
Sudah tiga hari kepergian orang tuanya, tapi dia masih tetap bersedih. Terasa sangat berat untuk melepaskan kepergian kedua orang tuanya, ikhlas? Kata itulah sangat susah baginya.
Baim, Dia juga masih bersedih atas semua yang terjadi, tapi dia mencoba untuk menguatkan diri.
Kuat? Bohong jika dia kuat, dia lemah dan sangat terpukul atas kehilangan orang tuanya secara mendadak dan bersamaan, apa lagi melihat keadaan adiknya yang selalu terdiam sambil menatap kosong.
Risma tersentak sadar dari lamuannya saat merasakan ada seseorang yang memeluknya dari belakan, bahkan memberinya kecupan hangat bertubi-tubi di pucuk kepalanya.
"Sudah, De. Ikhlaskan kepergian mereka, jangan bersedih terus. Jika kamu bersedih seperti ini, maka mama dan papa juga akan bersedih di atas sana. Kita hanya perlu berdo'a biar mereka tenang di alam sana." Baim mencoba menguatkan adiknya, jujur dia tak sanggup melihat adiknya terus menerus bersedih.
Risma berbalik menghadap, dia mendongak menatap wajah tampan kakaknya. Baim memang memiliki wajah tampan, hidung mancung, alis tebal, berkulit sawo matang dan memiliki gingsul di sebelah kiri.
Bahkan banyak gadis-gadis yang tertarik pada Baim, bahkan mereka mengira kalau Baim masih singel, tapi sebaliknya. Baim sudah memiliki istri dan anak yang berusia 3 tahun dan seorang gadis cantik.
Wajah tampan itu kini terlihat sedikit kurus karena sudah tiga hari ini dia kurang makan dan kurang tidur. Baim sama halnya bersedih tapi dia sudah mengikhlaskan kepergian orang tuanya karena tidak mungkin kembali lagi ke dunia ini.
"Ka, aku merindukan mereka." Risma berucap dengan mata berkaca-kaca.
"Kakak pun sama," ucap Baim.
"Ka, kenapa aku begitu sial. Kenapa aku selalu ditinggalkan dengan orang-orang yang aku sayang, bahkan mereka pergi secara tiba-tiba. Aku tidak kuat, Ka. Aku tidak kuat." Risma menunduk saat air matanya jatuh membasahi pipinya, dia tidak ingin memperlihatkan air matanya pada Baim.
Baim yang melihat adiknya langsung menarik tubuh kecil itu ke dalam dekapannya dan sesekaliengusap punggung itu. "Sudah. Jangan katakan kalau kamu sial, kakak tak suka."
"Sudah ya, jangan menangis lagi. Ingat, sekarang kamu punya suami, dia akan ikut bersedih jika kamu terus-terusan seperti ini dan bukan hanya suamimu yang bersedih, ada Deren juga yang ikut bersedih. Bahkan dia merajuk tak mau makan karena kamu juga selalu menolak untuk makan." jelas Baim.
"Mereka butuh perhatianmu. Bukan hanya itu, tapi mereka juga butuh kasih sayang darimu, De." Baim berucap lagi dan kali ini dia merasakan Risma mengangguk dalam pelukannya.
Setelah beberapa menit, Risma tak lagi menangis tapi dia masih melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang kakak, begitu pun dengan Baim.
"Ka?"
"Hem?" Baim hanya berdehem saja menanggapi panggilan adiknya.
"Kakak belum mandi ya?"
"Kok, tahu."
"Ketek kakak bau." Risma menjawab dengan suara pelan.
"Apa?"
Risma hanya tertawa mendengar suara kaget kakaknya, Risma memang suka menjahili Baim. Memang dari kecil mereka sangat dekat, bahkan banyak yang mengira kalau Risma dan Baim adalah sepasang kekasih.
"Katanya bau, tapi malah makin erat pelukannya," sindir Baim. Tapi Risma malah tertawa dan makin menyembunyikan wajahnya di dada sang kakak.
"Lepas, jangan peluk-peluk kalau kakak bau." Baim pura-pura ingin melepaskan pelukan adiknya, tapi Risma semakin mengeratkan pelukannya.
"Bau, tapi bikin Rindu." Risma kembali terkekeh. Sedangkan Baim ikut tertawa mendengar jawaban adiknya, dia merasa sedikit tenang karena Risma tidak lagi bersedih dan kini sudah ada gelak tawa.
'Teruslah seperti ini dan jangan bersedih lagi seperti dulu,"batin Baim.
.
__ADS_1
Risma kini sudah berada di dalam kamarnya saat Leon datang, dia mengikuti suaminya yang baru saja pulang dari perusahaan papinya.
Leon memilih langsung masuk ke kamar mandi untukbersihkan badannya yang sudah terasa lengket sekali, sedangkan Risma memilih duduk di atas ranjang menunggu suaminya keluar.
Selang beberapa menit, Leon keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya dan ada pula handuk kecil yang sedang dia gosok-gosokkan di kepalanya untuk mengerikan rambutnya yang basa.
Leon berjalan menghampiri sang istri yang sedang pokus menatap hpnya. "Sayang, sudah makan?" tanyanya, lalu duduk di depan sang istri.
Risma beralih menatap Leon dan meletakkan hpnya di atas nakas, lalu dia mengangguk pelan dan tersenyum.
"Ka Leon sudah makan?" tanyanya, lalu mengambil alih mengusap rambut suaminya.
"Sudah tadi, pas di kantor papi."
Risma hanya ber-oh-ria saja menanggapi jawaban suaminya dan pokus mengusap kepala itu dengan lembut.
Leon menatap wajah istrinya yang kini sudah tak menampakkan wajah murungnya. Tapi Leon senang, setidaknya istrinya tidak terdiam terus lagi dan menangis.
"Deren sudah tidur?" Leon kembali bertanya.
"Iya, tadi sebelum Kakak pulang, aku ke kamarnya dan menemaninya sampai tidur karena itu permintaannya." Risma berdiri setelah menjawab pertanyaan suaminya lalu menjemur handuk kecil yang di pakainya tadi di tempat jemuran kecil dalam kamar mandi. Risma keluar ulang lalu menghampiri suaminya yang masih duduk di atas ranjang.
"Ka, pergilah pakai bajumu. Nanti masuk angin," ucapnya.
Leon tak bergerak sama sekali dan malah semakin menatap istrinya, Leon meraih tangan istrinya yang kini berdiri di depannya.
"Sayang, jangan bersedih lagi ya. Aku rindu kamu yang dulu, yang selalu ceriah, memperhatikanku dengan Deren." Leon berucap dengan tetap menatap manik mata istrinya.
Risma mengangguk lalu mengangkat kedua tangannya untuk mengusap pipi sang suami dengan lembut dan tersenyum.
Leon merindukan sifat istrinya yang dulu, yang selalu ceria. Leon tak pernah mengeluh menghadapi istrinya, bahkan dia merasa bahagia memiliki seorang istri seperti Risma.
"Sayang, aku rindu."Leon berucap sambil menggerak-gerakkan perut Risma dan itu berhasil membuat sang empu merasa geli.
"Ka, hentikan." Risma menangkap kepalanya suaminya agar tak bergerak lagi.
Leon mendongak menatap istrinya. "Kapan ini berisi?" Leon mendaratkan dagunya di perut Risma. "Aku sudah tak sabar, ingin melihatnya membesar sedikit demi sedikit."
Risma membulatkan matanya saat mendengar ucap suaminya.
"Ka! Kita masih sekolah loh. Bagaimana jika aku hamil sebelum kita lulus?"
"Kita 'kan suami istri, sudah halal. Dan jika kamu hamil, apa masalahnya? Kamu 'kan hamil anak suamimu sendiri." Leon berucap dengan lantang.
"Iya, tapi kita masih sekolah," Jawab Risma.
"Tinggal 2 bulan 'kan?" Leon kembali berucap. Risma hanya terdiam menatap wajah suaminya yang menampakkan hasratnya yang mulai meminta di tuntaskan.
"Tapi, Ka-"
"Tidak akan sakit lagi kok seperti yang pertama, mau ya?" pintah Leon.
Risma terdiam melihat mata suami, dia tahu jika saat ini hasrat Leon mulai naik. Bahkan dia juga rindu, rindu dengan sikap manja suaminya yang selalu menempel padanya.
__ADS_1
Setelah cukup menatap wajah memelas suaminya, Risma pun mengangguk karena tak ingin membuat suaminya kecewa, apa lagi dia juga teringat dengan ucapan Baim, bahwa suaminya butuh perhatian dan kasih sayang.
Sedangkan Leon yang melihat anggukan istrinya tersenyum kemenangan karena permintaannya tidak ditolak. Dia dengan cepat menarik tengkuk sang istri dan menyambar benda kenyal yang berwarna merah alami itu yang selalu membuatnya tercandu.
Bukan hanya mendaratkan saja, ada ******* lembut di sana. Sedangkan Risma, entah sejak kapan tangannya sudah berada di kedua bahu sang suami dan ikut dalam permainan suaminya.
Leon lebih lagi, bukan hanya bibirnya yang bergerak. Tapi kini tangannya sudah bergerak kemana-mana, bahkan kini tangannya sudah berada di balik baju sang istri dan membuat Risma tanpa sengaja mendesah.
"Ka." Risma bersuara saat benda kenyal itu terlepas sebentar tapi dengan cepat Leon kembali menyambar nya lagi.
Kini Leon menarik istrinya ikut berbaring di ranjang empuk itu, Risma kini berada di atas suaminya tapi tidak begitu lama karena Leon langsung bergerak sehinga dia yang berada dia atas istrinya.
Leon menatap wajah yang sudah memerah bagai kepiting rebus, ini memang bukan yang pertama kali, tapi tetap saja Risma merasa sedikit malu pada suaminya.
"Sayang, sudah Siap?"
Risma mengangguk tanda jawabannya. Leon kembali menyambar benda kenyal itu dan memberikan belaian lembut pada istrinya.
Semua pakaian Risma sudah berada di lantai samping ranjang, begitu pun dengan handuk yang Leon kenakan tadi.
Kini mereka mengulangi pertempuran di atas ranjang yang menguras tenaga begitu banyak, tapi mereka sama-sama tidak menghiraukan itu, yang penting hasrat keduanya segera tuntas di puncak tiada duanya.
Entah sudah berapa kali Leon memenangkan pertempuran itu sampai membuat istrinya tidak sanggup lagi bergerak, Risma merasa seluruh tulang-tulangnya remuk karena perbuatan suaminya.
Leon merebahkan dirinya di samping Risma lalu menarik istrinya ke dalam dekapannya dan berantakan lengannya. Menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang tanpa sehelai benang pun.
"Ka, apa sudah selesai?"
"Kenapa, apa kamu mau mengulanginya lagi?"
Risma tak menjawab, dia malah memeluk tubuh suaminya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang itu. Leon mulai curiga dengan kelakuan istrinya, tapi sudah terlambat untuk mencegahnya.
"Aaak! Ishh, sakit sayang. Lepas ya?" Leon menunduk menatap Risma yang menancapkan giginya lagi di dadanya.
"Sayang, kenapa kamu suka sekali menggigit di situ? Padahal aku tak pernah mengigit di bagian itu." Leon menatap bekas gigi Risma yang terlihat jelas di dadanya.
"Makanya, jangan bicara sembarangan."
"Bicara sembarangan bagaimana? Aku 'kan hanya bertanya, apa kamu mau mengulanginya lagi? Kenapa malah menggigitku."
"Ka, kamu sudah menggempur ku beberapa jam, entah sudah berapa kali kamu menembak dan membuat tulang-tulangku terasa remuk. Tapi kamu malah minta lagi, aku bukan mesin, Ka." Risma mengomentari terus.
Cupp.
Leon mengecup sekilas benda kenyal itu yang mengomel dari tadi dan menurutnya itu terlihat menggemaskan.
"Sekarang tidur, jika tidak. Aku akan melakukannya lagi." Leon mengancam istrinya.
Risma tidak bersuara lagi, kini dia sudah mulai terpejam. Bukannya apa, dia benar-benar lelah karena pertempuran mereka tadi. Leon yang melihat istri mulai terpejam, dia pun ikut memejamkan matanya setelah mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Terimakasih. Tidurlah, semoga mimpi yang indah, sayang." Leon berucap pelan. Tapi masih bisa di dengar oleh Risma, dia pun mengangguk pelan dan memeluk tubuh suaminya di balik selimut begitupun dengan Leon.
Kini mereka saling berpelukan dibalik selimut dan mulai masuk ke alam mimpi masing-masing.
__ADS_1
#tbc
Maaf baru sempat post soalnya lagi PAS 🙏🙏