Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
12. kerumah mamah


__ADS_3

Risma sedang duduk di sofa ruang tengah sambil menonton tv dan tak lupa juga dengan cemilan kesukaannya. Semua pekerjaannya sudah selesai mulai cuci piring, baju, bahkan mengepel lantai dan tentunya dengan bantuan sang suami. Dia tidak tahu apa lagi yang akan dikerjakan, jadi dia memilih menonton saja selesai membersihkan dirinya terlebih dahulu.


"Nonton apa?" tanya Leon.


Leon baru saja keluar dari kamarnya untuk membersihkan diri setelah membantu Risma beres-beres. Leon duduk dekat Risma, lalu mengambil cemilan yang ada di tangan itu dan memakannya.


"Cuman berita, tak ada film lain," jawab Risma. Dia merebut kembali cemilan yang diambil Leon tadi dari tanggannya.


"Ish, minta," ucap Leon berusaha mengambil kembali.


"Ambil sendiri di dapur."


"Itu saja, jangan pelit."


"Ini punya aku, ambil yang lain saja," ujar Risma lalu memakan kembali cemilannya.


Leon yang merasa kesal pada Risma yang tidak mau berbagi, dengan sigap dia memarik tangan Risma yang hampir saja menyentuh mulutnya untuk memasukkan cemilan itu, Leon membawah tangan Risma ke arah mulutnya dan memakan cemilan tersebut.


Risma melotot karna kaget, bagaimana tidak, cemilan yang ingin dia makan kini malah masuk ke mulut Leon.


"Enak," ucap Leon dan mengunya makanan itu.


"Kebiasaan, makan milik orang lain." Risma menarik kembali tangannya lalu menatap ke depan.


"Orang lain? Kamu 'kan istriku," jawab Leon dan ikut menatap ke arah tv.


"Terserah." Risma tidak mau lagi berdebat dengan Leon jadi dia memilih diam saja dari pada tambah rumit.


Leon hanya cengengesan melihat tingkah istrinya. Leon merebahkan tubuhnya ke sofa dan berbantalan paha Risma lalu menutup matanya.


"Leon, bangun, jangan tidur disitu." Risma mencoba membangunkan Leon dan memdorong kepalanya.


"Bukankah sudah kubilang? Ubah panggilanmu itu padaku," ucap Leon dengan mata tertutup.


Risma menggaruk kepala yang tak gatal, dia sebenarnya lupa nama panggilan sekarang untuk Leon.


"Baiklah. Ka Leon jangan tidur di pahaku," ucapnya dengan pelan. Sebenarnya dia merasa geli memanggil Leon dengan sebutan 'kakak', tapi dia akan usahakan.


"Biar seperti ini dulu, sebentar saja," jawab Leon dan memutar kepalanya menghadap ke perut Risma.


Risma merasa geli di bagian paha dan perutnya, karna Leon menggerakkan kepalanya dan dia menenggelamkan wajahnya disana dan hudung mancungnya merapat pada perut Risma.


Risma menatap wajah Leon. "Ka, jangan seperti itu, aku geli." Risma mencoba mendorong kepala itu dengan pelan.


Leon mengambil satu tangan Risma dan membawahnya ke kepalanya, dia mengisyaratkan agar Risma mengusap kepalanya agar dia tertidur, dia tidak bergerak dan tidak menghiraukan panggilan istrinya yang mencoba membangunkannya, dia tetap memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur.


"Apa dia sudah tidur? Huff ... kebiasaan." Risma tidak membangunkan Leon lagi, karna melihat mata itu tetap terpejam dan tak bergerak lagi.


Risma mengusap rambut Leon dengan lembut, sepertinya Leon juga sudah tertidur di pangkuannya. Setelah beberapa menit, Risma mendengar dengkuran halus yang keluar dari mulut Leon, dia tersenyum melihat wajah tampan itu yang tentram dalam tidurnya. Dia menyandarkan kepalanya kesandaran sofa dan memejamkan matanya dan ikut pula tertidur.


__________________________


Leon tersadar dari tidurnya, dia mencoba membuka matanya dan melihat sekeliling, ternyata dia masih berada di sofa dan masih terbaring di pangkuan istrinya. Leon melihat ke arah istrinya dan ternyata wanita itu juga ikut tertidur dengan bersandaran di sofa. Leon meraih tangan istrinya yang masih berada di kepalanya, Leon mencoba bangun dari tidurnya dengan pelan agar wanitanya tidak terganggu.


Risma yang merasa ada pergerakan di dekatnya, mulai membuka matanya dan menatap Leon yang sudah duduk di samping kirinya.


"Ah, kamu sudah bangun," ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur sambil mengucek matanya.


"Hem. Kamu tidurlah lagi," suruh Leon dengan lembut.


"Tidak, aku sudah tidak mengantuk lagi." Risma berdiri menujuh ke arah dapur dan mengambil air segelas lalu meminumnya.


Risa kembali ke ruang tengah dan membawah segelas air, lalu dia sondorkan pada Leon yang masih terduduk.


"Nih, minumlah," ucapnya. Lalu duduk kembali dekat Leon.


"Makasih." Leon meraih gelas itu lalu meneguknya sampai tandas.


Leon menaruh gelas kosong ke atas meja di depannya lalu menghadap ke Risma.


"Mau ke rumah Mama, nggak?" tanya Leon pada Risma.


"Boleh?" Dengan mata berbinar menatap Leon, dia juga sudah rinduh pada keluarganya.


Leon mengangguk. "Tentu saja, jika kamu mau," ucapnya.

__ADS_1


"Makasih yah. Yah sudah, aku siap-siap dulu." Risma berlari ke kamarnya untuk bersia-siap sebelum berangkat.


"Jangan lari!" teriak Leon, dia menggeleng kepala melihat tingkah istri mungilnya yang gembira karna ajakannya.


_____________________________


Leon dan Risma kini sudah berada di depan pintu rumahnya dan mencoba untuk masuk, Risma meraih gagang pintu dan mencoba membuka pintu tersebut.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam," ucap seseorang dari dalam.


"Mama." Risma menghampiri Mamanya dan mencium tangan itu dengan takzim dan di susul oleh Leon.


"Silahkan duduk, Nak," suruh mamanya pada Leon.


"Nak, bikinin suamimu minum dulu," sambungnya dan menyuruh Risma.


Risma melirik ke Leon yang sudah duduk di sofa. "Mau minum apa?" ucapnya.


"Terserah, yang penting segar."


Risma menujuh ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Leon, setelah beberapa menit dia kembali dan membawah nampan berisih 2 gelas sirup dinging, lalu meletakkan ke atas meja. Risma mendudukkan bokongnya di samping Leon.


"Papa dan Ka Baim, belum pulang Ma?"


"Katanya, tadi sudah ada di jalan," jawab mamanya.


"Kamu kenapa tidak bikin minum juga," ucap Mamanya, dia menyadari kalau anaknya hanya membawah 2 gelas saja.


"Aku tadi sudah di dapur," ujarnya dan cengengesan.


"Silahkan diminum, Nak," ucap mamanya kepada Leon.


Leon tersenyum lalu meraih minuman tersebut, Leon kembali meletakkan gelasnya di atas meja.


"Nak, apa Risma membuatmu kuwalahan dengan tingkahnya?" tanya mamanya kepada Leon.


Leon melirik sekilas pada Risma dan berucap, "nggak kok, Ma."


Saat mereka sedang asik berbincang-bincang, pintu rumah terbuka lebar. Mereka semua melirik ke arah pintu dan terlihat Pak Rusdi dan Baim masuk.


"Assalamu'alaikum."


Pak Rusdi dan Baim berjalan menujuh ke arah sofa dimana ada Leon dan Risma.


Risma berdiri dan meraih tangan papanya lalu menciumnya dengan takzim dan di ikuti dengan Leon.


"Ka Baim tidak disalim," singgung pada adiknya.


"Tangan Ka Baim bauh," jawab Risma dengan cengengesan.


"Enak ajah! Tangan Ka Baim harum tahu."


Risma menghampiri kakaknya dan memelunya denga erat, Baim juga membalas pelukan adiknya dengan hangat.


"Rindu," ucapnya dalam pelukan kakaknya.


"Baru juga seminggu." Baim mengusap punggung adiknya dengan pelan.


"Sudah. Sangan cengeng, tidak malu apa, diliat suami?" ujar Baim dan melepaskan pelukannya.


"Bodoh amat," jawabnya, lalu kembali duduk ditempatnya.


Baim duduk di dekat Risma dan menyapa adik iparnya.


"Leon, kamu apa kabar?" tanya Baim.


"Baik, Ka." Leon tersenyum pada Baim.


"Nak, apa dia, membuatmu kuwalahan menghadapinya?" tanya papanya.


"Nggak kok, Pa."


"Jika dia membuatmu salah, sudah sepantasnya kamu tegur," ujar Papa mertuanya.

__ADS_1


Leon melirik ke Risma. "Dia menurut kok, Pa. Bahkan kami mulai akur sekarang," ucap Leon.


"Dek, jangan membantah kata suami, turuti apa katanya." Baim menasehati adiknya.


"Benar kata Kakakmu," sambung Papanya.


"Baiklah," jawabnya dan menunduk.


"Oh iya, satu lagi, jangan cuman memanggil suamimu itu dengan sebutan namanya saja."


"Iya, sekarang panggil dia 'Ka Leon' kok," jawabnya kalu melirik Leon sekilas.


"Dek, ini kenapa?" tanya Baim lalu menunjuk leher Risma.


Risma dengan sigap menutup dengan tangannya. "Bu-bukan apa-apa, Ka."


Baim cengengesan melihat tingkah adiknya. "Tapi, itu mirip ...." Baim tahu itu bekas apa, hanya saja dia mencoba menggoda Risma yang mukanya sudah mulai memerah.


'Aduh, kenapa aku bisa lupa mengoleskan crem dulu baru kamari, ahh bodoh.' Gerutunya dalam hati.


Leon hanya ikut tersenyum kikuk melihat Baim, dia tahu apa yang dimaksud Baim pada leher Risma.


"Bener, itu bekas-" ucapanya terpotong karna Risma memukul lengannya.


"Apaan sih, Ka. Bikin malu ajah," ujarnya dengan wajah makin memerah.


"Sudah-sudah. Kalian itu kenapa sih, setiap bertemu pasti berantem mulu," ucap Mamanya.


"Ka Baim diluan, Ma," lapornya pada mamanya.


"Aku 'kan hanya tanya saja." Baim kembali tertawa melihat adiknya.


Risma menghadap ke Leon. "Ini semua gara-gara kamu!"


"Maaf, itu karna kamu yang memancing aku duluan," jawab Leon lalu ikut tertawa.


"Tapi, tidak seharusnya kamu membuat tanda disana."


"Jadi, kalau di tempat lain boleh?" godanya pada Risma yang semakin memerah karna malu bercampur geram.


Risma melototkan mata pada Leon. "Dasar mesum!"


Papa dan Mamanya hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya, sedangkan Baim dari tadi menertawakan adiknya karna menggodanya dengan 'kiss mark' yang terdapat di leher putih adiknya itu.


"Sudah, lebih baik kita maka saja," ajak Mamanya.


Mereka pun semuanya berdiri dan menujuh ke ruang dapur untuk makan bersama.


__________________________


"Sudah belum?" tanya Leon pada Risma.


"Aku belum dapat jawabanya, susah." Risma sudah lebih dari 10 kali mencoba mencari jawaban soalnya tapi tetap saja tidak dapat.


"Coba aku lihat," ucap Leon lalu meraih buku Risma.


Leon pun mulai mengerjakan soal yang dimaksud Risma, setelah mendapatkan jawaban dan menulisnya, dia pun menyerahkan kembali buku itu pada Risma. Sebenarnya soalan itu gampang baginya karna dia sudah mempelajarinya waktu madih sekolah di luar Negeri.


"Aih, dia malah tidur," gumam Leon yang melihat Risma tertidur dengan berbantalan lengan pada lengannya sendiri.


Leon melirik ke jam dinding, ternyata sudah menujukkan jam 11:15 malam dan pantas saja Risma sudah tertidur. Untungnya Leon sudah menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Leon membereskan semua buku-buku yang berhamburan di atas meja, lalu memisahkan bukunya dan buku Risma dan memasukkan ke tas masing-masing. Setelah semuanya sudah selesai dia mencoba membangunkan Risma, tapi tidak ada respon sama sekali.


"Kenapa tidurnya nyenyak sekali? Haa, mungkin capek," monolognya.


Leon menggendong istrinya menujuh ranjang lalu membaringkannya dengan pelan agar tidak terganggu dan bangun. Leon juga merebahkan tubunya di damping Risma dan merai selimut di ujung kakinya, lalu membawahnya untuk menyelimuti mereka berdua.


"Selamat malam, sayang." Leon mencium kening Risma lalu merebahkan kembali kepala dan memejamkan matanya untuk tertidur.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


Maaf kalau masih banyak typonya


__ADS_2