
Deren sudah istrahat setelah disuap oleh Leon serta diberi obat, keadaan Deren belum sembuh total karena bulan lalu dia sempat drop. Setelah melihat Deren sudah tertidur lelap, Risma meminta suster yang bertugas untuk menjaga Deren. Takutnya nanti Deren bangun saat tengah malam.
Leon juga menyewa satu suster untuk menjadi suster pribadi Deren atau lebih tepatnya Babysitter.
Risma dan Leon mampir ke sebuah taman untuk bercerita tentang kisah Deren. Leon dari tadi meminta Risma untuk menjelaslannya tapi Risma tak mau bercerita di depan Deren yang keadaannya masih kurang sehat.
"Sayang, sekarang ceritakan aku tentang kisah, Deren." Leon tak sabar lagi menunggu istrinya bercerita.
"Kita duduk dulu." Risma mengajak Leon duduk di salah satu bangku taman yang tersedia.
Setelah mereka sudah duduk Risma menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan lagi sebelum bercerita.
"Aku bertemu Deren, sejak dia berusia 3 tahun. Waktu itu aku pulang sekolah dan tak sengaja bertemu dengannya di pinggir jalan sambil memakan es Krim. Aku singgah menyapanya dan ternyata dia bersama seorang perempuan mudah yang berusia 23 tahun dan ternyata itu adalah ibunya." Risma menghentikan ucapannya dan kini Leon semakin penasaran saja.
"Lalu, kemana Ibunya dan apa maksud Deren tadi?" Leon mengingat perkataan Deren sebelum anak itu memeluknya.
"Ibunya bernama Cesy, dia meninggal 6 bulan yang lalu karna kanker rahim. Ka Cesy menitipkan Deren padaku karena Deren sudah tak punya ayah. Sejak usia Deren 2 tahun ayahnya kecelakaan dan membawa nyawanya pergi."
"Ka Cesy tak punya siapa-siapa, jadi dia tak tahu akan menitip Deren ke siapa waktu itu. Sementara aku, aku menjadi teman Ka Cesy sejak pertemuan kami di pinggir jalan itu. Saat Ka Cesy sekarat, aku bersama Deren waktu itu sampai dia menghembuskan nafas terakhirnya."
"Itulah sebabnya Deren tadi menangis karena Ka Leon bilang sangat mencintaiku." Risma menatap Leon yang ikut sedih mendengar kisah Deren.
"Kenapa begitu?" Leon masih tak mengetahui hal itu.
"Karena kata-kata yang terakhir Deren dengar dari Ibunya lah yang membuatnya sampai sekarang merasa takut sampai sekarang. Deren beranggapan kalau, Ka Leon akan membawaku pergi jauh darinya." Risma semakin menatap wajah dan menggengam tangan Leon seakan dia meminta agar Leon mengizinkan dia bertemu lagi dengan Deren.
Leon hanya tersenyum memandang wajah sedih istrinya lalu mengangguk pelan. "Apa kata-kata itu?" tanya Leon.
"Jangan menangis, Papamu lebih mencintaiku jadi dia menjemputku dan membawaku pergi. Itulah perkataan ibunya yang terakhir." Pipi Risma kini sudah basah dengan air mata, walaupun dari tadi dia mencoba menahannya tapi tetap saja keluar.
Leon yang melihat itu dengan sigap menarik tubuh mungil istrinya ke dalam dekapannya, bahkan melayangkan beberapa kecupan hangat di kening sang istri dan menenangkannya agar tak bersedih lagi.
"Ayo kita pulang, ini sudah sangat sore." Leon melepaskan pelukannya lalu berdiri dan di susul Risma.
Mereka meninggalkan taman itu karena mengingat kalau mereka belum makan sepulang dari sekolah. Di karenakan mereka langsung pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan Deren.
.
.
Risma dan Leon telah sampai di apartemennya setelah menempuh beberapa menit di perjalanan. Setelah membuka pintu Leon langsung masuk begitu pun dengan Risma yang setia ikut mengekor di belakang suaminya.
Leon langsung masuk ke kamar, sedangkan Risma membelokkan dirinya ke dapur karena merasa haus. Setelah melegahkan rasa hausnya, Risma pergi ke kamarnya ingin membersihkan diri yang sudah terasa lengkap karena keringat.
Betapa terkejutnya Risma saat membuka pintu kamar dan melihat adengan di depan mata. Risma langsung menangis dan tanpa aba-aba langsung memeluk kedua kaki Leon yang setia memasukkan pakaiannya ke dalam kopernya.
"Ka, hiks, hiks... aku mohon, jangan pergii hiks...." Risma semakin menagis tersedu-sedu memeluk kedua kaki Leon.
Sedangkan Leon hanya diam sejenak lalu kembali memasukkan pakaiannya sambil menggelengkan kepalanya melihat Risma sekilas.
"Ka, aku minta maaf karena tak membicarakan ini sejak lama. Hiks, hiks...." Risma semakin menagis karena Leon tak menghiraukan nya lagi.
__ADS_1
"A-aku janji, a-akan menuruti permintaan, K-ka Leon. Hiks, Asal Kakak me-memaafkan aku dan tak p-pergi dari rumah ini."
Setelah semua pakaiannya masuk ke dalam koper, Leon melepaskan Risma dari kakinya lalu berjalan ke lemari tanpa melihat keadaan istrinya yang sekarang semakin tak bisa mengatur nafasnya karena menangis.
Saat Leon ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari Risma berdiri dan langsung memeluk Leon dari belakang, menyembunyikan wajahnya di belah punggung Leon sambil menangis tersedu-sedu.
"Hiks, hiks... Ka, a-aku mo-mohon. Jangan p-pernah meninggalkan aku, a-aku tak mau jadi janda mudah." Risma semakin mengeratkan pelukannya di perut Leon.
Leon yang merasa tak bisa bernafas karena Risma begitu erat memeluknya, kini dia melepaskan tangan Risma yang berada di perutnya. Setelah terlepas, Leon memutar tubuhnya menatap sang istri yang sudah dibanjiri air mata bahkan ingusnya juga ikut keluar.
"Aku tidak akan pergi." Leon mengusap pipi istrinya yang sudah sangat basah, tak hanya itu. Leon juga mengusap ujung hidung istrinya yang penuh ingus.
"A-apa Ka Leon tidak bohong?" Seakan tak percaya, Risma masih tetap menagis sambil melirik ke koper suaminya.
"Tapi itu... Ka, aku janji akan menuruti semua permintaan Ke Leon, asal tidak pergi meninggalkan aku." Risma menatap wajah Leon sambil memohon dengan kedua tangannya yang berada di depan dada.
"Benarkah, kau akan menuruti permintaanku, jika aku tak pergi?" Leon malah kembali bertanya ke istrinya apakah omongannya bersungguh-sungguh.
"Iya, Ka." Dengan cepat Risma menjawab dan mengangguk agar Leon mempercayainya.
"Ok. Aku tak akan pernah meninggalkanmu." Leon memeluk sang istri sambil tersenyum bahkan mencium pucuk kepala Risma beberapa kali.
Risma membalas pelukan Leon dan menenggelamkan wajah ke dada bidang suaminya. Setelah merasa sedikit tenang Risma melepaskan pelukan itu lalu menatap Leon bergantian dengan kopernya.
"Lalu, Ka Leon mau kemana dengan koper itu?" Risma meminta jawaban dari suaminya yang malah tersenyum kepadanya.
"Kok malah tersenyum, sih?!" Geramnya.
"Itu, karena kita akan pindah." Leon kembali mengusap ujung mata Risma yang berair.
"Pindah? Maksudnya?" Risma heran mendengar ucapan Leon.
"Ingatkan, waktu kemarin? Waktu aku keluar sampai malam." Risma mengingat langsung mengangguk cepat.
"Aku kemarin pergi melihat rumah baru kita, jadi malam ini kita pinda ke sana karena tempatnya sudah siap dan juga para pembantunya sudah ada di sana." jelas Leon.
"Jadi...." Risma menggaruk kepala yang tak gatal karena malu mengingat tadi dia menangis seperti anak kecil saja.
"Iya, kita akan pinda. 'Kan kamu sendiri yang bilang waktu itu kalau ini apartemen kecil dan hanya memiliki satu kamar."
"Maaf, bukannya aku matre. Tapi 'kan kasihan kalau Dion datang berkunjung dan pulang tengah malam, tak bisa tidur di sini karena kamar cuman satu." Risma menunduk menjelaskan dengan apa yang dia maksud.
"Aku becanda kok. Sebenarnya itu rumah sudah lama aku beli sebelum pulang dari Amerika," ucap Leon.
"Lalu kenapa malah tinggal di apartemen ini?" Risma kembali bertanya pada Leon.
"Aku hanya ingin melihat apa kamu akan mengeluh dengan tempat kecil kita ini. Ternyata kamu hanya mengeluh karena kamarnya hanya satu." Leon kembali memeluk tubuh istrinya.
Risma pun hanya membalas pelukan Leon dangan erat. "Apa kamu serius dengan kata-katamu tadi?" bisik Leon.
Risma melepaskan pelukannya lalu menatap Leon dengan wajah marah bercampur malu karena sudah tertipu dengan Leon tadi.
__ADS_1
"Tidak jadi!" Risma berdecak kesal menatap Leon yang semakin tersenyum kepadanya.
"Kok gitu?"
Risma hanya memutar dirinya ke ranjang lalu mendaratkan bokongnya di kasur empuk itu.
"Ok, kalau kamu hanya berbohong juga. Aku akan pergi beneran dari hidup kamu." Leon berpura-pura melangkahkan kakinya meninggalkan kamar itu. Tapi belum juga membuka pintu Risma sudah berada di depannya lalu memeluk Leon dengan erat.
"Ka, jangan pergi." Risma kembali memohon karena takut kali ini Leon berkata benar dan pergi.
"Aku tak akan pergi, asal kamu menuruti permintaanku satu ini." Leon melepaskan pelukan Risma. Sedangkan Risma kini menatapnya dengan tatapan sedih.
"A-apa, Ka?" Akhirnya Risma bertanya setelah terdiam sejenak.
Leon memajukan wajahnya mengecup pipi Risma sekilas lalu berbisik di dekat telinga istrinya dan sontak membuat Risma melototkan mata sambil menggeleng cepat dan mundur selangkah.
"Tidak! Aku tidak mau!" Risma semakin memundurkan langkahnya saat Leon malah ikut berlangkah mengikuti Risma.
"Kenapa? Bukan kah itu bagus?" Leon semakin dekat sedangkan Risma sudah terhenti karena di belakang sudah tak ada lagi jalan untuk menghindari.
"Aku tidak se-setuju dengan i-itu." Risma semakin bergetar mengucapkan kata-katanya.
"Ayolah, Deren tidak akan sedih lagi karena akan punya teman bermain nantinya." Leon mencoba merayu istrinya agar permintaannya tadi mau dituruti.
"Mau ya? Bikin Leon kecil?" sambung Leon. Sedangkan Risma semakin gugup dengan permintaan Leon.
"Kalau Ka Leon tetap minta itu? Aku akan lapor pada Mami dan Papi, mau?" Risma mengancam suaminya agar tidak meminta hal itu lagi padanya.
"Itu 'kan hak aku, sayang?" Leon mulai terduduk lemah karena permintaannya tak dituruti.
"Tapi kita kan masih sekolah, masih ada 5 bulan lagi sekolah di sana." Risma ikut duduk di samping Leon lalu mengelus pipi suaminya dengan lembut.
"Ka Leon ingat 'kan ucapan, Papi?"
Leon hanya mengangguk karena ingat perkataan papinya waktu itu kalau mereka belum boleh punya anak karena mereka masih lama bersekolah apa lagi bagaimana kalau Risma akan hamil sambil sekolah pasti orang-orang akan bepikir yang tidak-tidak.
"Kita pakai pengaman saja," ucap Leon.
Plak...
Risma memukul lengan Leon lalu berlari ke kamar mandi dan berteriak keras. "Dasar mesum!"
Sedangkan Leon malah menertawakan tingkah istrinya yang lari terbirit-birit ke kamar mandi. Pasalnya tadi dia hanya bercanda meminta haknya sebagai suami.
"Dasar, mana mungkin aku melakukannya saat ini."
.
.
.
__ADS_1
.