
Sudah 1 bulan Risma dan Leon tinggal bersama di rumah barunya, Risma sangat menyukai Rumah baru tersebut karena tak jauh dari sekolahnya begitupun dengan caffe Leon.
Sedangkan Dion, dia kadang bermalam di rumah kakaknya jika dia merindukan Leon. Ya, walaupun mereka satu sekolah tapi mereka tak pernah berpisan dari kecil hingga Leon menikah dengan Risma, baru Dion jarang bertemu dengan Kakaknya.
Dan alasan Leon pindah ke rumah barunya agar adiknya itu bisa ikut tinggal bersama atau bermalam sekali-kali jika pergi berkunjung di rumah kakaknya. Leon juga kadang sedih dulu sewaktu Dion datang ke apartemennya berkunjung tapi tidak bisa bermalam dikarenakan apartemen Leon hanya memiliki satu kamar, jadi mau tak mau Dion harus pulang walau sudah tengah malam.
Hari ini Risma berangkat ke sekolah bersama Leon, sedangkan Dion berangkat sendiri dengan menaiki motor sportnya. Dion sangat malam memakai mobil jika berangkat ke sekolah atau bepergian ke mana-mana.
Tak terasa jam pulang sekolah telah berbunyi. Seluruh siswa keluar dari kelasnya untuk pulang begitu pun Risma dan teman-temannya.
"Risma, kamu pulang bareng Leon lagi?" Ayu bertanya setelah berdiri di dekat Risma yang sedang bersiap-siap memakai tasnya.
"Sepertinya begitu, kenapa?" Risma balik bertanya pada Ayu.
"Oh, tidak. Ya sudah aku dan Cerry duluan ya?" Ayu pun mengajak Cerry pulang bersama.
"Hati-hati ya. Sampai ketemu besok, da..." ucap Risma.
"Sampai ketemu besok, sayang." ucap Cerry lalu pergi bersama Ayu dan melambaikan tangannya.
Risma pun melambaikan tangannya pada kedua sahabatnya yang sudah mulai menjauh tapi tetap juga melambaikan tangannya.
Dion pun berdiri di dekat Risma dan ikut menatap kepergian Ayu da Cerry.
"Sudah, ayo kita pulang." Dion pun mulai melangkahkan kakinya tapi baru juga beberapa langkah dia terhenti karena panggilan seseorang.
"Dion?" panggil Leon. Leon menghampiri Dion dan Risma yang masih berdiri di depan kelasnya.
"Ada apa, Ka?" Dion bertanya pada Leon yang sudah berdiri di dekat Risma sambil merangkul istrinya.
"Apa hari ini kau pulang sendiri?" tanya Leon. Dion pun hanya mengangguk saja, toh dia memang pulang sendiri saja hari ini.
"Aku hari ini tidak bisa langsung pulang karena ingin pergi ke sesuatu tempat. Jadi bisa kah kamu pulang bersama Risma?" jelas Leon.
"Tidak masalah," jawab Dion.
Leon pun beralih menatap Risma yang sedari tadi terdiam mendengarkan percakapan kakak beradik di depannya.
"Sayang, tidak apa-apa 'kan kamu ikut Dion pulang?" Leon menatap manik mata Risma meminta persetujuan Istrinya.
"Emangnya Ka Leon mau kemana?" tanya Risma. Tidak biasanya Leon memintanya pulang bareng Dion.
"Aku ada urusan sebentar jadi kamu harus pulang bersama Dion dulu ya?" bujuk Leon.
"Baiklah. Oh iya hati-hati di jalan jangan ngebut bawah mobil." Risma memperingati suaminya agar tidak terlalu laju membawa mobil.
"Iya, Sayang." Leon memeluk istrinya karena Risma mengizinkan juga dia pergi ke sesuatu tempat.
Mereka bertiga pun pergi ke parkiran kendaraannya. Setelah sampai Leon pun melepaskan genggaman tangannya pada Risma karena Dion sudah naik di motornya dan siap pulang.
"Dion hati-hati bawa motornya." Dion hanya mengangguk pelan.
Leon beralih menatap ke Risma. "Setelah urusannya selesai aku langsung pulang." Risma hanya mengangguk tanda mengerti. Leon pun memasangkan Helm pada Risma yang diberi oleh Dion tadi setelah mencium kening sekilas sang istri.
Risma pun naik di job belakang Dion, setelah pamit pada Leon mereka pun berangkat meninggalkan parkiran. Sedangkan Leon baru memasuki mobilnya setalah istri dan adiknya berangkat.
Mobil Leon melaju dengan kecepatan rata-rata saja untuk menuju ke sesuatu tempat yang dia terima pesannya saat masih di sekolah. Tak beberapa lama mobil Leon telah sampai si tempat tersebut dan pergi menemui seseorang.
Sebenarnya Leon tadi dapat pesan dari seseorang, jadi saat pulang sekolah Leon pergi menemui orang tersebut tanpa sepengetahuan Risma.
Leon kini berdiri di depan pintu bercak putih. "Di mana dia?" tanya Leon.
"Dia masih ada di dalam, Tuan. Dia sudah menunggu Tuan dari tadi," jelas orang itu.
Leon pun langsung masuk setelah mendengar penjelasan dari anak buahnya.
__ADS_1
Ceklk
Pintu terbuka dan di dalamnya menampakkan seseorang yang sudah bersiap-siap menunggu kedatangan Leon.
"Kenapa kamu lama sekali? Aku sudah menunggumu berjam-jam, kau tahu?" tanya orang itu.
"Maaf, tapi aku baru saja pulang sekolah. Jadi baru bisa datang kemari." Leon mencoba memberi alasan agar orang itu tak marah padanya.
"Kamu marah? Baiklah aku akan menuruti permintaanmu agar kau mau memaafkanku, janji." Leon mulai membujuk agar orang itu memaafkan dirinya yang terlambat datang.
"Baiklah," jawab orang itu lalu tersenyum, sedangkan Leon yang melihat itu merasa gemes karena melihat wajah imut itu dan langsung memeluk dan mencium pucuk kepala orang itu.
"Ok. Ayo kita berangkat sekarang." Leon dan orang itu pun meninggalkan tempat tersebut.
.
Risma dan Dion kini sudah sampai di rumahnya sekitar 10 menit yang lalu. Risma langsung masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian begitu pun dengan Dion.
Setelah beberapa menit Risma keluar dari kamarnya dan langsung menuju dapur untuk melihat apakah pembantunya sudah memasak untuk makanan siang untuk mereka atau belum.
"Bibi sudah masak?" Risma menghampiri pembantunya yang sedang menata makanan di atas meja makan.
"Sudah, Nya. Tadi kami di kabari Tuan Leon untuk memasak beberapa makanan hari ini," jelas pembantunya.
"Wah makanan hari ini banyak sekali, aku jadi sangat lapar." Dion kini sudah duduk di kursi dekat Risma berdiri karena sudah tak tahan melihat makanan enak di atas meja makan.
"Semuanya sudah selesai, Nya. Kami pamit pulang dulu." Kedua pembantu tersebut pamit untuk pulang seperti biasanya. Mereka akan pulang jika semuanya sudah selesai dan mereka hanya bekerja sampai tengah hari saja. Tapi hari ini mereka bekerja sampai jam 2 siang karena permintaan Leon.
"Terima kasih, Bi." Kedua pembantu hanya mengangguk dan tersenyum lalu pergi.
Risma pun duduk di kursi depan Dion yang sedang menatap makanan di depannya. "Kenapa belum makan?" tanya Risma.
"Tunggu Ka Leon saja dulu, mungkin dia tak lama lagi pulang." Dion menopang dagunya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya memainkan sendok.
Dion hanya menggeleng mirip anak kecil yang menolak ibunya untuk di suap. Risma pun melakukan hal sama seperti yang di lakukan Dion yaitu menopang darinya lalu memainkan sendok.
Tak beberapa lama suara deru mobil terdengar dari luar rumah dan sepertinya itu mobil Leon. Risma yang mendengar itu pun langsung berdiri dari meja makan menuju pintu depan untuk menjemput kedatangan suaminya.
Klek...
Pintu terbuka dan menampakkan Leon yang sudah berdiri di depan pintu bersama seseorang yang tangannya Leon gengam.
Dan betapa terkejutnya Risma yang melihat itu karena Leon pulang membawa seseorang.
"Beby," panggil seseorang.
Risma tersadar dan langsung men jongkok memeluk orang itu.
"Sayang, kamu sudah bisa pulang? Lalu kenapa tidak memberi tahuku tadi agar aku juga bisa menjemputmu," ucap Risma, sambil memeluk orang tersebut dengan erat.
"Kata Dia, ini suprise untukmu," tunjuk nya pada Leon. Sedangkan Leon hanya tersenyum memandang Risma.
Risma pun melepaskan pelukannya pada Deren lalu mengajaknya masuk tanpa melihat Leon lagi. Sebenarnya urusan yang Leon maksud tadi adalah menjemput Deren di rumah sakit karena mendapat kabar dari dokter kalau Deren sudah bisa pulang.
"Kenapa dia melupakanku dan seakan tak melihat aku ada disini yang juga mau dipeluk." gerutunya Leon. Lalu mengekor masuk ke ruang makan.
"Suaminya sebenarnya siapa sih? Aku atau Deren." Leon semakin menggerutu kesal karena Risma kini tak menyapanya lagi.
Risma kini duduk di meh makan dan Deren begitu pun Leon yang selalu mengekor dan duduk di samping sangat istri.
"Hay, Sobat." Deren menyapa Dion yang berada di depannya dengan senyumannya.
"Hay, jagoan. Akhirnya kita ketemu lagi." Dion pun membalas senyuman Deren.
Risma pun mengambilkan nasi untuk Deren dan beberapa lauk di piring lalu meletakkan di depan Deren.
__ADS_1
"Sekarang kamu makan yang banyak ya?" ucap Risma dan Deren hanya mengangguk.
"Sayang, kamu marah?" Leon menarik lengan istrinya yang sedari tadi tak menanggapinya.
Risma pun menatap Leon kesal. "Yah, aku marah karena Ka Leon tak mengajakku untuk menjemput Deren." Risma kembali menatap Deren yang sudah makan tapi sepertinya kesusahan.
Leon pun hanya diam, yang awalnya untuk memberi suprise pada sang istri malah dapat cuekan.
"Deren, biar aku menyuapimu." Risma pun mengambil alih sendok di tangan Deren lalu menyuapi Deren dengan telaten. Sedangkan Dion sudah makan sejak tadi.
Karena merasa di cuekin Leon pun berdiri dari kursinya lalu berjalan benuju lantai atas di mana kamarnya.
"Dia kenapa?" tanya Deren. Risma pun hanya senyum lalu kembali menyuapi Deren.
.
Kini Leon sedang terbaring diam di atas ranjangnya setelah membersihkan diri dan menganti pakaiannya terlebih dahulu.
Klek..
Pintu kamar terbuka dan menampakkan Risma yang sedang berdiri menghampiri Leon sambil membawa nampang yang berisi sepiring nasi lauk pauk dan segelas air minum di tangannya.
"Ka Leon makan dulu, nanti saja tidurannya." Risma meletakkan nampang tersebut di atas nakas sampiran ranjangnya.
Leon pun bangun dari pembaringannya dan menatap wajah Risma.
"Kamu makan saja, aku tidak lapar," bohongnya, padahal cacing yang berada di dalam perutnya sudah dari tadi berbunyi minta diisi.
Kreek... Kreek.
"Ka Leon jangan bohong, itu purut dari tadi berbunyi," ucap Risma.
"Sekarang makan," sambungnya. Lalu mengambil piring tadi.
"Tidak." Leon menolak, kini Dia yang sedang merajuk karena tadi tidak diajak bicara bahkan Risma hanya mengambilkan nasi untuk Deren dan tidak untuknya, bahkan Risma sibuk menyuapi Deren tanpa mempersilahkan Leon untuk makan.
"Kenapa Ka Leon yang marah? Seharusnya aku yang marah karena Ka Leon tak mengajakku menjemput Deren," ucap Risma.
"Aku kan hanya ingin memberimu kejutan, kenapa kamu marah dan tak memperdulikan suamimu saat di depan pintu, bahkan kamu juga tak mengajakku makan tadi." Leon mengerucut mulutnya mirip anak kecil saja yang merajuk.
"Ok, kita sama-sama salah. Sekarang makan biar tidak sakit." Risma menyendok nasi lalu membawa ke depan mulut Leon agar Leon mau makan.
Leon pun memakan suapan istrinya. "Deren mana?" tanyanya karena tidak mendengar suara Deren.
"Dion mengajaknya pergi membeli mainan." Risma kembali menyuapi Leon.
"Kenapa Dion membawa Deren keluar lagi, 'kan baru sampai, apa lagi Deren baru saja keluar dari rumah sakit," ucap Leon.
"Itu karena Dion lebih dewasa darimu, dia mengerti kalau kakaknya sedang merajuk mirip anak kecil karena dicuekin," jawab Risma. Leon hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena betul juga yang di katakan istrinya.
"Kamu sudah makan?" tanya Leon. Risma hanya menggeleng.
"Belum, karena bayi besarku lagi merajuk," sindir Nya.
"Ok. Sekarang kamu juga makan." Leon mengambil alih sendok di tangan Risma, lalu menyuapi istrinya.
Akhirnya mereka pun kembali berdamai dan kini makan sambil saling suap-suapan satu sama lainnya dengan sepiring nasi berdua.
.
.
.
.
__ADS_1