Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
07. mirip orang gila?


__ADS_3

Leon sudah berada di ruang tengah dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, sedang kan istrinya masih berada di kamar sedang bersiap-siap juga. Selang beberapa menit Risma datang dengan sedikit berlari menuju ke Leon yang sudah dari tadi siap berangkat.


"Ayo berangkat," ajaknya.


Leon yang melihat istrinya itu seketika sedikit tertawa karna melihat dandanan istrinya yang masih berantakan. Rambut asal ikat, wajah tampah dibedakin kera baju juga tidak terlipat rapi.


"Kenapa kamu belum rapi juga?" tanya Leon.


"Tidak ada waktu lagi, nanti saja di jalan diperbaiki," jawabnya lalu mulai melangkah.


Tapi baru juga beberapa melangkahkan kakinya, sebuah tanyan menarik tasnya dari belakang.


"Ikut aku sebentar," ajak Leon sambil menarik istrinya.


"Heii, pintanya disana."


Tapi Leon tak menjawabnya, malah menariknya kedalam kamar. Leon mendudukkan istrinya di sofa dalam sana, lalu menujuh ke meja samping mengambil sisir beserta bedak dan kembali lagi menghampiri istrinya.


Risma yang melihat itu merasa bingung dengan tingkah Leon hari ini.


"Mau ngapain," ucapnya.


"Diam saja, dan jangan coba-coba bergerak sedikit."


"Baiklah," ucapnya singkat.


Leon mulai merapikan kerah bajunya, lalu duduk di belakang istrinya dan mengambil sisir yang di bawah tadi lalu mulai menyisir rambut lurus sampai bahu itu.


"Kamu itu cewek, sudah sepantasnya berdandan yang baik, merapikan pakaian dan juga rambutmu ini, jangan asal ikat saja seperti orang gila saja," ucapnya sambil mulai menguncir rambut istrinya.


Setelah selesai berurusan dengan rambut istrinya dia meletakkan sisir itu lalu mengambil bedak tabur baby dan memakaikan ke wajah istrinya. Sedangkan Risma hanya terdiam dengan tingkah suaminya makin hari makin aneh menurutnya.


"Sekarang sudah selesai, kan bagus dipandang kalau rapi dari pada tadi, mirip orang gila." Leon bangkit dari duduknya sambil senyum.


"Jadi maksudmu aku mirip orang gila?" tanyanya dengan sedikit emosi.


"Dikit, hehe..." tawa Leon.


"Terus kenapa kamu nikahi aku dan kenapa mau serumah?" sindirnya lalu meninggalkan Leon.


"Salah lagi..." ucap Leon dan mengikuti Risma dari belakang.


Risma sedikit emosi dengan Leon yang mengatakan kalau dia itu mirip orang gila. Emeng sih, tadi penampilannya sedikit berantakan tapi tidak juga yang dikatakan Leon tadi.


Kini mereka sedang berada dalam mobil menujuh ke sekolah, tapi dengan keheningan tampa ada yang membuka suara.

__ADS_1


"Maaf, soal tadi." ucap Leon.


Tak ada jawaban, Risma hanya memalingkan wajahnya ke samping memandang ke luar jendela dan tak memperdulikan permintaan maaf Leon.


"Aku janji tidak akan mengatakannya lagi," suara lirih Leon yang tetap pokus kedepan.


Setelah beberap menit mereka telah sampai di sekolahnya, setelah Leon memarkirkan mobilnya di parkiran dan mematikan mesin mobilnya. Risma membuka pintu mobil tapi sebelum keluar dari mobil dia kembali melirik Leon yang masih duduk di sampingnya.


"Terimah kasih untuk tadi," ucapnya.


"Untuk apa?" tanya Leon. Sebenarnya dia bingung Risma terimah kasih untuk kelakuanya yang membantu Risma membenarkan sedikit penampilanya atau kata-katanya tadi.


"Untuk ikat rambutnya, tapi tetap saja aku masih marah dengan kata-katamu tadi," Risma melangkahkan kakinya meninggalkan parkiran dan menujuh ke kelasnya.


Leon mengikutinya dari belakang, "terus apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku."


"Biar ku pikirkan dulu," ucanya lalu masuk ke kelasnya.


Leon pun tak bisa mengikutinya lagi karna tidak lama lagi jam masuk, Leon masuk ke kelasnya yang bersebelahan dengan kelas istrinya.


_____________________________


Setelah 2 jam pelajaran berlangsung kini semua siswa-siswi sedang istrahat.


"Yu, gue boleh pinjam buku MTK mu ngak?" tanya Risma sambil memakan nasi gorengnya.


"Boleh ko," ucap ayu.


"Makasih, elo memeng sahat gue yang paling baik." sambil memeluk sahabatnya.


"Jadi gue jahat nih," tanya Cerry yang melihat teman-temanya yang sedang berpelukan itu.


"Ngaklah, kalian yang paling baik,"


"Makasih," ucap bersamaan Ayu dan Cerry.


Mereka pun kembali menikmati makanan masing-masing.


Leon yang juga sedang menujuh ke kanti ingin memberi makanan pada cacing-cacing yang berdemo dalam perutnya sedari tadi, tapi malah di perjalanan menujuh ke kantin dia bertemu dengan Gengnya Elsa, Anti dan Dira.


"Kalian mau ke kantin juga," tanya Elsa pada Leon.


"Hem," hanya deheman yang terdengar dari Leon.


"Kami boleh gabung?" Dira bertanya sedangkan yang ditanya malah diam dan terus melangkah.

__ADS_1


"Boleh," jawab Dion.


Mereka semua menujuh ke kantin, tentu ke tiga gadis ini merasa senang karna bisa bersama pria tampan yang terkenal baru-baru ini, bahka. Bahkan banyak yang ingin bergabung dengan kedua pria itu, tapi tidak semudah yang dia bayangkan karna Leon yang terkenal pendiam jadi sulit didekati. Sedangkan Dion yang terkenal peramah tapi tetap menurut pada Leon. Jadi dia juga tidak terlalu berbaur dengan wanita, apa lagi dengan wanita yang hanya mementingin keinginannya saja untuk terkenal karna bisa dekat sama pria-pria tampan.


Tapi bedah dengan Gengnya Elsa dia tidak pernah menyerah dengan keinginannya jika belum tercapai, seperti saat ini dia ingin mendekatkan diri pada Leon karna sekarang ini Leon dan Dion sangat terkenal. Otomatis jika dia bisa berteman dengan mereka tentu saja dia juga akan ikut terkenal di sekolahnya.


"Eh kita duduk disini ajah yah." ajak Elsa.


Akhirnya mereka berlima duduk di tempat yang ditunjuk Elsa. Sebenarnya Leon sedikit tak suka tapi mau bagaimana lagi dari pada Elsa terus ikut bagai anak ayam yang selalu ikut pada induknya, jadi dia mengalah. Meraka memesan makanan masing-masing selang beberapa menit yang dipesan telah datang.


"Leon aku boleh nanya ngak?" ucap Dira.


Dira duduk di samping Elsa dan sedang berhadapan dengan Dion, sedangkan Leon duduk dekat Dion.


Leon tetap melanjuti makanannya, "apa," jawabnya.


"Emm.. Kamu udah punya pacar belum?" Dira menatap Leon dengan takut jika pertanyaannya membuat Leon marah padanya.


Dion menggeleng pelan. Dion yang tadi diam kini melirik ke Leon, 'apa dia akan jujur?' batinnya.


Leon terdiam sejenak dengan perkataan gadis di depannya itu, lalu milirik Sang penanya dengan sekilas.


"Ngak," bohongnya. "Tapi sekarang aku punya istri dan istriku adalah wanita yang kau benci," sambungnya dalam hati.


Tentu saja dia tak akan membongkar pernikahanya saat ini, karna jika itu sampai terjadi mungkin mereka berdua akan di keluarkan karna sudah berstatus nikah saat ini.


Seketika ke tiga gadis itu tersenyum gembira, tentu saja karna mereka merasa punya kesempatan mendapatkan hati pria tampan ini apa lagi dia terkenal tajir di sekolahnya. Siapa tak mau yang punya pacar tampan dan tajir.


"Jadi, tidak masalah donk kalau kita dekat-dekat kalian." ujar Elsa.


'Haa, ternyata dugaanku benar kalau mereka ada maunya sekarang' batin Dion.


Leon tak bersuara kini dia melirik kesamping kiri, di sana dia melihat istrinya sedang bercanda riah dengan teman-temannya dan sesekali dia melihat istrinya itu tertawa, entah apa yang sedang mereka bicarakan.


Ternyata Risma sudah dari tadi melihat keberadaan suaminya dengan Geng centil itu, tapi dia hanya diam dan tak menghiraukannya, toh dia juga tidak merasakan rugi apa lagi cemburu dengan pandangan itu.


Risma hanya sesekali melirik Leon yang sedang menatapnya dari tadi, merasa risih karna selalu dilihar dia mengajak teman-temannya pergi, dan memilih kembali ke kelasnya. Dari pada tetap di sana dengan pandangan Leon yang selalu mengarah padanya, bagaimana kalau ada yang curiga tentang hubungan. Bisa-bisa mereka dapat masalah besar.


"Kapan kau akan menerimaku sebagai suamimu?" batin Leon.


Leon sepertinya sudah mulai menyukai Risma, dan apa salahnya jika dia menyukai wanita yang kini sudah halal baginya, apa salanya jika dia mulai merasakan ada rasa cinta yang mulai tumbuh disana, salahkah dia mencintai istrinya sendiri? Tapi apa yang dia harus lakukan agar wanita itu membalas rasa yang dia rasakan saat ini, adakah cara membuat istrinya jatuh cinta padanya juga. Dia sungguh bingung.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.....


__ADS_2