
Hari ini Risma dan Deren pergi ke pusat perbelanjaan dan tentunya mereka sudah meminta izin pada Leon terlebih dahulu. Risma mengajak Deren karena Leon tak bisa menemaninya hari ini, Leon sedang sibuk pergi ke salah satu perusahaan Papinya yang sedang kedatangan tamu dari London.
Sebenarnya Leon selama ini juga sudah menjabat sebagai Direktur di salah satu perusahaan Papinya, perusahaan Papi Andi memang sangat besar dan ada beberapa cabang lain lagi, jadi di kewalahan jika menghadapi seorang Diri.
Sedangkan Leon di usia mudahnya sudah bisa membantu Papinya untuk mengendalikan perusahaan tersebut walaupun dia saat ini masih berstatus pelajar, saat Leon tinggal di Amerika dia juga sering pergi ke perusahaan papinya yang berada di sana. Tapi saat ini Leon menetap di Indonesia di karenakan dia sudah memiliki istri, apa lagi istrinya saat ini masih sekolah sama sepertinya, jadi dia tak ke sana lagi. Melainkan Papi Andi lah yang kadang ke luar Negeri jika harus menghadiri rapat atau yang lainnya.
Untung saja saat ini Dion juga turun tangan membantu kakaknya, Dion selama ini mengurus Caffe dan Restoran milik kakaknya karena melihat akhir-akhir ini Leon sangat sibuk jika harus mengurus semuanya sendiri dan tentunya dengan satu alasan lagi.
.
Risma mendorong keranjang besi belanjaan sambil mencari sesuatu yang dicarinya. Sedangkan Deren sedang asik duduk di atas keranjang tersebut, Deren akan meminta berhenti jika melihat cemilan yang tersusun rapi di raknya.
"Baby, stop. Aku mau itu." Deren menunjuk salah satu cemilan di depannya.
"Tidak boleh," tolak Risma.
Deren mengerutkan keningnya menatap Risma. "Kenapa? Apa itu tak boleh dimakan?" Deren semakin cemberut karena permintaannya tak dituruti.
Risma tak menjawab, dia melangkah dan mulai mendorong kerang tersebut.
"Baby...." Deren mulai memanggil dengan suara lirih.
Risma menghentikan langkahnya dan menatap Deren yang menampakkan wajah imutnya sampai mengedipkan mata beberapa kali sambil tersenyum menampakkan gigi kecil dan rata. Risma yang melihat itu seakan luluh dengan tingkah imut Deren yang menggodanya saat ini.
"Deren, itu rasanya pedas, kamu tak sanggup memakannya, Sayang." Risma mengusap kepala anak itu dengan lembut yang sedang duduk di keranjang besi.
"Itu bukan untukku, Baby."
"Lalu untuk siapa?"
"Untuk, Bayi besarku. Hehe...." Deren tertawa setelah mengucapkan panggilannya pada Leon.
Risma pun ikut tertawa mendegar ucapan anak itu. "Baiklah, kamu butuh berapa?"
Deren menujukkan jarinya pada Risma. "Ambil segini."
"Itu berapa?"
"Tiga," jawab Deren.
"Kok bisa tahu?" heran Risma.
"Bayi besar yang selalu ajarin menghitung." Memang akhir-akhir ini Deren selalu di ajarin oleh Leon jika Leon punya waktu luang untuk Deren.
Makanya Deren sekarang lebih mengenal hal-hal yang belum di ketahui sebelumnya, apa lagi Deren terbilang anak yang cepat tanggap dan daya ingatannya sangat tajam.
Sebenarnya Risma ingin memasukkan Deren ke sekolah karena mengetahui Deren sudah pandai menghitung dan mengenal huruf-huruf.
Tapi Leon mengatakan kalau dia akan mendaftarkan Deren saat penerimaan siswa baru saja dan Risma menyetujuinya.
"Ambil 3 saja, Baby. 2 untuk, Bayi besarku dan 1 untuk Ka Dion." Risma pun mengambil cemilan tersebut dan memasukkan ke dalam keranjang.
"Mau beli apa lagi?" Risma mulai lagi mendorong keranjangnya sambil menatap beberapa produk lain yang tersusun rapi.
.
Setelah membayar semua belanjanya, Deren langsung berlari keluar tanpa menunggu Risma yang sedang membawa kantong belanjanya.
Tapi saat berlari Deren tak pokus ke depan dia malah melirik ke belakang, sehingga dia menabrak seseorang.
Bugh...
"Akh! Ufsh... sorry." Deren meminta Maaf pada orang yang ditabraknya.
Sedangkan orang itu hanya tersenyu melihat tingkah Deren yang meminta maaf sambil menunduk. Orang itu merasa gemas melihat tingkah imut Deren.
Orang itu pun langsung berjongkok di depan Deren dan mengusap kepala anak kecil itu dengan lembut.
"Tak apa-apa Sayang, lain kali hati-hati ya? Jangan lari-lari lagi."
Deren mendongak menatap orang tersebut, dia merasa aman karena orang yang ditabraknya tadi tak marah sama sekali.
"Terimakasih." Deren pun tersenyum manis.
"Kamu dengan siapa? Kenapa malah berlarian sendiri seperti ini? tanyanya pada Deren.
"Aku bersama, Babyku." Deren menjawab sambil menengok ke belang mencari keberadaan Risma yang belum muncul juga.
"Siapa Babymu, Nak?"
Deren tidak menjawab malah menatap kejauhan di sana yang sudah menampakkan Risma sambil membawa kantong belanjanya.
"Nah, itu Babyku." Deren menunjuk Risma sambil tersenyum.
Deg!
Orang itu yang melihat arah telunjuk Deren merasakan hatinya yang campur aduk, bagaimana bisa anak yang berada di depannya saat ini menunjuk wanita itu sebagai Babynya.
Orang itu mulai berdiri dengan tegap di belakang Deren sambil berjalan mundur karena tak ingin ketahuan oleh gadis yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Walaupun dia sangat rindu ingin bertemu dengan gadis itu, tapi dia urungkan karena takut jika gadisnya malah semakin membencinya dan tak ingin melihat wajahnya sama sekali.
"Aku sangat menyayangimu, sungguh." Orang itu berucap sambil melangkah semakin jauh dari Deren.
.
Tak terasa kini hari sudah berganti dengan terangnya bulan purnama yang menyinari gelapnya malam.
Kini Risma sedang duduk di sofa ruang TV di lantai atas, dia sedang asik menonton TV sedangkan tangannya tak lepas dari kepala seseorang dan siapa lagi kalau bukan suami manjanya itu.
__ADS_1
Setiap Risma duduk di ruang TV pasti Leon langsung berbaring di pangkuan istrinya dan menyuruh si istri menyisir rambutnya sementara wajahnya dia tenggelamkan di perut rata istrinya.
"Sayang, kapan yah, dia berisi?" Leon berbicara tak begitu jelas karena mulutnya begitu rapat di perut Risma.
Risma yang hanya mendegar samar-samar ucapan Leon, mengira Leon sudah tertidur dan bermimpi.
"Baby, aku mau susu." Entah dari mana kini Deren sudah berada di samping sofa yang Risma duduki.
Leon yang mendengar permintaan Deren langsung membuka matanya lebar dan bangun, memang Leon tak tidur. Dia hanya memejamkan matanya karena menikmati usapan lembut di kepalanya.
"A-apa kamu bilang?" Leon menatap Deren dengan wajah yang kaget.
"Aku mau susu." Deren menatap Leon dengan heran.
Leon langsung menarik Risma dalam pelukannya lalu menatap Deren dengan kesal. "Pokoknya tidak boleh," tolak Leon.
Deren ikut kesal dengan tingkah Bayi besarnya, Deren kini menarik tangan Risma dan merengek minta susu.
"Ka, Deren mau susu, aku harus buatkan. Apa lagi dia tak lama lagi tidur." Risma melepaskan lengan Leon yang melingkar di pinggangnya.
"Jadi, Deren...." Leon menatap Deren yang tertawa karena merasa menang kali ini.
"Jadi, pikiran Ka Leon itu yang lain?" Risma berbalik menatap Leon yang sedang cengengesan sambil menggaruk tengkuknya.
"Tidak bisa kah, Ka Leon tidak berpikiran mesum walau sehari saja?" Risma benar-benar kesal pada suami itu yang sedari tadi berpikiran lain tentang Deren meminta susu.
Risma pergi membuat susu untuk Deren di dapur, memang biasanya Deren selalu meminum susu sebelum tidur dan saat bangun tidur, biasanya babysitter yang buatkan dan entah mengapa malam ini Deren merengek pada Risma, dia meminta harus di buatkan oleh Babynya saja.
"Mesum itu apa? Apa bisa dimakan? Apa rasanya enak?" Pertanyaan mulai keluar dari mulut mungil si Deren.
Deren baru pertama ini mendengar kata mesum jadi dia berpikir kata mesum itu sejenis makanan.
Leon menatap Deren yang kini sudah duduk di dekatnya sambil mendongak menatap Leon menunggu jawaban.
"Itu... emmm, anu." Leon bingung harus menjawab apa, dia kini malah menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa rasanya manis? Jika rasanya lezat aku juga mau mesum itu," minta Deren. Kini Deren sudah berdiri di hadapan Leon di atas sofa sambil tangan kirinya dia ulurkan seakan meminta sesuatu pada Leon.
Leon semakin pusing, dia tak tahu harus berkata apa. "Emm, begini sayang. Mesum itu bukan makanan dan itu adalah sifat yang di miliki orang dewasa, anak-anak belum memilikinya. Satu hal lagi, kamu jangan pernah menyebut kata mesum itu pada siapa pun jika tak mau Babymu marah. Ok?" Leon menjelaskan secara singkat pada Deren agar anak itu tak meminta lagi.
Deren pun mengangguk cepat lalu duduk lagi di samping Leon. "Kamu nonton dulu yah? Aku mau mengambil air minum dulu." Deren kembali mengangguk mendengar ucapan Leon.
Leon mengacak gemas rambut anak kecil lalu pergi menyusul sang istri yang pergi membuat susu untuk Deren.
Saat sedang asik membuat susu, Risma dikejutkan sebuah tangan yang melingkar di perutnya. Pasalnya dia tak mendengar suara langkah yang mendekatinya.
"Ka, jangan ganggu dulu, aku sedang buat susu. Deren bisa berteriak lagi jika lambat," ucap Risma.
Leon seakan menulikan dirinya, dia tetap memeluk Risma dari belakang dan menaruh wajahnya di cekuk leher istrinya.
Risma berjalan mengambil gelas dengan sedikit susah karena ada Leon yang tak ingin lepas dari pelukannya.
Leon mengangkat kepalanya dan menaruh dagunya di bahu sang istri. "Maaf, aku tadi salah paham." Leon tahu kalau istrinya saat ini merasa kesal padanya.
"Emang tadi pikirannya ke mana?" tanya Risma.
Leon tak menjawab malah kedua tangannya itu yang menjawab pertanyaan Risma, sedangkan Risma terbelalak kaget saat tangan kekar itu berhenti bergerak di area sensitifnya.
Plak...
Aukh....
Leon meringis karena menerima pukulan di tangannya, tangannya dia kibas-kibaskan karena Risma memukulnya dengan sendok.
"Sayang, sakit." Leon masih meringis kesakitan walaupun dia tahu pukulan istrinya tak begitu kuat.
"Makanya, pikiran itu jangan terlalu mesum! Terutama tangannya juga jangan nakal ke mana," kesal Risma.
Leon kini sudah tidak meringis kesakitan tapi mala tergantikan dengan cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.
"Kenapa begitu marah? Biasanya juga begitu," jawab Leon dengan suara pelan.
"Ka!"
"Ok, ok. Aku tak akan menyentuhnya lagi." Setelah mengucapkan itu Leon langsung pergi naik ke lantai atas. Sedangkan Risma hanya menggeleng melihat tingkah suaminya, lalu dia juga ikut naik ke lantai atas sambil membawa susu yang dibuatnya tadi.
.
"Ka Leon kemana? Risma mencari keberadaan Leon. Pasalnya dia tadi melihat suaminya berjalan ke arah sini tapi sekarang malah tak ada sama sekali.
"Dia tadi masuk ke pintu itu." Deren menunjuk ke salah satu pintu yang bercet kecoklatan tepatnya di samping kamar Risma.
Risma hanya membuang nafas berat. Deren turun dari sofa setelah meminum susunya sampai habis.
"Aku mau tidur." Risma lagsung mengantar Deren ke kamar anak itu. Setelah menyelimuti Deren dengan selimut, tak lupa mengecup singkat kening Deren lalu keluar.
.
Risma membuka pintu tersebut lalu berjalan menghampiri Leon yang sedang duduk di kursi, meja kerjanya. Leon sedang menatap ke arah laptop dan sedang mengerjakan sesuatu tanpa menghiraukan istrinya yang sedang berdiri di sampingnya.
"Ka Leon sedang apa?" Risma bertanya walaupun dia sudah melihat kalau suaminya kini sedang mengecek beberapa berkas dan bergantian menatap laptopnya.
"Sedang bekerja," jawabnya dengan ketus.
"Ka...." Risma kembali memanggil Leon, tapi Leon tak melirik nya sekali pun dia malah tetap pokus.
Karena merasa kesal dicuekin, Risma menarik kursi Leon agar mereka bisa berhadapan dan menarik kaca mata bening yang melekat di hidung mancung Leon. Leon memang selalu memakai kaca mata jika menatap Laptop.
__ADS_1
Risma meletakkan kaca mata itu di atas berkas-berkas yang Leon pegang tadi.
"Ada apa?" Leon bertanya setelah puas menatap wajah istrinya beberapa menit.
"Marah?" tanya Risma.
"Tidak.masuklah tidur, aku sedang bekerja." Leon menjawab dengan wajah datarnya.
"Masa siang harinya suamiku di kelas sebelah, sementara malamnya suamiku di kamar sebelah," ucap Risma.
"Terus, maunya apa?" Leon menatap wajah Risma.
Risma tak menjawab, malah dia langsung duduk di pangkuan Leon dengan saling berhadapan, tangannya dia llingkarkan di tengkuk Leon.
"Ka Leon maunya apa?"
Mendengar kata itu, ide Leon pun muncul untuk mengerjai sang istri, Dia berpikir sekali-kali tak apa lah asal dia sudah mengerjai istrinya.
"Aku mau, kamu keluar dan tak menggangguku, bisa?"
Deg!
Mendegar jawaban dari mulut suaminya entah mengapa Risma merasakan sakit sekali, senyuman yang tadi terpancar di jawahnya kini sudah tak ada lagi malah tergantikan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Risma menggeleng dengan cepat lalu memeluk suaminya dengan sangat erat, wajahnya dia tenggelamkan di celuk leher Leon, air matanya mulai keluar membasahi baju Leon di bagian depan.
Sementara Leon belum juga membalas pelukan Risma, dia malah menampakkan senyuman liciknya karena berhasil mengerjai sang istri bahkan sampai nangis.
Suara isak tangis dan sesegukan semakin terdengar, Leon mencoba melepaskan pelukan Risma dan akhirnya terlepas juga. Leon menatap kedua mata itu yang sudah memerah dan terus mengeluarkan air mata. Ada rasa bersalah yang Leon rasakan, hanya gara-gara ingin mengerjai sang istri malah berakhir seperti ini.
"Kenapa menagis?"
Risma tak menjawab, dia hanya menggeleng pelan lalu kembali lagi memeluk Leon dengan erat.
Risma berpikir Leon benar-benar marah padanya karena ucapannya tadi waktu di dapur, apa lagi Risma tak merasakan balasan pelukan dari Leon bahkan wajah Leon terlihat dingin saat menatapnya.
"Ka Leon marah?" pertanyaan itu kembali lagi terdengar dari mulut Risma sambil terdengar sesegukan.
Leon kembali melepaskan pelukannya dan kini dia juga menangkup kedua pipi istrinya yang sedari tadi basa karena air mata lalu mengusapnya dengan ibu jarinya.
"Hei, jangan menagis lagi. Maaf, tadi aku hanya mengerjaimu saja." Leon menampakkan senyuman bahkan gigi ratanya ikut terlihat.
Risma ikut mengusap air matanya, dia sudah tak menangis lagi tapi sesegukan nya masih terdengar sesekali.
"Jadi, ka Leon tidak marah?" Leon mengangguk dengan cepat lalu tersenyum.
Tangan Leon kini sudah melingkar di pinggang ramping itu, entah sejak kapan. Risma kembali memeluk Leon dan merebahkan kepalanya di dada sang suami. Leon pun langsung membalas pelukan itu dan mengusap rambut Risma dengan lembut.
"Aaakh... s-sakit. Sayang, a-apa yang kamu lakukan?"
Risma tak menghiraukan rintihan kesakitan Leon, dia tetap berada di posisinya malah semakin memeluk Leon dengan erat agar tak terlepas.
"Hiks, hiks... s-sakit. Sayang, su-sudah, itu sudah berdarah." Leon berpura-pura menagis karena Risma tak mau lepas walaupun dia sudah mendorong istrinya dengan kuat.
Risma yang mendengar suara tangis Leon langsung melepaskan dan menatap wajah kesakitan Leon lalu menatap dada suaminya.
"Sayang, kenapa kamu menggigit ku di bagian sana, itu sungguh sakit. Akh! Aku menikah dengan manusia atau apa?"
Leon langsung melihat dadanya yang mulai memerah bahkan mulai bengkak juga, terlihat jelas 8 bekas gigi Risma di dada kirinya. Bahkan bekas gigi itu sampai mengeluarkan darah.
Saat Leon ingin mengelapnya dengan tisu, Risma langsung menghentikannya. Malah dia mulai lagi mendekatkan wajahnya kesana.
Leon yang melihat itu langsung menahan kepala istrinya, dia takut jika digigit lagi.
Risma menarik tangan Leon yang berada di kepalanya dan menatap Leon yang menggeleng pelan.
Risma tak peduli dengan gelengan suaminya dia malah semakin dekat lalu mengecup tepat di bekas gigitannya tadi. Tak hanya itu Risma juga menjilat darah yang keluar di sela-sela bekas gigitannya.
"Maaf, karena menggigitnya lagi, Ka." Risma menunduk merasa bersalah karena sudah menggigit suaminya bahkan sampai berdarah.
Leon pun hanya tertawa walau dadanya terasa sakit, Leon menarik dagu Risma agar mendongak menatapnya.
"Tidak apa-apa, tapi jangan menagis lagi yah?" Risma pun lagsung mengangguk cepat lalu kembali memeluk Leon.
Leon pun sesekali mengecup pelipis istrinya yang tertutup rambut. "Yah sudah, ayo kita tidur."
"Gendong." Risma tak mau melepaskan pelukannya dan akhirnya Leon pun menggendong Risma seperti anak monyet yang memeluk induknya sampai di kamarnya.
Leon menaiki ranjang dengan Risma masih berada di gendongannya. Leon tak punya jalan lain dia pun langsung membaringkan Risma bersama dirinya.
"Sayang, lepas dulu. Aku mau menarik selimutnya." Risma pun melepaskan pelukannya sejenak lalu kembali lagi memeluk Leon saat Leon sudah menyelimuti tubuh mereka dengan selimut.
Leon pun membalas pelukan istrinya dan memejamkan matanya.
"Selamat tidur, Sayang."
Cup..
Risma ikut memejamkan matanya setelah mengecup bibir Leon. Sedangkan Leon yang merasa bibirnya di kecup langsung membuka kembali matanya dan menatap sang istri.
Leon pun tersenyum menatap lekat wajah cantik istrinya lalu mengecup kening itu dengan lama.
"Semoga mimpi yang indah."
Mereka pun tertidur dan memasuki alam mimpi masing-masing, hanya ada kesunyian yang menemani tidur mereka berdua yang salin berpelukan menyalurkan kasih sayang yang mereka rasakan saat ini.
.
__ADS_1
.
.