
"Akhirnya, selesai juga."
"Horeee ... sekarang aku bebas!"
"Saatnya liburan."
Semakin banyak lagi teriakan-teriakan terdengar saat pelajaran terakhir mereka telah usai. Hari ini adalah hari terakhir mereka melakukan ujian pelulusan, setelah seminggu ujian.
Mereka bersorak karena merasa terlepas dari beban pelajaran.
"Ekh, kalian mau liburan kemana pekan ini?" tanya Cerry. Saat mereka berkumpul untuk makan siang di kantin sekolah.
"Apa dipikiranmu hanya ada liburan saja?" Bukannya menjawab, Ayu malah balik bertanya pada Cerry.
Cerry hanya cengengesan mendengar pertanyaan sahabatnya. "Tentu saja, kita 'kan sudah tidak belajar lagi," jawabnya.
"Rik, liburan nanti kamu mau kemana?" tanya Cerry ke pacarnya.
"Entahlah, aku juga belum tahu." Riki menjawab sambil mengelus kepala Cerry yang sedang duduk di sampinya.
"Bagaimana kalau kali ini kita ke puncak. Maksudku, kita semua. Tahun lalu 'kan kita tidak libur bersama. Bagaimna, setuju ngak?" Cerry melontarkan idehnya.
"Ideh bagus juga sih. Tumben pikiranmu bagus, Cer?"
"Ck, maksudmu apa,Yu?"
"Yah, biasanya pikiranmu hanya dipenuhi makanan saja. Kemana-mana harus ada makanan, tapi tetap saja kurus."
Mendengar perkataan Ayu, Cerry langsung cemberut. Bahkan bibirnya maju beberapa senti karena dikatain kurus. Memang iya sih, Cerry yang paling kurus di antara mereka bertiga. Walaupun sebenarnya dia kuat makan tapi tetap saja kecil, bahkan Gery saja yang kembarannya heran dengan pertumbuhan Cerry, Adiknya.
"Jangan cemberut, Sayang. Walaupun kamu kecil, aku tetap cinta kok." Riki merayu kekasihnya agar Cerry tidak cemberut lagi.
"Alaah, palingan kamu juga tidak suka dengan tubuh kecilnya itu. Apa enaknya saat dipeluk," ejek Ayu.
"Sayaang." Cerry seakan melapor pada Riki kalau Ayu ngejeknya lagi.
"Kamu harus hati-hati, Rik. Awas anak orang terbang jika kamu bonceng pulang nanti." Ayu kembali bersuara.
"Sudah, Yang. Palingan juga dia irih dengan tubuh kecilmu ini, yang bisa di tenteng kemana-mana."
Mendengar jawaban Riki malah membuat Cerry semakin cemberut, bukannya memarahi Ayu, tapi malah ikut mengatainya. Kecil!
"Bagiku, cewek kecil itu imut."
Semuanya menatap pria yang sedari tadi diam, kini malah berbicara seakan menyanjung Cerry yang bertubuh kecil. Dan benar saja mendengar perkataan itu Cerry langsung merona, bahkan senyum dan menampakkan gigi cantiknya.
"Tuh, Dion saja memujiku."
"Kalian yang sahabat yang sudah lama malah mengejekku, tapi Dion, baru beberapa bulan mengenalku malah memujiku," sambungnya lagi.
"Matamu rusak, Dion? Sepertinya kamu harus memeriksa ke Dokter mata deh," suruh Ayu.
Dion yang diberitahu oleh Ayu malah tersenyum. "Memang benar kok, cewek yang kecil itu malah imut di mataku, apa lagi Cerry tidak kecil banget. Jadi terlihat imut."
"Tuh, dengar kata Dion." Cerry memberi kedua jempol pada Dion yang sedang duduk tak jauh darinya.
"Palingan Dion hanya ingin menghiburmu saja, biar kamu tudak menangis dan minta dot di sini." Bukannya berhenti Ayu malah kembali memanas-manasi Cerry.
"Apa katamu?!"
Cerry mulai emosi mendengar perkataan Ayu, bahkan wajahnya saja sudah memerah karna merasa geram mendengar ejekan Ayu.
"Sudah, sudah. Kalian ini seperti anak kecil saja kalau ketemu, pasti ujung-ujungnya bertengka," tegur Risma.
"Dia yang mulai,'' tunjuk Cerry.
"Lah, emang yang aku ucapkan salah? Kamu memang kecil 'kan."
"Yu, sudah. Emang kamu ngak kasihan sama dia, nanti dia nangis," tegur Gery.
Mendengar teguran Gery, kini Cerry malah menjulurkan lidah ke Ayu karena merasa di belah oleh kembarannya. Tapi seketika di kembali cemberut saat mendengar ucapan Gery lagi.
"Aku tidak bawa botol susunya," sambung Gery.
Mendengar perkataan Gery, semuanya tertawa. Bukannya membelah Adik atau kembarannya tapi Dia malah ikut memgejeknya juga, sama seperti Ayu.
Inilah jadinya jika mereka semuanya berkumpul, pasti Cerry akan kena buli mereka. Mereka sangat suka melihat wajah Cerry yang cemberut dan merah karna marah. Tapi Cerry tidak pernah marah lama sama sahabatnya, dia akan cepat luluh jika ada yang merayunya kembali.
"Kak Leon kemana?" Risma mulai menyadari kalau suaminya tidak ada di antara mereka.
Seketika tawa mereka berhenti karena mendengar pertanyaan Risma, Dion pun sadar kalau dari tadi dia tidak melihat kakaknya di atara mereka.
__ADS_1
"Iya yah, Kak Leon kemana, Rik?" tanya Dion.
"Tadi sih masih di kelas beresin semua buku-bukunya."
"Mungkin dia masih ada urusan," timpal Cerry.
Risma langsung berdiri dan pamit ke teman-temannya untuk mencari sang suami. "Aku ke kelasnya dulu yah," pamitnya. Yang lain hanya mengangguk saja sebagai jawaban.
Tak berapa lama Dion juga ikut berdiri, entah dia mau kemana. Dia hanya pamit ke teman-teman saja tanpa memberi tahu dia mau kemana.
•••
"Nih, buatmu."
"Kak Dion?"
"Kenapa begitu kaget, apa wajahku menyeramkan?"
"Bu--bukan begitu, Kak."
"Lalu?"
Yuha hanya menunduk mendengar pertanyaan Dion, dia tidak tahu harus menjawab apa, dia takut jika menjawab malah mengucapkan kalimat yang salah. Sementara dia juga merasa takut karena semua para siswi menatapnya dengan tatapan sinis.
Mereka merasa geram pada gadis itu, mengapa Dion bisa dekat bahkan seakrab pada gadis miskin dan dekil itu. Sementara masih banyak gadis lain yang lebih kaya dan cantik dari pada Yuna.
"Kenapa kamu selalu menunduk disaat aku ajak bicara?"
Yuna dengan cepat mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap wajah tampan Dion.
"Maaf, Kak. Emm ... terimah kasih untuk susunya."
"Hm. Kamu sudah sarapan?" Dion kembali bertanya.
"Belum."
"Ayo kita ke kantin,"ajak Dion.
"Tapi aku masih kenyang, Kak." Yuna melirik kesana-kemari melihat para gadis yang menatapnya dengan tatapan tajam karena berani mendekati sang pujaan hati.
Semenjak Dion menjadi murid baru disekolah itu, sejak itu pulah dia menjadi incaran para siswi-siswi mulai kelas 1 sampai kelas 3. Banyak siswi yang mencoba mendekatinya tapi tidak ada yang dia sukai, hanya Yuna yang dia dekati selain Cerry dan Ayu.
Tapi Dion tidak tahu, kalau Yuna selalu di siksa dengan siswi lain karena berani mendekati dirinya. Yuna juga tidak perna cerita ke Dion kalau dia selalu disiksa, walaupun Yuna masih tinggal di Apartemen Dion. Dia selalu berusaha menyembunyikan luka yang di dapatkan dari siksaan siswi lain.
"Tadi pagi, waktu di rumah," jawab Yuna sedikit berbisik. Karena tidak mau yang lain curiga.
"Yah sudah, ayo."
"Kemana?" tanya Yuna penuh heran.
"Ikut saja." Dion langsung jalan meninggalkan Yuna, tanpa banyak tanya lagi Yuna pun langsung mengikuti langkah Dion yang entah mau kemana.
•••
"Kak Leon."
"Aku ingin bicara," balas Leon.
Risma yang mau mencari suaminya karena setelah dari kantin, dia menuju kelas Leon tapi dia tidak menemukan orang yang dicarinya di sana. Saat ingin pergi mencari lagi, malah Leon muncul di depannya entah dari mana.
"Kak, ada apa?" Leon tidak menjawab pertanyaan Risma.
"Kak, sebenarnya ada apa sih?" Kini pertanyaan kedua dia lontarkan tapi tetap saja tidak mendapat jawaban.
Risma meringis perih karena Leon menggenggam lengannya sedikit erat sambil menariknya terus mengikuti langkahnya, bahkan Risma dengan susah payah mengimbanya langkahnya dengan Leon yang dengan cepat melangkah entah kemana.
"Kak, pelan-pelan. Aku tidak bisa jalan begitu cepat." Risma sedikit heran dengan tingkah suaminya. Pasalnya tadi pagi mereka baik-baik saja, tapi sekarang malah melihat wajah dingin suaminya.
"Kak, kita mau ngapain di atas?" Kini Risma tahu kemana Leon ingin membawahnya.
"Ikut saja." Akhirnya suara Leon keluar juga.
"Tapi mau apa--" ucapan Risma terpotong karena melihat Elsa yang sedang berdiri di ujung tangga paling atas, sementara mereka sudah berada di tangga ke lima.
Ternyata, sedari tadi Elsa menunggu kedatangan mereka, bahkan yang mengajak Leon bertemu di atas gedung sekolah itu adalah Elsa.
Elsa sudah merencanakan semua ini, dia ingin melihat kehancuran Risma di depannya sendiri dengan sebuah akal busuk yang sudah dia sediakan dari beberapa harinya sebelumnya.
"Kak Leon, sebenarnya ada apa?" tanya Nya dengan heran.
"Seharusnya, aku yang bertanya padamu!" Leon menatap Risma yang berdiri di dekatnya.
__ADS_1
"Apa maksudnya semua ini?" sambungnya.
Leon memberi beberapa lembar foto yang telah diberikan Elsa tadi sebelum pergi mencari Istrinya.
Risma membelalakkan kedua matanya saat melihat siapa yang berada di lembar foto itu, Risma juga heran dari mana Leon bisa mendapatkan foto-foto dirinya dengan seseorang.
"Kak, dari mana kamu mendapatkan ini?" Risma bertanya sambil membuka satu persatu foto yang di tangannya.
"Kenapa? Apa kamu ingin bilang kalau ini tidak benar dan hanya rekayasa semata!"
"Aku benar-benar kecewa," sambung Leon dengan lirih.
Risma menatap wajah kecewa suaminya. "Aku bisa jelasin, Kak. Jangan berpikiran buruk dulu karena melihat ini."
"Jelasin apa lagi, di foto itu sudah membuktikan semuanya." Kini Elsa yang menjawab perkataan Risma, bahkan sedari tadi dia tersenyum melihat pertengkaran pasangan kekasih itu.
Elsa sangat senang melihat raut wajah kekecewaan Leon terhadap Risma, dia berpikir sebentar lagi Leon akan jatuh ke pelukannya dan akan membenci Risma.
"Lebih baik kamu diam saja, Elsa!" bentak Risma.
"Kenapa? Apa kamu takut kalau kebusukanmu terbongkar?" jawab Elsa dengan santai. Dia bahkan sudah turun beberapa tangga dan kini sudah berdiri di dekat Leon.
"Ternyata kamu pintar juga menyembuyikan kebusukanmu, Risma."
"Apa maksudmu, Elsa?"
"Kamu pikir aku tidak mengetahuinya, siapa pria itu'" jawab Elsa dengan senyum liciknya.
Deg!
Jantung Risma berdetak lebih cepat dari sebelumnya bahkan seakan ingin meledam saja di dalam dadanya, saat mendengan perkataa Elsa bahwa dia mengetahui pria itu.
"Kenapa Diam. Sudah mengakuh?" sindir Elsa.
Sementara Leon hanya diam melihat Elsa dengan Risma, dia benar-benar bingung harus berkata apa. Apa dia percaya dengan istrinya atau dengan perkataan Elsa, bahkan kini Elsa mempunyai bukti nyata. Dia juga tahu siapa yang berada di dalam foto itu bersama Istrinya, yang memperlihatkan mereka sedang berpelukan.
"Pria kaya raya yang memiliki beberapa perusahaan di berbagai Negara, usianya juga yang masih mudah. Dia baru satu bulan lebih datang dari luar Negeri, iyah 'kan Risma?" Kini Elsa kembali bersuara bahkan seakan mengejek.
"Diam, Elsa!" Karena tidak tahan dengan ucapa Elsa, Risma kembali membentak.
"Kenapa? Ternyata kamu wanita yang pintar merayuh laki-laki, apa Leon tidak cukup kamu rayuh, sehingga kini kamu merayu pria itu? dasar munafik," sindir Elsa.
Plakk!
Karena tidak tahan lagi dengan ucapan Elsa yang seakan merendahkan harga dirinya di depan Leon, Risma pun langsung melayangkan sebuah tamparan keras di pipi mulus Elsa.
"Kamu! Beraninya kamu menamparku!" Elsa memegang pipinya yang terasa berdenyut karena tamparan keras Risma.
"Kenapa? Apa kamu mau lagi, HAH?!" Risma kembali mengangkat tangannya, ingin menampar mulut kotor Elsa, tapi Leon langsung menangkap tangannya.
Leon tidak mau kalau Risma menampar pipi Elsa lagi, cukup sekali saja. Bukan berarti Leon membela wanita busuk itu tapi dia tidak ingin tangan istrinya malah ikut kotor karena menyentuh pipi Elsa.
"Cukup!" Leon sedikit meninggikan suaranya saat Risma menarik tangannya dan ingin kembali menampar Elsa.
"Leon, lihat. Wanita yang kamu puji dengan baik ternyata wanita penggoda, bahkan sangat kasar, dia juga menaparku." Elsa seakan meminta Leon membelanya dari pada Risma.
"Kak, apa kamu lebih percaya dia?" Risma balik bertanya pada Leon yang kini hanya terdiam di sampingnya.
"Aku bisa jelasin semuanya, Kak. Tapi tidak sekarang ini, aku mohon bersabarlah," lirihnya dan menunduk.
Sementara Leon tidak tahu apakah dia harus mempercai istrinya saat ini atau apa, dia juga sudah berkata lalu pada istrinya jika ada sesuatu, jujurlah. Jangan menyembunyikan rahasia padanya, apa lagi mereka saat ini sudah suami istri, bukan lagi sepasang kekasih seperti Cerry dan Riki atau Ayu dan Gery.
Leon ingin pergi ke Roptoof, dia ingin menenangkan pikirannya untuk sementara ini, dia juga bingung dengan dirinya akhir-akhir ini yang mudah emosi, sedih bahkan cemburu berat pada istrinya, apa lagi rasa mualnya dari tadi ditahannya karena bau parfum Elsa sangat tidak enak tercium olehnya.
Tapi baru satu langkah naik menginjakkan kakinya, dia merasa ada tangan yang menyentuh bahunya. Secepat kilat di menyentak bahunya agar tangan itu terlepas, dia benar-benar emosi apa lagi merasa sentuhan itu.
"Hentikan, Elsa!" bentak Leon. Karena dia berpikir kalau Elsa 'lah yang menyentuhnya karena gadis licik itu yang berdiri satu tangga darinya tadi. Bahkan Leon tidak berbalik melihat siapa yang menyentuhnya terus.
Leon bahkan menganyunkan tangannya ke belakang agar tangan itu tidak mentuhnya lagi, Leon benar-benar tersulut emosi, pikirannya sekarang kacau.
"Awaaass ...."
"Aaah ...."
Bugh! Bugh! Plakk!
.
.
.
__ADS_1
.