
Semenjak terbangun dari jam 3 pagi, Risma tidak lagi bisa tidur walau sudah berbaring di ranjang, rasa kantuknya pun selalu menyerang, tapi dia tetap terjaga. Tak henti-hentinya dia mengecek suhu badan Leon yang berada dalam pelukannya. Jam 5 pagi, panas Leon sudah mulai turun, Risma mulai lega sedikit walau tidak sepenuhnya.
Risma melepaskan pelukannya dari tubuh Leon, lalu mendudukkan dirinya dan mulai mengambil kembali baju yang dilepaskannya. Setelah memakainya, dia menyelimutkan tubuh Leon dengan selimut dengan pelan, takut jika suaminya terganggu.
Pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri, mengguyur tubuh kecilnya dengan air agar rasa kantuk itu hilang. Setelah cukup lama, dia keluar dengan pakaianyang sudah tergantikan.
Leon sudah terbangun dari tidurnya dan kini dia sudah berjalan terburu-buru menuju ke kamar mandi, sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Risma yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi, kembali masuk saat Leon sudah muntah di wastafel.
Karena kasihan melihat suaminya muntah terus tanpa mengeluarkan apa pun, hanya ada lendir yang keluar. Risma pun mengurut tengkuk suaminya dengan pelan, agar rasa mualnya berkurang.
"Apa sudah selesai?" Risma bertanya saat melihat suaminya mencuci mulutnya.
Baru saja ingin mengelap bibirnya, tapi Leon kembali lagi muntah. "Hoek. Hoek. Emh ... K-kepalaku pusing." Leon memijit kepalanya setelah selesai mencuci kembali mulutnya.
"Kita keranjang lagi ya? Sambil tunggu dokter datang." Leon menurut, Risma membantu suaminya berjalan keluar dan menuju ranjang. Membantunya berbaring, lalu mencari minyak angin di laci nakas samping tempat tidur.
Menuangkannya di telapak tangan lalu menggosokkannya di perut Leon. "Ini pasti masuk angin karena kehujanan semalam." Risma bergumam menatap suaminya yang kembali menutup mata tanpa berucap satu kata pun.
Jam 7 pagi, seorang dokter sudah datang tapi hanya sendirian, mertuanya tak ikut karena beralasan ada urusan mendadak dan tak bisa ditinggal, tapi dia berjanji pada menantunya, jika urusannya sudah selesai maka dia akan datang menjenguk Leon.
"Ibu Dokter, apa sakitnya parah?" tanya khawatir.
"Tidak, kamu tidak perlu khawatir seperti itu. Suamimu hanya masuk angin dan asam lambung suamimu kambuh," jawab sangat dokter.
Dokter wanita yang berusia 40 tahun itu dan bernama 'Dok. Diva', dia adalah sepupu Pak Andi, papi Leon. Dokter Diva juga sudah mengetahui tentang pernikahan Leon, apa lagi dia memang hadir saat pernikahan keponakannya itu.
"Setelah makan nanti, berikan obat ini pada suamimu. Oh iya, ini hanya obat penurun panas, aku tidak membawa obat asam lambung, jadi kamu bisa membelinya di apotek terdekat." Dok. Diva menyerahkan bungkusan obat pada Risma, lalu pamit untuk pergi ke rumah sakit karena hari ini adalah paketnya untuk berjaga.
Setelah kepergian dok. Diva, Risma meminta ke pembantunya untuk membawakan bubur untuk Leon ke kamarnya.
"Ka, bangun dulu, makan bubur lalu minum obat." Risma mencoba membangunkan suaminya dengan pelan.
Leon membuka mata lalu menggeleng, kembali menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Ka, makan dulu, biar cepat sembuh."
"Aku tidak lapar." Suara Leon dari balik selimut.
"Tapi kakak harus makan, jika tidak? Asam lambungnya tambah parah. Makan ya, aku suapin." Risma kembali membujuk suaminya.
Leon membuka selimut lalu mencoba mendudukkan dirinya dan bersandar di kepala ranjang dan tentunya Risma ikut membantu.
"Aaak ... Buka mulutnya, ka." Leon pun hanya menurut menerima suapan dari istrinya, percuma menolak. Tetap saja ujung-ujungnya malang juga karena paksaan dari sang istri.
"Sudah. Aku sudah kenyang."
"Tapi baru 3 sendok yang masuk."
"Jika dipaksa lagi, mungkin yang didalam ini yang keluar." Karena paham dengan maksud suaminya, Risma menghentikan suapannya dan beralih mengambil obat yang di berikan dok. Diva tadi.
Setelah meminum obat, Leon kembali merebahkan dirinya dan memejamkan mata, rasa mualnya kembali menyerang, isi perutnya seakan di aduk sehingga ingin keluar lagi. Tapi dia mencoba untuk menahannya agar tidak kembali muntah.
•••
Risma dan Deren kini sudah berada di depan apotek, dia baru saja keluar dari dalam sana untuk membeli obat asam lambung untuk suaminya.
Risma sengaja membawa Deren bersamanya kerena tidak mau Deren akan mengganggu istrahat Leon.
Tadi Deren sempat menolak untuk ikut bersama Risma karena ingin menjaga bayi besarnya, tapi Risma tetap membujuk memberikan tahu pada Deren kalau bayi besarnya itu tidak enak badan dan butuh istirahat cukup.
.
Saat terbangun tadi pagi, Deren langsung ke kamar Risma karena merasa penasaran ada orang lain yang masuk ke kamar itu, tapi setelah mengetahui bahwa orang asing itu adalah seorang dokter, dengan cepat di kembali keluar menuju ke kamarnya lagi untuk mandi karena takut dengan dokter tersebut.
Takut! Katanya
Apa lagi jika mengingat, kalau dia pernah dirawat di rumah sakit selama 2 bulan, berurusan terus dengan dokter dan para suster
Deren mendongak menatap Risma lalu kembali lagi menatap lurus ke pinggir jalan dekat taman. "Baby, aku mau itu. Boleh?" Anak itu meminta sambil menautkan kedua telunjuknya dan menampakkan wajah imut.
Risma tersenyum melihat wajah imut Deren lalu mengangguk pelan. Karena melihat persetujuan Risma, Deren langsung berlari menuju penjual es krim tanpa melihat-lihat searah jalan.
Saat sudah berada di tengah jalan, tanpa Deren sadari sebuah mobil melaju kencang ke arahnya.
Risma yang melihat mobil itu melaju kencang, dengan cepat ia berlari kearah Deren, ingin menyelamatkan anak itu, tapi posisi Deren dan Risma sudah terlalu jauh.
"Deren! AWAS!" Risma meneriaki anak itu.
Piiipp... Piipp...
Aaaaakk!
Bruk!
Bersamaan Deren berteriak kencang tubuhnya pun terhempas ke pinggir jalan.
Deren membuka mata melihat sekeliling, ternyata dia sedang berada di pelukan seseorang. Mendongak menatap wajah sang penolong lalu mulai membangunkan dirinya untuk duduk di samping orang itu.
Si penolong pun langsung terbangun juga, memeriksa keadaan anak kecil yang baru saja ditolongnnya itu.
"Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" Si penolong adalah seorang pria. Dia memeriksa setiap inci tubuh Deren, siapa tahu ada luka yang tak terlihat.
"Tidak ada, Paman. Tapi ...." Deren menatap wajah tampan itu dengan serius lalu beralih ke kining. Ujung kening pria itu berdarah karena terbentur kuat di pinggir aspal saat menolong Deren.
"Paman, keningmu berdarah." Deren mulai panik saat kening pria itu semakin mengeluarkan darah segar.
Pria itu menyentuh Keningnya, terasa sedikit perih. Setelah melihat tangannya, ternyata anak itu benar. Keningnya berdarah.
"Deren! Apa kamu baik-baik saja?" Risma langsung menghampiri Deren dan si penolong itu yang masih terduduk di pinggir jalan. Risma memeriksa setiap inci badan Deren, ternyata tidak ada luka sama sekali.
"Aku baik-baik saja, Baby. Tapi paman ini terluka." Deren menunjuk pria yang berada disampingnya.
Risma beralih menatap pria itu. "Tuan, terima kasih. Anda sudah berkorban untuk menolong adik saya."
"Luka anda-" Bertepatan saat Risma ingin berucap lagi, pria itu mendongak menatap wajah Risma.
"K-kau!"
"Kecil."
Risma tersentak kaget saat melihat wajah pria yang berada di depannya itu. Bagaimana bisa? Mereka dipertemukan lagi setelah 4 tahun berpisah. Semenjak kejadian itu, Risma sangat benci pria itu bahkan menyebut namanya saja tidak ingin lagi.
"Deren, ayo kita pergi!" Risma berdiri dan mulai menarik tangan kecil anak itu.
"Tapi Baby, paman itu berdarah. Kita tolong dulu." Deren kembali lagi menghamri pria itu, lalu menepuk pelan agar debu yang melengket di jas si pria menghilang.
"Paman, berdirilah. Ayo kita obati dulu lukanya," ucap Deren. Dia tak lagi menghiraukan Risma yang masih berdiri di sampingnya.
"Deren, ayo kita pulang!" Risma menarik kuat tangan Deren, sehingga anak itu meringis sakit.
"Baby, kenapa tidak menolong paman ini dulu? Padahal dia sudah menolongku dari mobil yang hampir saja menabrak ku. Bagaimana jika dia tidak ada? Mungkin aku sudah mati dan pergi bersama mama Cely." Deren berucap dengan menatap wajah Risma.
"Bukankah, bayi besar pernah berpesan. Jika ada yang menolong kita, kita juga harus menolongnya kembali jika dia dalam kesulitan." Ternyata anak kecil itu masih mengingat ajaran Leon.
"Tapi, Deren!" Risma ingin sekali pergi dari hadapan pria itu, tapi Deren tidak ingin pergi, dia tetap ingin menolong.
Si penolong adalah orang yang pernah Deren tabrak juga saat berlari si pusat perbelanjaan, dia adalah pria tampan yang memiliki kekayaan melimpah, bahkan kini dia sudah di nobatkan menjadi pria termuda dan terkaya. Dia bernama Giovanni atau lebih biasa di panggil Van oleh orang terdekat saja.
Giovanni adalah pria yang masih berusia 23 tahun tapi sudah sukses, baik di negaranya maupun di negara orang lain. Bahkan dia juga memiliki beberapa perusahaan di berbagai negara.
__ADS_1
Tapi kini dia pulang ke negara asalnya, ke tanah kelahirannya. Bukan hanya membangun beberapa perusahaan lagi, tapi dia ingin bertemu dengan yang sangat dia rindukannya.
Dan kini, hari ini. Dia sudah bertemu lagi dengan Risma, walau gadis kecilnya ingin pergi saat sudah melihat wajahnya. Tapi dia tidak akan menyerah, sebenarnya dia sudah dari dulu selalu mengawasi gadisnya dengan cara sembunyi-sembunyi agar tidak di curigai, bahkan sampai sekarang pun.
"Pergilah, aku baik-baik saja." Giovanni berucap pelan.
"Tidak, Paman. Kamu berdarah dan tidak sopan jika aku langsung pergi." Deren tetap bersikukuh untuk mengobati Giovanni dulu.
Ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya sambil berlari jauh dari hadapan pria yang paling dibencinya itu. Tapi kini dia tetap berdiam diri saja memerhatikan wajah tampan Van yang sudah lama tak dilihatnya.
Giovanni beralih menatap Risma yang langsung membuang mukanya.
Marah!
Risma sangat marah pada Giovanni yang dulunya tiba-tiba meninggalkannya di hari spesialnya, tanpa mengucapkan satu kata pun.
"Risma, a-aku mi-"
"Aku tidak sudih menerima maafmu, Tuan!" Risma dengan cepat memotong perkataan Giovanni.
Giovanni tersenyum melihat wajah merah dan mata yang sudah berkaca-kaca milik Risma. Dia tahu jika Risma masih sayang padanya.
"Aku tahu jika kamu masih sayang padaku, gadis kecil. Bahkan panggilan sayang untukku saja aku tidak kamu lupa." Giovanni berucap dengan menatap wajah Risma.
Air mata yang tak dapat tertahankan lagi, ki ini sudah jatuh membasahi pipi mulusnya.
"Sayang?! Siapa bilang aku sayang padamu! Aku sangat MEMBENCIMU!" terik Risma didepan wajah Giovanni.
Sementara Deren hanya terdiam melihat perdebatan Risma dengan Giovanni, dia belum mengerti mengapa Risma sangat membenci pria yang sudah menolongnya itu.
Tanpa memperdulikan tolakan Deren untuk pergi, Risma dengan cepat menarik lengan kecil itu biar ikut bersamanya.
"Baby-"
"Deren, bayi besarmu sedang sakit. Kamu tidak mau 'kan bayi besarmu semakin parah karena terlambat minum obat ini?" Risma mencoba memberikan alasan pada Deren, agar anak kecil itu mau pulang.
Setelah mendengar ucapan Risma, Deren baru sadar kalau dia berada di sini itu karena ikut membelikan obat untuk bayi besarnya itu.
Deren kembali berali menatap Giovanni, ada rasa kasihan pada pria itu karena keningnya masi mengeluarkan darah, bahkan darah itu sudah membasahi pipi dan dagunya.
"Tapi-"
"Deren, ayo. Kita harus pulang cepat." Risma kembali menarik tangan Deren.
"Paman, maafkan aku
Aku tidak sempat menolongmu dulu karena bayi besarku juga dalam kritis." Deren meminta maaf agar pria itu bisa mengerti keadaannya.
"Tidak apa-apa, pergilah."
•
Setelah bertemu dengan Giovanni tadi, Risma selalu terdiam. Bahkan dia juga sempat berpikir kejamkah dia? Karena meninggalkan pria yang sedang terluka akibat menolong Deren dari maut.
Ada rasa kasihan terbesit di dalam hatinya, tapi rasa kasihan itu tertutupi oleh rasa marah dan rasa benci yang sangat besar. Sehingga dia tidak mau menolong pria itu.
Waktu tak terasa begitu cepat, jam 3 sore, kini Risma sedang duduk di ruang keluarga di lantai bawah, sementara Leon masih terbaring lemah di kamarnya, sebenarnya Leon tidak demam lagi sejak setelah meminum obat dari dok Diva. Tapi rasa pusing dan mualnya belum hilang, walaupun sudah meminum obat asam lambung yang di beli Risma tadi pagi.
Risma masih terdiam menatap kosong ke depan, hingga dia tak sadar jika Riki sudah berada di dekatnya sejak tadi dan memerhatikan dirinya.
Riki sebenarnya tahu apa yang membuat Risma melamun seperti sekarang. Itulah sebabnya mengapa dia kini berada di rumah sepupunya, karena dia sudah bertemu dengan Giovanni tadi dan pria itu menceritakan semua tentang pertemuannya dengan Risma.
"Risma!" Karena sudah beberapa kali memanggil Risma tidak dapat jawaban, akhirnya dia meninggikan suaranya.
"Ekh, Riki."
"Ada apa? Kenapa kamu melamun dari tadi, bahkan tidak mendegarku memanggilmu."
"Tidak usah berbohong. Aku tahu kalau kalian tadi sempat bertemu di pinggir jalan." Riki mulai menatap serius sepupunya.
"Kau-"
"Ya, aku tahu. Dia memberi tahu ku saat sebelum kemari."
Risma menunduk diam, dia kembali lagi mengingat pertemuan tadi pagi.
"Kenapa kamu menghindar terus darinya?" Risma meremas kuat tangannya saat mendengar pertanyaan dari Riki.
"Aku tahu Risma, kamu masih sayang padanya."
"Tidak! Aku membencinya, sangat-sangat membencinya!" Mendengar ucapan sepupunya, Riki berjalan menghampiri sepupunya dan menarik kuat sebelah tangan gadis itu.
"Kamu bisa berbohong pada semua orang, tapi tidak denganku. Lihat! Kamu berbohong padaku." Riki mengangkat tangan Risma yang berada di gengamannya.
Risma tertunduk karena tidak tahu lagi berkata apa. Sementara Riki tersenyum miring penuh kemenangan menemukan kelemahan sepupunya.
Risma memang punya kebiasaan jika berbohong, dia akan meremas kuat ibu jarinya dengan jari-jari yang lain, begitupun dengan tangan yang satunya. Tak banyak yang mengetahui kebiasaan Risma, hanya kedua orang tuanya, Baim, Riki dan juga Giovanni.
"Kamu masih sayang padanya."
•
Setelah mendapat izin dari Leon, Riki membawa Risma pergi untuk bertemu dengan Giovanni dan tentu tidak diketahui oleh Leon, apa lagi Risma. Riki hanya beralasan ingin membawa Risma untuk bertemu dengan bundanya, beralasan karena Rindu.
Setelah sampai di taman, Riki menuruni mobilnya dan berjalan cepat menuju tempat yang sudah dia janjikan dengan Giovanni, sambil menarik tangan sepupunya.
"Ki, bukannya kita mau bertemu dengan Bunda?" Riki tak menjawab.
"Maaf, aku terlambat." Riki berucap setelah berdiri di samping orang yang sedang duduk di bangku taman.
Orang itu Giovanni, dia mendongak menatap Riki. "Akh, tidak apa-apa. Aku juga baru datang."
Deg!
Suara itu. Suara yang sangat dia bencinya selama ini.
Risma dengan cepat menarik kuat tangannya dari gengaman Riki. Menatap benci pada Giovanni yang sudah berdiri di samping Riki.
"Kau! Riki, jadi kamu bersekongkol dengannya?!" Wajah Risma kembali memerah karena emosi.
"Kenapa?! Apa kamu takut bertemu dengannya? Tidak usah munafik Risma, aku tahu perasaanmu kepadanya." Riki juga ikut membentak sepupunya, ini pertama kalinya dia membentak Risma.
Risma mengerjap, dia tidak menyangka jika Riki membentaknya. "Ki, kamu membentak ku hanya demi pria brengsek itu!"
"Jaga bicaramu, Risma. Tidak bisakah kamu berucap sopan pada orang yang lebih tua darimu?" Riki kembali lembut pada Risma.
Riki mendekat memegang kedua bahu Risma yang mulai naik turun karena emosi. "Aku tahu apa kamu rasakan dulu. Tapi, tidak bisakah ku memberinya kesempatan, walaupun itu hanya maaf darimu?" Risma memdongak menatap Riki, lalu menggeleng pelan, sementara matanya mulai berkaca-kaca.
"Jangan sampai kamu menyesal. Aku pergi dulu," bisik Riki tepat di samping telinga Risma.
Riki meninggalkan tempat itu, memberi kesempatan Risma dan Giovanni untuk saling berbicara, tapi dia tetap mengawasi dari kejauhan.
Giovanni yang melihat Risma masih berdiri diam, mulai mendekat. Meraih tangan Risma, tapi dengan cepat ditepis oleh sang empu.
"Maaf."
"Maaf?! Dengan entengnya kamu meminta maaf sekarang! Sementara dulu? Kamu sama sekali tidak menghiraukan diriku, kamu malah pergi di hari spesial kita!" Bentak Risma.
"Bahkan, aku hampiar mati karena kecelakaan. Kamu sama sekali tidak datang! Hari-hari kulalui dengan sangat pahit, menerima kenyataan kalau kamu tidak kembali lagi disisiku dan malah pergi jauh dari kota ini. Demi mengejarnya!" sambungnya dengan nada tinggi.
__ADS_1
Giovanni hanya menunduk, dia memang mengaku salah karena telah pergi meninggalkan gadis itu dihari spesial mereka. Dia malah pergi bersama orang yang lebih dicintainya dan memilih menikah di negeri asing.
"Sekarang, aku tidak membutuhkanmu lagi. Aku membencimu, Tuan Giovanni!" Risma kembali meninggikan suaranya, untung tidak ada orang lain di taman itu, hanya ada Riki di kejauhan sana.
"Hiks, hikss, aku membencimu!"
Giovanni melangkah kedepan mengangkat tangannya, ingin mengusap air mata itu. Tapi dengan cepat Risma menepis tangan kekar Giovanni, dia tidak mau tangan itu kembali menyentuhnya.
"Jangan pernah menyentuhmu lagi! Karena aku sangat membencimu!" Risma mengusap air matanya dengan kasar lalu berbalik ingin berlarilah dari hadapan Giovanni. Tapi terhentikan karena tangannya tertarik kuat dari belakang.
Hap!
Giovanni padi dengan cepat memeluk tubuh gadisnya dari belakang, walau dalam keadaan susah karena Risma terus memberontak ingin lepas dari pelukan pria itu.
Plak!
Satu tamparan didapatkan Giovanni. Ya, Risma menamparnya dengan kuat saat sudah terlepas dari pelukan Giovanni.
"Jangan lancang kamu!"
Hap!
Sekali tarik, Risma sudah berada didalam pelukan Giovanni lagi, tapi kini Giovanni memeluk gadisnya dari depan.
"Sayang, aku rindu." Giovanni sudah ikut menumpahkan air matanya setelah mengucapkan kata rindu.
Sementara Risma semaki memberontak dalam pelukan Giovanni, bahkan pukulan dia lajangnya dengan kuat di pulau gunung pria itu. Tapi seakan rasa pukulan itu tak ada rasa sakit sama sekali baginya, asalkan dia bisa memeluk gadisnya untuk melepas rindu.
"Lepas! Aku membencimu, aku membencimu. Hikss, hikss ... Aku MEMBENCIMU!"
"Tidak, sayang. Kamu tidak boleh membenciku. Aku mohon, maafkan aku." Bukannya melepas pelukannya dia semakin mengeratkan pelukan itu karena tidak ingin ditinggal lagi oleh Risma.
"Tidak! AKU MEMBENCIMU! AKU SANGAT MEMBENCIMU! Hikss, hikss ...."
Risma sudah tak lagi memukul punggung Giovanni karena merasa percuma saja, tangannya pun sudah sakit. Bukannya lepas malah kini pelukan itu semakin erat.
Giovanni sama halnya dengan Risma dia sudah menangis tersedu-sedu, wajahnya dia sembunyikan di pundak mungil itu yang bergetar hebat.
"Aku membencimu, Tuan! Aku membencimu!"
"A-aku merindukanmu." Akhirnya kata yang dia tunggu-tunggu Giovanni, kini keluar juga dari bibir gadisnya. Walaupun sangat pelan dan hampir tidak terdengar karena berucap sambil menangis.
Tangan kecilnya itu mulai terangkat untuk membalas pelukan Giovanni, melingkarkan di pinggang pria itu dan wajahnya dia sembunyikan di celuk leher Giovanni.
Dari kejauhan Riki tersenyum melihat tingkah sepupunya, dia ikut bahagia karena melihat pelukan Giovanni terbalaskan juga. Walapun benci yang begitu besar selama ini. Tapi tetap saja rasa kasih sayang dan rasa rindu selama ini dia sembunyikan akhirnya terlepas juga hari ini.
"Sayang, maafkan aku. Aku sungguh minta maaf." Giovanni kembali berucap pelan.
Risma masih diam, tangannya masih setia melingkar di pinggang Giovanni. Memeluk, menghirup bau wangi pada tubuh pria yang selama ini membuatnya rindu.
Ternyata selama ini, Giovanni sama sekali tidak mengganti parfumnya. Dia tetap memakai parfum yang sama selama 4 tahun kepergiannya. Tak ada niat sama sekali untuk mengganti, karena parfum itu adalah bau kesukaan Risma, gadis kecilnya.
Tanpa mereka sadari di kejauhan berbeda tempat dengan Riki, dua orang itu tersenyum licik setelah mendapatkan Foto Risma dengan Giovanni.
"Sepertinya, kali ini rencana kita akan berhasil, El."
•
"Ki, aku takut." Riki melirik sekilas Risma yang sedang berjalan di sampingnya.
"Kenapa harus takut?"
"Bagaimana jika Ka Leon mengetahuinya?" Ada rasa takut jika suaminya mengetahui hubungannya dengan Giovanni.
Riki menatap sepupunya yang kini menunduk memikirkan sesuatu. "Jika memang Leon mencintaimu dengan tulus, maka dia akan menerima hubunganmu dengan Gio. Jadi, apa lagi yang kamu takutkan?"
"Masuklah, sampaikan salamku pada Leon. Aku langsung pulang saja." Risma hanya mengangguk pelan.
•
"Sayang, kenapa matamu bengkak?" tanya Leon dengan heran.
"Oh, ini. Tadi habis nangis," jawabnya dengan jujur.
"Kenapa? Rindu sama papa dan mama lagi?"
Risma mengangguk dengan pelan, jujur, saat bertemu dengan Kavan dia teringat oleh orangtuanya yang selalu melarangnya berhubungan lagi dengan pria itu. Tapi, tadi sore mereka sudah bertemu, bahkan sudah dia kali. Apa lagi tadi mereka berpelukan seakan melepas rindu.
Ingkar? Ya, Risma telah mengingkari janjinya kepada orang tuanya. Walaupun dia berkata tidak! Tapi tetap saja rasa itu tetap ada jauh dilubuk hatinya.
"Ka Leon sudah makan?" Kini Risma mengalihkan pembicaraan, dia duduk di samping suaminya yang sedang terduduk di ranjang.
Leon menggelengkan kepalanya dengan mata yang tertutup karena merasa mual lagi.
"Makan ya? Aku suapin." Tapi kini Leon kembali menolak.
"Aku belum lapar. Kamu makan saja duluan jika sudah lapar." Leon menatap wajah cemberut istrinya.
"Aku juga tidak akan makan, jika Ka Leon tidak makan."
"Jangan begitu, sayang. Cukup aku saja yang sakit, jangan kamu ikutan juga."
"Makanya, makan, Ka. Biar cepat sembuh," Risma kembali membujuk suaminya.
Leon menghembuskan nafasnya dengan berat, dia benar-benar benci dengan penyakit ini. Perut bagian bawanya masih keram juga dan rasa mualnya belum hilang sama sekali.
"Ya sudah, tapi minum susu, ya?" Kali ini Leon menerima tawaran istrinya.
Risma mengambil segelas susu coklat yang masih hangat di atas nakas samping tempat tidur, susu itu diantarkan pembantunya beberapa menit yang lalu.
Setelah meminumnya sampai setengah gelas, Leon kembali menyerahkan gelas susu itu pada Risma. "Kenapa tidak dihabiskan, Ka?"
"Kamu minum juga, ya." Karena tidak mau suaminya kecewa, risma langsung meminum susu itu sampai tandas.
"Besok jangan sekolah dulu."
"Tidak, aku harus masuk besok. Apa lagi besok awal ujian, mana mungkin aku tidak ikut ujian." Leon menolak permintaan istrinya yang melarangnya dulu untuk bersekolah besok.
"Iya sih, tapi keadaan Ka Leon yang lebih utama. Apa lagi masih mual 'kan?" Leon menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Ka Leon mau, sampai di sekolah muntah terus. Apa lagi toilet dengan kelas, Ka Leon 'kan jauh," jelas Risma.
"Mau bagaimana lagi, besok awal ujian. Kamu mau suamimu ini tidak lulus?" ucap Leon.
"Tapi, bagaimana kalau rasa mual itu belum hilang sampai esok. Aku juga tidak bisa merawat, Ka Leon. Kelas kita 'kan berbeda tempat."
"Tidak apa-apa, semoga saja rasa mualnya sudah hilang besok." Leon mengusap pipi istrinya yang tertunduk lesuh. Risma mendongak menatap Leon, lalu tersenyum dan mengangguk.
"Sekarang istirahatlah, biar enakan." Risma membenarkan selimut suaminya.
"Tapi peluk."
"Dasar manja." Leon cemberut mendegar ucapan istrinya. Tapi tidak lama langsung tersenyum lagi saat Risma menyuruhnya bergeser sedikit biar dia bisa berbaring juga. Setelah Risma berbaring di sampingnya, dengan cepat Leon membawa kepalanya mendekatkan diri pada istrinya, menyembunyikan wajahnya lagi di dada Risma dan mengangkat tangan mungil istrinya membawa ke arah kepalanya.
Risma tersenyum melihat tingkah suami manjanya, dia tahu apa yang Leon inginkan. Risma mulai menyisir rambut Leon begitu lembut dengan jari-jari kecilnya, mengecup berkali-kali kening Leon penuh kasih sayang.
"Semakin hari, semakin manja saja."
.
.
__ADS_1
.
.