Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
14. Anisa Fayuna


__ADS_3

Seorang gadis berambut panjang sebahu dan bergelombang, manik mata berwarna keabu-abuan sedang mengayun sepedanya dengan cepat untuk menujuh kesuatu tempat yang sehari-harinya dia datangi.


Yah, gadis itu sedang menujuh ke sebuah bangunan besar dan ramai di kunjungi, tempat dia bekerja untuk mencari nafka buat kehidupannya sehari-hari. Dia memilih bekerja disana karna gajinya lumayan besar menurutnya.


"Mampus aku, bisa-bisa aku dipecat," monolognya. Kini dia makin mempercepat mengayun sepedanya.


Tapi saat dia buru-buru malah kesialan datang padanya. Di tengah perjalan, rantai sepedanya malah putus dan iya semakin bingung apa yang harus dia lakukan sekarang, jam masuknya tidak lama lagi dan dia takut jika dia dipecat hari ini, mana lagi dia sangat membutuhkan pekerjaan itu.


"Akh! Kok bisa putus sih!" gerutunya sambil memandang sepedanya.


"Terpaksa deh ... aku harus buru-buru sekarang," sambungnya lagi.


Disaat dia sedang mendorong sepeda di pinggir jalan menujuh tempat kerjanya, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di sampingnya dan pemiliknya turun untuk menghampiri gadis itu.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya orang itu, karna dia melihat sepertinya gadis itu membutuhkan bantuan.


"Itu, sepedanya kenapa?"


"Rantai sepeda aku putus," jawabnya dan menunduk.


"Memengnya kamu mau kemana?"


"Aku mau ketempat aku kerja, tapi malah dapat musibah," ujar gadis itu.


"Yah sudah, biar aku antar ke tempat kerjamu," tawar orang itu.


"Eh! Tidak usah, takutnya merepotkan." Gadis itu sebenarnya ingin menerima tawaran itu, tapi dia takut bagaimana kalau orang itu jahat padanya.


"Nggak apa-apa, tenang saja aku bukan orang jahat kok," sahut orang itu yang melihat kekewatiran di wajah gadis di depannya.


Gadis itu pun memikirkan sesuatu, ada untungnya juga jika dia menerima tawaran itu untuk mengantar ke tempat kerjanya, apalagi dia melihat orang itu sepertinya baik.


"Tapi ... sepadaku bagaimana?" tanya gadis itu melihat sepedanya.


"Tenang saja, nanti aku suruh temanku mengambilnya dan jika sudah dia perbaiki, tinggal aku suruh antarkan ke tempat kerjamu," jelas orang itu.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu," jawabnya.


Merekapun naik ke mobil dan meninggalkan tempat itu menujuh ketempat kerja yang dimaksud gadis yang baru dia temui.


"Oh iya, nama kamu siapa?" tanya pemilik mobil.


"Aku Anisa Fayuna," jawabnya dan tersenyum.


"Kalau kamu, namanya siapa?" sambung Anisa menanyai orang itu.


"Panggil saja Dion," jawab Dion tetap pokus kedepan.


Anisa tersenyum manis menatap Dion dari samping.


'Yah ampun. Ganteng banget, baik pula,' gumamnya dalam hati.


"Kamu kerja apa dan dimana?" tanya Dion.


"Aku bekerja di Caffe 'ZIZY', sebagai kariawan," jawab Anisa sambil menunduk.


"Kamu masih mudah, tapi kenapa malah kerja?" Dion dari tadi memperhatikan Gadis itu dan terlihat masih mudah bagaimana bisa sudah bekerja.


"Yah begitulah, tidak ada jalan lain untuk melanjuti hidup, kalau aku tidak kerja bagaimana aku bisa makan," jawabnya menatap ke depan dengan mata mulai berkaca-kaca.


Setelah beberapa menit mereka sudah sampai di Caffe tempat kerja Anisa.


"Makasih yah tumpangannya, oh iya masalah sepadaku nanti aku ganti biayanya."

__ADS_1


"Nggak usah, aku ikhlas nolongnya," ucap Dion dengan wajah datarnya.


"Yah sudah, aku pulang dulu. Tunggu saja nanti ada yang mengantarkan sepadamu kemari," ucap Dion lalu masuk ke mobilnya dan meninggalkan tempat itu.


'Ternyata masih ada orang baik dan peduli, akh! Dia tampan banget tapi mukanya kenapa datar dan dingin banget yah?' batinnya.


_______________________________


Sudah 30 menit di dalam kamar mandi tapi Risma belum keluar juga, sedangkan Leon sedari tadi menunggu untuk bergantian masuk membersihkan dirinya yang sudah terasa lengket karna keringat.


"Aduh, gimana dong, kok bisa sih aku lupa bawah handuk masuk kemari," gumamnya sambil menggigit ujung kukunya.


"Apa aku minta tolong sama dia aja yah?" sambungnya lagi.


"Ka Leon, aku bisa minta tolong nggak?" ucapnya yang masih di dalam kamar mandi.


Tak ada sahutan, mungkin suaranya kurang besar sehingga Leon tak mendengarnya yang sedang duduk di sofa kamarnya sambil memainkan game di Hpnya.


"Ka Leon!" teriaknya lagi sedikit keras.


"Ya, ada apa?" sahut Leon yang sudah mendengar teriakan Risma.


"Ambilin handuk yah, ada di dalam lemari. Aku lupa bawah tadi!"


"Ambil saja sendiri," ucap Leon.


"Ka, tolong dong, aku sudah kedinginan nih," ujarnya sedikit gemetar karna kedinginan.


Leon pun berdiri dan mengambilin handuk untuk istrinya karna dia juga sudah mendengar suara gemetar yang keluar dari mulut istrinya itu.


"Buka pintunya," pintah Leon sambil memegang handuk.


Risma membuka pintunya sedikit dan menyulurkan tanganya keluar. "Sini," ucapnya.


"Ka Leon!" pekiknya.


Leon sedikit tertawa. "Buka pintunya, sayang," ucapnya dengan sedikit menggoda.


"Nggak! Ka, handuknya mana? Aku sudah tidak tahan nih," ucapnya dengan sedikit memelas pada Leon.


Leon pun kembali menyondorkan handuknya. Risma dengan cepat menerimanya dan menutup pintunya kembali dan mulai melilit handuk itu di tubunya, tapi pintunya sudah terbuka lebar dan Leon sudah masuk kedalam.


"LEON!" teriaknya dengan keras karna kaget.


Dengan sigap iya memutar badanya dan membelakangi Leon dan menyilami tangannya di depan dada.


Leon yang melihat tingkah istrinya itu, terbesit dipikirannya untuk menjahilinya. Leon mulai mendekatkan tubuhnya pada Risma yang masih terdiam, dia menyentuh bahu yang masih basah itu.


"Kamu terlihat ****, sayang," bisiknya dekat telinga Risma.


Risma menegang karna sentuhan Leon, tubuhnya semakin gemetar karna takut mendengar bisikan Leon.


"Ka, ak-aku mohon, me-menjauh," ucapnya dengan suara getar.


"Kenapa, sayang? Hem?" bisiknya lagi, lalu meletakkan dagunya di bahu Risma dan sesekali meniup cekuk leher Risma.


Risma yang merasa tingkah Leon sedikit aneh itu, tubuhnya semakin gemetar dan langsung menjongkok lalu memeluk lututnya, cairan bening sudah mulai keluar dari pelupuk matanya dan membasahi pipinya.


"Hiks hiks hiks ... aku mohon me-menjauh lah hiks...," ucapnya dengan tangisan.


Leon yang melihat itu merasa kasihan pada istrinya yang sudah menangis karna ketakutan karna ulah kejahilannya. Leon menyelimuti tubuh Risma dengan handuk yamg 1 lagi dia bawah tadi dan membantu Risma untuk berdiri.


"Maaf," ucapnya dan membawah Risma dalam dekapannya.

__ADS_1


Risma masih menangis karna ketakutan di dalam pelukan Leon, Leon mengusap punggung itu agar segera tenang.


"Sudah, jangan menangis lagi." Leon sesekali mengecup pucuk kepala Risma dan meminta maaf.


Merasa Risma sudah tidak mengeluarkan suara tangisnya lagi, Leon mencoba melepaskan pelukannya dan menatap wajah itu yang masih mengeluarkan air mata.


"Maaf, karna aku menjahilimu tadi," ucapnya sambil mengusap air mata itu.


Risma pun mengangguk pelan menandakan dia memaafkan Leon. Leon menggendong Risma keluar dari kamar mandi dan mendudukkannya di tepi ranjang.


"Sekarang pakailah bajumu, aku mau mandi dulu," pintanya yang diagguki oleh Risma.


Leon berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan tak lupa pulah membawah baju ganti. sedangkan Risma sudah berdiri menujuh ke lemari pakaian untuk mengambil bajunya.


Setelah beberapa menit Leon keluar dengan pakaian sudah lengkap melekat pada tubuh kekarnya. Dia menatap Risma yang sudah terlelap di atas ranjang, Leon melangkahkan kakinya menujuh keluar kamar.


Setelah 10 menit lamanya dia kembali lagi ke kamarnya dan membawah sepiring nasi di tanganya lengkap dengan lauk pauknya. Dia mendekati ranjang tersebut dan menyimpan piring itu di atas nakas lalu mencoba membangunkan Risma.


"Sayang, bagun dulu yuk!" ujarnya sambil memegang pipi Risma.


"Eung." Risma merasa ada yang menyentu pipinya, dia pun mulai membuka matanya perlahan dan melihat Leon yang sedang duduk di sampingnya sambil tersenyum kepadanya.


"Ada apa?" tanyanya sambil bangun dan duduk.


"Makan dulu, kamu belum makan dari tadi pulang sekolah," ujarnya. Lalu mengambil piring yang dia simpan tadi.


"Aaaa ... buka mulutnya," pinta Leon sambil menyondorkan sendok ke depan mulut Risma.


"Biar aku saja." Risma mencoba mengambil alih sendok yang berada di tangan Leon.


"Tidak, biar aku yang menyuapimu," ucap Leon.


Risma pun membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari Leon. Setelah tiga sendok yang masuk Risma berhenti menerima suapan Leon.


"Ka Leon sudah makan?" tanya Risma.


"Belum, kamu makanlah dulu. Jika kamu sudah kenyang baru aku makan." Leon kembali menyuapi Risma, tapi ditolak oleh Risma.


"Ka Leon harus makan juga," ujarnya, lalu mengambil alih sendok itu dan menyuapi Leon.


Leon menerima suapan Risma dengan senang hati dan sesekali tersenyum.


"Kenapa senyum-senyum kayak gitu?"


"Senang, karna disuapin istri."


"Gombal."


"Bener," ucapnya dan menyuapi Risma.


Risma meyambut suapan Leon, mereka saling bergantian suap-suapan dan menertawai tingkah mereka masing-masing.


'Aku harap kamu dengan cepat membalas cinta aku ke kamu, jangan membuatku menunggumu lebih lama lagi. Aku sungguh mencintaimu dan takut kehilanganmu, sayang' gumam Leon dalam hati.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2