Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
11. uang jajan


__ADS_3

Kini mata pelajaran sudah selesai para siswa-siswa punya kebebasan di jam istrahat untuk melakukan aktifitas masing-masing.


"Ke kantin yuk," ajak Ayu pada teman-temannya.


Risma membereskan semua peralatannya untuk dimasukkan ke dalam tas, karna Ayu sudah berdiri di sampingnya dan menunggu. Risma merabah kantong bajunya mencari sesuatu dan tak menemukan sesuatu disana, sekarang dia beralih pada tasnya mungkin dia menyimpannya disana dan lagi-lagi dia tak menemukannya.


'Kok, ngak ada yah. Apa aku lupa ambil tadi?' batinnya.


"Cari apa sih?" tanya Cerry yang melihat Risma dari tadi mencari sesuatu.


"Em... Engak kok, kalian ke kantin aja dulu," suruhnya pada Ayu dan Cerry yang sudah menunggunya.


"Kok gitu sih," ucap Cerry dengan cemberut.


"Aku mau ke perpus dulu, ada buku yang ingin aku ambil," bohongnya.


Pada hal Risma lupa ambil uang sakunya, karna uang yang pernah orang tuanya kasih sudah habis. Jadi dia terpaksa bohong pada teman-temannya kalau dia mau ke perpus.


Terpaksa ini hari dia tak jajan, mana mungkin pinjam uangnya Ayu, sedangkan Ayu cuman bawah uang cukup begitu pun Cerry. Risma juga malu kalau pinjam sama teman-temannya, walau pun mereka sudah berteman sejak lama tetap saja dia tetap merasa canggung jika minta tolong sama teman-temannya, dia merasa kalau akan membuat beban pada mereka saja.


"Ke kantin yuk," ajak Dion yang masih berada duduk di bangkunya.


Risma menoleh menatap Dion, "kamu saja, aku mau ke perpus," ucapnya lalu pergi.


Dion cuman menggeleng melihat tingkah iparnya, dia tau kalau ipanya itu tidak membawah uang jajan. Dion pun keluar dari kelasnya dan menuju ke kantin, tapi diperjalanan dia bertemu dengan kakaknya Leon.


"Dia kemana?" tanyanya sambil celingak-celinguk mencari seseorang.


"Dia ke perpus," jawabnya lalu melanjuti langkahnya menujuh ke kantin.


"Belikan saja dia makanan, dia sepertinya tidak bawah uang jajan," ucapnya tampa menoleh kebelakang, sedangkan Leon mengikuti langkah Dion.


Leon tertegun dan mengingat sesuatu, "ck, kenapa aku bisa lupa," ucapnya.


"Lupa apa?" tanya Dion yang melirik kesamping karna Leon mulai mempercepat jalannya.


"Aku tidak beri uang jajan dia tadi pagi," jawab Leon saat mereka sudah berada di depan ibu kantin.


"Tegah banget sih ka," ujar Dion dan mulai memesan makanan sama ibu kantin.


Leon pun memesan beberapa makanan dan membeli air minum, setelah mendapatkan semuanya dia pun pergi untuk bertemu dengan Risma yang berada di perpus.


Setelah beberapa menit dia telah sampai di perpus tapi orang yang dia cari tak ada disana, Leon mengambil benda pipihnya dalam saku celana dan menghubungi seseorang.


"Kamu dimana sekarang?" tanyanya pada seseorang di seberang telpon.


"..."


"Ok tunggu aku disana dan jangan kemana-mana," ucapnya lalu berjalan cepan menuju tempat yang diberi tahu oleh orang yan di telponnya tadi.


Setelah beberapa menit Leon telah sampai dan ternyata benar saja orang yang dia cari ada disana, duduk manis sambil membaca buku. Leon menghampirinya lalu menyerahkan kantong yang dia bawah tadi dari kantin.


"Nih," ucapnya saat berdiri di depan orang itu.


Ternyata orang itu adalah Risma, Risma bukan ke perpus melainkan ke atap, karna memeng dia sering kesana kalau lagi ingin menyendiri. Risma mendongak menatap Leon lalu turun melihat apa yang disondorkan oleh Leon.


"Ini apa?" tanyanya sambil mengambil kantong dari tangan Leon.


"Aku bawakan makanan, kenapa kamu tidak bilang kalau uang kamu habis," ucapnya sambil duduk dekat Risma.


"Maaf, aku juga yang lupa kasih kamu uang bulanan," sambungnya.


"Tidak apa-apa, terimah kasih untuk makanannya," Risma langsung membuka Roti yang di bawah Leon dan memakannya.


"Hem," Leon menatap istrinya begitu lahap memakan Roti yang dia bawah tadi.


"Enak," tanyanya.


"Hem, kamu sudah makan?" Risma kembali bertanya pada Leon yang dari tadi hanya menatapnya saja.


Leon menggeleng, "belum," jawabnya.


Risma menyondorkan roti pada Leon, tapi Leon tidak mengambil roti tersebut melainkan menarik pelan tangan Risma lalu menggigit roti itu. Jadi posisinya Leon memakan roti yang Risma pegang.


"Enak," ucapnya sambil mengunya roti yang dia gigit tadi.


"Pegang sendiri," Risma kembali menyondorkan roti itu pada Leon agar mau memakannya sendiri.


"Suap," jawab Leon dan tersenyum.


"Ck, udah gede juga," sindirnya.


"Inikah caramu berterimah kasih pada suamimu, yang belah-belah datang kemari dan membawakan makanan untukmu?" tanya sambil mengambil susu kotak yang berada dalam kantong itu.

__ADS_1


"Jadi kamu tidak ikhlas dan ada maunya?" bukannya menjawab pertanyaan Leon tapi malah bertanya balik.


"Tentu saja ada, aku hanya minta menyuapiku, apa salahnya?"


"Tidak ada yang sa.." ucapan Risma terpotong karna Leon langsung bicara lagi.


"Itu tahu, jadi suap aku sekarang jika kamu tidak ingin aku hukum," ancamnya lalu menarik kembali tangan Risma dan mengigit kembali roti tersebut.


"Ck, dia yang salah kenapa aku yang harus dihukum." gumam Risma dengan tampa sadar kembali memakan roti yang habis digigit Leon.


Leon memberikan susu kotak yang tadi dia buka kepada Risma, Risma pun menerima dan meminumnya. Mereka menikmati makan siang di atas atap sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang mengenai mereka.


_______________________________


"Leon bangun," ucap Risma sambil menggoyangkan tubuh Leon yang sedang terbaring dan kepalanya diletakkan dipangkuan sang istri.


Leon mulai bergerak dan ternyata dia tadi tertidur dipangkuan istri setelah acara makan tadi.


"Hem,apa?" tanyanya tampa membuka mata.


"Bagun, sebentar lagi jam masuk," jawab Risma dan kembali menepuk pipi Leon dengan pelan agar cepat bangun.


Leon bangun dan duduk dan mencoba mengumpulkan semua tenaganya, setelah merasa cukup pulih dia berdiri dan menjulurkan tangannya kedepan Risma, Risma pun merainya dan bangun dari duduknya tapi hampir saja dia kembali lagi terduduk karna kakinya tak mampu menopang tubuhnya dengan sigap Leon menangkapnya.


"Kenapa?"


"kakiku keram, kamu sih tidur di paha aku," Risma kembali duduk sambil menepuk-nepuk kakinya yang keram.


"Maaf," ujarnya ikut duduk dan menepuk-nepuk kaki Risma agar cepat pulih.


Setelah merasa kembali normal Risma mencoba berdiri di susul Leon.


"Sudah baikan?" tanya Leon.


"Atau aku gendong saja turunnya," sambungnya lagi.


"Ngak usah, kakiku sudah baikan," jawabnya lalu melangkahkan kakinya dari atap sekolah tentunya di susul oleh sang suami.


_______________________________


Setelah di dalam kelas Risma kembali duduk ditempatnya, sedangkan Leon juga sudah masuk ke kelas sebelah karna jam pelajaran tidak lama lagi masuk.


"Elo tadi dari mana?" tanya Ayu yang duduk di belakang Risma dan Dion.


"Aku dari perpus,"


"Tapi gue dan Cerry kesana tapi loh ngak ada," jawab Ayu.


"I-iya tadi itu aku kesana ambil buku sebentar lalu pergi ke atas atap,"


"Oh, pantas loh tadi ngak ada," ucap Ayu dan Cerry bersamaan.


Risma tersenyum kikuk karna menyembunyikan sesuatu dari temannya. Risma kembali menghadap ke depan dan mengeluarkan bukunya dari dalam tas.


"Apa kalian tadi berdua?" bisik Dion.


Risma menoleh ke Dion dan mengangguk pelan, "hem."


"Cie.. Ciee.. Lagi pacaran yah?" goda Dion pada kakak iparnya.


"Apaan sih," wajah Risma bersemuh merah dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Ngaku ajah, apa kalian melakukannya lagi?" tanya Dion tampa dosa.


Risma menatap Dion dengan mata melotot, "a-apa maksudmu?" tanya dengan gugup.


"Apa dia membuat bekas lagi disana," ucap Leon sambil menunjuk ke arah leher Risma.


Dengan cepat Risma menutup lehernya menggunakan tangan kirinya, "ng-ngak kok."


Dion cengengesan melihat wajah Risma yang sudah makin merah bagai kepiting rebus karna ucapannya tadi.


Pltak...


Satu jitakan diterimah di jidat Dion dan membuatnya diam dan memegang jidatnya.


"Awuu.." ringisnya karna mendapatkan jitakan dari iparnya.


"Rasain, makanya jangan memikirkan yang tidak-tidak," ujarnya sambil kembali pokus pada bukunya.


"Hehe.. Tapi betulkan," godanya lagi.


"Ngak, jangan pikirkan itu lagi kamu masih kecil,"

__ADS_1


"Jadi kalian boleh karna kalian sudah besar."


"Dionn!!" pekik Risma.


Dion pun kembali diam karna takut pada iparnya yang sudah mulai marah karna godaannya apa lagi guru juga sudah masuk.


"Anak pintar," Risma mengusap kepala Dion dengan senyum mengejeknya.


_____________________________


"Leon elo pulang naik apa?" tanya Elsa yang ikut berjalan di samping Leon menujuh parkiran.


"Naik mobil," ucapnya dengan dingin tampa menoleh kepada Elsa.


"Gue boleh nebeng ngak?" tanya Elsa dengan senyuman penuh arti.


"Maaf," Leon berhenti melangkah lalu menatap Elsa sekilas lalu kembali lagi melihat ke depan dan melihat seseorang yang sudah berdiri dekat mobilnya.


"Kenapa?" tanyanya lagi.


"Aku pulang dengan dia," tunjuk Leon dengan dagunya kepada orang itu.


Elsa ikut melihat yang di maksud Leon dan ternyata benar saja ada seseorang disana berdiri dan sepertinya dia sedang menunggu Leon. Elsa membulatkan mata setelah melihat orang itu dengan jelas dan merasa geram karna yang dimaksud adalah Risma.


"Kalian pulang bareng?" Elsa kembali bertanya pada Leon.


"Iya, emengnya kenapa," ucap Leon dan kembali melangkah.


"Kalian ada hubungan apa?"


Leon kembali menghentikan langkanya, "kami sepupuan jadi tidak mesalah kalau kami pulang bareng," ralat padahal istri, setelah mengucapkan kata itu iya dengan cepat melangkahkan kakinya menujuh mobil tersebut.


"Maaf lambat," ucapnya lalu masuk kedalam mobil dan disusul Risma, Leon meninggalkan parkiran tersebut sedangkan ada seseorang yang sedang mengepalkan tangannya dan wajah memerah karna kemarahan melihat kedekatan Leon dan Risma, bahkan setiap dia mengajak Leon untuk berbicara tetap saja dicuek atau dijawab dengan dingin.


"Tunggu saja, aku pasti bisa mendapatkanmu" ucapnya kalu pergi.


______________________________


Risma dan Leon telah sampai di apartennya, mereka sama-sama merebahkan diri ke sofa karna merasa lelah sepulang dari sekolah.


"Haaj... Capek banget," desah Risma dengan kelelahan.


"Masuklah ganti baju dulu," suruh Leon lalu berdiri menujuh ke dapur.


"Kamu mau apa?" Risma ikut menyusul Leon ke dapur.


"Aku mau memasak dulu," jawab Leon lalu memulai ritual memasak.


"Aku akan batu," ucap Risma dan mengikat rambutnya dan mulai membantu Leon memasak.


"Em... Ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Leon sambil menatap Risma yang berada di sampingnya.


"Apa?"


"Aku adalah suamimu sekarang ,"


"Terus?" tanya Risma denga kening berkerut.


"Seharusnya kamu lebih menghormatiku apa lagi dalam memanggilku," sambung Leon lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.


"Maksudnya?" Risma benar-benar tidak mengerti maksud Leon.


"Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan lain jangan 'Leon' saja," jawabnya.


Risma berpikir sebentar lalu tersenyum, "baiklah aku panggil om," lalu cengengesan.


"Aku menikahimu bukan tantemu" jawab Leon dengan menatap Risma dengan tajam.


"Ok, kamu akan memanggiku kakak agar lebih sopan pada suami," sambungnya.


Risma memutar bola mata dengan malas, "baiklah jika itu yang kamu mau, sepertinya tidak buruk juga," ucapnya lalu kembali mengupas bawang.


"Pintar," jawab Leon lalu mengacak rambut istrinya dengan gemas.


Mereka pun memasak bersama tampa ada perdebatan lagi diantara keduanya, Risma juga mulai tidak memikirkan hal-hal buruk seperti kemarin-kemarinnya. Sedangkkan Leon merasa senang karna tidak ada lagi kebencian yang diterima dari istri mungilnya.


.


.


.


Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2