
Karena jam istirahat telah tiba, semua siswa-siswi berhamburan keluar dari kelas, ada yang pergi ke taman, perpustakaan dan ada pula yang pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka.
Kini Risma, Leon dan para sahabatnya sedang berada di kantin dan tentunya Dion juga ikut bersama mereka.
"Cer, sudah! Nanti perut kamu sakit karena kebanyakan." Riki merebut mangkuk bakso Cerry yang dia tuangkan dengan saus.
"Ikh! Aku masih lapar, Ki. Sini aku mau makan lagi." Cerry berusaha merebut mangkuknya, tapi Riki semakin menjauhinya dari Cerry, agar sang kekasih tak makan lagi.
"Sudah, tadi sudah habis satu mangkuk loh? Ini malah namba lagi, emang sanggup itu perut?" Riki bertanya seolah menyindir kekasihnya yang minta mangkuk baksonya untuk dikembalikan.
Seketika wajah Cerry berubah menjadi merah, tapi bukan karena marah tapi karena geram pada pacarnya yang menyindir nya.
"Tapi, aku masih lapar, Ki!" Cerry mulai geram, seakan ingin menjambak rambut sang kekasih tapi diurungkan karena banyak siswa-siswi yang lain ikut makan di kantin tersebut.
"Sayang, sudah ya, makannya. Nanti perut kamu sakit dan kamu nanti makin gendut loh." Riki mulai merayu Cerry agar tak makan lagi, tapi perkataannya malah membuat kekasihnya sakit hati.
Cerry menatap Riki dengan mata yang mulai berkaca-kaca dengan kedua pipi yang mulai memerah. "Tega kamu, Ki. Aku langsing begini, malah kamu bilang gendut."
Riki mengusap tengkuknya karena mulai merasa ada hawa-hawa kemarahan sang kekasih dan sepertinya sebentar lagi akan meledak. "Bukan begitu, sayang. Tapi ini demi kebaikan kamu juga, bagaimana kalau kamu sakit perut karena terlalu banyak makan. Apa lagi kamu menambahkan banyak saus ke dalam mangkuk baksomu."
Riki mulai merayu Cerry dengan ucapan lembut agar sang kekasih tak marah. Saat ingin menggengam tangan Cerry, dengan sigap sang pemilik tangan menariknya lalu membawa tangannya ke atas pangkuannya sendiri agar Riki tak menyentuhnya.
Cerry benar-benar mulai ngambek, bahkan sekarang mulutnya mulai mengerucut sambil menunduk.
Risma dan Ayu yang melihat sang sahabat merajuk hanya menggeleng.
"Cer, kamu makan punyaku saja ya?" Risma menyodorkan sepiring mie goreng pesanannya yang belum disentuhnya sama sekali.
Cerry mendongak menatap Risma yang juga menatapnya dengan senyuman manis, walaupun hatinya saat ini merasakan sedih, entah? Dia juga tak tahu. "Lalu, kamu makan apa?" tanya Cerry.
"Tapi-"
"Sudahlah, Ki. Kamu seperti tidak tahu Cerry saja, dia 'kan memang doyan makan. Walaupun dia makan banyak tetap saja dia langsing, jadi tidak usah khawatir." Risma beralih menatap sahabatnya yang juga menatapnya.
"Aku masih kenyang, kamu makan lagi ya? Jangan cemberut gitu donk, nanti muka kamu makin imut loh?" Risma menggodanya dengan mencubit dagu Cerry. Ternyata gombalannya itu berhasil meluluhkan saatnya yang lagi merajuk itu.
Cerry langsung tersenyum lalu memeluk Risma sejenak. Cerry kembali memperbaiki posisi duduknya lalu memakan mie tersebut dan melirik sekilas Riki yang berada di sampingnya.
"Kamu kenapa tidak makan?" Leon berbisik di dekat telinga sang istri. Leon sempat mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan sang istri yang mengatakan kalau dia itu masih kenyang, padahal seingat Leon istrinya tadi pagi juga tidak serapan sebelum berangkat ke sekolah.
Risma yang mendengar bisikan suaminya langsung menatap wajah sang suami, menggeleng lalu tersenyum.
"Makan, ya? Biar aku suap." Leon menyelipkan anak rambut istrinya kebelakang telinga, lalu meraih tangan istrinya, menggengam tangan mungil itu membawanya ke atas pangkuannya.
Setelah cukup lama menatap wajah memelas sang suami, Risma pun mengangguk bersedia makan. Leon mulai menyuapi istrinya dengan telaten agar sang istri mau makan banyak.
Risma baru sadar bahwa Leon juga belum makan dan malah memberikan makanannya pada sang istri. Risma merasa bersalah karena dirinya yang tak berselera makan malah membuat suaminya repot menyuapi nya dan ikut tak makan juga.
Risma menghentikan tangan Leon yang ingin menyuapi nya lagi. "Ka Leon belum makan?" Leon hanya menggeleng lalu tersenyum.
"Ka Leon makan juga, ya? Biar aku suap juga," pintanya. Leon hanya mengangguk pelan dan mulai menerima suapan istrinya.
Mereka saling suap-suapan tanpa memperdulikan banyak pasang mata yang melihat kearah mereka, terutama para sahabatnya.
"Sosweet banget sih, andai saja aku punya kekasih yang peka." Cerry mulai menyindir kekasihnya yang hanya diam memperhatikannya.
"Dion?"
Dion mendongak menatap Cerry yang baru saja memanggilnya, dia menaikkan satu alisnya seakan bertanya pada Cerry.
"Nanti, jika kamu sudah punya pacar, sayangi dia dengan penuh kasih sayang... Dan satu lagi, suap kekasihmu saat kalian makan bersama. Lihat kakakmu, dia romantis banget, jangan malah melarangnya makan, emang kamu mau, Kekasihmu mati kelaparan?" Cerry mulai menyindir Riki lagi, sedangkan yang disindir hanya diam karena merasa bersalah.
Riki mulai meraih tangan Cerry dan menggengamnya dengan lembut dan ternyata Cerry tidak menolak lagi, dia hanya diam dan mulai memakan mie goreng pemberian Risma.
"Sayang, Maaf ya? Aku janji tidak melarangmu lagi, asal jangan marah. Aku juga akan membelikan kamu makanan apa pun yang kamu suka." Riki bersuara pelan berharap kekasihnya akan luluh.
"Terimakasih, tapi aku sudah kenyang." Cerry mengambil jus nya lalu meminumnya sampai setengah gelas.
__ADS_1
"Maaf," ucapnya lirih. Riki langsung menunduk dengan mengusap lembut tangan kekasihnya yang verada di genggamannya.
Cerry yang mendegar suara lirih dan hampir tak terdengar dari mulut kekasihnya, menatap Riki yang menunduk bersalah, dia merasa kalau Riki benar-benar minta maaf.
"Ok, jangan diulagi lagi," ucap Cerry.
Riki mendongak menatap kekasihnya dengan mata berbinar. "Jadi, aku sudah dimaafkan?" tanyanya. Cerry mengangguk lalu tersenyum kecil pada kekasihnya.
Riki langsung memeluk kekasihnya, saking senangnya dia karena Cerry tak merajuk lagi. Riki tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya pada Risma, seakan memberi tahu bahwa dia telah menang dan berhasil membuat hati Cerry luluh kembali.
Risma dan Leon hanya menggeleng lalu kembali lagi saling suap-suapan, begitupun dengan Ayu, kini mereka juga saling suap-supan dengan Gery. Memang Gery terbilang pria yang romantis pada kekasihnya.
Sementara Dion yang melihat kemesraan mereka merasa terbalas api cemburu, kenapa tidak? Soalnya saat ini hanya dia saja yang tidak punya pasangan.
Sebenarnya banyak wanita yang bergantian mendekati Dion, tapi dia hanya jatuh hati pada satu wanita, yaitu karyawan yang bekerja di Caffe sang kakak yang bernama Yuna, Anisa Fayuna.
Bahkan saat ini Dira, sahabatnya Elsa sedang berusaha mendekati dan mengambil hati Dion, tapi Dion tak pernah mengubrisnya apa lagi dia tahu kalau gadis itu pernah membuat kakak iparnya sakit hati.
Hanya saja saat ini Dion belum bisa membuat Yuna menjadi kekasih, dikarenakan dia belum dapat izin dari Leon, yang selalu beralasan kalau Dion tidak bisa pacaran karena dia belum cukup umur.
Hey, ayolah Leon. Adikmu sudah tidak kecil lagi, bahkan dia sudah bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Bahkan dia juga sudah terjun membantu sang kakak mengawasi Caffe tersebut karena Leon terlalu sibuk, apa lagi dengan satu alasan yang tentunya tidak dia beri tahu pada kakaknya, sebenarnya dia pergi ke Caffe itu karena ingin mengawasi Yuna, sang pujaan hati.
Bukan hanya alasan itu juga sih Leon melarang Dion pacaran, tapi dia tak mau kalau Mami dan Papi nya tahu kalau anaknya itu pacaran dengan wanita yang belum dia halalkan. Mereka sebenarnya takut jika anaknya malah kelewatan batas dan membuat masalah tambah rumit. Apa lagi Dion masih berumur 16 tahun, tentu pikirannya masih labil.
Dion berdiri dari duduknya karena tak ingin melihat mereka yang bermesraan di depannya. "Haa! Bikin cemburu saja. Emang mereka ngak pikir apa? kalau ada aku di depannya yang tanpa pasangan." Dion berjalan sambil bergumam karena kesal.
.
Jam istirahat sudah selesai kini semua siswa-siswi telah masuk ke kelas mereka masing-masing.
Begitupun dengan Risma dan Dion kini mereka sudah berada di kelasnya, saat ini hanya tinggal menunggu guru yang akan membawa mata pelajaran selanjutnya.
Risma menatap ke samping ke arah jendela, dia menatap ke luar dengan tatapan kosong, entah mengapa satu ini dia merasa hatinya sedang resah dan sedih. Padahal hubungan mereka saat ini dengan suaminya baik-baik saja, malah tambah romantis saja, apa lagi dengan kemanjaan Leon.
Risma menyentuh dadanya karena kali ini jantungnya berdenyut lebih kencang lagi seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya.
Entah mengapa, dari tadi pagi jantungnya selalu berdetak lebih cepat, seperti saat ini. Padahal seingatnya dia tidak memiliki penyakit jantung, tapi mengapa saat ini dia merasa sakit saat jantungnya berdetak tiba-tiba dan bersamaan juga dia merasa resah.
"Kenapa, Ka? Apa kamu baik-baik saja?" Dion juga mulai desa saat kakak iparnya mendongak menatapnya dengan wajah pucat saat dia bertanya.
Risma menggeleng kecil lalu melepaskan tangannya yang menyentuh dadanya tadi.
"Ka?" Dion kembali lagi bersuara karena Risma tak bersuara sedikit pun. "Aku baik-baik saja, Di." Risma mulai bersuara dan memberikan Dion senyuman agar adik iparnya tidak mencurigainya.
.
Sedangkan di kelas sebelah, murid-muridnya mulai bahar karena pak guru yang membawa mata pelajaran sudah datang. Leon mulai mengerjakan tugas-tugas yang diberikan gurunya, tapi saat sedang asik belajar hpnya bergetar di saku celana depannya.
Takutnya ada yang penting, Leon mengambilnya dan memeriksa. Ternyata pesan masuk itu membuatnya membulatkan mata bahkan sempat tak percaya, tapi pesan kedua masuk lagi dan itu membuatnya semakin yakin.
Leon mengirim pesan ke Dion dan Riki karena mereka juga berhak mengetahuinya. Ternyata Riki sama halnya terkejut saat menerima pesan itu, dia benar-benar tidak percaya.
Riki menatap ke samping kiri bagian belakang di mana Leon duduk, dia mencoba mencari kepastian dan ternyata Leon juga menatapnya lalu mengangguk tanda itu memang benar.
Riki dan Leon buru-buru mengemasi buku-buku untuk dimasukkan kembali ke dalam tas, setelah semuanya selesai Leon berdiri menghampiri pak guru untuk meminta izin. Riki menyusul Leon keluar saat gurunya mempersilahkan mereka pergi.
.
Dion membulatkan matanya saat menerima pesan dari Leon, bahkan pulpen yang dipegangnya tadi terjatuh saking syoknya. Dion beralih menatap Risma yang masih terdiam menunduk.
"Ka, beresin cepat buku-bukunya. Kita pergi sekarang."
"Loh, tapi kenapa Dion?" Risma mengerutkan keningnya merasa heran dengan ucapan adik iparnya, dia semakin heran lagi saat melihat Leon masuk bersamaan dengan Ibu guru.
"Loh, Ka. Kenapa ada di sini?" Risma bertanya saat Leon sudah berdiri di dekat bangkunya.
"Kita tidak punya banyak waktu, cepatlah." Leon langsung menarik pergelangan tangan istrinya saat susah berdiri di depannya.
__ADS_1
Sementara Dion pamit pada ibu guru yang baru saja masuk dan ternyata ibu guru itu memberikan mereka izin juga.
"Ka Leon, tasku ketinggalan."
"Dion akan mengurusnya." Leon menyeret istrinya dengan tergesa-gesa menuju parkiran sementara Dion dan Riki juga menyusul di belakang.
Tak tahan lagi berjalan cepat bahkan berlari kecil karena untuk mengimbangi langkah suaminya, akhirnya Risma kembali lagi bersuara dan berhasil membuat Leon menghentikan langkahnya.
"Ka, aku tak bisa berjalan cepat." Risma berucap sambil menunduk.
Karena mengingat sesuatu, Leon langsung menggendong istrinya ala bridal style biar cepat sampai ke parkiran dan itu adalah jalan satu-satunya.
Saat tubuhnya melayang ke udara bahkan kini sudah berada di gendongan suaminya, dengan cepat Risma melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami agar tak jatuh.
Setelah sampai di parkiran Leon menurunkan Risma dari gendongannya lalu membukakan pintu mobil dan menyuruhnya masuk. Leon menyusul masuk ke kursi kemudi dan mulai menghidupkan mesin mobilnya lalu meluncur meninggalkan parkiran sekolah.
Dion dan Riki masing-masing menaiki motor besarnya untuk menyusul mobil Leon. Untung saja saat ini kendaraan tak begitu ramai sehingga membuat mereka leluasa menguasai jalan dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Ka, pelan-pelan. Aku takut!" Risma memejamkan kedua matanya karena takut melihat Leon yang membawa mobil dengan kecepatan karena biasanya Leon tak pernah membawa mobil dengan kecepatan cepat jika bersamanya.
Leon mendengar suara istrinya yang mulai gemetar, dia melirik sekilas istrinya lalu mengumpat dalam hati karena telah membuat istrinya merasa takut. Diraihnya tangan mungil itu yang mulai gemetar bahkan mulai berkeringat dingin karena takut, digenggamnya tangan itu bahkan sesekali mengecupnya agar istrinya bisa tenang sedikit. Leon juga sudah mengurangi sedikit kecepatan mobilnya.
Tak begitu lama di perjalanan, mereka telah sampai di parkiran bangunan besar. Leon turun lalu beralih ke arah pintu tempat istrinya, membuka pintu lalu kembali menggendong sang istri.
Mengingat ruangan yang ingin dia datangi cukup jauh membuatnya harus menggendong istrinya, apa lagi jika mengingat istrinya tidak bisa berjalan dengan cepat karena sesuatu. Ini juga salahnya karena semalam dia meminta istrinya, melayani dirinya yang tiba-tiba nafsu birahi nya naik memuncak dan meminta dituntaskan.
Tapi kini malah membuat istrinya tak bisa berjalan dengan cepat, apa lagi dengan keadaan seperti ini.
"Ka, sebenarnya kita mau ngapain di sini? Siapa yang sakit?" tanyanya heran.
Ya, saat ini mereka sedang berada di rumah sakit karena Leon tadi menerima pesan dan menyuruhnya ke sini sekarang dengan cepat.
Leon tak membalas ucapan istrinya, dia hanya diam. Melirik sekilas wajah istrinya yang berada di gendongannya itu, lalu kembali lagi menatap lurus ke depan.
Risma hanya mengerucut bibirnya sebab Leon tak menyahut sama sekali, bahkan Leon menatapnya sekilas dengan tatapan lain dan entah apa. Tapi Risma merasa bahwa Leon menyembunyikan sesuatu, apa lagi saat ini mata Leon memerah seakan menahan sesuatu di dalam sana.
Setelah sampai pada pintu ruangan yang dicarinya, kini Leon menurunkan Risma dari gendongannya lalu mengenggam tangan istrinya.
Klek...
Pintu terbuka dan Leon lah yang membukanya, saat ini Leon, Risma, Dion dan Riki berdiri bersamaan di depan pintu yang mulai terbuka lebar.
Di dalam ruangan tersebut sudah ada beberapa orang, dokter juga ikut serta dan suster. Mereka beralih menatap ke arah pintu yang menampakkan 4 mahluk itu.
Leon mulai berjalan sambil tangannya masih mengenggam tangan istrinya. Sedangkan Risma yang menatap Orang-orang yang berada di dalam sana semakin heran tapi kakinya tetap melangkah mengikuti langkah Leon.
Langkahnya terhenti saat sudah mendekati ranjang tersebut, betapa terkejutnya dia saat melihat dengan jelas siapa yang berada di atas ranjang dengan terbaring lemah. Risma merasa tidak percaya, apakah ini nyata atau mimpi saja buatnya.
Dia menggeleng dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya dan entah itu kapan keluarnya.
"I-ini t-ti-tidak mungkin." Risma mulai menatap semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
Risma kembali menggeleng dengan cepat, ingin rasanya dia keluar dari mimpi ini tapi nyatanya tak bisa karena ini adalah nyata dia alami saat ini.
"Nak, mendekatlah. Dia dari tadi mencarimu." Risma mengusap air matanya lalu berjalan menghampiri ranjang tersebut.
Air matanya kembali keluar dengan deras melihat ke adaan orang tersebut dengan sangat memperhatikan. Bagaimana tidak, beberapa selang terpasang di tubuhnya, bahkan kini alat pernapasan oksigen terpasang di hidungnya dan kepalanya diperban.
Risma benar-benar tak tahu harus berbuat apa, pasalnya saat ini dia sedang berdiri di antara dua ranjang yang di atasnya terbaring orang yang sama-sama melemah.
Tapi untung saja saat ini Leon berada di sampingnya.
Risma kembali menangis saat menyentuh tangan orang itu yang penuh dengan perban. "Kenapa bisa seperti ini?"
"Rem mobilnya blong."
.
__ADS_1
.
.