Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
22.


__ADS_3

Semenjak mendengar pembicaraan Elsa dan Dira di toilet sekolah, sampai sekarang dia merasa sedikit resah karena ucapan Elsa yang ingin memisahkan mereka. Risma takut jika hal itu benar-benar terjadi dan dia takut kalau Leon akan meninggalkannya di saat dia sudah jatuh cinta pada suaminya, dia akui kalau Leon saat ini telah menang karena bisa membuatnya pertama kali jatuh cinta walaupun sebenarnya banyak sebelumnya pria yang sudah mendekatinya, tapi tak pernah dia balas dan akhirnya dia bertemu dengan Leon dalam hubungan halal ini. Risma ternyata jatuh cinta pada pria yg sudah sah menjadi suaminya dan itu adalah cinta pertamanya.


Kini Risma berdiam saja dalam mobil Leon yang sedang menuju pulang dari sekolah, Leon yang melihat istrinya sedari tadi diam, dia mengerti apa yang membuat wanitanya memilih dia dan tak seperti biasanya ada saja pembicaraan antara mereka.


Leon mengemgam tangan Risma yang berada di panggkuannya dan membawanya ke dada bidangnya dan sesekali menecupnya.


"Ada apa?" tanyanya. Leon tetap pokus ke depan.


Risma tersadar dari lamuannya dan memutar duduknya menghadap ke suaminya.


"Tidak ada," ucapnya. Risma memberikan senyuman manis pada Leon untuk menutupi kecurigaan pria itu.


Tapi Leon tak bisa dibohongi walaupun sudah diberi senyuman termanis dari sang istri.


"Tidak usah memikirkan perkataan mereka," ucap Leon dan membalas senyuman itu.


Risma pun mengangguk pelan dan memeluk lengan kekar sang suami dan merebahkan kepalanya di bahu kekar itu, Leon yang melihat tingkah istrinya saat ini hanya tersenyum, pasalnya ini pertama kali Risma memeluk lengannya tanpa meminta sesuatu dan dia pun mengecup kening istrinya sesekali.


"Bagaimana kalau kita pergi belanja dulu?" tanya Leon. Leon membawah mobilnya ke arah pembelanjaan dengan kecepatan sedang.


"Belanja apa?"


"Bahan dapur mulai abis, susu, roti dan cemilan kesukaanmu juga sudah habis," jelas Leon.


Risma mendongak menatap wajah Leon. "Baiklah, ternyata kamu suami perhatian," ujar Risma dan tersenyum.


"Tentu saja aku suami yang perhatian, apa lagi pada istri cantikku ini," gombalnya.


Risma kembali menunduk di lengan Leon dan menyembunyikan wajahnya yang sudah merona karena gombalan suaminya kali ini, sedangkan Leon yang melihat istrinya tertunduk semakin ingin mengodanya lagi.


"Kenapa wajahnya merah dan disembunyikan seperti itu?" godanya lagi.


"Ah, tidak." Risma tetap menunduk membalas ucapan Leon.


"Benarkah atau kamu lagi sakit, wajahmu semakin merah, sini biar aku obatin." Leon kembali mengoda istrinya dan kali ini tangannya ikut mengusap pipi Risma.


"O-obat, bagaimana ca-caranya?" tanyanya dengan gugup.


"Sini biar aku cium pasti sembuh," ucap Leon dengan senyum godaannya.


Risma melepaskan pelukannya dari lengan Leon dan kembali duduk di posisi semula, wajahnya dia arahkan ke kiri memandang ke luar jendela.


"Kenapa dilepas?" tanya Leon.

__ADS_1


Risma hanya diam tak mau membalas perkataan Leon, Leon mengerutkan keningnya lalu tertawa melihat wajah mungil itu yang masih bersemuh merona.


"Sini peluk lagi," ajaknya. Leon menarik tangan Risma agar kembali memeluk dan merebahkan kepalanya di bahu Leon.


"Apaan sih!" Risma menepis tangan Leon dengan cepat.


"Kenapa marah?"


"Siapa suruh menggodaku?"


"Eh! Aku menggoda istriku apa salahnya?" Leon mengerutkan keningnya.


"Oh gitu, jangan harap mendapatkan jatah ciuman selama seminggu," ucap Risma sedikit ketus.


"Eh! Kok gitu sih, Sayang. Ok,ok, aku minta maaf dan tidak mengulanginya lagi," mohon Leon sedikit memelas.


Risma melirik Leon. "Pokoknya kamu tidak dapat."


Risma kembali menatap depan dan kembali diam, sedangkan Leon pusing bagaimana caranya agar istrinya tidak marah lagi padanya dan menarik kembali kata-kata yang barusan dia lontarkan kalau dia tak mendapatkan jatah ciuman dari istri tercinta selama seminggu ini. Jangankan seminggu, sehari saja dia tak mendapat ciuman dari istrinya, maka dia cemberut seperti anak kecil yang tak mendapat mainan baru dari ibunya.


"Sayang, jangan marah lagi ya."


"Ok, aku minta maaf deh," sambungnya lagi.


'Ck! Kenapa dia marah? Apa dia lagi PMS di tanggal ini?' batin Leon.


Leon pusing dengan perubahan istrinya saat ini, bukannya tadi Risma bergelayut manja di lengan kekarnya bahkan dia memeluknya dengan erat dan merebahkan kepalanya di bahu Leon, tapi sekarang kenapa malah berubah drastis hanya karena sedikit menggodanya saja.


Setelah beberapa menit mereka telah sampai di tempat pusat pembelanjaan dan Laen telah memarkirkan mobilnya di tempat parkiran.


Mereka turun bersama dan masuk ke dalam mencari bahan-bahan yang mereka perlukan. Leon merai tangan kanan Risma dan mengemgamnya dengan lembut, Risma mencoba melepasnya tapi Leon tetap mengemgam tak ingin pernah melepaskan tangan mungil itu, akhirnya Risma mengalah dan membiarkan Leon menautkan jari-jarinya kali ini. Sebenarnya dia juga sedikit kasihan melihat wajah memelas sang suami yang sedari tadi minta maaf padanya.


"Kamu pilih sayur-sayuran di sini, biar aku pergi beli ayam dulu," ucap Leon.


"Ka, jangan lupa beli udang, ya." Leon pun mengangguk dan mengacak rambut istrinya sebelum pergi.


Leon pergi ketempat penjualan ayam sekalian membeli udang pesanan istrinya, Risma memang suka sekali makan udang apa lagi yang namanya kepiting, itu adalah makanan kesukaannya dari sejak kecil sampai sekarang ini. Setelah mendapatkan semuanya dia kembali ke tempat Risma yang sedang mencari sayur-sayuran untuk 2 hari ke depannya.


"Sudah dapat?" tanya Leon. Kini dia sudah berada di samping Risma.


"Iya, ada pesananku?"


"Ada, aku juga tadi beli kepiting, loh." Leon memperlihatkan isi belanjanya pada Risma.

__ADS_1


Risma melihatnya dengan mata berbinar. "Wah, makasih yah, Suamiku. Ka Leon memang yang terbaik," ucap Risma dan mengacuni jempol pada Leon.


"Suami siapa dulu dong?" ujarnya dengan sedikit sombong.


"Suamiku lah."


Leon dan Risma kembali tertawa dengan perkataan mereka sendiri dan tampak Risma sudah tidak marah pada Leon saat ini lagi.


"Ya sudah, ayo kita pergi cari yang lain," ajak Leon.


Risma hanya mengangguk, mereka pun pergi menuju ke tempat cemilan dan makanan lainnya,Risma menautkan jari-jarinya pada jari Leon.


Banyak orang-orang yang melihatnya merasa iri ada pula yang mencibirnya tak setuju dengan kedekataan mereka.


"Wah, sosweetnya."


"Aku juga mau dong seperti itu."


"Mereka pasangan yang serasi."


"Bukannya belajar malah pacaran."


"Seharusnya mereka sekolah dulu."


Itulah perkataan mereka saat Risma dan Leon melewatinya dengan yang seragam yang masih melekat di tubuh kedua pasutri itu. Tapi Leon tak menghiraukannya dan kini bukan lagi mengemgam jari istrinya tapi merangkul bahu istrinya dengan mesra dan memberikan kode pada Risma untuk tidak mendengar perkataan orang-orang itu.


Saat sudah mendapatkan semua yang mereka cari dan membayarnya, kini Leon dan Risma berjalan keluar pergi ke tempat parkiran mobilnya.


"Mau makan di luar atau di rumah saja?" tanya Leon sambil memasukkan bahan belanjaannya di bagasi belakang.


"Kita makan di rumah saja, biar bisa masak bareng lagi," jawab Risma. Dia masuk ke dalam mobil dan di susul Leon.


"Ok, Sayang."


"Tapi, ajarkan aku masakan lainnya yang tak kalah enak lagi ya?" ujar Risma.


"Baiklah, Nyonya Leon. Ayo kita pulang sekarang dan masak bersama."


Mereka pun meninggalkan parkiran itu dan menuju pulang ke rumah agar bisa memasak bersama sekaligus mengajarakan Risma beberapa masakan yang enak. Apa lagi perut mereka sudah mulai terasa lapar dari tadi karena kini sudah menunjuk pukul 4 sore.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2