Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
57


__ADS_3

Dion ikut menatap Yuna yang di tunjuk maminya, gadis itu juga ikut menangis dalam diam, mungkin ikut terharu, kini dia menunduk karena takut.


"Di--dia temanku, Mih. Dia juga adik kelas sekaligus salah satu karyawan di caffe."


"Apa dia tahu masalah ini?"


Dion hanya menggeleng, sementara pak Andi dan Dokter Diva ikut menatap Yuna, mereka baru menyadari kalau ada orang lain melihat pertengkaran tadi.


"Dia melihat kejadian tadi, Mih. Makanya, aku membawanya kemari."


"Maksudmu?" Maminya belum mengerti dengan ucapan Dion.


"Iya, saat kami mau ke atas, kami melihat Kak Risma jatuh dari tangga."


"Antarlah dia pulang Dion. Setelah itu, pergilah ambil perlengkapan kakakmu, mereka akan menginap di sini."


"Baik, Mih." Dion berjalan menghampiri Yuna dan mengajaknya untuk pulang. Yuna pun mengiyakan saja, dia tidak ingin terlalu jauh mengetahui masalah ini, walaupun pimikirannya mulai dipenuhi oleh pertanyaan.


•••


"Maaf, kamu melihat semuanya tadi."


Setelah berada di dalam mobil, Dion baru bersuara, sementara Yuna hanya tetap diam, dia takut untuk bertanya masalah tadi.


Kesunyian di antara mereka kembali tercipta, Yuna sesekali melirik Dion yang tetap pokus menyetir.


"Kak Leon memang suami, Kak Risma. Mereka menikah lima bulan yang lalu. Jadi, yang kamu dengar semua tadi adalah kebenaran." Seakan tahu isi pemikiran Yuna, Akhirnya mulai menjelaskannya.


"Jadi, mereka--"


"Iya, mereka sepasang suami-istri selama ini. Sejak awal kami menjadi murid baru di sekolah itu." Dion kembali menjelaskan.


"Maaf, Kak," ucap Yuna lirih.


"Kenapa minta maaf?"


"Selama ini, aku pikir Kak Dion pacaran sama, Kak Risma."


"Apa kamu cemburu?"


"Iya. Ekh, en--engak, bukan itu maksudku."


Dion melirik sekilas Yuna. Terlihat gadis itu sedikit salah tingkah di matanya dan jangan lupakan, wajah Yuna ikut memerah karena malu.


"Apa, kamu menyukaiku?" Dion kembali bertanya walaupun dia tetap pokus ke depan.


"Sangat." Yuna kembali menjawab cepat, tapi sekian detik, dia kembali sadar dengan jawabannya. Dia memukul bibirnya beberapa kali karena kecoplosan di depan Dion.


Malu? Tentu saja. Ingin rasanya Yuna menghilang dari hadapan Dion, sungguh, dia benar-benar malu kepada laki-laki itu.


"Benarkah?" Dion kembali bertanya, bahkan melirik Yuna beberapa kali.


"Ti--tidak, Kak. Maaf." Yuna menjawab sedikit gagap. Dion tahu dengan tingkah Yuna berikan, walaupun gadis itu kini mengatakan tidak, tapi dia sudah mendengar jawaban 'iya' terlebih dahulu.


'Aku menang! Kali ini kamu kalah Deren," batin Dion. Sempat-sempatnya dia mengingat perdebatan mereka dulu, bahkan mereka bertaruh, siapa yang akan mendapatkan Yuna terlebih dahulu, maka dia 'lah pemenangnya dan yang kalah harus mentraktir es krim si pemenang.


••


Riki sekarang berada di ruangan bercat putih dan luas ini, dia sengaja datang karena ingin mengatakan sesuatu. Bukannya menyusul Risma ke rumah sakit, tapi dia malah menghadap ke Giovanni. Riki ingin menjelaskan sesuatu pada lelaki itu, takutnya dia malah salah paham dengan semua yang terjadi pada Risma.

__ADS_1


"Apa, Kak Gio sudah mengetahuinya?" Riki mulai bersuara, walaupun ada sedikit resah ketika melihat wajah sepupunya itu.


"Tentu saja. Tidak susah mendapatkan informasinya setiap detik," jawab Giovanni.


"Ini bukan salah, Leon," lirih Riki.


"Lalu, siapa yang patut disalahkan!" Intonasi Giovanni mulai naik, itu menandakan dia mulai marah.


Riki menatap Giovanni yang kini berdiri di hadapannya. Rahang mengeras, tangan tergepal, mata memerah, itu semua karena menahan emosinya sedari tadi, tapi akhirnya meledak juga.


Kini Giovanni mengetahui semuanya. Murkah? Tentu saja, dia sangat marah karena mendapat laporan dari orang terpercayanya, yang sedang dia tugaskan untuk menjadi mata-mata di sekolah Risma.


Orang itu mengatakan, Risma baru saja jatuh dari tangga karena bertengkar dengan sang suami. Bahkan orang itu juga mengatakan kalau gadis kecilnya luka parah dan dibawah ke rumah sakit.


"Katakan padaku, siapa yang harus di salahkan di sini?"


"Ini semua karena, Elsa. Gadis licik itu!" Kini Riki juga ikut emosi.


"Apa gadis itu yang mendorong, Risma?" tanya balik Giovanni.


"Bukan 'kan? Jadi ... ini semua salah, Leon," lanjut Giovanni


Riki menggeleng, dia tidak setuju dengan tuduhan sepupunya itu. Tapi, percuma menjelaskan jika Giovanni sedang berada dimode marah.


"Dia sudah gagal menjadi suami. Hanya karna sepeleh, dia menyakiti Istrinya. Bahkan sampai pendarahan."


"Pendarahan?" tanya ulang Riki. Dia memang tidak tau kalau Risma pendarahan. Yang Riki tahu, Risma hanya memdapatkan luka di bagian keningnya karna terbentur di sudut tangga, saat jatuh.


"Leon tidak sengaja melakukannya." Riki kembali melindungi Leon. Dia percaya kalau Leon tidak mungkin menyakiti istrinya sendiri.


"Ini semua karena, Gadis itu. Elsa! Dia yang harus bertanggung jawab atas semua ini Kak Gio."


"Elsa?" tanyanya.


"Iya, Elsa. Dia yang membuat Leon marah pada Risma, Kak. Dia yang memberikan foto kalian pada Leon, saat kalian bertemu di taman waktu itu." Riki menjelaskan semuanya.


"Suami mana yang tidak marah dan cemburu, jika melihat istrinya berpelukan dengan pria asing? Aku pun sama, marah jika melihat istriku berpelukan dengan orang yang tidak kukenal," lanjut Riki.


Kening Giovanni berkerut heran, "pria asing?" tanya Giovanni


"Iya, selama ini Leon belum mengetahuinya, Risma belum mau mengakuh. Dia hanya mengatakan kalau Kak Gio adalah sepupu aku."


"Tetap saja, Leon yang salah! Tidak bisah 'kah dia mencari tahu semuanya? Kenapa langsung manyakiti istrinya, HAH!" Giovanni kembali emosi.


"Aku sudah bilang, Kak. Leon tidak salah!" bentak Riki. Riki tetap membela Leon, karena dia tahu kalau selama ini Leon sangat menyayangi istrinya, jadi tidak mungkin setegah itu menyakiti istrinya.


"Lalu siapa, HAH?!" Giovanni tidak mau kalah, dia tetap memyalahkan Leon karena lalaih menjaga istrinya.


Riki tersemyum sinis, "jangan lupa, Kak. Kamu juga ikut salah dalam masah ini," sindirnya.


Akhirnya Giovanni kembali melunak, dia langsung terduduk saat mendengar ucapan adik sepupunya. Betul kata Riki, ini semua karna salahnya. Andai saja, dia tidak pergi waktu itu, mungkin masalah ini tidak akan muncul dan mungkin saja dia tidak akan terpisah dari gadis kecilnya.


"Jangan egois, Kak." Riki juga ikut duduk di sofa, tepat di hadapan Giovanni.


Giovanni mengusap wajahnya berkali-kali, dia sungguh pusing dengan semua ini. Dia berpikir dengan kepulangannya ke tanah kelahiran, dia bisa kembali berdekatan dengan gadis kecilnya. Tapi semua itu salah, malah semuanya makin masalah besar, kepergian dan kepulangannya malah membuat gadis kecilnya teruka terus.


Riki kembali bersuara, "asal, Kak Gio tahu. Bahkan, Elsa menghina Risma, dia mengatakan kalau Risma adalah perempuan yang tidak puas dengan satu laki-laki."


Giovanni mengangkat kepalanya menatap Riki. "Apa? Dia sungguh mengatakan itu?!" Emosinya kembali mendengar perkataan Riki.

__ADS_1


"Iya. Dia bahkan merencanakan untuk memisahkan Risma dari Leon. Elsa sungguh wanita licik, Kak." Seakan melapor pada Giovanni tentang kebusukan Elsa, berharap sepupunya itu bisa percaya dan tidak menyalahkan Leon sepenuhnya, walaupun Riki sedikit kecewa pada Leon.


Giovanni kembali berdiri, tangannya pun kembali terkepal kuat. Giovanni merongo kantong depan celana kainnya, mengambil benda pipih itu dan menghubungi seseorang.


"Segerah bawah wanita itu kehadapanku. Hari ini juga!" Tanpa menunggu jawaban dari orang yang dia hubungi, Giovanni langsung memutuskan sambungan telepon.


••


"Sayang, makan dulu yah?"


Sejak dari tadi Leon membujuk Risma untuk makan, tapi Risma tetap diam. Jangankan menyahut, melihat wajah suaminya saja tidak mau. Rasa kecewa masih Risma miliki, dia sungguh kecewa besar pada suaminya.


Leon kembali menunduk karena tidak mendapat respon dari sang istri, entah dengan cara apa lagi yang harus dia lakukan agar istrinya bisa kembali seperti semula, walaupun itu tidak mungkin secepatnya mendapatkan maaf dari sang istri.


"Sayang, makan yah?" Leon kembali bersuara, tapi tetap tidak mendapatkan respon.


"Maaf, tapi setidaknya makan dulu. Biar kamu cepat sembuh," sambungnya lagi.


"Untuk apa? Biar kamu bisa menyakitiku lagi?" balas Risma.


Leon menggeleng cepat, sungguh tiada niat untuk menyakiti istrinya. Tapi percuma menyesalinya saat ini, semuanya sudah terjadi. Leon hanya butuh maaf dari istrinya saat ini.


Leon kembali menyendok bubur yang masih di pengannya, lalu membawa sendok itu ke depan mulut Risma.


"Makan yah, biar cepat sembuh. Aku akan menerima amukanmu nanti jika kamu sudah sembuh, terserah, apa yang kamu lakukan. Aku janji, aku tidak akan melawan."


Ternyata perkataan itu berhasil, bujukan Leon kali ini mendapatkan respon dari istrinya. Leon tersenyum, saat Risma menyambut suapan pertamanya, walaupun sebenarnya itu sudah kesekiaan kalinya Leon sondorkan di hadapan Risma.


Leon tak henti-hentinya mengajak Risma bicara, sampai suapan terakhir, ternyata bubur dalam mangkuk itu telah habis. Leon tersenyum, setelah setengah jam membujuk istrinya untuk makan, ternyata kini telah usai.


Setelah memberikan obat dan air minum pada istrinya, Leon membantu istrinya untuk baring. Risma hanya diam menerima perlakuan suaminya, sejujurnya dia juga merasa kasihan melihat suaminya yang mengharap maaf darinya. Risma sengaja melakukan itu, biar Leon nanti tidak bertindak gegabah lagi, hanya menerimah perkataan dari sisi lain tanpa mau menerima penjalasan dari sisi lainnya.


"Sekarang tidur, yah." Tidak lupa dia memberikan kecupan hangat di kening Risma setelah membenarkan selimutnya.


Sedangkan Risma tidak membalas ucapan suaminya, dia hanya diam dan menutup matanya. Bohong, jika dia tidak menikmati perhatian suaminya, tapi rasa kecewa masih besar pada Leon.


Pak Andi hanya diam melihat tingkah anaknya, dia masih tetap mengawasih Leon dari sudut ruangan yang terdapat sofa panjang.


Kini memang Risma telah di pindahkan ke ruangan VIP, beberaja jam yang lalu. Di ruangan tersebut juga tersedia sebuah ranjang khusus untuk keluaga pasien, terdapat juga sofa dan sebuah televisi.


"Pih, bagaimana ini? Aku takut, Pih. Bagaimana jika dia benar-benar datang?"


"Papi juga pusing, Mih."


"Pih, Mami mohon. Lakukan sesuatu, biar dia tidak mengambilnya dari kita. Mami takut jika yang dia ucapkan lalu akan dia buktikan, Mami sungguh tidak relah harus terpisah dari Risma."


Pak Andi mengusap punggung istrinya yang berada dalam pelukannya, mami Leon benar-benar takut, jika Giovanni datang dan membawa menantunya pergi.


"Pasti dia datang, Mih. Gio pasti datang. Tidak mudah menyembunyikan sesuatu darinya, Gio pasti sudah mengetahuinya terlebih dahulu dari pada kita."


Pak Andi juga tidak tahu, apa yang harus dia katakan jika nanti Giovanni datang, bisa jadi Leon dihajarnya. Ucapan Giovanni tidak bisa di ajak bercanda, apapun yang di katakannya pasti dia buktikan juga.


Terutama mami Leon, kini dia sungguh takut jika Giovanni datang dan mengambil menantunya, apalagi, baru kemarin saja dia melawan Giovanni, bahwa Leon lebih bisa menjaga Risma dengan baik dari pada Giovanni. Tapi hari ini, Leon malah membuat harapan maminya hancur, bukan hanya kehilangan kepercayaannya, bahkan dia kehilangan calon cucunya juga, yang selama ini dia harapkan. Apakah dia juga harus kehilangan menantunya? Tidak, mami Leon tidak akan membiarkan itu semua. Dia akan melakukan apapun agar Giovanni tidak akan membawa Risma, menantunya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2