
"Eh, kalian nggak kerasa aneh, nggak sih?" ucap Cerry kepada Ayu.
Ayu yang sedang duduk sambil memasukkan bukunya ke dalam tas lalu mendongak menatap Cerry yang berada di depannya.
"Maksudnya apa?" tanya Ayu.
"Hem, Risma sudah beda. Sejak 3 hari ini dia selalu saja bersama Leon," ujar Cerry dengan cemberut.
"Bagus dong, berarti ada kemajuan."
"Kemajuan apa? Apa mereka pacaran yah?" tanya Cerry dengan memengang dagunya.
"Justru bagus kalau mereka pacaran, berarti Risma tidak jomblo lagi. Dan artinya dia sudah bisa menerima pria di hatinya," jelas Ayu.
"Oh iya, yah. Tapi bukannya mereka sepupuan?"
"Emeng kenapa kalau sepupuan, cinta itu bisa tumbuh kapan saja dan kepada siapa saja, bukan?" Ayu menggelengkan kepalanya melihat Kebodohan temannya.
"Ada apa sih?" tanya Riki yang baru saja masuk dan duduk di dekat Cerry.
"Tuh, pacarmu oon banget. Temannya dapat pacar malah mikir panjang lebar," jelas Ayu.
"Siapa yang kalian maksud?"
"Risma, dia akhir-akhir ini dekat sama Leon," jawab Ayu.
"Oh itu, biarlah, 'kan bagus lagi kalau dia dapat pacar. Supaya tidak ada lagi yang ganggu kita kalau pacaran, hehe...." Riki cengengesan merangkul pundak Cerry, sedangkan Ayu hanya memutar matanya malas melihat tingkah Riki.
Ayu berjalan ke meja Risma yang sedang bersiap-siap untuk pergi.
"Ris, ke kantik yuk?" ajak Ayu.
"Maaf, Yu. Gue mau ke atap dulu," ucap Risma dan mengambil tas nya.
"Kita boleh ikut nggak?" tanya Cerry.
"Boleh, ayo," ajak Risma.
"Eh, tapi kita mau ke kantin dulu beli makanan," ujar Ayu. Dia menarik tangan Cerry untuk menuju ke kantin karna dia tau kalau Risma mau pergi bertemu dengan Leon.
"Oh, ok."
"Aku boleh ikut?" tanya Dion.
"Boleh, ayo kita pergi sebelum jam masuk lagi," ucap Risma.
Risma dan Dion berjalan bersama menuju ke atap sekolah tapi saat di tengah perjalanan dia bertemu dengan seseorang.
"Eh! Bukannya kamu Anisa Fayuna, yah?" tanya Dion kepada gadis itu.
"I-iya ka," jawabnya menunduk dan membawa kedua tangannya ke belakang.
Gadis itu merasa senang bisa disapa oleh Dion si anak tampan terkenal dingin kepada anak gadis yang lainnya dan dia hanya menyapa kepada temannya saja, itupun kalau dia mau.
"Kamu sekolah di sini juga rupanya, kamu kelas berapa?" ucap Dion dan tersenyum.
Anisa mendongak menatap Dion yang lagi tersenyum padanya. "A-aku kelas 2," jawabnya lagi dan membalas senyuman itu.
"Oh."
"Siapa, Di?" tanya Risma.
"Itu, salah satu kariawan di caffe," jawab Dion dan mulai melangkah.
Risma hanya ber'ohriah saja dan melangkah bersama Dion menuju ke roof top sekolah.
Sedangkan Anisa yang awalnya senyum kini berubah menjadi sedikit sedih. Karna orang yang dia suka ternyata sudah bersama orang lain dan terlihat bahagia. Dion memeng selalu tertawa jika bersama Risma tapi kalau dengan wanita lain maka dia hanya berwajah datar atau dingin, dan hanya sesekali memberikan senyumannya pada orang lain tapi jika dengan Risma maka dia akan tertawa lepas.
Sesampainya di sana orang yang di cari ternyata belum ada.
"Kemana dia?" gumam Risma.
"Siapa?" tanya Dion.
"Siapa lagi kalau bukan Kakakmu itu yang manja," jawab Risma lalu duduk di kursi semen panjang.
Dion juga duduk dekat Risma dan mengambil hpnya yang berada di kantong celana depan untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Emengnya mau ngapain sih! di sini?" Dion bertanya tanpa melihat ke arah Risma dan memainkan hpnya.
"Mau makan siang, tadi aku bawa makanan dari rumah," ucap Risma dan membuka tasnya.
"Waahh ... sepertinya enak. Aku boleh minta?" ucap Dion dan melihat makanan di tangan iparnya.
"Hem. Sengaja aku bawa lebih," ujar Risma.
"Sini, biar aku coba." Dion mencoba merai makanan itu di tangan Risma untuk memakannya.
"Eh! Hati-hati nanti tumpah," ucap Risma.
"Suap saja jika begitu," pintah Dion.
Risma pun menyuapi Dion dan senang hati Dion menerima suapan itu tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua.
"Ternyata benar mereka ada hubungan, nyatanya, sekarang...," lirihnya lalu meninggalkan tempat itu.
Anisa memilih pergi dari pada tetap melihat pemandangan yang akan membuat hatinya tambah sakit saja. Yah, dia sebenarnya mengikuti Dion dan Risma karna merasa curigah kedekatan mereka, tapi saat dia telah sampai di sana malah pemandangan itu yang dia lihat. Andai saja dia tahu kalau hubungan Risma dan Dion itu hanya sebatas ipar saja, mungkin dia tak akan merasa cemburu.
Setelah beberapa menit orang ditungguh akhirnya datang juga, siapa lagi kalau bukan Leon si suami manjanya.
"Dari mana? Kok lama sekali?" ketus Risma.
"Wah, istri mungilku ternyata sudah mulai rindu." Leon cengengesan dan duduk di samping Risma.
"Aku tadi pergi beli air," sambungnya.
"Suap lagi," pinta Dion dengan manja.
"Enak saja, Dia itu istri aku jadi dia hanya boleh suap aku doang," ucap Leon dengan menatap tajam Adiknya.
"Dia juga iparku," jawab Dion.
"Sudah-sudah, kalian makan sendiri-sendiri saja." Risma memberi kotak makan pada Dion dan juga Leon.
"Kamu makannya apa?" tanya Leon.
Risma menggeleng. "Biar aku suap," ucap Leon dan Risma pun mengangguk.
"Kenapa menghadap ke situ?" tanya Leon basa-basi.
Dion membalik lagi menatap kakaknya. "Kalian selalu saja bermesraan, tanpa melihat ada orang jomblo di sini."
"Derita sendiri, siapa suruh mau ikut kemari?"
"Tegah banget sih! Bang,"
Risma tertawa meliht wajah Dion yang cemberut dan mulut di monyongkan mirip anak kecil saja yang merajuk tidak dituruti permintaannya.
"Kaka ipar, lihat suamimu itu," lapor Dion mirip anak kecil dan menunjuk Leon.
"Ck! Kamu menganggu saja keromantisan kami," ujar Leon.
"Sudahlah, Ka."
Risma mengambil sendok itu lalu menyuapi Leon agar berhenti berdebat dengan Dion.
"Aku juga," pinta Dion.
"Nggak boleh," ucap Leon. Dia menarik tangan Risma agar tidak menyuapi Dion.
"Hiks,hiks,hiks, kamu tegah bang sama dede," ucap Dion dengan menagis dibuat-buat.
"Ok. Biar aku suap," ucap Leon dan mulai menyuapi Dion.
Dion memang kadang bermaja pada Leon, mereka berdua saling menyayangi. Apalagi Leon, dia sangat menyayangi adiknya karna hanya Dion saja adik satu-satunya yang dia miliki dan mereka tak pernah berpisah. Saat Leon bersekolah di luar Negeri dia ikut pada kakaknya, saat Leon pinda lagi, dia tetap ikut karna dia tidak mau berpisah. Tapi semenjak Leon menikah dengan Risma, Dion sudah tidak bebas bermanja-manjaan pada kakaknya karna dia tahu kalau Leon sudah punya istri sekarang. Hanya sekali-kali saja dia bermanja-manjaan pada kakaknya.
"Nah, sekarang makan sendiri." Leon memberi sendok pada Dion untuk makan sendiri.
Leon menghadap pada Risma dan mengambil sendok itu lalu menyuapi istrinya dan Risma menerimanya dengan senang hati kadan dia juga yang menyuapi Leon.
"Aku sudah kenyang," ucap Risma.
Leon pun mengambil air yang dibawanya tadi dan membuka penutupnya lalu memberikannya pada Risma.
Setelah semuanya selesai Risma mengumpulkan semua kotak makannya dan memasukkan ke dalam tas.
__ADS_1
"Aabaang...," panggil Dion dengan lembut dan manja.
"Hem, pasti ada maunya nih?" ucap Leon.
"Hehe... kakak memeng pintar." Dion cengengesan memperlihatkan gigi putihnya.
"Ada apa?" tanya Leon.
"Ka, boleh yah, aku pacaran."
"Tidak boleh."
"Kok gitu sih! ka? Dari pada adikmu ini karatan menjomblo, 'kan lebih baik punya pacar," ujar Dion dan menunduk.
"Kamu itu masih kecil, pikiranmu juga masih suka labil," ucap Leon dan merangkul pundak adiknya.
"Selalu saja menjawab begitu." Dion berdiri lalu meninggalkan tempat itu.
"Biarkan saja dia pacaran," ucap Risma.
"Biar aku bicarakan dulu sama Mami dan Papi," ujar Leon.
Risma hanya mengangguk dan mulai berdiri tapi sebuah tangan kekar menarik pergelangan tangannya sehingga dia terduduk kembali tapi kali ini dia terduduk di pangkuan Leon. Risma mencoba bangkit tapi dengan sigap Leon melingkarkan tangannya di perut ramping Risma, agar dia tidak bangkit lagi.
Risma hanya membiarkan Leon memeluknya, sedangkan Leon yang tidak mendapat penolakan istrinya tersenyum kemenangan. Dia meletakkan wajahnya di cekuk leher istrinya dan sesekali mengecup leher putih itu dan meniupnya juga, itu membuat Risma merasa geli.
"Ka, hentikan. Aku geli." Risma mencoba menghentikan tingkah Leon.
"Biar seperti ini dulu, aku nyaman," lirih Leon.
"Tapi aku geli."
Leon berhenti meniup leher Risma tapi dia semakin menempelkan bibirnya di sana dan memejamkan matanya.
"Ka, jangan digigit lagi," pinta Risma.
"Hem." Hanya deheman yang Leon berikan.
Setelah beberapa menit Risma mencoba melepaskan pelukan Leon.
"Ka, turun yuk. Tidak lama lagi masuk," ajaknya.
"Yah, padahal masih mau seperti ini," ucap Leon dengan manja.
"Tapi 'kan ini di sekolah, lanjuti lagi nanti di rumah." Tampa Risma sadari ucapannya yang membuat mata Leon membinar.
"Ok. Awas saja kalau nanti menolak, aku akan gigit lagi," goda Leon. Sedangkan yang digoda, wajahnya memerah dan menunduk.
Bagaimana bisa dia salah ucap tadi dan membuat dia malu, sedangkan Leon merasa menang tanpa dia minta.
Leon berdiri lalu memeluk Risma karna dia tau kalau istri mungilnya lagi malu dan sesekali mengecup kening Risma dengan lembut penuh cinta dan kasih sayang, Risma pun membalas pelukan suaminya dan menenggelamkan wajahnya di dada Leon.
Setelah beberapa menit mereka melepaskan pelukannya. Leon merai dagu Risma dan mulai mendekatkan wajahnya.
Cup...
Benda kenyal itu bersentuhan lagi tanpa ada penolakan, Leon merai tengkuk Risma agar ciumannya semakin mendalam. Tak hanya sampai di situ, karna merasa kurang puas Leon mengubahnya yang pertamanya ciuman kini menjadi ******* yang lembut, dia begitu menikmati ******* benda kenyal itu dan entah apa yang merasuki Risma, kini dia berani membalas ciuman Leon dan ini adalah pertama kalinya membalas setiap Leon menciumnya.
Leon tertawa dalam hati, tentunya karna dia mendapat balasan dari istrinya kali ini. Setelah cukup puas Leon melepaskannya tautan mereka.
"Ternyata istriku sudah mulai pintar, yah?" ucapnya mengoda dan mengusap bibir Risma.
"Itu karna aku belajar darimu," jawab Risma dan tersenyum.
Leon kembali mengecup pipi Risma. "Makasih, Sayang," ucap Leon. Risma hanya mengangguk dan tersenyum lagi.
"Ayo kita turun," ajak Risma.
"Hem, biar aku yang bawa tasnya." Leon mengambil tas Risma yang dibawa tadi.
Mereka pun turun dari roof top sekolah, Leon merangkul bahu Risma sedangkan Risma merangkul pinggan Leon. Mereka tampak bahagia sekarang tanpa ada orang ketiga.
.
.
.
__ADS_1