Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
24


__ADS_3

Sudah sebulan pernikahan Leon dan Risma kini hubungan mereka bertambah mesra bahkan Leon semakin manja pada Risma, tapi Leon tak akan bermanja jika dia sedang berada di sekolah karena permintaan Risma. Risma takut jika Leon bermanja padanya jika di sekolah dan ada anak lain yang melihatnya, sebab sampai sekarang belum ada yang tahu tentang pernikahan mereka, bahkan teman-teman Risma dan juga Riki sepupunya.


Hari ini adalah hari minggu tapi Leon dan Risma hanya berada di apartemen mereka karena tak tahu harus ke mana selain ke sekolah.


Leon sedang duduk di ruang tamu sambil memainkan hpnya sedangkan Risma baru saja keluar dari kamarnya karena baru selesai mandi setelah Leon.


Risma menghampiri Leon dan duduk di sampingnya dan mengambil remot TV.


"Lagi ngapain, Ka?" tanya Risma.


Leon sedari tadi senyum-senyum sendiri melihat layar hpnya yang entah apa yang sedang dia lihat.


"Lagi liat foto cewek cantik," ucap Leon. Dia kembali lagi senyum-senyum bahkan kadang tertawa kecil.


"Apa? Ka Leon liat foto cewek?" kagetnya. Dia tak lagi menonton TV tapi sudah menghadap ke Leon.


Leon hanya mengangguk tanpa memalingkan wajahnya dari layer HP tersebut.


"Sini hpnya!" mintanya sedikit marah.


"Tidak." Leon menjauhkan hpnya dari Risma karena dia tak mau memperlihatkan foto cewek yang dia maksud.


"Ka, awas yah kalau ketahuan selingkuh," Ketusnya. Risma membelakangi Leon.


Berpura-pura ngambek dan mengharap suami membujuknya tapi yang dia harapkan tak terjadi, Leon sama sekali tak membujuknya.


Risma kembali menghadap pada Leon dengan wajah di bikin cemberut, bibir mengerucut dan tangan dilipat di depan dada.


"Ka, liat foto siapa sih!"


"Cewek cantik lah," jawab Leon singkat.


"Coba aku liat."


"Nanti kamu hapus, aku 'kan susah dapatnya, bahkan begadang semalaman untuk mendapatkan foto gadis cantik ini," jelas Leon.


Risma semakin kesal dibuat Leon ada rasa sedikit cemburu dan sakit hati di dalam sana. Siapa coba yang tak sakit hati jika sang suami mengaku melihat foto gadi cantik di hpnya.


"Ka Leon tegah," lirihnya. Wajah Risma mulai memerah bahkan matanya juga sudah sedikit berembun.


Leon yang mendengar suara pelan istrinya merasa heran bukannya tadi dia tadi sedikit menaikkan volume suaranya saat dia meminta HP suaminya tapi kenapa suaranya sudah sedikit pelan dan bergetar.


"Kok nangis?" herannya.


Risma tak menjawab pertanyaan suaminya dia hanya menunduk dengan air mata yang sudah membasahi pipi putihnya.


Leon meletakkan hpnya di atas meja dan menarik tubuh mungil istrinya ke dalam pelukannya dan sesekali mencium pucuk kepala Risma.


"Jangan nangis lagi," bujuknya.


Risma tak bersuara dia hanya mengeluarkan air mata di dada suaminya, Leon merasa bersalah telah berkata sepeti tadi pada istrinya, iya tak menyangka kalau itu akan membuat istrinya sakit hati sampai mengeluarkan air matanya.


"Maaf. Sudah, jangan menagis lagi, yah?" Leon melepaskan pelukannya dan mengusap pipi basa istrinya.


"Ka Leon sih! Liat foto cewek lain di hpnya," ucap Risma.


"Itu memang foto cewek, bahkan aku jatuh cinta padanya."


Deg..


Kembali lagi merasakan sakit di dalam hati bahkan air mata Risma semakin deras, bagaimana tidak, jika sang suami mengaku kalau dia sedang jatuh cinta pada foto wanita yang berada di hpnya.


"Aku benci Ka Leon!" Risma berusaha melepaskan pelukan Leon.


"Lah. Kenapa?"


"Malah nanya."


"Benci kenapa?"


"Pokoknya aku benci!"


Leon hanya tersenyum melihat kemarahan istrinya dan kembali lagi memeluk Risma dengan erat walau Risma memberontak untuk melepaskan pelukannya tapi Leon semakin memperat pelukannya.


"Jangan marah lagi, Sayang." Leon mengusap rambut Risma dengan pelan.

__ADS_1


"Siapa yang tidak marah, coba? Kalau suaminya malah memperhatikan foto cewek di hpnya dan mengaku depan istrinya kalau dia jatuh cinta pada cewek itu. Hiks, hiks, hiks...," jelasnya dengan tangisan.


Leon tertawa terbahak-bahak karena pengakuan istrinya. "Jadi kamu cemburu?" tanyanya.


"Siapa yang tidak cemburu dan sakit hati kalau suaminya mencintai wanita lain."


Leon melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi istrinya.


"Ululu... istriku cemburu. Ok, aku minta maaf, yah? Lagian foto yang aku liat bukan wanita lain kok."


"Terus, siapa foto wanita yang Ka Leon maksud?" tanya Risma.


"Liat saja sendiri," suruh Leon.


Risma mengambil HP Leon yang tadi di simpan di atas meja depannya. Risma begitu terkejut melihat foto cewek sedang tidur dan itu yang Leon maksud dan membuatnya senyum-senyum.


"Ih! Ka Leon. Di mana coba dapat foto ini?" geramnya pada Leon.


"Kenapa? Masih cemburu?" ejeknya Leon.


"Iih! Jawab. Ka Leon dapat di mana?"


"Tadi malam, pas kamu tidur," ucap Leon. Leon kembali lagi tertawa mengingat tadi Risma yang menangis karena meresa cemburu dan sakit hati dengan foto seorang wanita yang berada dalam hpnya, padahal Risma tak melihat siapa foto wanita yang Leon maksud.


"Hahaha... masih cemburu, Sayang?" godanya.


Risma tersipu malu, tentu saja malu apa lagi dia tadi menangis di depan Leon karena beralasan cemburu padahal itu fotonya sendiri.


"Oh iya, tadi ada yang menangis loh karena cemburu," sindir Leon.


Risma mencubit perut Leon bahkan melayangkan pekulan di lengan Leon dan di dadanya.


"Iih! Ka Leon rese banget." Risma tetap memukul suaminya.


"Aduh Sayang, sakit," eluh Leon. Dia mencoba menangkap tangan mungil istrinya.


"Siapa suruh buat aku nangis seperti tadi?"


"Siapa yang langsung nangis tanpa melihat dulu?" tanya balik Leon.


Leon merebut hpnya kembali. "Jangan dihapus. Susah loh aku dapatnya, kapan lagi coba bisa dapat seperti ini?"


"Ck! Tapi fotonya jelek," decaknya.


"Biar, aku suka. Itu imut banget," balas Leon.


"Imut dari mana coba? Mulutnya menganga begitu," ucap Risma.


Yah, memang foto itu adalah foto Risma yang lagi tidur dengan nyenyak nya dan mulutnya sedikit terbuka.


"Sekarang hapus ngak!" cetus Risma.


"Pokoknya aku tidak mau," tolak Leon.


"Ok. Jangan harap nanti dapat ya?" ucap Risma.


"Aku ambil sendiri lah," jawab Leon.


"Kalau aku tidak kasih?" tanya Risma.


"Aku akan paksa dan...." Leon sengaja menggantungkan ucapannya.


"Dan apa?" Risma mengerutkan keningnya.


"Aku akan gigit lagi, mau?"


"Ka Leon itu manusia atau Vampir yang suka sekali menggigit orang?" tanyanya.


"Ya manusia lah."


"Terus, kenapa suka menggigit ku?"


"Aku belajar darimu. Apa kau lupa, Sayang? Kamu pernah menggigit ku sampai berbekas dan bengkak. Kamu lupa malam itu?" tanya Leon.


Risma mengingat kalau yang di katakan Leon memang benar pernah terjadi bahwa dia menggigit dada Leon sampai bengkak dan tak hanya sekali tadi menggigitnya sudah dua kali.

__ADS_1


"Tapi, itu 'kan Ka Leo sendiri yang salah," tuduhnya.


"Benarkah? Kalau begitu bagaimana jika aku sekarang menggigit di bagian yang sama kamu lakukan waktu itu padaku?" tanyanya dengan senyum nakalnya.


Risma dengan cepat menyilamkan tangannya di depan dada dan menggeleng. "Jangan, aku tidak mau."


"Pilih mana, aku gigit sekarang di sana atau kamu kasih aku yang satu itu?" godanya pada Risma.


Wajah Risma merona karna perkataan Leon barusan, dia menundukkan kepalanya karena tak mau Leon melihatnya.


Leon mendekat pada Risma yang masih tertunduk, dia mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesutu. "Bagaimana, Sayang?" tanyanya.


"Ba-baiklah, tapi nanti malam saja," ucapnya.


"Tidak. Aku maunya sekarang," minta Leon.


"Ck! Nanti saja." Risma berdecak dan menolak permintaan Leon.


"Kamu mau kasih atau aku ambil sendiri?" tanya Leon.


Risma terdiam sejenak memikirkan permintaan suaminya sekarang ini, apakah harus dia berikan lagi dan bukan kah tadi pagi sudah mendapatkan saat bangun tidur.


"Tapi, tadi pagi 'kan sudah."


"Itu bedah, Sayang. Itu 'kan morning kiss," jelas Leon.


"Ck. Ok, sekarang tutup matanya," pintanya pada Leon.


Leon dengan antusias menutup matanya karena sebentar lagi akan mendapatkan ciuman dari istrinya.


Tak


Risma langsung berdiri meninggalkan Leon setelah menjitak jidatnya. Sedangkan Leon yang menerima jitakan dari istrinya hanya meringis kesakitan, lain yang dia harapkan lain pula yang didapatkannya.


"Aduh! Kok dijitak sih?!" Leon mengusap jidatnya yang terasa sedikit sakit.


"Haha... enak 'kan, Sayang?" Risma masih tertawa meninggalkan Leon yang masih terduduk di sofa.


Wajah Leon cemberut sedih dan bibirnya di kerucut kan karena tak mendapatkan yang dia minta melaikan jitakan.


"Enak apanya? Sakit tau." Leon menghampiri Risma yang sudah berada di meja makan.


"Sudah, jangan minta yang aneh-aneh. Itu sebagai balasan karena Ka Leon tadi buat aku menangis," ujar Risma.


Risma mulai mengambil nasi goreng ke piringnya dan telur mata sapi yang sudah dimasak Leon tadi saat Risma masih mandi.


"Makanlah," suruhnya. Dia memberikan piring berisi itu pada Leon.


Leon masih saja memasang wajah cemberut nya. "Kenapa? Tidak mau makan lagi?" tanya Risma.


"Masih sakit?" sambungnya lagi dan Leon hanya mengangguk.


"Sini, biar aku liat," mintanya.


Leon mendekat pada Risma dan


Cup


Risma mencium di tempat yang dia jitak tadi, Leon hanya terdiam setelah itu senyuman terukir di bibirnya.


'Ternyata ada untungnya berbohong, hehehe... maaf, Sayang," batin Leon.


"Masih sakit?" Leon menggeleng.


"Sekarang, ayo kita makan," ajak Risma.


"Suap," minta Leon.


Risma menepuk jidatnya lalu menggelengkan kepalanya, ternyata penyakit manja suaminya kambuh lagi sekarang. Risma pun menyuap Leon dan begitu pun Leon kadang menyuap Risma juga, sekarang posisinya mereka makan sepiring berdua dan saling suap-suapan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2