Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
50


__ADS_3

Jam 5 pagi Risma sudah terbangun terlebih dahulu, bahkan dia tidak membangunkan suaminya karena dia tidak ingin suaminya mengetahui apa yang ingin dia lakukan.


"Sepertinya, ini waktu yang tepat untuk melakukannya."


Dengan segit dia menuju lemari mengambil sesuatu, lalu pergi ke kamar mandi. Menutup pintunya dengan pelan dan menguncinya, agar Leon tidak bisa masuk.


Setelah membaca cara-cara dari alat tersebut, Risma pun melakukan dengan apa yang dibacanya tadi. Dengan tangan gemetar dia melakukannya dengan pelan.


Dalam hati dia berdo'a agar hasilnya bisa seperti apa yang dia harapkan. Setelah beberapa menit menunggu, Risma menatap alat tes itu dengan dada berdenyut kencang.


"Po-positif?" kagetnya.


"Jadi aku beneran hamil?" Mengusap perutnya dengan pelan dan tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya.


Air mata itu adalah air mata bahagia karena dia tidak habis pikir akan menjadi seorang ibu dengan cepat, apa lagi di usia yang masih mudah. Tapi Risma sangat bahagia karena ini adalah keinginan Leon selama ini.


Leon dari pertama memang sangat menginginkan Risma cepat hamil. Leon memang sangat menyukai anak kecil, Deren saja sudah dia anggap sebagai anaknya, padahal usia mereka hanya beda 12 tahun lebih.


Dan kini, keinginannya yang ingin memiliki anak akan terwujud.


"Sebaiknya aku telpon Dokter Diva dulu biar tambah jelas, apa lagi selama ini aku tidak pernah merasa mual seperti ibu hamil lainnya."


Dengan cepat dia menghubungi dokter Diva, tante Leon. Sebelumnya dia juga sudah bertanya dan dokter Diva menyarankan untuk melakukan tes saja dulu. Jika masih ragu, akan mereka lakukann tes lagi di rumah sakit biar tambah jelas lagi.


Setelah hampir 1 jam di dalam kamar mandi, Risma pun keluar dengan tubuh yang terlilit handuk yang menutupi dada sampai di atas lutut.


Berjalan menuju ranjang karena melihat Leon yang masih tertidur nyenyak.


"Ka, bangun. Ini sudah pagi loh," bisiknya.


Leon masih tetap tidak merespon dan masih berada di alam mimpinya.


Cup!


"Bangun, sayang."


Kembali mencoba membangunkan Leon dan mengecup pipi sang suami dengan lembut.


Hemm!


Leon mulai bergerak dan berdehem karena mulai merasa sentuhan istrinya. Risma pun tidak hentinya menyentuh wajah Leon dengan jari-jarinya yang masih dingin.


Leon mulai membuka matanya dengan pelan dan menatap wajah Risma yang sangat dekat dengan wajahnya.


Tersenyum!


Leon mengusap pipi istrinya yang masih terasa dingin dan lembab karena sehabis mandi. Risma pun ikut tersenyum karena melihat suami tercintanya sudah bangun.


"Ka, ayo bangun, terus mandi," pintahnya. Risma masih duduk di samping suaminya.


"Cium dulu." Leon mulai lagi, akal mesumnya muncul lagi.


Jangan salahkan dia, salahkan saja Risma yang duduk di sampingnya dan hanya memakai handuk, sepertinya Risma belum menyadari kalau saat ini dia hanya memakai handuk.


Leon pun tersenyum jahil, dia sepertinya mendapatkan ide untuk mengerjai istrinya.


"Bau," tolak Risma.


"Bau? Emang aku bau apa?" Leon mulai mencium bau badannya sendiri.


"Bau iler," jawab Risma. Risma pun langsung tertawa melihat ekspresi wajah Leon.


"Enak saja, aku bau iler. Emang kamu, yang tidur sambil ileran sampai-sampai bajuku ikut basah." Leon menolak dikatakan ileran saat tidur.


"Apa?"


"Iya, kamu semalam ileran saat tidur. Kamu masih ingat 'kan kalau semalam kamu tidur dimana?" Leon mulai mengingatkan Risma.


Risma langsung membulatkan matanya, saat mengingat kalau semalam dia tidur di pelukan suaminya dan lengan Leon sebagai bantalnya.


"Ka Leon pasti bohong."


"Bohong apanya? Liat, aku sekarang tidak pakai baju karena aku buka semalam. Basah karena air liur," ucapnya pelan di ujung perkataannya.


"Ish, mana ada. Bisa jadi baju Ka Leon basah itu karena air liur sendiri," timpalnya.


Yang awalnya ingin menolak permintaan dan membuat suaminya malu, malah dia sendiri yang malu karena ungkapan Leon.


"Ngak percaya? Tuh, cium sendiri." Leon menunjuk baju yang berada di lantai samping ranjang.


Risma melihat baju suaminya yang dipakai semalam, tapi kini sudah berada di lantai. Dia pun mulai percaya dengan ucapan suaminya, dia mulai merasa malu sendiri karena ketahuan ileran semalam, bahkan membuat lengan baju suaminya basah sendiri.


"Kenapa diam, Sudah mengaku salah, hem?" Leon bangun dan menyandarkan dirinya disandarkan kepala ranjang dan sedikit menarik tubuh istrinya untuk dipeluknya.


Sedangkan Risma hanya diam dengan wajah yang sudah mulai memerah karena merasa malu.


"Dan kamu harus di hukum," ucap Leon.

__ADS_1


"Hukum?" bingungnya. Risma menatap wajah suaminya yang kini tersenyum.


"Iya, hukumannya itu, kamu harus cium suamimu ini. Yah, ini sih bukan hukuman namanya, tapi kewajiban istri. Harus memberi suaminya morning kiss setiap hari," jelas Leon panjang lebar.


"Ck! Bilang saja mau dapat untung. Pokoknya, aku ngak mau cium sebelum Ka Leon cuci muka dan gosok gigi," protesnya.


"Ck! Lambat" dengan cepat Leon menarik tubuh istrinya, saat Risma mulai berdiri dari ranjang.


"Hempp...." Risma membulatkan mata karena tingkah Leon yang langsung mencium dirinya.


Bruk.


Leon langsung mendorong tubuh istrinya, sehingga Risma kini terbaring terlentang di bawa kungkungannya.


"Jangan pernah mencoba menolakku, sayang," bisiknya.


Risma pun sudah tahu apa yang akan Leon lakukan padanya.


'Apa aku dapat karma?' Risma berbicara dalam hati.


Padahal tadi dia yang ingin mengerjai suaminya, tapi kini malah dia yang dapat batunya sendiri.


"Ok, ok. Aku akan cium Ka Leon, tapi setelah itu Ka Leon harus langsung mandi," tawarnya.


"Ok."


Risma pun langsung mengangkat kepalanya, memajukan wajahnya ke arah wajah Leon.


Cup! Cup!


"Sudah. Sana, mandi cepat," suruhnya, setelah mengecup kedua pipi suaminya.


"Emang aku suruh cium di pipi?" Leon menaikkan sebelah alisnya.


"He."


Salah lagi, Risma membuat dirinya rugi lagi, dia langsung melakukan tanpa bertanya terlebih dahulu. Kalau begini 'kan Leon yang menang banyak.


¤


Ceklek.


Pintu Apartemen terbuka lebar dari arah luar dan menampakkan sosok tubuh yang tidak asing lagi.


Siapa lagi kalau bukan Dion. Dion masuk ke dalam apartemen dan menatap sekeliling, mencoba mencari sesuatu, tapi tetap juga tidak di temukannya.


"Ada apa, Ka?" Yuna keluar dari arah dapur.


"Kamu habis ngapain?" tanya Dion.


"Aku lagi bikin sarapan sekaligus bikin bekal," jawab Tuna pelan.


"Oh. Cepatlah sarapan, baru kita berangkat ke sekolah bersama, biar kamu tidak telat."


"Hem, apa Ka Dion sudah sarapan?" tanya Yuna dengan wajah tertunduk.


"Nanti di sekolah saja, aku tadi tidak sempat sarapan di rumah," jawab Dion.


"Ka Dion ikut sarapan di sini saja. Kebetulan aku buat nasi goreng lebih."


"Emang boleh?" Yuna hanya mengangguk pelan dan masih dengan tertunduk karena tidak berani menatap wajah Dion.


"Hei, aku disini. Kenapa kamu malah berbicara dengan lantai? Apa kamu samakan wajahku dengan lantai itu?" sindir Dion.


Dengan cepat Yuna mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Dion.


Deg!


Inilah yang dia takutkan Yuna. Dia takut melihat


wajah tampan Dion karena ketampanan wajah pria ini membuat dia jatuh hati.


"Tidak."


"Lalu kenapa, setiap berbicara denganku selalu saja menatap kebawah."


"Maaf." Yuna tertunduk lagi.


"Sudah, lupakan saja. Apa kita jadi sarapan? Perutku sudah mulai berbunyi." Dion mengusap perutnya sambil tersenyum.


Mereka pun berjalan bersama menuju meja makan.Dion langsung duduk di kursi dan mulai mengambil piringnya.


"Biar aku ambilkan, Ka." Yuna mulai mengisinya dengan nasi goreng, tidak lupa pula dia menyimpan telur mata sapi di atas nasi goreng tersebut, lalu menyerahkannya kembali pada Dion.


"Terima kasih," ucap Dion, Yuna hanya tersenyum.


Dion mulai menyuapi nasi gorengnya.

__ADS_1


'Apa begini rasanya dilayani sama istri. Seperti ka Leon dan istrinya,' monolog Dion dalam hati.


"Apa rasanya tidak enak? Maaf jika rasanya kurang enak." Yuna merasa ragu menatap wajah Dion. Dia mengira Dion terdiam karena nasi gorengnya yang tidak enak.


Dion pun tersadar. "Rasanya enak."


¤


"Hari ini, rencana kita harus berhasil."


"Kamu benar, aku tidak sabar melihatnya menangis karena di benci oleh Leon."


Dira menyahut sambil tersenyum membayangkan rencana jahat yang telah mereka susun untuk seseorang dan siapa lagi kalau bukan Risma. Entah mengapa mereka sangat membenci gadis itu, bahkan mereka telah menyuruh orang untuk mencelakai mobil yang di pakai kedua orang tua Risma, sampai-sampai keduanya tak terselamatkan lagi.


"Dan aku. Aku akan memiliki Leon seutuhnya." Kini Elsa yang tertawa karena merasa sebentar lagi pria tampan itu akan menjadi miliknya.


"Baiklah, sekarang kita berangkat."


Dira hanya mengangguk lalu mengikuti Elsa dari belakan.


Sungguh licik mereka berdua.


Tapi mereka tidak menyadari kalau ada beberapa pasang mata yang telah mengawasinya beberapa hari ini.


¤


"Ekh, Ka. Apa kamu dari tadi sampainya?" bisik seseorang di dekatnya.


Risma beralih menatap Dion yang baru saja duduk di bangku samping tempatnya.


"Baru juga. Kamu kok baru sampai? Tadi Mami telpon katanya kamu berangkat pagi sekali," tanyanya balik.


Dion hanya tersenyum mendengar ucapan kakak iparnya. Mau jujur tapi dia takut kalau Risma malah memarahinya nanti.


"Ditanya malah senyam-senyum." Risma kembali membaca bukunya.


"Tadi aku ke apartemen dulu," jawab Dion.


"Ngapain ke sana, Apa ada yang tertinggal?"


"Eh, bu-bukan Ka. Tapi anu e-em itu."


"Kok seperti orang gagap. Apa kamu menyembunyikan sesuatu?" Risma kembali bertanya, sementara Dion sudah salah tingkah antara mau jujur tapi juga takut.


"Tapi Kakak berjanji jangan memberi tahu pada suamimu, aku bisa di pukul nanti." Dion menangkup kedua tangannya di depan dada, seakan meminta mohon pada Risma.


"Tidak janji, kalau kamu berbuat baik aku tidak akan kasih tahu. Tapi jika kamu menyembunyikan sesuatu yang berbahaya maka aku laporkan pada mami dan papi bukan kakakmu lagi, mengerti?"


Dion pun mengangguk pelan dalam tundukannya, yang dikatakan iparnya memang benar.


"Sekarang cerita, ada apa?" Risma bertanya lembut dan menyentuh pundak Dion.


Dion menatap wajah kakak iparnya yang masih setia menunggu jawabanya.


"Sebenarnya ... Aku e-emm. Itu, sebenarnya aku menjemput seseorang di apartement." Dion kembali menunduk saat selesai menjawab pertanyaan Risma.


"Dia, siapa? Apa apartement itu milikmu?" Risma kembali bertanya bertubi-tubi.


Dion mengangguk pelan. "Dia adik kelas kita," jawabnya lirih.


"Apa dia, seorang gadis?"


Dion kembali mengangguk, semetara Risma sudah melotot mendapatkan jawaban dari Dion.


"Kamu! Jadi kamu menyembunyikan seorang gadis di apartement?" Risma berbicara pelan. Andai saja mereka hanya berdua mungkin Risma sudah memarahi Dion. Tapi Dion terselamatkan karena mereka sedang berada di dalam kelas.


"Eh, bukan begitu Ka. Tapi aku hanya menolongnya saja karena dia tidak punya tempat tinggal sekarang," jawabnya pelan.


"Namanya siapa, Di?"


"Yuna, Ka. Dia juga salah satu karyawan di Caffe."


"Apa dia si 'kakak cantik' yang Deren maksud?" Risma seakan teringat cerita Deren waktu dia pulang dari jalan-jalan sama Dion. Katanya dia bertemu dengan 'kakak cantik'.


"Deren?"


Dion mengerutkan keningnya ada apa dengan Deren. Setelah beberapa detik Dion baru tersadar kalau Deren telah bercerita pada Risma tentang Yuna yang selalau dia temui di Caffe jika sedang ikut.


'Ish! Anak itu. Apa dia juga sudah bercerita pada Ka Leon. Bisa mampus aku! Jika dia juga bercerita pada mami atau papi.' Dion membatin.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2