
Semua siswa-siswi telah masuk di dalam kelas masing-masing karena proses belajar mengajar tak lama lagi akan dimulai seperti biasanya, mereka hanya menunggu para guru.
Dion sudah duduk santai di kursinya dan mengeluarkan buku mata pelajaran untuk hari ini.
Seorang gadis buru-buru masuk ke kelasnya dan duduk di mana biasanya dia tempati. "Akhirnya aku tidak terlambat juga," gumam gadis itu.
"Baru kali ini terlambat," ucap Dion.
Gadis itu yang tak lain adalah Risma hanya tersenyum melirik sekilas iparnya dan mengeluarkan perlengkapannya dari dalam tas.
"Eh, tapi penampilan rambutmu ini hari sedikit berbeda. Tapi, cantik," ujar Dion memperhatikan rambut Risma.
"Rambut ini yang bikin aku hampir terlambat," ucap Risma menyentuh rambutnya.
"Siapa yang mengepangnya?" tanya Dion.
"Siapa lagi kalau bukan Kakakmu itu," jawab Risma.
"Haha... benarkah? Jangan-jangan dia juga yang memakaikan bedak padamu?" Dion malah menertawai Risma karena penampilan Risma yang sedikit berbeda dilihat nya.
Risma mendesah menatap ke depan lalu melirik sekilas pada Dion yang masih menertawai nya, Risma memukul lengan Dion dengan pelan lalu mendekap mulut itu karena semua siswa menatap padanya.
"He! Diamlah. Dari mana kau tahu, dia yang Pakaikan bedak juga?" Risma makin geram pada Dion yang masih senyum-senyum.
Dion melepaskan tangan Risma dari mulutnya lalu tersenyum. "Karena hari ini kamu sedikit berbeda. Cantik," bisik Dion.
Risma hanya memalingkan wajahnya ketempat kain karena tak mau Dion tahu kalau saat ini wajahnya mulai memerah karena ucap Dion barusan.
Sedangkan Dion yang melihat tingkah iparnya hanya tersenyum, dia tahu kalau saat ini iparnya lagi malu karena ucapnya barusan.
***
Setelah 2 jam pelajaran berlangsung sekarang Risma dan teman-temannya sedang berada di kantin, begitupun dengan Leon yang tentunya akan ikut.
"Ris, kok aku liat ini hari kamu sedikit berbeda?" heran Cerry.
Risma mengerutkan keningnya menatap Cerry yang sedari tadi memerhatikan penampilan nya.
"Beda gimana maksudnya?" tanya Risma.
"Hem, aku juga liat hari ini kamu tampak lebih cantik," ujar Riki.
"Jadi selama ini aku jelek, gitu?"
"Eh! Bukan itu maksudku."
Semua tertawa karena melihat Riki yang telinganya ditarik Risma sampai-sampai Riki mengaduh kesakitan.
"Barusan ini rambutmu dikepang?" tanya Ayu. Dia juga memperhatikan penampilan Risma dari tadi, tapi dia baru sadar kalau hari ini Risma berbeda di bagian rambutnya.
"Oh, ini. Mama aku yang kepang," bohongnya.
Risma melirik sekilas pada Leon yang duduk di sampingnya lalu menunduk karena mendapatkan tatapan tajam dari suaminya.
'Apa katanya tadi? Mamanya yang mengepang rambutnya. He, bukankah aku yang melakukannya tadi?' gumam hatinya Leon.
Dion melihat Leon yang sedang menatap istrinya dengan tatapan tajam hanya tertawa kerena ucapan Risma kalau mamanya yang mengepang rambutnya.
"Ternyata Mamamu pintar juga ya?" sindir Dion.
"Apa Mamamu juga yang memakaikan kamu lipstik?" sambung Dion.
Risma hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, semua teman-temannya juga ikut tertawa karena pertanyaan Dion. Sedangkan Leon hanya diam tak bersuara dan hanya menatap Risma dengan tatapan semakin tajam.
__ADS_1
'Mampus aku, pasti nanti dapat hukuman lagi nih," batin Risma.
Ting...
Risma mengambil ponselnya karena mendapatkan satu pesan dari seseorang, matanya melotot karena melihat isi pesan tersebut.
'Tuh 'kan, baru juga diomongin, pesan nya sudah masuk. Pasti dapat hukuman lagi nanti,' batin Risma.
Ternyata Risma dapat pesan dari Leon yang mengancam nya akan memberikan hukuman jika sudah di rumah.
"Kenapa, Ris?" tanya Ayu yang melihat Risma tegang.
"Palingan dapat pesan dari Mamanya," ucap Dion dan melirik sekilas pada Leon.
"Tidak ada apa-apa kok." Risma kembali melanjuti makannya, begitu pun yang lainnya.
.
.
.
Waktu berjalan begitu cepat, sekarang semua siswa sudah pulang. Risma dan Leon pun sudah berada di dalam mobil menuju pulang ke apartemennya.
Di dalam mobil tak ada pembicaraan, Leon memilih pokus menatap ke depan dan Risma memilih diam dan menatap bangunan-bangunan tinggi yang mereka lalui.
Risma mencoba memecahkan keheningan. "Ka Leon marah?" tanyanya pelan.
Leon tetap diam dan hanya melirik sekilas pada Risma lalu pokus lagi menyetir.
"Ka, maaf kalau tadi aku salah," liriknya.
"Kenapa tadi mengakuinya kalau yang mengepang rambut kamu itu Mama? 'Kan aku yang buat tadi pagi," ucap Leon dingin.
Leon lupa kalau belum ada yang tahu tentang pernikahannya, jadi tidak mungkin Risma mengatakan pada teman-temannya kalau dia yang mengepangnya.
Risma menghadap dan memegang lengan Leon. "Jangan marah lagi ya?"
Leon hanya mengangguk pelan, dia juga sadar kalau di sini dia juga yang salah. Risma tersenyum karena mendapatkan maaf dari suaminya dan tak marah lagi.
Risma memeluk lengan kiri Leon dan merebahkan kepalanya di bahu Leon. "Makasih," ucapnya.
"Untuk?" tanya Leon yang tetap pokus menyetir.
Risma mendongak menatap wajah Leon. "Karena tidak marah lagi."
Leon hanya tersenyum mengangguk dan melirik sekilas pada Risma.
Cup...
Risma mencium pipi kiri Leon sekilas lalu kembali lagi merebahkan kepalanya di bahu kekar itu dan tersenyum. Leon hanya tersenyum melihat tingkah istrinya dan mengusap pipi itu dengan lembut.
.
.
.
Seorang gadis sedang menunggu bis di trotoar jalan, hari ini dia tak membawa kendaraannya ke sekolah karena lagi rusak.
Gadis itu adalah Yuna. Yuna mulai bosan menunggu bis tapi tak kunjung datang, ingin memesan taksi tapi uangnya tak cukup untuk menuju ke tempat kerjanya.
"Apa aku jalan kaki saja ya? Jam masuk kerja tak lama lagi. Huff terpaksa deh," monolognya.
__ADS_1
Yuna mulai melangkahkan kakinya karena sudah hampir 30 menit dia menunggu tapi bis belum ada. Saat sudah 10 meter berjalan dari tempatnya tadi sebuah klakson motor mengagetkan nya.
"Astaga, untung aku tidak punya penyakit jantung." Yuna mengusap dadanya pelan lalu menatap siapa yang membuatnya kaget.
Orang itu membuka helm nya dan turun dari motornya. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya orang itu.
"Em, a-aku lagi menunggu bis, tapi tidak ada." Yuna menjawab sedikit gugup.
"Kamu mau kemana?" tanya orang itu lagi.
"A-aku mau ke tempat kerja, Ka." Orang itu sebenarnya adalah Dion yang juga menuju pulang ke rumahnya.
"Ya sudah, biar aku antar," ajak Dion. Dia mulai menaiki motornya.
"Tapi Ka, apa tidak merepotkan?" tanya Yuna.
"Tidak. Ayo, dari pada kamu jalan kaki sampai di caffe, lebih baik aku memboncengmu biar cepat sampai." Dion mulai memakai helmnya dan menyuruh Yuna naik di belakang.
Yuna berpikir sejenak lalu naik ke motor Dion, dari pada terlambat masuk 'kan lebih baik naik motor lebih cepat sampainya dan gratis.
"Pegangan biar tidak jatuh," suruh Dion.
Yuna memegang kedua ujung baju Dion dengan hati-hati. Jujur saat ini dia merasa sedikit gemetar karena baru pertama kali di bonceng motor pada cowok ganteng apa lagi yang dia sukai dari dulu.
Dion mulai menjalankan motornya dengan pelan tapi baru juga beberapa meter Dion kembali mengerem nya lagi.
"Kenapa, Ka?" tanya Yuna.
Dion tak bersuara langsung menarik kedua tangan Yuna dan melingkarkan tangan mungil itu di perutnya, otomatis Yuna memeluk Dion tanpa sengaja. "Pegang di sini biar tak jatuh," ucap Dion dan menjalankan motornya.
Yuna hanya diam, dia merasakan detak jantungnya 2 kali lebih cepat dari sebelumnya, padahal dia tak sama sekali memiliki penyakit jantung.
'Aduh, kenapa ini jantung terasa mau copot dari tempatnya? Semoga saja Dion tak mendengarnya,' gumam Yuna.
Yuna merasa senang karena bisa sedekat ini pada Dion apa lagi bisa memeluknya dari belakang. Yuna merasa sedikit heran kerena Dion selalu berbaik hati padanya, sedangkan pada orang lain hanya biasa-biasa saja. Banyak wanita di sekolahnya yang menyukai Dion dan berharap bisa mendapatkan hati pria tampan itu tapi sepertinya itu hanya hayalan saja, karena Dion tak pernah berbicara banyak selain tersenyum pada mereka.
Tapi rasa senang di dalam hati Yuna tiba-tiba hilang saat mengingat di mana Dion yang tertawa bersama Risma waktu itu Roptoof sekolah. Ada rasa sakit hati di dalam sana jika mengingatnya kembali.
'Aku tak tahu apa yang aku rasakan sekarang ini. Jika kamu datang untuk menyakiti lebih baik kita tak bertemu,' batin Yuna dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
.
.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan caffe tempat Yuna kerja, Yuna turun dari motor Dion. "Makasih, Ka," ucap Yuna.
Dion juga turun dari motor dan melepaskan helm dari kepalanya. "Sama-sama, aku juga memang mau ke sini karena ada sesuatu yang ingin aku ambil," ucap Dion dan masuk ke dalam.
Yuna hanya ber-oh ria saja mengikuti Dion dari belakang. Tanpa mereka Sadari bahwa banyak pasang mata yang sedang memerhatikan kedekatan mereka.
.
"Yun, kamu kenal sama adik pemilik caffe ini?" tanya salah satu teman kerja Yuna.
Yuna mengangguk pelan lalu memakai seragam kerjanya. "Bos Dion itu kakak kelas aku," jawab Yuna.
"Oh, aku pikir kalian pacaran," ucap yang lainnya.
"Benar, soalnya kalian terlihat akrab sekali. Kami saja sudah lama bekerja di sini tak pernah berdekatan seperti itu, apa lagi sambil bonceng-boncengan," ujar karyawan wanita yang lain.
Yuna hanya menggeleng dan tersenyum. 'Andai saja itu benar mungkin aku adalah orang yang paling bahagia, tapi itu hanyalah hayalan saja karena dia sudah memiliki seseorang,' batin Yuna.
.
__ADS_1
.