Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
55


__ADS_3

Leon berbalik karena mendengar suara teriakan seseorang, bahkan seperti ada suara terjatuh. Seketika matanya terbelalak, melihat siapa yang kini berada di dasar tangga dan terbaring sambil meringis kesakitan.


"Kak Rismaaa!" teriak Dion dan langsung menghampiri iparnya.


Dion berdiri tidak jau dari tangga bersama Yuna, sebenarnya, Dion juga ingin ke Rotoof bersama Yuna. Dia ingin mengatakan sesuatu pada gadis itu, tapi malah melihat iparnya yang terjatuh dari tangga karena ulah kakaknya sendiri.


Risma langsung meringis memengang kepalanya yang terbentur di sudut tangga saat terjatuh, bokongnya juga ikut sakit karena terduduk saat pertama jatuh di tangga.


"Aawwh ... Sshh, kepalaku sakit sekali," ringisnya.


"Apa yang kamu lakukan, Kak! Kenapa kamu mendorongnya?!" Dion membentak kakaknya, saat Leon sudah ikut duduk membantu istrinya.


Leon benar-benar tidak tahu kalau yang menyentuh bahunya tadi itu adalah Risma, dia hanya berpikir kalau Elsa si wanita licik itulah yang menyentuhnya, makanya dia menyentak tangan itu tanpa melihat terlebih dahulu.


"Aa--aku tidak sengaja," jawab Leon gemetar.


Tanpa menunggu lama lagi, Leon langsung mengangkat tubuh kecil Risma, dia menggendongnya dan berjalan cepat untuk menuju mobilnya yang berada di parkiran.


Ujung kening Risma sudah mengeluarkan darah karena terbentur kuat saat jatuh tadi. Tangan mungilnya pun ikut terkenah darah karena menyentuh keningnya, sementara sebelah tangannya berada di perutnya yang mulai keram dan nyerih.


"Pe--perutku, sakiiit ...," rintihnya.


"Maaf, sayang. Maafkan aku." Hanya kata itu terus yang keluar dari mulut Leon.


Dion pun ikut berlari menyusul Leon, tapi dia langsung tersadar karena meninggalkan seseorang di tempat tadi, untung saja dia belum terlalu jauh.


Dion kembali ke tempat semula di mana ada wanita yang masih berdiri karena syok melihat kejadian tadi.


"Ayo, ikut." Dion langsung menarik lengan gadis itu agar ikut serta dengannya, gadis itu adalah Yuna.


Yuna hanya diam, dia tidak mengeluarkan kata-kata, tapi langsung ikut setengah berlari menyusul langkah Dion yang mengejar kakaknya ke parkiran.


Dion langsung membuka pintu mobil Leon di bagian penumpang dan menyuruh kakaknya masuk dan menyatakan kalau dia saja yang mengemudi.


Yuna ikut serta masuk kedalam mobil dan duduk di depan, di samping Dion. Jantungnya berdekat kencang saat melihat darah di kepalanya Risma yang semakin banyak, bahkan baju bagian depan Leon sudah berwarnah merah karena terkenah darah.


Yuna bahkan ikut berkeringat dingin tangannya gemetar karena takut, sebenarnya Yuna sangat takut melihat darah, makanya saat melihat Risma terjatuh tadi dia langsung syok bahkan tulang-tulangnya ikut lemas apa lagi melihat darah yang begitu banyak.


"K--kaak ... perut ku sakit." Risma kembali meringis sambil meremas perutnya, dia benar-benar tidak tahan rasa sakit seperti diremas kuat di perut bagian bawahnya.


"Sebentar lagi kita sampai, Sayang. Dion cepatlah!"


Dion langsung menginjak gas dengan kuat, apa lagi jalan yang kini terlihat sepih mungkin karena sudah hampir jam 11 siang, maka jalan raya tidak terlalu padat dengan kendaraan.


Setelah sampai di rumah sakit yang terdekat, Leon langsung keluar dari mobil setelah Dion membukakan pintu, Leon langsung meraih dan menggendong istrinya.


Leon dengan cepat berlari masuk ke dalam rumah sakit dan meneriaki Dokter untuk segera menolong istri, yang kini tampak semakin lemah di gendongannya.


Seorang Dokter pun datang menghampiri Leon dan menyuruhnya untuk membaringkan Risma di ranjang yang telah dibawa oleh dua suster.


Setelah Risma dibaringkan di ranjang tersebut, dengan cepat para suster mendorong ranjang itu menuju ruangan yang akan di tempati untuk menanganinya terlebih dahulu.


Leon ikut berlari mendorong ranjang tersebut, air matanya kini sudah membasahi pipinya, melihat wajah pucat istrinya yang menahan kesakitan. Dion dan Yuna pun ikut berlari di belakang Leon, tapi mereka terhenti saat sudah di depan pintu, suster melarangnya masuk karena pasien mau ditangani Dokter.


Di lain tempat. Riki marah besar pada Elsa, Dia tahu kalau sepupunya baru-baru saja jatuh dari tangga, dia juga tahu kalau Risma bertengkar dengan Leon karna ulah Elsa yang memanas-manasi Leon.


"Apa maumu, Elsa?!" bentaknya. Riki benar-benar emosi, "jika sesuatu terjadi padanya, maka kamu akan kuhabisi juga!"


Elsa menunjuk dirinya, "aku yang mendorongnya, Bukan 'kan? Terus kenapa kamu marah padaku segala, emangnya kamu siapa?"


Riki terseyum sinis mendegar perkataan Elsa, benar-benar pertanyaan bodoh terdegar di telinganya.


"Apa kamu lupa? Aku adalah sepupunya. Kakak, baginya!" Riki kembali membentak di depan wajah Elsa.

__ADS_1


Seketika Elsa menciut mendengar perkataan Riki, bagaimana bisa dia lupa kalau Riki adalah sepupu Risma. Bahkan Riki selalu melindungi Risma dari apa pun sebelum ada Leon. Tapi dia malah bertanya bodoh, siapa Riki dan mengapa malah mencampuri urusannya.


"Kenapa, Diam. Hah! Apa kamu sudah ingat siapa aku bagi Risma?"


"Ta--tapi ... bukan a--aku yang mendoronya. Leon, yah Le--Leon pelakunya." Elsa mulai menjawab dengan terbata karena gugup, rasa takut seketika muncul saat melihat wajah memerah, rahang mengeras dan mata melotot menatapnya.


"Tidak mungkin Leon yang menyakiti Risma, pasti kamu penyebabnya."


"Itulah kenyataannya, Riki. Leon yang mendorongnya."


"Aku tidak akan percaya dengan ucapan busukmu, Elsa!"


"Apa kamu punya bukti?" tanya Elsa.


Riki maju selangkah, mendekat ketelinga Elsa dan berbisik, "sekarang tidak. Tapi, jika aku mendapatkan buktinya, bersiaplah menerima pembalasanku, Elsa."


Elsa melototkan matanya, seketika tubuhnya melemas bagaikan tanpa tulang mendengar ancaman Riki. Tapi, sebisa mungkin dia menahan rasa takutnya di depan Riki, dia tidak mau ketahuan kalau dialah penyebab pertengkaran Leon dan Risma.


"Tapi bukan aku bangs*at!"


Plakk!


Bersamaan ucapan Elsa, tamparan itu mendarat dengan keras di pipinya, bahkan wajahnya ikut menoleh ke samping. Rasa perih bercampur kebas mulai terasa di pipi mulusnya, Dia menyentuh pipinya dan kembali menatap ke depan, mencari siapa yang barusan menamparnya.


"Kamu! Kenapa kamu menamparku, Jal*ng?!" bentak Elsa.


"Kenapa, mau lagi?" ejek Ayu.


"Satu lagi, jangan menyebutku 'jal*ng'. Kata itu hanya pantas untukmu, perempuan licik!" Ayu mulai emosi mendengar ucapan Elsa yang menyebutnya 'jal*ng'.


Elsa mengepalkan kuat tangannya, rasa ingin membalas perlakuan Ayu, tapi dia juga takut karena ada Riki disamping gadis itu.


"Kamu--"


•••


Leon terduduk di kursi sambil meremas kuat rambutnya, sesekali mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa penyesalan muncul karena sudah menyentak tangan istrinya tadi. Dia mengirah kalau tangan yang menyentuhnya adalah tangan Elsa, makanya, dia menyentak tangan itu dengan kuat. Kata 'maaf' tidak henti-hentinya dia ucapkan karena tanpa sengaja sudah menyakiti istrinya, ini yang pertama kalinya.


Dion pun sama, dia dari tadi mondar-mandir di depan Leon, sambil mulutnya mengumpat karena dia merasa kalau Dokter terlalu lama menangani iparnya di dalam sana, dia ingin segera tahu bagaimana keadaan iparnya, tapi tidak bisa masuk dan melihatnya secara langsung.


Sementara Yuna. Dia hanya diam dari tadi, melihat Leon dan Dion secara bergantian, dia merasa ada yang aneh dengan ke dua cowok di depannya, Yuna melihat mereka seakan takut kehilangan gadis didalam sana. Yuna memang tidak tahu kalau Risma adalah istri Leon, yang Yuna tahu Dion sangat dekat pada Risma, sehingga rasa cemburu muncul pada dirinya.


Sementara di dalam ruangan, Risma masih terbaring lemah, menangis dan mengusap perutnya pelan dengan tangannya yang gemetar, dia tidak menyangka kalau Leon menyakitinya. Dia heran, kemana sikap suaminya yang lembut selama ini, mengapa Leon bisa semarah itu padanya hanya karena melihat fotonya dan Giovanni di taman.


Memang sih, foto itu memperlihatkan kalau dirinya sedang di peluk oleh Giovanni, bahkan ada juga yang memperlihatkan dirinya yang sedang membalas pelukan pria itu. Tapi, bukankah itu foto awal pertemuan dirinya dengan Giovanni bahkan yang mempertemukan mereka di taman adalah Riki. Risma juga sudah menjelaskan kalau pria itu adalah sepupunya Riki yang baru datang dari luar Negeri, saat Leon menerima pesan di HPnya dari seseorang waktu lalu.


Yang membuat Risma heran, mengapa Riki tidak terlihat di foto itu, bukan 'kah mereka lalu bersama? lalu dari mana Elsa mendapatkan fotonya bersama Giovanni. Berbagai pertanyaan mulai muncul di benaknya, seakan semakin membuat kepalanya semakin sakit karena berpikir terlalu banyak.


Risma meringis menyentuh keningnya yang terasa sakit, disana sudah terdapat perban yang dipasang suster. Air matanya kembali deras saat mengingat kejadian tadi, di mana suaminya tidak percaya padanya bahkan melukainya juga.


"Apa, masih sakit sekali?"


Risma menatap Dokter yang berdiri di dekat ranjang, dia menggeleng pelan, "Dokter ... aku mohon, jangan mengatakan pada mereka kalau aku--"


"Keluargamu berhak mengetahuinya," potong Dokter pria itu.


Risma mengusap kembali perutnya.


"Biar aku yang mengatakannya. Tapi tidak sekarang, aku tidak ingin mereka kecewa," ucapnya pelan.


"Aku mohon Dokter. Tolong aku, sekali ini saja," pintanya memohon.


Dokter itu hanya diam, dia tidak tahu apa yang harus dia perbuat, di sisi lain, dia tidak ingin berbohong karena sudah bersumpah saat ingin menjadi dokter. Tapi, Risma juga sangat meminta bantuannya agar tidak mengatakan yang sebenarnya pada keluarganya nanti.

__ADS_1


"Leon, Dion. Kalian kenapa berada di sini?" Mereka dikejutkan dengan pertanyaan seseorang yang datang menghampirinya.


"Tante Diva." Dion menatap wajah Dokter Diva yang heran karena melihat mereka tiba-tiba ada di rumah sakit tempatnya bekerja.


"Ada apa, Dion. Siapa yang di dalam sana?" tanyanya penuh keheranan, apa lagi melihat wajah cemas kedua kaponakannya, bahkan baju Leon terdapat noda darah yang cukup banyak.


"Itu--"


Kreekk!


Belum sempat Dion menjawab, pintu ruangan di belakannya sudah terbuka dari dalam dan muncul Dokter yang menangani Risma tadi.


"Dokter, bagaimana keadaannya?" Leon langsung berdiri dan bertanya pada Dokter pria yang masih terlalu mudah itu.


Dion dan Dokter Diva ikut mendekat, meraka ingin mendengar penjelasan Dokter tersebut.


"Pasien masih syok, ditambah tadi dia pendarahan--"


"Apa, Pendarahan?" Belum selesai Dokter menyampaikan tapi Leon sudah memotong perkataannya.


"Sebenarnya, siapa yang di dalam sana? Dion, jawab tante. Mengapa kamu hanya diam saja?" Dokter Diva kini bertanya dengan Dion, berharap Dion mengatakan berbeda dengan isi pikirannya sekarang ini.


"Itu Risma, Tante. Tadi dia jatuh dari tangga," jawab Dion.


"Apa?!" Dokter Diva kaget mendengar ucapa Dion.


"Bagaimana bisa dia jatuh dari tangga?" sambungnya.


Dion tidak menjawab lagi dia hanya menunduk, begitu pun dengan Leon. Dia kembali mengusap wajahnya dengan kasar karena mendegar ucapan Dokter barusan.


"Pendarahan ... apa itu artinya dia keguguran, Dok?"


Semua mata tertuju pada Dokter Diva yang barusan bertanya pada Dokter pria itu, sementara sang Dokter yang ditanyai hanya diam dan menunduk, "maaf." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya.


Leon yang mendengar pertanyaan tantenya seketika menerobos masuk ke dalam, dia ingin melihat keadaan istrinya dan ingin bertanya langsung yang sebenarnya.


"Maksud tante, apa?"


"Iyah, Dion. Saat ini dia hamil, kemarin dia datang pada tante dan tante sendiri yang memeriksanya."


Dion seketika terduduk di kusri setelah mendengar penjelasan tantenya. Dia benar-benar tidak tahu kalau saat ini Risma sedang mengandung, pantas saja, tadi dia sempat heran melihat Risma memegang perutnya saat di mobil. Bahkan Risma meremas kuat baju di bagian perutnya, padahal dia tidak melihat ada luka di sana.


"Aa--apa itu artinya?"


"Pendarahan. Sudah pasti keguguran. Saat ini kandungannya masih sangat muda, masih terlalu rentan. Apa lagi tadi dia terjatuh," jawab Dokter Diva.


"Maaf, aku permisi dulu."


Dokter Diva berbalik melihat Dokter yang menangani Risma tadi. "Ah, iyah. Terimah kasih, Dokter."


Dokter itu hanya mengangguk lalu pergi. Sementara Yuna hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tanggannya saat mendengar penjalasan Dokter Diva pada Dion.


'Pendarahan. Keguguran. Berarti, Kak Risma hamil? Bagaimana bisa, bukankah dia masih sekolah? Lalu siapa yang menghamilinya?' batin Yuna.


Berbagai pertanyaan mulai muncul di benak Yuna. Jujur, dia juga kaget mendengar kenyataan kalau Risma pendarahan bahkan keguguran, dia tidak menyangkah kalau Risma bisa sampai hamil padahal dia masih berstatus pelajar di sekolahnya.


Air matanya seketika membasahi pipinya, dia takut kalau yang menghamili Risma adalah pria yang selama ini dia kagumi, bahkan pria yang dicintainya saat ini. Bukan karna apa, yang dia tahu Dion sangat dekat dengan Risma, bahkan dia pernah melihat beberapa kali, Risma menyuapi Dion di Rotoof sekolah dan pulang bersama. Tapi Yuna tidak tahu kalau di sekolah itu Risma adalah pacar Leon, bahkan mereka adalah sepasang suami-istri sudah 5 bulan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2