
"Aku hanya ... maaf, aku memang salah." Karena merasa yang diucapkan Risma semuanya benar, Giovanni hanya mampu berkata maaf terus. Entah, sampai kapan ucapan 'maaf' haris dia ucapkan terus.
Risma yang mendengar ucapan Giovanni, langsung menatapnya yang lagi menunduk diam. Senyum sinis tergambar jelas di wajah Risma, saat melihat Giovanni.
"Kenapa? Baru sadar?" tanyanya.
"Aku harap, ini pertemuan terakhir kita. Aku tidak ingin, kakakku tahu. Kak Baim pasti sangat kecewa, jika tahu aku masih bertemu denganmu," sambungnya lagi.
Sementara Giovanni yang mendengar tuturan Risma, langsung menatap wajah gadis itu yang memperlihatkan kesedihannya di sana.
"Baim tidak akan tahu, apa lagi saat ini, dia berada di luar Negeri."
Risma langsung menatap Giovanni dengan tatapan tajam. "Tunggu, kenapa kamu bisa tahu kalau saat ini kakakku berada di luar Negeri. Jangan bilang kalau kamu yang--"
"Yah, aku yang mengirimnya ke sana." Giovanni langsung memotong ucapan Risma.
"Kenapa kamu menjauhkanku dengan kakakku? Apa kamu tidak tahu kalau saat ini, hanya dia sebagai penganti orang tuaku."
Giovanni langsung menjawab, "bukan begitu maksudku."
"Lalu?"
"Hanya dengan begitu, baru aku bisa menemuimu."
"Kenapa, apa kamu takut?"
"Tidak. Aku hanya tidak ingin mempersulit--"
"Mempersulit apa maksudmu?" Belum juga Giovanni menjelaskan semuanya tapi Risma langsung memotongnya.
Giovanni langsung menghembuskan nafasnya setelah menariknya dalam-dalam, mungkin ini saatnya dia bercerita.
__ADS_1
"Aku tahu jika waktu itu kamu kecelakaan, saat menyusulku ke bandara," ucap Giovanni.
"Hari itu, aku batal ke luar Negeri karena menyusulmu ke rumah sakit. Tapi, Baim tidak memberiku kesempatan untuk menemuimu. Bahkan, hari itu aku babak belur di hajar oleh mereka."
"Tentu saja mereka marah dan menghajarmu, dengan kedatanganmu, hanya membuat mereka seakan di permainkan dan diejek olehmu. Apa kamu belum sadar?! Kamu telah mempermalukan mereka." Risma mulai geram.
"Lalu, untuk apa mengatakan 'menyesal' sekarang, tiada gunanya lagi. Kamu sendiri yang menghancurkan semuanya di hari kepergianmu, di hari, di mana, seharusnya kita merayakan hari jadi kita." Risma mulai menitikkan air mata jika mengingat dimasa itu.
"Tidak bisahkah, kamu tinggal sebentar saja waktu itu? Setidaknya, setelah pestanya berakhir." Air matanya semakin deras.
Giovanni yang melihat Risma kembali menangis pun itu sedih, matanya bahkan ikut memerah.
"Di hari itu pula, kehancuranku dimulai, sampai sekarang aku masih terkurung di kehancuran itu. Apa kamu belum puas melihat kehancuranku?" sambungnya lagi.
Karena tidak sanggup melihat Risma yang menangis di sebabkan perbuatannya sendiri, Giovanni langsung berdiri, menghampiri Risma. Giovanni langsung duduk di sampingnya, menarik tubuh kecil itu yang mulai gemetar karena tangis, masuk ke dalam pelukannya. Giovanni tahu kalau saat ini Risma butuh pelukan dan sapuan hangat di punggungnya.
"Aku berjanji, siapa pun yang menyakitimu mulai sekarang, akan aku balas dengan caraku sendiri." Giovanni bergumam dalam hati, tanpa sadar dialah yamg menyakiti Risma.
"Aku membencimu, Giovanni. Aku membencimu!" Tangis Risma meledak di dalam pelukan Giovanni, bahkan tanggannya sesekali memukul dada pria itu.
••
"Ki, apa ini hari jadi perginya?"
"Iya, Bunda. Tadi aku sudah hubungi Leon, katanya Risma ada di rumah."
Riki menghampiri Bundanya yang sedang duduk di sofa, dari tadi sang bunda menunggu Riki untuk pergi menemui kaponakannya, yaitu Risma.
"Bagaimana dengan sekolah kalian?" Bunda bertanya saat berdiri dan mulai berjalan keluar rumah.
"Seminggu lagi akan diadakan pelulusan. Masing-masing orang tua mengawakili siswa." Riki menjawab bersamaan membuka pintu mobil buat sang bunda tercinta.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang," ucap Bunda.
"Sama-sama, Bundaku, Sayang. Yang paling cantik." Tidak lupa di akhir kalimat menggobal sang Bunda.
"Oh, tentu saja. Itu yang membuat Ayahmu jatuh cinta pada Bunda."
"Oh, yah?"
"Kamu tidak percaya? Ayahmu bahkan berlutut di depan Bunda, dia melakukan itu agar Bunda menerimanya," ucap Bundanya. Mengingat hal itu membuat Bunda senyum-senyum sendiri.
"Jadi, Bunda menerimanya dan kalian pacaran?"
"Tidak. Dia tidak memintaku menjadi kekasihnya, tapi sebagai istrinya," jawab Bunda.
"Bunda menerimahnya dan langsung menikah?" Riki tidak henti-hentinya memberi pertanyaan kepada sang Bunda, dia ingin tahu sedikit kisah cinta orang tuanya.
"Tentu saja, Bunda langsung menerimanya. Apa lagi Ayahmu dulu adalah laki-laki yang baik, penyayang dan satu lagi, Ayah tidak pernah membuat hati Bunda terluka, walau sedikit pun," jawab sang Bunda lagi.
"Ternyata, Ayah laki-laki idaman." Riki memuja sang ayah.
"Apa dulu Bunda punya saigan? Maksudku, apa banyak wanita yang menyukai Ayah dulu?"
"Tentu saja. Bahkan Bunda dulu sempat putus asah kerena banyaknya saingan. Tapi, Ayah tetap memilih Bunda, dia tetap berada di samping Bunda."
"Tentu saja, Ayah adalah laki-laki setia. Sama sepertiku" Riki menepuk dadanya dan memuja dirinya sendiri.
Bunda tertawa melihat tingkah Riki. Riki memang sangat dekat dengan kedua orang tuanya, jika ada masalah, orang yang pertama dia datangi Riki untuk curhat adalah kedua orang tuanya, masalah apa pun itu. Bahkan kisa cintanya pun selalu dia ceritakan kepada orang tuanya.
.
.
__ADS_1
.
.