Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
40


__ADS_3

Air mata tetap mengalir keluar seakan tiada habisnya, mata dan hidungnya sudah memerah karena sama-sama mengeluarkan air, walaupun sudah beberapa kali diusap nya tapi tetap saja keluar.


Dia benar-benar tak tahu apa yang harus dia lakukan, dunianya seakan terbalik. Yang dulunya baik-baik saja dengan penuh ceriah. Tapi kini sudah tak ada lagi, pantas saja dari tadi pagi saat bangun tidur dia sudah merasa berbeda dari sebelumnya, jantungnya selalu berdetak lebih kencang dari sebelumnya dan uluh hatinya terasa perih.


Ternyata itu semua pertanda bahwa orang yang sangat dia sayangi sedang mengalami kecelakaan begitu parah, sehingga mereka sedang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang.


Padahal baru semalam dia mengabari pada anaknya, ingin pergi keluar kota bersama istrinya karena hal penting yang perlu dia urus, tapi rem mobil mereka blong. Sehingga menabrak truk kontainer yang berlawanan arah, untung saja sopir truk selamat dan hanya mengalami luka kecil saja.


Leon yang melihat kesedihan istrinya, kini ikut juga bersedih. Tak hanya Leon, tapi Dion, mami-papinya dan juga Riki.


Risma kembali mengusap air matanya. "Pa... Papa harus kuat, aku mohon," ucapnya lirih. Risma mengusap kepala sang papa lalu mengecup kening itu dengan lama.


Risma berbalik menatap sosok yang juga terbaring lemah di atas ranjang yang sama, tapi keadaannya lebih parah dari pada sang suami.


"Ma, bangun. A-aku janji tidak akan bandel lagi, asal Mama membuka mata. Aku akan menuruti semua permintaan Mama," ucapnya. Risma juga menunduk mencium kening, pipi sang mama dengan kasih sayang. Berharap kedua mata itu terbuka dan melihatnya, bahwa saat ini dia benar-benar bersedih.


"Sayang, sudah. Kita berdoa saja, semoga mereka sehat kembali seperti dulu." Leon mengusap punggung istrinya dengan lembut mencoba menenangkan sang istri.


Mata pak Rusdi mulai terbuka sedikit demi sedikit, mereka yang melihat itu merasa senang. Leon yang ikut melihat mata mertuanya pun langsung memberi tahu pada sang istri yang sasih memeluk mamanya dan berbicara sendiri.


Risma berbalik menatap papanya, dia tesenyum walau dengan air mata yang masih meleleh ke pipinya.


"Pa, ini Risma." Risma menggengam tangan papanya dan sesekali menciumnya.


"Sa-sayang. Kamu sudah datang?" Risma mengangguk pelan, menatap sang papa yang sudah membuka mata dan mulai bersuara membuatnya bersyukur.


"Nak, mana suamimu?" Pak Rusdi bertanya dengan suara pelan. Leon yang mendegar pertanyaan mertuanya langsung maju selangkah dan ikut menggengam tangan mertuanya.


"Pa, aku di sini."


Pak Rusdi tersenyum lemah. "Nak, berjanjilah selalu menjaga istrimu dengan baik. Aku percaya padamu kalau kamu bisa menjaga dan memberi kasih sayang padanya." Pak Rusdi menghela nafas.


"Papa mohon, jangan pernah meninggalkannya"


"Pa... Papa jangan bicara sepeti itu, bukankah aku sudah berjanji pada Papa kalau aku tak akan meninggalkannya?" ucap Leon.


Pak Rusdi tersenyum mendengar ucapan menantunya, kini dia beralih menatap anaknya yang masih setia menagis. "Berhentilah menangis, Nak. Papa punya permintaan padamu."


"Katakanlah, aku akan menuruti semua permintaan, Papa." Risma kembali meneteskan air mata yg begitu deras saat menatap kedua mata papanya yang ikut mengeluarkan cairan bening.


"Jangan pernah bandel lagi, berhentilah kabur dari rumah jika kamu sedang ada masalah. Berjanjilah kamu akan menuruti semua perkataan suamimu, sekarang dia adalah penggantiku." Pak Rusdi semakin lemah.


Risma mengangguk cepat. "Pa, sudah. Papa harus istirahat dulu."


"Tidak, Nak. Papa akan istirahat dengan tenang, jika kamu berjanji. Kabulkanlah permintaan terakhir, Papa."


Entah mengapa Risma merasa Papanya akan meninggalkan dia, apa lagi papanya sudah berucap seperti itu. "Papa tidak boleh bicara seperti itu, kalian harus kuat. Ka-kalian tak boleh meninggalkanku juga."


Leon yang mendengar kata 'juga' di ucapan terakhir istrinya merasa heran, tapi pikirannya dia buang jauh-jauh. Tak seharusnya saat ini berpikiran yang tidak-tidak.


"Nak, bisakah Papa memelukmu?" minta Pak Rusdi.


Risma mengangguk begitu cepat dan langsung memeluk papanya, kepalanya dia tenggelamkan di celuk leher sang Papa dan sesekali mengecup pipi pucat itu.


"Aku sayang, Papa." Risma berucap setengah berbisik.


"Papa lebih me-menyayangimu, Nak." Pak Rusdi mengecup kening anaknya begitu lama sambil memejamkan matanya.


Risma semakin menangis saat mendengar ucapan papanya. Kecupan itu, Risma selalu senang jika papanya mengecup keningnya karena itu pertanda bahwa papanya sangat menyanyanginya apa lagi ditambah lagi ucapan barusan.


Risma mendongak menatap wajah papanya yang begitu pucat dengan mata tertutup rapat. Resah dan khawatir mulai menyelimuti hatinya, dengan deraian air mata dia mencoba menyentuh pipi pucat itu.


"P-pa.... Papa? Buka matanya, Pa. Dok, kenapa matanya tertutup?" Risma melirik seorang dokter mudah yang sedang berdiri di samping ranjang.

__ADS_1


Dokter itu pun mulai maju lalu memeriksa keadaan pak Rusdi, sedangkan Risma semakin menangis dalam pelukan Leon. "Pasien semakin melemah," ucapnya.


Risma kembali memeluk papanya, sambil meremas kuat baju bagian dada papanya yang semakin basah karena air matanya. "Pa, aku mohon jangan tinggalkan aku. Hiks, hiks...."


Usahanya untuk membangunkan papanya sia-sia saja, pak Rusdi tetap menutup matanya dan wajahnya semakin memucat. Semua orang yang berada dalam ruangan itu ikut bersedih apa lagi melihat Risma yang menagis di atas dada papanya.


Tapi semua penglihatannya teralihkan saat bunyi alat perditeksi detak jantung pak Rusdi berbunyi terus tanpa jedaan.


Dokter kembali memeriksa keadaan pak Rusdi dan memberi tahu pada Leon agar menarik menjauh dulu Risma dari dada pasien. Leon pun melakukannya, direngkuh nya Risma dengan erat dan mengusap punggung istrinya agar tenang dulu.


"Bagaimana, Dok? Apa dia baik-baik saja?" Kali ini Bundanya Riki yang maju untuk bertanya keadaan kakaknya.


"Maaf, tapi dia sudah pergi." Semuanya tersentak kaget saat mendengar ucapan Dokter, tapi itulah kenyataan.


"Tidaaak! Papaa... Aku mohon, hiks, hiks... Ja-jangan pergi, ke-kembalilah." Risma kembali lagi menangis dan memeluk papanya, berharap papanya membuka matanya lagi dan bernafas, tapi semuanya harapannya tak terkabulkan.


Sedangkan Riki yang awalnya hanya menangis dalam diam, kini sudah merengkuh Bunda nya. Bunda nya begitu syok mendengar ucapan dokter sehingga tak mampu lagi menopang tubuhnya, sehingga kini dia terduduk di lantai dan menangis atas kepergian sang kakak.


Risma berkali-kali bermohon agar papanya membuka mata, di keduanya kening dan kedua pipi papanya. Air matanya semakin deras keluar. "Pa, ba-bangun. Becanda Papa tidak lucu." Risma berucap dengan suara bergetar.


Sama halnya dengan Leon, dia hanya bisa menangis dalam diam, dia bahkan tak bisa berucap apa-apa lagi. Bahkan Dokter muda berparas cantik itu yang memeriksa pak Rusdi juga ikut menitikan air mata, tapi dengan cepat di ucapnya sebelum ada yang memperhatikannya.


Risma menagis meraung-raung berharap ini semua adalah halusinasinya saja, tapi inilah kenyataan. Walaupun kita sudah menghindarinya tapi jika itu adalah takdir makan tak ada yang bisa menghentikannya, mau tak mau, suka tak suka, kita hanya perlu menerimanya dengan lapang dada dan sabar.


Risma berbalik menatap Leon yang ikut menangis, Risma langsung memeluk tubuh kekar itu saat Leon mengusap air matanya lalu menggeleng pelan, mengisyaratkan untuk berhenti mengis lagi.


"Ka, ini mimpi 'kan. Ini... Ini hanya ha-halusinasiku 'kan, Ka? Hiks, hiks...."


"Aku mohon, ba-bangunkan ak-"


Belum sempat Risma melanjutkan ucapannya, tapi kini dia sudah tak sadarkan diri dalam pelukan Leon, bahkan kini mereka sedah terperosok ke lantai, lantaran Leon tak mampu menopang tubuh istrinya yang tiba-tiba melemah di pelukannya.


"Sayang. Sayang, bangun!" Leon menepuk pipi basa karena air mata itu, agar istrinya sadar kembali.


Leon langsung menggendong istrinya keluar ruangan sebelah dan mengikuti suster yang akan menunjuki jalan.


.


Seseorang berparas cantik sedang berdiri sambil menatap kedua tangannya, dia begitu terharu sampai-sampai mengeluarkan air mata. Rasa senang, sesak, terharu dan sedih dia rasakan bersamaan.


Bagaimana bisa, secara bersamaan dia bertemu dengan seseorang yang dari dulu ingin di seutuhnya akhirnya terkabulkan, tapi hanya sesaat saja. Orang itu telah pergi untuk selama-lamanya, bahkan sebelum dia meminta maaf beserta restu.


"Kenapa harus secepat ini?" isak nya.


"Maafkan aku, aku mohon."


Diusap nya air mata yang membasahi pipinya, dia tak mau kalau ada seseorang yang melihatnya. Dia mengambil napas dalam-dalam lalu membuangnya, dia teringat harus memberikan kabar pada seseorang.


"Hallo."


"..."


"Mereka mengalami kecelakaan," ucapnya.


"..."


"Mereka pasienku."


Dia kembali memasukkan hpnya setelah suara di sebrang sana tak terdengar lagi, dia tahu bahwa orang itu syok sama sepertinya. Tapi apa boleh buat, semuanya telah terjadi dan tak bisa di hindari lagi.


.


"Papaa!" Risma berteriak sambil terbangun, dia terduduk menunduk dengan mata terpejam. Air mata keluar lagi membasahi pipinya, napasnya tak teratur seakan dia barusan berlari saja.

__ADS_1


"Sayang, ada apa?" Leon sudah duduk di atas ranjang, depan istrinya.


Setelah 20 menit tak sadarkan diri, kini Risma terbangun sambil memanggil papanya, mungkin dia baru saja mengalami mimpi buruk atau masih terbawa dengan kejadian barusan.


Risma mendongak menatap suaminya dengan mata berair. "Ka, aku bermimpi buruk." Mendengar ucapan istrinya dengan cepat Leon menarik tubuh kecil itu ke dalam dekapannya. Leon tahu alur ucapan istrinya.


"Sayang, itu bukan mimpi buruk, maaf."


"Apa maksudmu, Ka?" Risma melonggarkan pelukannya menatap suaminya dengan penuh tanda tanya.


"Itu... Itu bukan mimpi buruk, tapi nyata."


"Tidak, Ka! Aku mohon, hiks, hiks... Aku mohon, ba-bangunkan aku dari mimpi ini. Katakan, Ka. Kalau ini semua tidak benar." Risma memohon agar dia dibangunkan dari mimpi buruknya, dia masih tak Terima apa yang dilihatnya barusan.


Leon kembali merengkuh istrinya, dia juga ikut mengis melihat keadaan istrinya. "Ihklaskan mereka, sayang. Agar mereka tenang di alam sana," bisik Leon.


Risma mendorong dada Leon agar pelukannya terlepas dia menatap suaminya dengan tatapan tajam dan mata berkaca-kaca. "A-apa maksud Ka Leon? Mereka, me-mereka siapa?" tanyanya gugup.


Leon mengusap air mata yang mengalir membasahi pipi istrinya. "Papa dan Mama telah pergi, sayang."


"Tidak! Ka Leon bohong 'kan? Mama dan Papa baik-baik saja 'kan, Ka? Mereka tidak meninggalkanku, i-itu tidak boleh." Risma menggeleng lalu mengusap kedua pipinya.


Leon memengang kedua bahu istrinya dan menggoyankannya sedikit. "Sayang, sadarlah! Mereka telah pergi dan itu kenyataan bukan mimpi buruk!" Leon berbicara dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.


Deg!


Risma kembali menunduk tanpa berbicara lagi, bahkan kini yang terdengar hanya isak tangis darinya. Leon kembali memeluk istrinya, dia mengerti istrinya sedang syok menerima semua kenyataan ini.


Leon tak henti-hentinya mengecup pucuk kepala sang istri dan mengusap punggung yang bergetar dini dalam dekapannya. Risma semakin mempererat pelukannya, dia benar-benar tak bisa menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya sudah pergi meninggalkannya dan tak akan kembali lagi.


Pintu ruangan terbuka dan menampakkan Dion yang berdiri menatap mereka, Dion pun ikut bersedih melihat kakak iparnya yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya secara bersamaan.


"Ka, jenasahnya akan dipulangkan sekarang juga," ucap Dion.


"Sayang, ayo kita pulang." Leon mengakak istrinya yang masih terdiam sambil mengis.


Karena tidak mendapatkan respon dari istrinya, Leon melepaskan pelukannya lalu turun dari ranjang tersebut. Leon menggendong istrinya untuk meninggalkan tempat tersebut dan menuju ke parkiran, sementara 2 mobil ambulance sudah bersiap-siap di depan rumah sakit untuk membawa jenasah kedua orang tuanya Risma.


.


Sedangkan tempat lain seorang pria muda berparas tampan sedang termenung, pikirannya saat ini butuh, hatinya perih, dia menangis tanpa suara, hanya air mata yang keluar terus membasahi pipinya.


Seseorang berdiri di belakangnya sambil mengusap punggungnya. "Maaf, Andai saja bukan karena aku, pasti kamu sudah bersamanya. Terutama gadis itu," ucapnya lirih.


Pria tampan itu berbalik lalu menatap orang yang sedang menunduk sedih. "Kamu tidak salah, hanya saja mereka yang tidak bisa menerima kenyataan... Dan satu lagi, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri," ucap pria itu.


"Tapi-"


Tanpa persetujuan pria itu menarik sosok yang menunduk di depannya ke dalam pelukan hangatnya. "Sudalah, apa pun yang terjadi bukan salahmu." Orang itu hanya mengangguk pelan, dia merasa nyaman berasa dalam pelukan itu.


Pria tampan itu merasa ganjal dengan kecelakaan pak Rusdi, dia berpikir apakah ada yang merencanakan ini semua atau apa.


Apa lagi rem mobil itu blong.


Pria itu pun memanggil semua anak buahnya untuk mencari informasi yang jelas dan lengkap untuk kecelakaan pak Rusdi, dia masih tak bisa menerima atas kematian pak Rusdi, apa lagi saat menerima informasi dari anak buahnya yang mengatakan kalau anak Gadis dari pak Rusdi sempat pingsan.


Pria itu mulai curiga dengan seseorang, tapi dia belum dapat kepastian. Jika memang si pelaku adalah orang dia curigainya makan dia juga akan membunuh orang tersebut dengan cara mengerikan.


'Sayang, semoga kamu baik-baik saja di sana. Maaf, aku tidak bisa di sampingmu." Pria itu membatin.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2