
Seorang gadis sedang mengelap salah satu meja di tempat kerjanya tapi pikirannya sedang kacau sekarang.
"Kenapa sih, aku harus melihat mereka berdua dan kenapa coba? Aku harus sakit hati melihat mereka boncengan tadi." Gadis itu menggelengkan kepalanya kecil agar bayangan tadi yang dilihatnya cepat hilang.
Salah satu teman kerjanya yang melihat Yuna sedang menghayal, menghampiri Yuna. "Yun, kamu oke?" tanya temannya.
Yuna tidak mendengar teguran temannya, dia masih kepikiran dengan yang di lihatnya tadi.
Karena merasa terabaikan teguran nya karyawan itu pun kembali bertanya dan menyentuh lengan Yuna.
"Yuna, kamu baik-baik saja 'kan?"
Yuna kini sudah tersadarkan karena suara yang sedikit besar dari samping kirinya.
"Eh, aku baik kok," jawab Yuna.
"Aku ke toilet dulu ya?" permisi nya. Setelah dapat anggukan dari temannya Yuna pun pergi ke toilet.
"Kenapa aku harus menyukai pria yang sudah milik orang lain. Apa aku harus mengubur rasa ini dalam-dalam agar tidak merasa sakit hati?" Yuna bermonolog di depan cermin.
Tak terasa air matanya jatuh karena merasa sakit jika mengingat lagi dilihatnya tadi Dion dan Risma boncengan waktu pulang sekolah.
.
Karena tahu dengan keadaan situasi saat ini, Dion memilih pergi dan mengajak Deren ikut bersamanya. Dion hanya ikut menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah super manja dan merajuk kakaknya seperti anak kecil saja saat bersama dengan istrinya itu dan siapalagi kalau bukan Risma.
Saat ini Dion sedang keluar dengan mengendarai mobil kakaknya karena dia mengajak Deren, walaupun sebenarnya dia tidak terlalu suka dengan membawa mobil tapi apa boleh buat.
"Kita mau ke mana lagi?" Deren bertanya tanpa melihat ke arah Dion yang sedang menyetir, Dia tetap pokus memainkan robot-robotnya yang baru saja dibelikan oleh Dion.
"Kita ke Caffe dulu ya?" Dion melirik sekilas pada Deren dan mengusap kepala anak kecil itu.
Deren hanya mengangguk kecil dengan tetap memainkan robot-robotnya. Deren dan Dion saling mengenal sejak Leon menjenguk Deren di rumah sakit, dari situlah Dion juga ikut menjenguk Deren dan mereka semakin akrab saja sekarang.
"Tunggu, aku harus memanggilmu apa?" tanya Deren. Dia mengangkat kepalanya menatap Dion yang pokus menyetir dengan kecepatan rata-rata.
Dion kembali melirik Deren sekilas lalu tersenyum. "Panggil aku Kakak saja, itu lebih baik," jawab Dion.
Kini Deren pokus dengan memainkan robot-robotnya, sedangkan dion tetap pokus ke depan. Selang beberapa menit mereka telah sampai di depan Caffe. Dion memarkirkan mobilnya di tempat parkiran lalu keluar dan beralih ke pintu sebelah untuk membukakan pintu untuk Deren.
Deren keluar dari mobil tak lupa mainannya dia gengam tapi baru beberapa langkah dari mobil kini tubuhnya sudah melayang ke atas di gendongan Dion.
Dion tahu kalau Deren belum bisa berjalan jauh karena tubuhnya yang masih lemah apa lagi baru saja dia kelua Dati rumah sakit.
Deren yang menerima gendongan itu hanya tersenyum lalu melingkarkan sebelah tangannya di leher Dion sedangkan sebelah tangannya lagi dia letakkan di dada Dion.
Dion melangkahkan kakinya masuk ke dalam Caffe dan banyak pasang mata yang sedang memerhatikannya dan Deren. Sedangkan beberapa karyawannya menjemputnya dengan membungkukkan diri tanda hormat pada adik bosnya.
"Wah, anak itu siapanya bos?"
"Bener, sebelumnya aku rak pernah melihatnya," ucap yang lainnya.
"Setahuku, bos tak punya adik lagi, mereka hanya berdua. Tapi anak itu ganteng ya?"
"Hem, ganteng banget mirip yang menggendongnya," jawabnya cengengesan.
"Sudah, ayo kita kembali bekerja dari pada ketahuan bos sedang menggosip." Mereka pun bubar pergi mengerjakan pekerjaan masing-masing.
Deren memang terbilang anak yang memiliki wajah tampan, banyak para gadis yang menyukai wajah Deren apa lagi dengan senyuman manis Deren, bahkan banyak suster yang berlomba-lomba merawat Deren lalu sewaktu di rumah sakit karena tertarik dengan wajah tampannya itu. Deren memiliki wajah tampan, hidung mancung, alis berwarna hitam banget, bibir mungil berbentuk love dan berwarna merah seperti habis memakai lipstik saja. Banyak pula gadis yang jatuh hati dengan Deren, tapi sayang Deren masih kecil dan belum boleh diajak pacaran.
Deren sebenarnya bukan keturunan Indonesia asli, mama Deren orang Indonesia sedangkan papanya orang Korsel-amerika. Itulah mengapa Deren memiliki wajah tampan karena keturunan dari papanya.
Dion hanya diam saat melalui karyawan tersebut dia memilih masuk ke dalam ruangannya. Setelah masuk ke ruangan tersebut, Dion menurunkan Deren dari gendongannya di sofa lalu pergi ke meja kerjanya utuk mengecek beberapa berkas tentang pemasukan hari kemari.
Beberapa menit bermain di dalam ruangan tersebut Deren turun dari sofa lalu menghampiri Dion di meja yang terletak di tak jauh dari sofa.
"Ka, aku haus," ucap Deren. Dia kini sudah berdiri di samping Dion.
Dion menghentikan aktivitasnya lalu memutar kursinya menghadap ke Deren, Dion tersenyum lalu mengusap kepala anak itu.
"Mau minum apa? Hem?" Dion masih menatap Deren menunggu jawaban anak itu.
__ADS_1
"Air putih saja, Ka. Tapi boleh sih kalau ada minuman coklat, hehe...." Deren cengengesan menampakkan gigi rata yang mungilnya.
Dion pun ikut tertawa dengan ucapan anak itu, Dion menelpon salah satu karyawannya untuk di antarkan minuman dan beberapa kue.
"Kamu duduk lagi ya, di sofa." Deren mengangguk lalu berjalan ke sofa dan kembali memainkan robot-robotnya.
Selang beberapa menit pintu ruangan diketuk dari luar, Dion mempersilahkan masuk karena tahu kalau itu ada karyawan yang mengantar pesanannya tadi untuk Deren.
Ceklec....
Pintu terbuka dan menampakkan seorang gadis yang membawa nampan beri minuman dan kue tiramisu kesukaan Deren.
"Maaf, Bos. Aku membawa pesanan, anda." ucap gadis itu.
Dan siapa lagi kalau bukan Yuna. Yah, Yuna yang sedang mengantarkan pesanan Dion karena karyawan lainnya sedang punya perkerjaan lain, walaupun tadi Yuna menolak tak ingin ke ruangan bosnya, tapi mau gimana lagi.
"Simpan di meja sofa saja," jawab Dion. Tanpa menoleh ke Yuna karena masih memeriksa berkas--berkasnya.
Yuna pun masuk dan berjalan menuju ke sofa yang memiliki penghuni dan meletakkan isi nampan tersebut.
Deren menghentikan aktifitasnya lalu menatap wajah Yuna yang sedang meletakkan pesanan itu.
"Cantik," gumam Deren.
Karena mendengar ucapan seseorang, Yuna mengangkat wajahnya menatap Deren yang tersenyum padanya dan membalas senyuman itu. Yuna mulai berdiri dan mundur beberapa langkah untuk meninggalkan ruangan itu tapi baru juga beberapa langkah, Yuna terhenti karena teriakan seseorang.
"Tunggu, jangan pergi," ucap Deren. Deren turun dari sofa lalu berjalan menghampiri Yuna yang sudah berhenti melangkah dan menatap kepadanya. Deren menggengam tangan Yuna dan mendongak menatap Yuna.
"Kakak cantik, jangan pergi." Deren masih setia menggemgam tangan Yuna.
Yuna tersenyum dan berlutut di depan Deren untuk mensejajarkan tinggi mereka. "Maaf, De. Tapi Kakak harus kerja, soalnya nanti di marah jika tidak bekerja," jelas Yuna. Deren pun menggeleng dengan cepat.
"Temani aku di sini," rengek Deren.
"Ta-"
Belum sempat Yuna menjawab ucapan Deren, tapi terhenti karena Dion yang bersuara di meja kerjanya.
Karena mendengar ucapan Dion, tanpa persetujuan Yuna. Deren menarik Yuna ke sofa untuk duduk.
Deren mengambil gelas yang berisi air minum karena sudah dari tadi haus. Yuna yang melihat Deren kesusahan pun membantunya.
Deren kini beralih ke gelas yang berisi es krim coklat. Dion sengaja memesan es krim karena tahu kalau Deren sangat suka dengan es krim coklat.
Yuna tertawa melihat Deren yang memakan es krim karena wajah Deren kini berlepotan dengan es krim. Yuna mengambil tisu lalu mengelap wajah Deren. Deren hanya melemparkan senyuman manisnya pada Yuna.
"Sini, biar Kakak suap ya?" Deren mengangguk dan menyerahkan gelas tersebut. Yuna mulai menyuapi Deren dengan telaten mirip seorang ibu yang menyuapi anaknya.
Sedangkan Dion dari tadi memerhatikan Yuna dan Deren. Dion menyunggingkan senyuman melihat ke araban Deren dan Yuna. Dion juga sedikit heran kenapa Deren bisa langsung menyukai seseorang yang baru saja di kenalnya karena biasanya Deren tak pernah langsung menyukai orang tersebut.
"Dia sangat pas," gumam Dion. Bahkan tak bisa di dengar Yuna dan Dion.
"Kakak, tidak makan?" tanya Deren. Yuna menggeleng kecil lalu tersenyum dan kembali menyuapi Deren. Setelah es krim habis Deren kembali melirik kue tiramisu yang berada di atas meja.
Yuna yang melihat Deren pun mengerti dan langsung ingin mengambil piring yang berisi kue tapi terhenti karena di tahan oleh Deren.
"Biar aku saja," ucap Deren. Lalu mengambil kue itu dan menyendok kue dan membawanya ke depan mulut Yuna.
Yuna menggeleng tak ingin menerima suapan Deren karena takut di marah Dion. Yuna melirik ke Dion yang masih setia memeriksa berkata.
"Kamu saja yang makan ya? Kakak sudah kenyang," ucap Yuna.
Deren menggeleng cepat. "Aku sudah kenyang sekarang kakak yang makan." Deren kembali menyuapi Yuna tapi Yuna masih belum memakan kue tersebut.
"Tapi nanti Kakak dimarah loh karena memakan kue pesanan orang." Yuna menolak sacara halus.
Deren yang mendegar penolakan Yuna pun bersedih, sedangkan Dion yang kembali menatap Deren yang tertunduk, mengerti kalau Deren sedih.
"Kamu turuti saja kemauannya," ucap Dion.
Deren pun kembali ceria karena mendengar ucapan Dion. Deren kembali menyuapi Yuna.
__ADS_1
"Tap-"
Belum sempat Yuna menjawab Deren sudah memasukkan kue itu ke dalam mulut Yuna, terpaksa Yuna memakannya.
"Sud-"
Lagi dan lagi Deren kembali menyuapi Yuna dengan kue itu. "Kata Baby, tidak boleh bicara saat makan dan makanannya harus di habiskan. Jika tidak dihabiskan nanti makanannya sedih loh." Deren berbicara mengingat ucapan Risma yang selalu mengatakan itu jika menyuapi Deren.
Yuna pun terpaksa memakan kue suapan Deren tanpa penolakan lagi.
Dion hanya tersenyum dan menggelengkan mendengar celotehan anak kecil itu yang menceramahi orang yang lebih besar darinya.
Setelah menyuapi Yuna Deren mengambil tisu di atas meja dan berdiri di atas sofa da mengelap sekitar bibir Yuna yang berlepotan karena suapannya tadi. Yuna hanya terdiam dan tak menolak perlakuan dari Deren.
Cup
Deren mengecup singkat pipi kanan Yuna lalu tersenyum.
"Kakak cantik." Yuna syok karena barusan saja pipinya di cium seseorang dan itu Deren.
Ada senang di hati Yuna karena barusan di cium anak setampan seperti Deren, padahal banyak wanita di luar sana yang ingin di cium oleh anak itu tapi tak pernah mendapatkan hal itu. Jangankan ciuman pegang tangan saja tak pernah.
Begitupun dengan Dion yang tak kalah syok dari Yuna. Karena dia barusan melihat Deren mencium pipi Yuna.
"Haiss! Anak itu. Aku saja yang sudah lama mengenal gadis itu tak pernah beranih menciumnya. Tapi dia...." Deren menghembuskan nafas karena merasa di kalahkan oleh anak kecil itu.
"Kenapa kamu menciumku?" tanya Yuna. Sambil memegang pipinya yang di cium Deren tadi.
Deren cengengesan dan menjawab, "Itu sebagai Terima kasihku."
Yuna pun tersenyum lalu mencubit pipi Deren dengan gemes dan ikut tersenyum.
"Ka, aku mengantuk." Deren berteriak pada Dion yang masih menatapnya dan Yuna.
"Sebentar lagi ya? Kakak janji setelah ini kita pulang," ucap Dion.
Deren pun mengangguk tanda mengerti lalu kembali duduk di sofa dan memainkan robot-robotnya sesekali menguap karena mengantuk.
"Sini, kamu tidur di sini saja ya?" Yuna menepuk pahanya agar Deren mau berbaring di pangkuannya.
Deren terdiam sejenak menatap Yuna yang tersenyum. Deren pun merebahkan dirinya di sofa lalu meletakkan kepalanya di pangkuan Yuna dan memiringkan dirinya menghadap ke meja. Sebelah tangan Yuna mengusap rambut Deren dan yang sebelahnya lagi menepuk bahu Deren agar cepat tidur.
Setelah beberapa menit Deren sudah tak bergerak memainkan robot-robotnya yang tinggal kini yaitu dengkuran halus yang terdengar dari bibir mungil Deren. Yuna tersenyum melihat wajah imut anak itu.
Dion berdiri dari kursinya setelah selesai memeriksa beberapa berkas. Dion berjalan menghampiri Deren dan Yuna di sofa.
"Maaf ya, sudah merepotkanmu." Dion sedikit membungkukkan diri untuk menggendong Deren.
"Tidak apa-apa, Bos. Soalnya aku juga suka sama anak kecil," jawab Yuna.
Dion sudah mengambil Deren dari pangkuan Yuna. Dion menggendong Deren ala koala, mainan dari tangan Deren terjatuh ke lantai dan Yuna mengambilnya.
Dion berjalan keluar dari ruangan tersebut sambil menggendong Deren yang masih tertidur lelap dan Yuna yang mengekor di belakang. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka, terutama para karyawan karena dari tadi mereka menunggu Yuna keluar dari ruangan tersebut, mereka berpikir apa yang Yuna lakukan di dalam ruangan bosnya begitu lama.
Tapi saat bosnya keluar malah mereka kangen karena Yuna yang mengekor di belakang bosnya mirip seorang istri yang mengikuti langkah suaminya sambil menggendong anak mereka.
Dion berjalan keluar menuju parkiran ke arah mobilnya, tapi Dion kesusahan saat mau membuka pintu mobil. Untungnya Yuna ada dan membantu Dion untuk membuka pintu mobil bagian belakang. Dion memasukkan Deren dan membaringkan Deren dengan pelan agar tidak terganggu lalu kembali lagi menutup pintu mobil.
"Terimakasih ya, suda mau membantuku," ucap Dion.
"Ah, tidak apa-apa, Bos."
Dion memberikan senyum manisnya pada Yuna. Sedangkan Yuna yang melihat senyuman itu seakan pertahanannya runtuh yang ingin menjauhi dan mengubur jauh-jauh perasaannya pada Dion.
"Aku pulang dulu, takutnya Deren sudah dicariin sama orang di rumah." Dion pamit pada Yuna. Setelah dapat anggukan dari Yuna, Dion pun membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya dan mulai menjalankan mobil meninggalkan parkiran dengan kecepatan sedang.
Yuna menatap mobil Dion yang semakin jauh dari pandangannya.
"Jika kau memberiku senyuman manismu terus, makan aku tak bisa mengubur perasaanku ini padamu dan malah aku tambah menyukaimu. Kenapa begitu sakit mencintaimu...," batin Yuna.
.
__ADS_1
.