Tadi sendiri, tapi tidak lama ada Riki," jujurnya.
"Ada hubungan apa kamu dengan pria itu, apa kalian mempunyai hubungan khusus?" tanyanya lagi. Tapi kali ini mata Leon sudah memerah.
Risma mengerutkan keningnya dengan kebingunan karna pertanyaan Leon. "Tidak ada, kami cuman berteman saja," jawabnya.
Leon yang merasa kurang puas dengan jawaban istrinya semakin geram saja.
"Ck!" Leon memalingkan wajahnya sebentar menatap ke arah tv lalu kembali lagi menatap Risma yang berada di sampingnya.
Risma makin heran dengan tingakah Leon yang berubah. Tampa aba-aba Leon menarik Risma dengan keras dan langsung mencium bibir ranum itu dengan kasar tak sampai di situ saja, sebelah tangan Leon merai tengkuk Risma agar ciumannya semakin mendalam. Bukan ciuman saja tapi dia ******* bibir itu dengan kasar karna kemarahannya.
Risma melototkan mata karna kaget dengan tingkah Leon yang seenak jidatnya saja langdung menciumnya, salah bukan ciuman tapi kali ini ada ******* di sana. Risma memukul dada Leon karna merasa pernapasannya semakin menipis disebabkan ulah Leon.
Leon yang merasa ada pukulan di dadanya, dia menyudahi ciuman itu lalu memeluk Risma dengan kuat.
"Jangan dekat dengan pria lain lagi," ucapnya denga suara serak.
"Maksudnya?" Risma masih heran dengan tingkah Leon, tapi Risma mengangkat tangannya dan membalas pelukan itu dan sesekali mengusap punggung Leon.
"Pokoknya jangan," lirihnya.
Risma merasa bahu kanannya basa dan ada suara isak dari Leon. 'Apa dia menangis?' batin Risma.
Risma melepaskan pelukan itu dan menatap wajah Leon, sungguh dia terkejut dan membulatkan matanya karna melihat wajah Leon yang sudah basah karna air mata yang bercucuran keluar.
"Ke-kenapa kau nangis?" tanya Risma.
Leon menggelengkan kepalanya dengan diam tapi air matanya tetap keluar. Risma mengusap air mata itu dengan pelan yang membasahi pipi mulus Leon.
"Laki-laki kok nangis?" ujarnya lalu tersenyum.
"Apa kalian pacaran?" tanya Leon dan memegang tangan Risma di pipinya.
Risma kali ini sudah paham apa yang membuat Leon berubah hari ini, dia ingat dari perkataan Dion kalau Leon tadi mencarinya di saat jam istrahat jadi Risma menyimpulkan kalau Leon tadi melihat mereka di sana dan membuat Leon merasa merah.
"Tidak. Mana mungkin aku pacaran dengan pacar orang," jawab Risma dengan senyuman.
"Riki itu pacarnya Cerry dan dia adalah sahabat aku dari awal SMP jadi kita sangat dekatt bahkan kami sejak itu bersahabat, maka jangan berpikir aneh-aneh kepadanya," jelas Risma agar Leon tidak mempermasalahkan lagi.
"Apa kau cemburu?" sambung Risma.
"Tentu saja, mana ada suami yang tidak cemburu melihat istrinya tertawa lepas dengan pria lain," jawab Leon.
"Haha ... kau lucu sekali," ucap Risma dengan tawanya.
"Apa kamu belum mencintaiku?" Pertanyaan itu lolos keluar dari mulut Leon dan membuat Risma menghentikan tawanya.
"Kenapa kau masih bertanya tentang itu?" Bukannya menjawab malah Dia bertanya balik.
"Aku hanya ingin tau," ucap Leon.
"Mana ada orang tidak merasakan cinta kalau dia selalu diperlakukan dengan lembut dan dimanja setiap hari, saat tidur kadang dia memeluk tubuh itu atau dia yang dipeluk dan bangun tidur wajah itu selalu yang dia lihat setiap harinya, dia juga selalu memakan masakan penuh cinta dari suaminya, nonton bareng, mengerjakan semuanya bersama bahkan dia selalu dicium setiap malam saat tidur, apa itu masih kurang bagimu?" jelas Risma lalu bertanya pada Leon.
"Jadi maksudmu...."
"Hem, sepertinya begitu," jawab Risma dengan senyum dan tertunduk. Sedangkan wajahnya sudah semakin merah dan ingin rasanya memasukkan kepalanya kedalam baju Leon karna malu yang dia rasakan setelah pengakuan itu.
Leon menarik Risma ke dalam pelukannya dan sesekali menciam pucuk kepala Risma dengan kasih sayang dan cinta.
"Terimah kasih, Sayang," ucap Leon.
"Apa sekarang kamu puas?" tanya Risma dengan suara pelan.
"Tentu saja, Aku mencintaimu," ucap Leon dengan senyuman penuh kemenagan.
__ADS_1
Risma mengangukkan kepalanya di dada Leon lalu membalas pelukan hangat itu.