
Tepat jam 10 siang, Giovanni betul-betul datang ke rumah Pak Andi untuk menjemput Deren. Kemarin Dia telah berjanji kepada anak kecil itu kalau hari ini dia akan membawanya jalan-jalan.
"Giovanni? Apa dari tadi datangnya?" tanya mami Leon. Dia tadi diberi tahu oleh pembantunya, ada yang datang untuk menjemput Deren.
"Baru saja, Tante. Deren kemana?"
"Deren baru saja masuk ke kamarnya ingin ganti baju," jawab mami Leon.
"Paman, ayo pergi." Deren langsung mengajak Giovanni pergi karena tidak sabar lagi.
"Mamiku yang cantik, aku pergi dulu yah?" Deren pamit ke mami Leon, tidak lupa mengecup tangan dan pipi wanita itu.
Giovanni tersenyum melihat tingkah Deren, ternyata anak itu suka menggombal juga.
"Deren, ingat. Jangan makan es krim terlalu banyak hari ini, ok?"
"Ok, Mamiku, Sayang." Deren memberi kode OK pada maminya. "Jika aku tidak lupa," tambahnya lagi.
"Deren, Leon akan menghukummu jika dia tahu."
"Si bayi besar itu tidak akan tahu, Mami. Asal Mami jangan memberi tahunya."
"Bukan mami yang beri tahu, tapi hidungmu 'lah yang akan memberitahunya." Mami Leon menunjuk hidung mungil dan mancung itu.
"Iya, iya. Aku janji," ucap Deren. Tapi dia masih juga mengomel pelan, tapi tetap saja maminya bisa tahu karena bibirnya komat-kamit.
Giovanni semakin gemas pada anak kecil itu, dia semakin menginginkan Deren menjadi anaknya, tapi apa Leon akan memberinya? Pasti itu tidak mungkin. Apa lagi Leon sudah terlanjur sayang pada Deren, begitu pun sebaliknya.
"Gio, jangan terlalu banyak memberinya es krim. Deren sangat rewel jika hidungnya tersumbat." Giovanni mengangguk tanda mengerti.
Mereka pun berangkat untuk pergi jalan-jalan hari ini. Giovanni sudah meminta izin, nanti dia akan membawa Deren sedikit lama. Giovanni bahkan ingin mempertemukan Deren dengan istrinya.
Sementara Risma yang melihat Deren pergi dibawa oleh Giovanni, hanya bisa mendesah. Ingin melarangnya, dia tidak tegah juga pada Deren. Anak itu terlalu bersemangat untuk pergi dengan Giovanni.
Risma hanya takut dengan Leon, bagaimana jika Giovanni bertemu dengan Leon di luar sana. Pasti Leon sangat marah karena Deren pergi bersama Giovanni, laki-laki yang dibencinya.
••
Hari ini, Risma ingin bertemu dengan teman-temannya, Riki telah memberitahunya kemarin. Akhirnya Risma putuskan untuk bertemu saja di Resto milik Leon. Apa lagi, saat ini Leon berada di Resto miliknya, untuk mengecek beberapa berkas.
Sementara Dion, dia berada di kafe kakaknya. Tidak ada alasan lain, dia ingin bertemu dengan Yuna, gadis itu telah membuatnya jatuh cinta.
Saat sedang asik memperhatikan Yuna yang sedang bekerja, tiba-tiba saja HPnya berbunyi.
Ternyata Risma yang menelpon.
"Hallo, Kak. Ada apa?" ucapnya setelah menggeser tombol hijau.
"...."
"Baiklah, tunggu saja di sana. Aku segera datang," jawabnya.
Dion keluar dari ruangannya dan menghampiri Yuna. "Jam pulang aku jemput," ucapnya. Yuna menatap Dion dan mengangguk pelan.
Dion pun keluar dari kafe menuju tempat di mana, dia telah memarkirkan motornya.
Sedangkan Risma, Dia diantar oleh sopir pribadi mamimya. Leon tidak bisa menjemput istrinya dikarenakan lagi sibuk, banyak berkas-berkas yang harus dia periksa.
Setelah sudah sampai di depan Resto, Risma menyuruh sang sopir pulang saja, dia akan ikut dengan Leon saja nanti.
Saat ingin masuk ke dalam Resto, Risma tiba-tiba menghentikan langkahnya, menajamkan penglitannya menerawang jauh di sana. Ternyata dia tidak salah liat, orang yang dia lihat adalah Giovanni dan Deren yang berada di gendongannya. Tidak hanya berdua, ada tiga pengawal yang mengikuti langkah mereka.
Sementara Giovanni yang sedang jalan sambil menggendong Deren, langsung melangkah cepat karena melihat Risma yang tidak jauh lagi darinya.
Giovanni langsung menghampiri Risma.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Giovanni menurungkan Deren.
"Deren, kamu sudah besar, kenapa digendong segala?" Bukannya menjawab pertanyaan Giovanni, Risma malah bertanya pada Deren.
"Dia kecapean, jadi aku gendong." Malah Giovanni yang menjawab.
Deren masih setia berdiri di sampimg Geovanni, bahkan anak kecil itu menggemgam jari-jari Giovanni, seakan belum ingin berpisah.
"Jangan terlalu memanjakannya. Deren, jangan buat orang repot," tegur Risma.
"Tidak masalah, aku tidak merasa direpotkan."
__ADS_1
Saat sedang berbincan, ada dua orang yang sedang berbincang berjalan kearah mereka.
Salah satu dari mereka hampir saja menabrak Risma, dia berjalan mundur ke arah Risma berdiri karena sedang asik berbicara dengan lawan bicaranya, tanpa menyadari jika ada orang di belakannya.
Giovanni yang melihat hal itu, langsung saja menarik Risma kehadapannya dengan sekali tarikan saja.
"Hei! Berjalanlah deng hati-hati. Apa kamu tidak lihat, di sini ada orang?!" Giovanni membentak orang itu.
"Maaf, Tuan. Aku benar-benar minta maaf." Orang itu tertunduk karena melihat mata kemarahan Giovanni.
Kedua orang itu pun langsung pergi setelah Giovanni menyuruhnya pergi.
"Kamu baik-baik saja?" Giovanni terlihat cemas memerhatikan setiap inci tubuh gadis itu, dia sangat khawatir pada Risma,
Padahal Risma tidak terluka sedikit pun. Bahkan orang tadi sama sekali tidak menyentuhnya.
"Aku tidak apa-apa." Risma sedik menjauh dari tubuh Giovanni.
"Sayang?"
Risma dan Giovanni langsung melihat orang yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka, Risma langsung tersentak kaget saat melihat Leon yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kak Leon?"
Leon langsung berjalan mendekati mereka berdua, terlihat jelas jika Leon kurang suka melihat Giovanni.
"Ada apa Tuan Giovanni berada di sini?" tanyanya.
Giovanni langsung menyuruh salah satu pengawalnya untuk membawa Deren terlebih dahulu, takutnya Deren melihat pertengkaran diantara mereka.
Leon langsung menarik Risma untuk berada di sampingnya, menggengam kuat tangan istrinya.
"Aku--"
"Tuan, tidak bisakah Anda menjahui istriku." Leon langsung memotong ucapan Giovanni.
Dia tahu jika Giovanni adalah pria yang bersama istrinya di foto itu, akibat foto itu pula yang membuat dia menyakiti istrinya tanpa sengaja, bahkan membuat istrinya berakhir di rumah sakit.
Giovanni pun langsung paham, saat ini Leon sedang cemburu dengan kedekatannya dengan Risma. Masalah tadi, pasti Leon salah paham karena melihat dia memengang tangan Risma.
"Salah paham? Tuan Gio, aku tidak buta. Aku pun tidak lupa, wajah anda terlihat jelas di foto itu."
"Kak Leon, sudah." Risma menarik tangan Leon untuk pergi saja dari sana, tapi Leon tidak bergerak sama sekali.
"Mulai sekarang, jauhi istriku! Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskannya. Apakah tidak ada wanita lain yang bisa Anda gombal? Kenapa malah istriku, Tuan?!"
Giovanni yang mendengar ucapan Leon langsung saja tersenyum, ternyata Leon sangat mencintai dan menyayangi Risma, melebihi darinya.
"Kak, sudah. Malu dilihat orang."
Leon langsung menatap Risma. "Malu katamu? Jadi kamu tetap ingin bertemu dengannya?"
"Bukan begitu maksudku, Kak."
"Lalu apa?"
"Kami hanya tidak sengaja saling bertemu di sini, Kak."
"Dan berakhir berpelukan lagi?" sindir Leon.
"Hentikan omong kosongmu, Leon!" bentak Giovanni.
"Justru kamu yang harus berhenti mendekati istriku, Tuan!" Leon balik membentak Giovanni.
Giovanni mulai geram dengan tingkah Leon, ternyata Leon sangat cemburu dengan dirinya.
"Jangan sampai kamu menyakiti istrimu, Leon." Giovanni seakan memberi peringatan untuk Leon.
"Tuan. Kamu harus tahu diri, kamu lah yang akan merusak hubungan kami! Jika Anda terus-terus mendekati istriku."
"Kamu--"
Bukh!
Belum sempat Giovanni melanjuti perkataannya, Leon langsung saja memberinya bogeman mentah di pipi kirinya.
Tidak menerima Leon yang langsung meninjunya, Giovanni pun langsung membalasnya dengan kuat.
__ADS_1
Bukh! Bukh!
Puk!
Saat ingin meninju yang ketiga kalinya, Risma langsung menahan tangan Giovanni.
"Jangan menyakiti suamiku, Tuan. Apa kamu belum puas menyakitiku? Sehingga kamu ingin menyakiti suamiku juga?!"
Risma langsung menarik Leon, melihat wajah suaminya yang babak belur, padahal baru saja dua pukulan dari Giovanni, tapi bibir dan hidung Leon sudah mengeluarkan darah segar. Risma tahu siapa Giovanni dan bagaimana sifatnya jika sudah terlanjur marah.
"Kak, hentikan perkelahian ini, aku mohon," Risma sudah menangis, dia tidak tegah jika melihat suaminya babak belur dihajar Giovanni.
"Aku tidak menghajarnya karena kesalahan ini. Tapi, aku memberinya sedikit pelajaran untuk kesalahannya yang kemarin." Giovanni mulai bersuara.
Hampir saja dia membuat Leon luka parah, untung saja Risma menghentikannya.
"Ingat, Leon. Kamu bukanlah lawanku. Jika aku ingin merebut istrimu, sudah dari dulu aku lakukan." Giovanni langsung meninggalkan Risma dan Leon.
"Dasar tukang cemburu."
Jika dia tinggal lebih lama lagi, takutnya dia malah menghajar Leon sampai luka parah dari yang tadi. Bisa saja dia menghabisi nyawa Leon, andai dia tidak ingat dengan Risma.
"Kak. Ayo, kita masuk, biar aku bisa mengobati lukamu."
Leon menatap kecewa pada istrinya, dia benar-benar tidak menyangka kalau istrinya masih berhubungan dengan laki-laki itu.
"Bukan ini yang luka." Leon menunjuk bibirnya sendiri.
"Tapi yang ini," lirihnya, tertunduk. Dia menunjuk dadanya, seakan mengatakan kalau dia sakit hati melihat istrinya masih bertemu dengan Giovanni.
Risma yang melihat Leon tertunduk, langsung saja tangisannya pecah. Kali ini, dia lagi-lagi membuat suaminya sakit hati karena cemburu.
"Kami tidak sengaja bertemu, Kak."
Leon lang sung menatap waja istrinya. "Lalu mengapa, kamu masih berbicara padanya? Menjaulah darinya."
"Dia hanya menolongku, Kak. Tadi ada orang yang hampir menyenggolku."
Leon sungguh tidak sanggup melihat wajah istrinya yang basah karena air mata, Leon memalingkan wajahnya, tidak ingin meligat mata istrinya yang terus-terus mengeluarkan air mata.
Lagi-lagi Leon merasa bersalah karena membuat istrinya menangis lagi, padahal dia sudah janji. Tidak akan pernah lagi membuat istrinya menangis dan terluka.
"Kak, aku--"
Ucapan Risma terpotong karena Leon langsung saja menarik Risma kedalam pelukannya, dia sudah ridak sanggup lagi melihat air mata itu.
"Kak, maafkan aku. Aku janji tidak akan menemuinya lagi, asal jangan marah padaku," mohonnya.
"Kak, aku minta maaf juga karena bertemu dengannya di sini, malah membuatmu babak belur begini."
"Aku yang salah, terlalu curiga dan cemburu padamu," balas Leon.
Risma menggeleng, "tidak, Kak. Dialah yang jahat, dia selalu saja menyakiti orang."
Leon tidak membalas lagi, dia hanya diam memeluk Risma. Sudut bibirnya benar-benar sakit, bahkan dia merasa rahangnya hampir saja tergeser dihajar Giovanni, padahal baru dua pukulan saja.
"Kak?"
Leon melepaskan pelukannya, menangkup wajah Risma dengan kedua tangannya, mengusap air mata itu dengan ibu jarinya. Leon bahkan mengecup kening Risma begitu lama.
"Jangan menangis lagi."
"Asal, Kak Leon tidak marah," balas Risma, menatap bibir Leon yang mengeluarkan sedikit darah karena benda kenyal itu sedikit robek saat terkena pukulan kuat tadi.
Leon mengangguk, memeluk kembali istrinya, memberikan beberapa kecupan di kening sang istri.
"Jangan pernah meninggalkanku, Sayang. Aku benar-benar takut kehilanganmu," bisiknya.
Risma tidak bersuara, tapi dia mengangguk di dalam pelukan suaminya. Risma juga takut kehilangan suaminya, jika Leon tahu siapa Giovanni sebenarnya. Risma yakin, jika Leon tahu yang sebenar, pasti Leon langsung meninggalkannya karena merasa kecewa.
.
.
.
.
__ADS_1