
Walaupun berusaha untuk melupakan kejadian buruk itu, tetap saja tidak bisa menghilangkan kejadian itu dari pikirannya terutama dari hatinya.
Masih seperti biasanya, duduk termenung di balkon kamarnya sambil menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong, bahkan dia tak menyadari bahwa ada sosok mungil yang sedang menghampirinya.
"Baby?" Si mungil memanggil pelan.
Risma tersadar dari lamuannya dan melihat kesamping ternyata sosok mungil itu sedang menatapnya dengan tatapan sendih.
"Baby, apa aku boleh duduk?" tanyanya. Dia menunduk takut bila Risma tidak menghiraukan nya lagi.
Risma tersenyum, lalu menepuk sofa di sampingnya agar si mungil naik dan duduk di sampingnya.
Deren pun dengan cepat naik ke atas sofa tersenyum merekah memandang Risma.
"Dari mana? Hem?" tanya Risma, sambil mengusap lembut kepala Deren.
"Dari jalan-jalan sama Kak Dion."
"Ini mainan baru lagi?" Risma menunjuk mainan yang berada di tangan mungil Deren karena dia belum pernah melihat mainan tersebut sebelumnya.
Deren mengangguk dengan cepat dan tersenyum lagi memperlihatkan gigi rata dan kecil-kecilnya. "Iya, Kak Dion belikan waktu jalan-jalan tadi, bagus 'kan baby?" Deren memperlihatkan robot-robotnya pada Risma.
Risma mengangguk dengan cepat dan tersenyum agar anak kecil itu tak kecewa. "Robot-robotnya bagus kok. Sudah ucapin terima kasih sama Kak Dion nya?" Deren mengangguk cepat.
Deren mendongak menatap wajah cantik di depannya itu. "Baby, jangan bersedih terus. Aku jadi ikut sedih jika melihat baby menangis terus."
Risma tersadar dari perkataan Deren dan dia kembali mengingat ucapan kakaknya dan ternyata benar, kesedihannya berdampak pada suaminya dan anak kecil itu, Deren.
Deren berdiri di atas sofa untuk mensejajarkan tingginya dengan Risma, dia mengusap pipi Risma dengan lembut. "Aku tidak ingin melihat air mata baby lagi, bukankah, baby sendiri yang pernah memberi tahuku kalau orang yang cepat pergi ke surga itu adalah orang yang sangat disayang oleh Allah." Mata Risma mulai berkaca-kaca, bahkan tak lama lagi air mata itu akan membasahi pipinya karena mendegar ucapan Deren.
"Bukankah, baby juga pernah bilang padaku. Jangan bersedih terus atas kepergiannya karena mereka nanti juga ikut bersedih melihat kita." Risma tak sanggup lagi menahan air matanya, ternyata Deren masih mengingat ucapannya dulu sewaktu Mama Deren meninggal.
Deren mengusap air mata itu dan ternyata dia juga ikut menitikkan air matanya. "Pasti kakek dan nenek sudah bahagia di sana seperti mama dan papa Deren, iya 'kan?" Risma mengangguk cepat.
"Baby jangan sedih lagi yah? Aku siap kok jadi papa sekaligus mama buat baby," celoteh Deren.
Risma kali ini tersenyum mendengar ucapan anak itu yang sanggup menjadi orang tuanya, padahal dia baru saja berusia 5 tahun.
Risma juga Baru sadar bahwa bukan hanya dia yang kehilangan orang tuan, masih banyak orang yang di luar sana kehilangan orang tua juga, bahkan ada orang yang kehilangan orang tuanya saat dia baru lahir kedunia.
Sama halnya dengan Deren, baru saja berusia 3 tahun dia sudah kehilangan papanya, di usia 5 tahun iya kembali kehilangan seorang mama yang satu-satunya dia miliki. Sungguh nasib yang memprihatinkan bukan? Di usia 5 tahun sudah menjadi anak yatim piatu. Bahkan dia dirawat oleh orang lain yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah.
Risma pun sadar ternyata Deren lebih kuat darinya, anak itu masih membutuhkan kasih sayang dan usapan lembut seorang ibu setiap malam menjelang tidurnya tapi kini malah orang lain yang selalu menghiburnya agar tetap tegar menghadapi semuanya.
Dan ternyata Deren bisa melalui itu karena semua orang di dekatnya menyayanginya dirinya, terutama Risma.
Risma mengusap kepala anak kecil itu dengan lembut, menarik Deren ke dalam dekapannya, memeluknya erat lalu mengecup pipi Deren dengan gemasnya. Risma mengerutkan kening saat mencium bau yang tak asing lagi diciumnya.
"Tadi makan es krim lagi?" selidiknya.
Deren terdiam lalu menunduk karena takut jika dapat omelan dari Risma. "Cuman sedikit kok," jawabnya.
"Benarkah?"
Deren mengangguk pelan. "B-benar baby, aku tidak bohong kok."
"Tadi dari mana saja?" Risma kembali bertanya.
"Ikut Kak Dion ke caffe," jawabnya lagi.
"Berapa banyak yang kamu makan? Bahkan baunya bisa melengket di bajumu, Deren. Apa kamu tidak takut jika bayi besarmu tahu kalau hari ini kamu makan es krim lagi." Risma menatap anak kecil itu yang sedang menunduk diam.
"Aku yakin, dia pasti marah jika mengetahuinya," sambung Risma lagi.
Deren mendongak menatap Risma. "Baby aku mohon, jangan memberi tahu bayi besarku. Aku janji tidak akan memakan es krim banyak lagi." Deren memohon pada Risma dengan wajah yang cemas.
"Memangnya tadi makan berapa?"
"Cuman dua gelas kok." Deren menjawab dengan lirih lalu kembali menunduk.
"Apa yang dua gelas?"
Deg!
Deren dan Risma menatap kearah suara yang baru saja bertanya. Deren mulai cemas, ternyata yang dia takutkan malah ada di depan mata dan kini semakin berjalan mendekatinya.
Deren langsung menunduk sambil meremas bajunya dan sesekali memilinnya.
"Apanya yang dua gelas?" Suara itu kembali bertanya dan kini sudah ada di depan Deren.
Leon melirik Risma yang ikut menatapnya, Leon kembali menatap Deren yang masih menunduk takut padanya. Karena tidak mendapatkan jawaban, Leon mendekatkan wajahnya kearah Deren lalu mengendus-endus bau anak kecil itu. "Seperti bau-"
"Bayi besar, aku janji tidak mengulanginya lagi." Deren memotong ucapan Leon dengan cepat.
Deren masih menunduk karena takut menatap mata Leon yang penuh selidik padanya. "Bukankah kemarin sudah berjanji? Lalu kenapa hari ini mengulangi janji itu?" Leon melipat kedua tangannya di depan dada dengan alis baik sebelah menatap Deren.
Sial!
Deren mengumpat dalam hati, seharusnya tadi dia langsung ganti baju dulu baru bertemu dengan Risma. Tapi kini, semuanya sudah terlanjur, bayi besarnya sudah mengetahuinya.
"Maaf."
Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
"Kak, sudahlah. Apa kamu tidak kasihan padanya? Dia sudah takut melihatmu yang menatapnya terus." Risma mencoba melindungi Deren.
Dalam hati Deren mulai bersorak, ternyata dia dapat lampu hijau dan sepertinya mulai ada pelindung yang muncul dan siap jadi bentengnya.
"Bukannya aku melarangnya, sayang. Tapi ini demi kebaikannya juga, tidak baik makan es krim terus setiap hari dan melebihihan porsi." Leon beralih menatap istrinya yang duduk di samping Deren.
__ADS_1
"Bagaimana kalau nanti sakit gigi atau hidungnya mengeluarkan cairan bening?" tanya lagi. Maksud Leon itu, dia tidak mau kalau Deren ingusan karena dia tahu persis kalau Deren dapat penyakit itu makan Deren selalu marah terus dan manja karena pernafasanya terganggu dan hidungnya mengeluarkan cairan yang di bencinya.
"Maaf." Deren kembali bersuara dan kali ini suara tampak berbeda seperti ingin menangis.
Leon mendesah pelan lalu mengusap kepala Deren dengan lembut. "Ok, kali ini aku maafkan, tapi jika diulangi lagi makan dapat hukuman. Paham?"
Deren mendongak menatap Leon lalu mengangguk pelan. "Paham. Tapi hukumannya apa?" tanyanya.
"Selama sebulan tidak bisa makan es krim, dan besok jangan makan es krim juga," jawab Leon.
"Baiklah, aku tidak akan mengulanginya lagi." Deren menjawab dengan cepat, padahal dalam hati dia bersorak. Walaupun Leon sudah melarangnya memakan es krim tiap hari dan berlebihan tetap saja dia selalu mengingkarinya, Deren selalu makan es krim sembunyi-sembunyi jika Leon tak ada, apa lagi jika ikut bersama Dion ke caffe.
"Janji?" tanya L eon
"Janji," Jawabnya mantap.
Deren langsung melompat ke arah Leon dan tentu saja Leon dengan sigap menangkap anak kecil itu dan menggendong mirip anak monyet yang memeluk induknya. Walaupun tadi sempat terhuyung kebelakang karena mendapatkan serangan secara tiba-tiba dari Deren tapi Leon tetap kuat menahannya agar tak jatuh.
"Tidak marah lagi 'kan?" Deren bertanya pada Leon sambil matanya terus berkedip-kedip manja.
Leon menggeleng lalu tertawa melihat tingkah gemas anak kecil itu, jujur saja Leon tidak bisa mara pada Deren walaupun kesalah anak itu besar.
Cup! Cup!
Deren mencium pipi Leon dengan bertubi-tubi karena tidak dapat marahan dari bayi besarnya. Masalah janji bisa di atur belakangan' batin anak kecil itu.
"Jadi, cuman bayi besarnya nih yang dapat ciuman? Baby tidak dapat?" Kali ini Risma bersuara.
Deren langsung melihat kearah Risma dan meminta Leon agar menurunkan dirinya dari gendongan Leon.
Cup!
"Aku sayang, Baby."
Deren mengecup pipi kiri Risma lalu tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, Risma hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena tahu isi pikiran anak kecil itu dan tahu maksud kedipan genit mata Deren. Bahwa dia akan makan es krim dengan hati-hati agar bayi besarnya tidak mengetahuinya lagi.
"Sekarang, pergi mandi lalu ganti bajunya yah?" suruh Leon sambil mengacak rambut Deren dengan gemas.
"Siap pak Bos." Deren memberi hormat pada Leon lalu terkikik dan menutup mulutnya dengan tangan mungilnya.
.
"Sayang, kapan kamu kembali sekolah? Minggu depan kita sudah mulai ujian." Leon berucap sambil memeluk istrinya dari samping dan sesekali mengecup kening istrinya dengan sayang.
Saat ini mereka sedang berada di balkon kamar mereka sendiri dan duduk di sofa, Leon tak melepaskan pelukannya dari sang istri.
"Aku masuk besok saja, Kak," ucap Risma.
"Terserah kamu, sayang. Asal tetap ikut ujian ya?" Risma hanya mengangguk pelan dalam dekapan suaminya karena sedang asik menghirup bau wangi dari tubuh Leon.
"Aku juga sudah rindu untuk sekolah, apa lagi sama teman-teman." Risma mulai berbicara lagi setelah beberapa menit terdiam karena menikmati bau tubuh suaminya.
"Oh iya, Kak. Bagaimana dengan pekerjaan Ka Leon? Apa semuanya baik-baik saja?" tanyanya. Dia mulai mendongak menatap wajah tampan suaminya.
"Semuanya baik-baik saja, sayang. Hanya saja akhir-akhir ini papi selalu memanggilku juga, untuk ikut menghadiri pertemuan tamu-tamu pentingnya. Maaf ya, akhir-akhir ini kita jarang seperti ini." Leon berucap sambil menatap wajah istrinya.
Risma hanya menangguk pelan lalu kembali berucap, "justru aku yang minta maaf, Ka. Beberapa hari ini aku tidak pernah mengurus suami dengan becus."
"Jangan bilang seperti itu, sayang. Bukankah semalam kamu mengurusku dengan becus?" godanya, perkataan itu pun membuat wajah Risma tampak memerah karena malu jika kembali mengingat hal semalam yang telah mereka lakukan.
Sementara Leon tampak tertawa karena melihat wajah Risma yang telah memerah. "Pipinya memerah tuh," tunjuk Leon.
"Ka Leon ikh! Jangan diingatkan, aku jadi malu." Risma menyembunyikan wajahnya di dada suaminya karena semakin malu, apa lagi Leon malah semakin menggodanya saja.
"Ok. Bagaimana kalau kita mengulanginya lagi, sayang?" bisiknya dekat telinga sang istri dan sesekali meniup telinga itu.
Karena mendengar permintaan sekaligus perlakuan suaminya yang membuatnya geli, Risma langsung mencubit perut Leon.
"Ka! Kalau kakak bilang seperti itu lagi, maka aku gigit di sini." Risma mulai menujukan dada kiri Leon dengan cara mulai merapatkan bibirnya.
Bukannya takut, Leon hanya tertawa mendegar ancaman istri mungilnya. Gigitan istrinya memang sakit, apa lagi sampai mengeluarkan darah.
"Tidak masalah, tapi jangan salahkan jika aku juga melakukan hal yang sama. Mungkin saja akan lebih parah dari pada ini." Leon menurunkan tatapannya. Risma pun ikut menatap arah penglihatan suaminya.
Seketika wajahnya semakin memerah bagai kepiting rebus karena semakin malu, apalagi kini dia melihat bagian dadanya yang tertutup baju itu banyak tercipta karya suaminya semalam atau lebih tepatnya Leon meninggalkan tanda kepemilikannya 'kiss mark' di sana.
Karena malu Risma langsung memeluk suaminya dan menyembunyikan wajahnya yang memerah karena godaan Leon, bahkan dia melayangkan cubitan beberapa kali di perut suami mesumnya.
"Kenapa disembunyikan wajahnya, sayang?" godanya lagi.
"Iihh, Ka Leon!"
"Kenapa sih?"
"Sudahlah, aku mau ke kamar Deren." Karena tidak kuat lagi mendegar godaan suaminya, Risma mulai bangkit dari sofa.
Bruk!
Belum sempat berdiri tegak, Leon langsung menarik pinggang Rism dan kini istrinya langsung jatuh terduduk di atas pangkuannya.
"Mau kabur?" tanya Leon. Sambil mengendus-endus diceluk leher istrinya
"Kabur apaan sih? Aku mau melihat Deren dulu," bohongnya.
"Aah. Ka, apa yang kamu lakukan?"
Bukannya menjawab Leon malah semakin kuat menggigit leher istrinya, bukan hanya menggigit saja. Tapi dia juga meninggalkan 'kiss mark' di sana sehingga semakin membuat istrinya melototkan matanya.
"Baby."
__ADS_1
Leon menghentikan aksinya dan bersamaan melihat kearah suara yang memanggilnya dan betapa terkejutnya mereka, saat melihat Deren yang sudah berdiri tak jauh dari mereka dengan menatapnya penuh heran.
Risma langsung cepat-cepat berdiri dari pangkuan Leon, lalu kembali duduk di sofa samping suaminya dan menyembunyikan bekas di lehernya dengan rambut. Sementara Leon hatinya campur aduk karena kedapatan oleh anak kecil itu. Dia merasa malu karena Deren melihat perbuatannya, tapi hatinya juga kesal karena anak kecil itu mengganggu aktivitasnya bersama sang istri.
'Dasar! Anak curut' batin Leon.
Ya, tentu saja kata-kata itu tidak akan dia keluarkan apa lagi di depan Deren. Deren pasti marah besar jika di panggil 'anak curut'
"Kalin sedang apa?" tanyanya polos, sambil memandang Risma dan Leon secara bergantian.
"Oh, tidak apa-apa kok, iyakan Ka?" Risma berbalik melihat Leon yang duduk di belakannya. Leon hanya mengangguk dan senyum dibuat-buat agar anak kecil itu tak curiga.
"Oh." Hanya kata itu yang keluar dari bibir mungilnya lalu berjalan menghampiri Risma dan kemudian naik duduk ke atas pangkuan Leon.
"Baby, lehernya kenapa merah? Apakah sakit?" Deren bertanya dengan kepolosannya. Ternyata anak kecil itu tanpa sengaja melihat tanda yang Leon buat tadi.
"Oh, i-ini. Tidak apa-apa kok, hanya digigit nyamuk besar tadi." Risma memberikan penjelasan palsu sambil melirik Leon untuk meminta bantuan.
"Kenapa bisa?"
"Itu karena, Babymu bandel selalu menangis dan tidak mau makan, jadi dia digigit nyamuk besar." Leon membantu menjelaskan.
Deren menatap Leon dengan tajam lalu mencubit dan menarik hidung mancung Leon. "Lalu, kenapa kamu hanya diam melihat nyamuk sialan itu menggigit Babyku? Kenapa tidak memukul nyamuk besar itu?" Marahnya, lalu berpinda duduk ke pangkuan Risma dan melihat tanda itu lagi dengan jelas.
"Itu karena-"
"Diam! Dasar lemah, tubuh besar tapi seperti bayi saja." Deren melirik Leon dengan malas.
Leon mulai geram dengan anak kecil itu, ingin rasanya mencubit pipi gembung Deren yang dibuat-buatnya dan bibirnya mengerucut, sehingga ia menjadi lebih imut dan menggemaskan.
"Baby, apakah sakit?" Risma menggeleng lalu tersenyum dan sesekali melirik suaminya.
"Akan kucabut gigi nyamuk besar itu jika ketemu."
.
Jam 7 malam, Riki mendatangi rumah Risma karena ingin menjenguk sepupunya, yang sudah beberapa hari ini tidak sekolah karena masih berduka. Saat ini mereka sudah berada di ruang tamu sambil dudu di sofa empuk.
"Hai, Ris. Apa kabar?"
"Baik kok, bunda bagaimana kabarnya?"
"Bunda alhamdulillah, baik. Oh iya, Ka Baim kemana?" Riki celingak-celinguk mencari keberadaan Baim.
"Dia lagi keluar sama Ka Eka, emangnya ada apa?"
Riki hanya diam menatap sepupunya dengan tatapan sulit diartikan, sebenarnya Riki ingin menyampaikan sesuatu, tapi dia urungkan untuk mencari waktu yang lebih tepat.
"Deren dan suamimu kemana?"
"Tadi Ka Leo mengantar Deren ke kamarnya, katanya sih sudah mengantuk mungkin dia lelah karena jalan-jalan tadi siang," jelas Risma dan Riki hanya mengangguk mengerti.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya." Riki mulai bangkit dan melangka ke arah pintu, tapi langkahnya terhentikan karena Risma memegang lengannya.
"Ki?"
"Ada apa?" Riki berbalik dan menatap sepupunya yang kini mulai berlinang lagi dengan air mata.
"Loh, kok nangis?" Riki melangkah menghampiri Risma lalu mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Tidak malu apa? Sudah punya suami, tapi masih saja cengeng." Risma hanya senyum mendengar ledekan Riki.
Sementara di kejauhan sepasang mata sedang memperhatikan mereka berdua dan siapa lagi kalau bukan Leon.
"Jangan bersedih terus seperti ini. Ingat, kamu punya Leon dan Deren. Jangan sampai kamu tidak mengurus suamimu karena menagis terus." Risma hanya mengangguk mendengar ucapan sepupunya itu, Riki langsung memeluk Risma dan mengusap punggung mungil itu dengan pelan, walaupun mereka kadang bertengkar kalau bersama. Riki tidak punya saudara,dia adalah anak tunggal. Makanya dia sangat menyanyangi Risma dan menganggap Risma sebagai adiknya sendiri, apa lagi umur mereka tidak jauh berbeda.
"Ekhm, sudah acara peluk-peluknya." Seseorang datang menghampiri mereka berdua.
Riki melepas pelukannya dari Risma dan melihat siapa yang sedang menegur mereka berdua.
"Sepertinya, ada yang cemburuh nih?" Riki mulai menyinggung.
"Siapa juga yang cemburu, tapi kalau mau peluk itu jangan istri orang dong." Kini Leon menarik Risma kedalam pelukannya, sementara Risma hanya menggeleng melihat tingkah suaminya mirip Deren yang sedang cemberut jika mainannya di ambil orang.
Sedangkan Riki hanya cengengesan menampilkan gigi datanya sambil menggaruk ujung keningnya yang tak gatal.
.
"Apa kalian sudah menemukan keganjilannya?" Seorang pria sedang duduk di sofa dan menaikkan kakinya di atas meja, sementara kepalanya mendongak menatap ke langit-langit ruangan yang bernuansa putih itu.
"Sudah, Tuan. Mereka kecelakaan karena rem mobil mereka blong dan kami juga menemukan kalau ada yang sengaja membuat mereka celaka." jelas anak buahnya.
"Siapa orangnya?"
"Kami belum menemukan pasti, tapi kami telah mencurigai seseorang yang berasal dari satu sekolah dengan gadis, Tuan." Anak buah yang lain menyahut.
"Selidiki lebih lanjut, jika menemukannya makan kalian akan dapat bonus."
"Baik, Tuan." Mereka semua keluar dan menyisahkan seorang Tuan mudah yang berwajah tampan, bertubuh tinggi dan bola mata berwarna hitam pekat.
"Ternyata ada tikus kecil yang ingin bermain-main, kita lihat saja apa kamu mampu bersembunyi dari dariku." Rahangnya mulai mengeras dan tatapannya sangat tajam menatap kedepan.
"Kupastikan, kamu akan membayar semua air mata gadisku."
.
.
.
__ADS_1
.